
Masa cuti Mas Pram sudah habis, Mas Pram kembali bekerja dan saat ini kami untuk sementara tinggal di sebuah apartemen, yang di sewa Mas Pram dalam jangka waktu setahun, dadakan memang saat pindah ini, sebab Mas Pram harus kerja dan kurang nyaman sama penghuni yang lain karena kos Mas Pram ramai oleh kami.
Aku masih enggan untuk berangkat kerja, karena masalahku belum kelar, aku jadi enggan untuk cerita sama Mas Pram, sebab sewaktu di kos dan sekarang pindah di apartemen, masih ada Ibunya Mas Pram, Fatimah dan Zaenab.
Entahlah kenapa Zaenab tak kunjung pulang, apakah dia akan tinggal di sini terus, padahal aku lihat keluarga Mas Pram mengabaikannya.
Beberapa hari tinggal bersama Mas Pram membuat aku merasa nyaman bersama dia, terlebih tanggung jawab dia yang luar biasa terhadapku,
Semenjak aku tak ada, aku serahkan semua wewenang pada Pak Hamdan, dia adalah orang kepercayaan Ayahku.
Dan keadaan Ayah belum juga membaik, sebagai anak aku turut bersedih, semenjak aku merasa ga aman, untuk sementara aku menyewa bodyguard buat jagain Ayahku.
Setelah hampir dua Minggu akhirnya aku mulai merasa perlu untuk kembali ke kantor dan semua aku persiapkan sebaik mungkin.
Aku dari Apartemen berangkat sendiri-sendiri, sebab kami ga mau terlalu mencolok mengenai hubungan kita.
kami akhirnya jadian(pacaran gaes), Mas Pram katanya yang putus dari Zaenab akhirnya Mas Pram masuk ke dalam pelukanku alias kekasihku. Aku mengorek Fatimah untuk menceritakan hubungan Mas Pram dan Zaenab dan aku berhasil tanpa sepengetahuan Mas Pram.
Aku sangat bahagia sekali bisa mendapatkan Cintanya, entahlah mungkin karena saingan banyak, bangga dong dapatkan dia, udah ganteng, badannya atletis, anak Sholeh lagi suami idaman pokoknya.
Sebelum istirahat kantor aku mengirimkan pesan pada Mas Pram.
__ADS_1
* Karina [ Mas aku tadi sudah pesan makan siang buat kamu lho ya? jadi ga usah makan di luar, awas ya kalau aku lihat Mas makan di luar sama sekertaris kamu itu] Pesanku ku kirim melalui aplikasi berwarna hijau itu, di sertai emoticon smiley.
* Pram[ iya Karin, terimakasih ya sudah di belikan makan siang, Mas jadi ga enak nih, kapan-kapan mas yang traktir kamu ya?] balasnya dengan emoticon smiley juga
* Karin[ sama-sama Mas, aku ga suka saja Mas makan bareng sama wanita lain cuma berdua lagi, trus nanti bila sekertaris kamu yang ganjen itu belikan kamu makan, jangan di makan, nanti suruh OB bawa ke tempatku, aku ga suka itu] ujarnya dengan emoticon marah, aku sendiri jadi deg-degan membacanya, kenapa jadi posesif kaya gini.
Semenjak keadaan membaik Mas Pram di angkat menjadi Manager Operasional. itupun atas rekomendasi dari Pak Hamdan, buka aku sendiri lho reader.
* Pram[ Iya Dek Karin sayang] balasnya yang terdengar mesra, hatiku berbunga-bunga di panggil begitu mesranya, serasa terbang ke langit ke tujuh.
* Karin [ 😘] balasku tak kalah mesranya, maklum saja ya namanya juga orang lagi kasmaran, moga saja aku bukan sebagai pelariannya dari Zaenab, sungguh momentumnya begitu tepat sekali.
Tiba makan siang aku sudah mengirimkan sekotak makan siang berikut buahnya melalui Office boy.
" Maaf Pak Pram dapat kiriman dari Ibu Karin" seru OB itu sembari menyerahkan kantung plastik berwarna putih padaku.
" Terimakasih ya Jajang" balasku seraya menerima kantung plastik itu.
" Sama-sama Pak, kalau gitu saya permisi dulu ya pak?" balasnya dan berlalu dari ruanganku.
Tak berapa lama ponselku berbunyi, dan aku geser tombol warna hijau.
__ADS_1
" Mas, sudah ke situ belum Jajang?"
" Sudah Rin, makasih ya?" ucapku dengan tulus.
" Iya Mas, buruan di makan dulu habis itu kamu sembahyang ya? trus bilangin sama sekertaris kamu itu ga usah belikan atau bawain bekal buat kamu lho ya?" serunya dengan nada dingin, deg aku kaget perlakuan Karin padaku.
" Iya Dek, aku nanti ngomong sama dia pelan-pelan ya, soalnya Mas ga enak, mau bilang gimana ke dianya, katanya dia masakin itu buat Mas" balasku menjelaskan.
" O...jadi gitu ya?? kamu lebih suka makanan dari dia dari pada aku, atau jangan-jangan Mas sudah punya hubungan khusus sama dia" serunya dengan nada tinggi.
" Aduh ga gitu sayang" balasku lalu aku tutup mulutku karena aku keceplosan memanggil dia 'sayang lagi'. Seketika tubuhku berkeringat walau aku berada di ruangan yang dingin, gugup seketika menerpa aku, apa yang aku ucapkan tadi rutukku dalam hati, karena setelah itu Karina mematikan ponselnya, dan selang beberapa menit tiba-tiba ada yang masuk menerobos ruanganku,
" Karina!" seruku kaget, aku masih terpaku di tempat dudukku, keringat dingin masih merembes di mukaku ini, aku takut dia marah sama aku karena aku keceplosan memanggil dia 'sayang '.
Lalu dia mendekat dan mengambil tisu yang ada di atas meja tamu, di usapnya keningku yang nampak berkeringat.
" Mas sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.
" E-enggak kok Rin" jawabku gugup duh aku harus alasan apa kali ini.
Aku jadi mati kutu kalau deket sama dia, apalagi satu ruang cuma berdua, bau parfum dia saja sudah begitu menggoda.
__ADS_1
Dia duduk di sebelahku dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
Kontan saja keringat dingin keluar lagi, ini bukan kali pertama aku dekat dengan dia, tetapi bahasa tubuhku tak bisa menolaknya, aku elus-elus pundak dia dengan sayang, duh di kantor malah pacaran, aku merutuki diri sendiri.