
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Bu Marni menggerutu sendiri. Dia tidak terima di perlakukan seperti itu, rasanya Bu Marni ingin sekali menarik rambut dan mencakar Ibu-ibu yang telah mempermalukan dia di warung sayur tadi.
Ketika Bu Marni sampai di rumah, Bu Marni nyelonong masuk begitu saja, sambil mengomel sendiri tak jelas, sebab sudah jadi kebiasaan wanita paruh baya itu tak peduli dan mengucapkan salam pada penghuni rumah ini.
Setelah sampai di dalam rumah, Bu Marni mendengar Zaenab tengah menelpon seseorang di ujung sana, sepertinya Zaenab lagi berdebat dengan seseorang yang ada di ujung telpon itu.
" Mas terus aku harus bagaimana Mas?!! ini aku sudah telat hampir satu bulan lho, perut ini kian lama kian membuncit bukan kian datar, kamu ngerti tidak sih Mas?!!" seru Zaenab dengan penuh penekanan.
*: ......
Sementara Bu Marni shock mendengarkan pernyataan Zaenab pada seseorang di ujung telpon itu. "apa Zaenab telat?" lirihnya, sambil membungkam mulutnya agar tak terdengar citanya, saat dia mengintip anaknya itu.
" Aku tidak mau tahu Mas, pokoknya besuk kamu harus segera pulang ke sini, dan kita nikah siri dulu tidak apa-apa, yang penting aku tidak menanggung malu Mas, kamu harus tanggung jawab Mas!!" seru Zaenab sambil menangis tersedu-sedu.
*: ......
Bu Marni tak mendengar ucapan seseorang di balik telpon itu.
" Ya sudah Zaenab tunggu sampai hari minggu, kalau tidak Zaenab akan datang ke rumah Mas, Zaenab akan mengadu sama kedua orang tua kamu Mas, kalau Zaenab mengandung anak kamu Mas." Ancam Zaenab pada Roy.
Siapa lagi kalau bukan Roy yang berhubungan sama Zaenab, mereka berdua memang sudah terlalu jauh berhubungan, Bu Marni jadi ketar ketir mendengar pernyataan Zaenab itu, dia takut Roy tidak menepati janjinya, bisa di tertawakan sama Ibu-ibu di sini dong.
Selesai menelpon orang tersebut Zaenab meletakkan ponsel dia di atas nakas.
Dan ketika dia berbalik arah ingin keluar kamar tiba-tiba Zaenab kaget melihat sosok Bu Marni sudah berdiri di ambang pintu, dengan wajah yang menegang juga, mereka sama-sama kaget.
" Ibu!! sejak kapan ibu di situ? hah ?" Zaenab berteriak kaget melihat Bu Marni dengan wajah yang penuh emosi, wanita paruh baya itu terlihat shock, belum kemarahan Bu Marni mereda akibat di permalukan sama ibu-ibu tadi, kini Bu Marni harus menerima kenyataan bahwa anak gadisnya sudah berbadan dua.
Mau di taruh di mana wajahnya yang menyandang sebagai wanita terhormat itu.
" Zaenab, katakan apa tadi ibu tidak salah dengar? kamu tidak berbohong kan!!?" seru Bu Marni, seolah dia salah dengar dengan ucapan anaknya itu, lalu dia memberondong anaknya dengan pertanyaan.
__ADS_1
Zaenab tak membalas pertanyaan Ibunya, dia hanya memberikan isyarat dengan cara menganggukkan kepalanya saja.
" Duh Gusti kenapa sampai bisa terjadi begini Zaenab! kamu ceroboh sekali!! sungguh ceroboh" seru Bu Marni pada anaknya itu, sambil terisak dan memegangi kepalanya yang sudah terasa pusing.
" M-maaf Ibu, Zaenab khilaf," ucapnya di sela-sela isakan tangisnya, kepalanya tertunduk lemah sambil memilih ujung baju yang dia kenakan.
" Ibu memang menginginkan kamu menikah dengan Roy, tapi bukan berarti kamu menyerahkan tubuh kamu padanya Zaenab!!" seru Bu Murni dengan rasa kecewa, sambil air matanya mengalir deras.
Bu Marni memang gil* akan harta, tetapi dia masih waras agar anaknya tidak berhubungan sebelum menikah.
" Terus Roy gimana mau kah tanggung jawab?" tanya Bu Marni di sela-sela isak tangisnya.
" Ia Bu, dia akan datang tiga hari lagi." Ucap Zaenab dengan masih sesegukan. Bu Marni sedikit lega dengan pernyataan putrinya itu, setidaknya Roy mau bertanggung jawab.
***
Pov Pramudya
Huft lega rasanya presentasi hari ini sukses, aku bisa meyakinkan pihak investor yang hendak menanam sahamnya di perusahaan ini.
" Selamat ya Pak Pram prestasi anda sukses," ujar rekan-rekan kerja setim kami.
" Terimakasih juga semuanya, tanpa dukungan dan kerja keras kalian saya juga tidak akan sesukses ini, semuanya berkat kalian semuanya" ucapku pada tim pendukung.
Mila membantuku membawa berkas dan juga laptop ku untuk aku bawa ke ruangan aku yang ada di lantai bawah.
" Sudah semua Mil?" tanyaku pada sekretaris ku itu.
" Sudah Pak, ayok buruan kita kerjakan PR yang tak pernah usai ini" seruku sambil ku jinjing laptop dan beberapa tumpukan map, sementara Mila membawa beberapa berkas hasil dari meeting hari ini.
Ketika aku membukakan pintu untuk Mila tiba-tiba aku di kagetkan dengan seseorang yang sudah berdiri tegak di ambang pintu.
__ADS_1
" Daniar !!" seruku agak sedikit lantang, sebab bagaimana tidak tiba-tiba dia sudah berdiri tegak di sana tanpa berucap sepatah kata pun, senyum pun tidak, yah begitulah asisten pribadi istriku itu.
" Maaf pak anda di suruh ke ruangan Bu Karina sekarang juga" ucapnya dengan suara lantang, dan mukanya yang datar.
Daniar, memang seperti itu, dia selain sebagai asisten istriku dia juga merangkap sebagai bodyguardnya istri ku.
" Baiklah, aku akan ke sana sekarang " jawabku, lalu akupun melangkah dengan cepat mendahului mereka berdua.
" Ibu ada Bella?" tanyaku ketika aku ada di depan meja sekretariat centil itu.
" Eh Pak Pram, a-aada Pak, silahkan" jawabnya sambil tersenyum genit, seperti biasa tatapan matanya selalu nakal, risih sendiri aku jadinya.
" Mari saya antar" imbuhnya lagi, lalu Bella berdiri dan langsung mengantarkan aku ke depan pintu kantor istriku.
tok-tok-tok.
Setelah mendengar jawaban dari dalam Bella membuka pintu dan mengatakan kedatanganku pada Karina.
" Silahkan masuk Pak" ucap Bella sambil tersenyum den centilnya, lalu dia menggeser tubuhnya yang seksi itu minggir ke tepi, untuk memberikan aku jalan masuk, dan mengucapkan kata terimakasih padanya.
Lalu Bella menutup pintu ruangan ini, setelah aku masuk, dan aku melangkah ke depan menuju di mana istri ku itu sedang duduk di kursi kebesarannya, kalau seperti ini aku kadang serba salah menyapanya, mau aku panggil sayang ,atau aku memanggil dia dengan sebutan Ibu, sebab bagaimanapun juga dia bosku, dan ini posisinya di kantor lagi. Apalagi saat aku masuk dia tidak menatap ke arahku melainkan ke arah laptop yang ada di depannya.
Ah baiklah akan aku coba menyapa dengan bahasa formal saja, sebab Karina ini susah di tebak orangnya.
" Selamat siang Bu Karina?" sapaku ketika aku sudah berdiri di sebrang meja kerjanya.
" Silahkan duduk Pak Pram," ucapnya tanpa melihat ke arahku, syukurlah yang aku lakukan tadi sudah benar, aku harus bersikap formal padanya.
" Anda memanggil saya Bu?" ucapku kemudian.
" M... bentar ya?" ucapnya, dengan posisi masih menatap monitor laptop di hadapannya itu.
__ADS_1
" Baik Bu, terimakasih" balasku sembari ku dudukkan pantatku di kursi yang ada di seberang mejanya.
Aku menunggunya agak lama, dan aku menunggu sampai satu menit, dua menit, tiga menit sampai pada sepuluh menit, duh aku di kacang in sama dia.