
' Apa mungkin karena masalah Sinta kemaren, ah entahlah, yang penting tugasku pagi ini yang jadi tanggungan jawab aku sudah aku laksanakan.
" Lihat istrimu ini, apa dia tidak suka bila kakak sama adiknya akur, eh ini malah mengadu domba ga jelas."Jawab ibu ketika Mas Andra menanyakan tentang keributan ini, matanya menatap tajam ke arahku, dan jari telunjuknya mengarah kepadaku, seolah aku ini adalah manusia rendahan.
" Ya ampun ibu, siapa yang mengadu domba coba? saya cuma meluruskan saja yang salah, dan tak bermaksud demikian, lagian salah saya di mana coba, saya sudah mengerjakan apa yang jadi kewajiban saya sebagai menantu ibu di sini, kalau baju Sinta, Santi dan Bowo bukan kewajiban saya Bu, saya ini di sini menantu ibu dan bukan babu, biarkan saya orang kampung dan miskin, tetapi saya juga punya harga diri Bu," ucapku panjang lebar menimpali fitnah ibu yang sungguh keterlaluan menurut aku.
" Huh...harga, harga diri macam apa yang kamu punya, makan saja ya bayar pakai bicara tentang harga diri, bila di sini saja hanya numpang, coba kalau punya harga diri pasti kamu ada manfaatnya di sini, sudah miskin belagu lagi, mana punya harga diri!!" Seru ibu yang tumben-tumbennya tak sungkan mencaci maki aku di depan Mas Andra, biasanya dia akan menunggu Mas Andra pergi baru mengajak aku ribut sampai dia puas, aku sampai malu dengan tetangga di sebelah rumah, yang mendengar keributan kami.
Rupanya ibuku yang setiap panen ke sini mengirimi hasil panennya pun tak ada gunanya, sebab semua tak pernah di pandang sama ibu mertua, bukankah tiap hari mereka memakan beras dari kiriman ibuku, apa dia lupa? gerutu tak habis pikir.
" Astagfirullah" seruku dengan keras, sembari aku memegang dada ini dengan mengucapkan istighfar.
" Ibu, kenapa ibu bicara begitu? pada istriku" balas Mas Andra yang terlihat kaget juga, baru tahu dia mulut ibunya itu bagaikan cabe rawit domba level seratus nyinyir in anak orang yang tiada habisnya.
" Kenapa? kamu ga terima aku begini pada dia hah!!" Ucap ibu dengan lantang kepada Mas Andra, kedua tangan ibu berkacak pinggang di depanku, seketika Mas Andra menggeser tubuhku dan di sembunyikan tubuh kurus ini dari hadapan ibunya, untuk menghindar tatapan tajam ibu.
" Kalau begini sikap ibu pada istriku, aku pastikan aku akan pindah dari sini Bu, lagian aku tidak terima jika istri ku di suruh nyuci bajunya Bowo apalagi dalaman Bowo, memangnya Sinta itu ngapain di rumah, bantu pekerjaan rumah saja tidak, kerjaannya hanya nonton televisi saja tiap hari." Balas Mas Andra yang tak mau kalah.
__ADS_1
" Suruh menantu ibu itu juga kerja, biar dia juga ada harga dirinya di rumah ini juga."Balas Mas Andra yang tak kalah pedasnya juga.
" Ups salah biar dia bermanfaat di rumah ini juga." Imbuhnya lagi.
" Kamu keterlaluan Mas, bicara seperti itu pada suamiku, masih baik Mas Bowo orang kota tidak seperti istri kamu itu yang kampungan dan tak tahu diri," timpal Sinta tak mau kalah, dia membela suaminya yang pengangguran itu, biarpun dia berasal dari kota.
" Di mana letak keterlaluan nya hah? katakan? di mana? terus aku harus berkata bagaimana kepada kamu hah, kamu ini sudah punya suami tak mau melayani dia, maunya enaknya saja, tahunya beres saja." Balas Mas Andra membalas cibiran Sinta.
" Coba kalau kamu menggantikan kerjaan Mitha membereskan seisi rumah, sambil mengasuh anak kecil, kamu bisa hah?" ucap Mas Andra tak kalah geram.
" Bukan begitu Bu, saya hanya meluruskan yang salah, dan mengembalikan semuanya sebagai mana mestinya, sudahlah Bu, saya capek saya mau kerja." Balas Mas Andra yang terlihat kesal, Mas Andra juga tak mau ribut dengan ibunya, bisa naik darah bila semua ini di teruskan dan meladeni orang yang egois itu butuh tenaga lebih, dan butuh kesabaran extra.
"Ayo Dek masuk," Seru Mas Andra, dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam kamar dari pada aku nanti jadi bulan-bulanan ibu dan Sinta.
" Heh mau ke mana kalian, di ajak bicara malah menghindar, tidak sopan kalian ini." seru ibu pada kami, kamipun tak peduli terus melangkah masuk ke dalam kamar.
Ketika kami sudah masuk ke kamar, mulut ibu bukannya diam, malah mulut wanita paruh baya itu mengomeli aku dan Mas Andra tanpa henti, sepertinya wanita itu mempunyai tenaga lebih untuk menyerang kami, terutama aku yang menjadi sasaran utamanya.
__ADS_1
" Mas aku minta ijin pergi ke rumah temenku ya, jadi aku ikut mas sampai ke rumah temanku ya, lagian pekerjaan rumah sudah selesai semua kok" pintaku pada Mas Andra.
Diapun menyanggupinya, sebab mungkin dia tak tega melihat aku jadi bulan-bulanan ibu dan Sinta.
" Ia Dek, lebih baik kamu di rumah temanmu dulu, sampai situasi rumah mereda, biar nanti Mas akan jemput kamu setelah pulang dari kerja." Balas Mas Andra memberitahu, dan membuat aku lebih lega sebab aku tak perlu menjelaskan alasan aku untuk ke rumah temanku, nanti biar aku jelaskan bila urusan aku sudah selesai.
Aku ke rumah temanku hanya untuk melihat kontrakan yang mau ia tunjukkan kepadaku, sebab rumah itu harga sewanya cukup murah di bandingkan dengan yang lain, sebab pemiliknya lagi butuh uang cepat, tetapi pemilik meminta sewanya di bayar tiga tahun dengan harga miring.
Tadi yang aku lihat di foto rumahnya sederhana sih, teras rumahnya lumayan lebar, bisa buat usaha Laundry, tinggal merenovasi saja dan itu sudah di sampaikan temenku pada pemilik rumah dan di ijinkan asal aku sanggup membayar sewa selama tiga tahun, dan sepertinya aku tak keberatan sebab uang tabungan aku cukup buat itu, dan untuk merenovasi sedikit pasti nanti bisa, dan untuk membeli peralatan laundry mesin cuci dan juga setelikaan berikut dengan mejanya juga.
Setelah aku hitung-hitung tabunganku cukup untuk semua itu, bahkan masih sisa walaupun tinggal beberapa juta, tak apalah nanti kalau usaha ini berhasil sebagian akan aku tabung lagi sebagai gantinya.
lagi pula kamarnya ada dua tetapi kamar mandi cuma satu dan berada di luar.
Menurut aku ini cukup buat keluarga kecil seperti aku ini.
Ah sudahlah yang penting aku terbebas dari dari keluarga racun itu, aku bisa gila bila berlama-lama tinggal berada di sana.
__ADS_1