Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Juru Kunci Pak Rahmat


__ADS_3

Dio pun terlihat termenung di meja kerjanya. Akhir-akhir ini Dio bahkan menolak banyak klien karena dirinya yang terlihat tidak fokus dalam pekerjaan nya karena belum kunjung bisa memecahkan masalah yang menghinggapinya.


Dio pun seperti merasa tertekan dan menganggap dirinya telah gagal dan tidak ada gunanya. Mengapa dirinya sanggup dan bisa membantu menyelidiki kasus-kasus klien nya sedang kan dirinya sendiri tidak mampu untuk mencari tahu keberadaan separuh jiwa nya.


"Beberapa detektif yang telah ku sewa dan ku bayar mahal pun tidak ada yang memberi kabar sekali. Semua mengatakan jika tidak berhasil mengorek informasi," gumam Dio dengan menengadahkan kepala nya menatap langit-langit ruangan nya tersebut.


"Tunggu! Seperti nya ada satu detektif yang kemarin sempat menelepon ku namun setelah itu telepon nya pun terputus begitu saja," ucap Dio dengan wajah kembali bersemangat.


Dengan cepat Dio pun terlihat mengutak-atik hp nya mencari-cari nomer detektif tersebut. Dengan segera menelpon nya dengan perasaan senang karena ada sedikit harapan.


Ttuuutt ...


Ttuuutt ...


Ttuuutt ...


Nomer detektif tersebut pun hanya terlihat memanggil saja dan tidak kunjung tersambung.


"Siall!! Kenapa juga nomer detektif Choi malah tidak aktif! Haihh," umpat Dio yang kemudian segera meredam emosinya kembali dengan menghela nafas panjang.


"Tidak bisa di biarkan ini. Aku harus melacak keberadaan detektif Choi," gumam Dio dengan kemudian menjentikkan jari nya di atas keyboard.


Dio pun terlihat menelusuri jejak detektif Choi melalui surel yang pernah dikirimkan kepada nya. Disaat itu juga Dio pun segera melacak dan meretas email yang sering di gunakan oleh detektif Choi.


Dengan mudahnya Dio pun langsung terhubung dengan email detektif Choi tersebut dan segera membuka linimasa titik lokasi terkini detektif Choi.


Dio pun nampak termenung melihat titik terakhir yang terlacak.


"Kenapa detektif Choi titik lokasi nya berada di pulau Kalimantan? Apakah dia masih ada misi dengan orang lain ataukah hanya menerima misi dari ku saja? Lantas kenapa titik lokasinya sama sekali tidak berubah? Ataukah hp yang di gunakan tersebut terjatuh ataukah sengaja di buang?" batin Dio dengan wajah yang terlihat semakin gusar.


"Apa mungkin detektif Choi telah di bunuh dan di buang di pulau itu?" gumam Dio lagi.


Dio pun terlihat semakin cemas dan terlihat mondar-mandir. Kemudian Dio pun segera melacak riwayat perjalanan yang telah di lalui oleh detektif Choi.


Dio pun kembali termenung ketika melihat riwayat pencarian yang telah di lakukan oleh detektif tersebut.


"Detektif Choi terlihat sedang bertanya kepada agen bus yang biasa mengangkut penumpang antar pulau. Tak lama kemudian detektif Choi pun terlihat membeli tiket perjalanan tersebut. Sayang sekali cctv ini bukan cctv yang bisa menampilkan suara dan wajah yang jelas. Jadi diriku pun hanya bisa menerka apa yang sedang di lakukan oleh detektif Choi itu," gumam Dio sembari berfikir dengan keras.

__ADS_1


Tak lama kemudian terbesit ide di kepala Dio untuk mendatangi agen bus yang membawa detektif Choi pergi.


Dio pun segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Dengan sigap Dio pun segera memasukkan laptop dan peralatan yang biasa di gunakan oleh Dio untuk meretas sistem ke dalam tas punggung nya.


Setelah itu Dio pun segera mengunci ruang kerjanya dan melenggang keluar menuju ke basement dimana mobilnya berada.


Dio pun segera melajukan mobil nya dengan cepat. Kali ini tidak ada yang bisa di mintai pertolongan oleh Dio termasuk Akio yang telah menutup akses komunikasi terhadap nya setelah kejadian pernikahan nya dengan Vania dan menghilangnya keluarga Aninda.


Dio pun menyadari jika semua kesalahan ada pada nya. Maka dari itu Dio pun tidak berani untuk meminta tolong atau mengusik siapa pun selain berdiri di atas kakinya sendiri.


Setengah jam kemudian Dio pun sudah sampai di depan agen bus malam tersebut. Dio pun segera mengorek informasi tentang detektif Choi yang sempat memesan tiket di agen bus tersebut.


Namun sayangnya sang karyawan pun menjawab jika dirinya adalah petugas yang baru dan tidak mengerti siapa yang di maksud oleh Dio tersebut.


"Mas, boleh saya melihat buku catatan pembelian tiket perjalanan nya beberapa Minggu yang lalu?" pinta Dio dengan sangat halus.


"Wah kata boss saya buku catatan nya juga hilang kak. Ini adanya tinggal buku catatan pembelian tiket yang terbaru saja," ucap sang karyawan dengan menyodorkan buku pembelian tiket yang terbaru tersebut kepada Dio.


Dio pun terlihat sangat frustasi dan kemudian mengeluarkan segepok uang untuk di buat pancingan kepada sang karyawan.


"Ini semua buat mas nya jika bisa menjawab pertanyaan saya tadi dengan jujur," ucap Dio dengan mengibas-kibaskan uang tersebut berharap sang karyawan berubah pikiran.


Dio pun meninggalkan agen bus tersebut dengan langkah gontai dan segera menuju ke dalam mobilnya.


"Kenapa seperti nya ada yang berusaha untuk menghalangi langkahku dalam menemukan Aninda? Hah, aku pun sangat mencemaskan keadaan Aninda. Bagaimana jika ternyata dirinya benar-benar hamil? Bagaimana cara Aninda menjalani hari-hari nya tanpa ku selama masa kehamilan nya? Aku yakin sekali jika Aninda tengah mengandung anakku. Apa yang harus ku lakukan?!" pekik Dio dengan menepuk-nepuk stir mobilnya dengan cepat.


Dio pun segera melajukan mobilnya kembali dan menuju ke kediaman orang tua Aninda yang semakin hari semakin terlihat kotor dan tak terawat tersebut.


Dio pun kemudian berinisiatif membersihkan halaman rumah Aninda tersebut untuk melepas rindu terhadap separuh jiwa nya.


Beberapa tetangga Aninda yang lewat pun terlihat memandang Dio dengan tatapan aneh dan curiga karena Dio yang nampak menyapu halaman tersebut seorang diri.


Tak lama kemudian terlihat seorang bapak-bapak yang Dio kenal sebagai mantan karyawan ayah Aninda pun terlihat datang dan menyapa Dio.


"Mas nya ini calon suaminya Aninda yang batal nikah itu kan?" tanya bapak tersebut kepada Dio.


"Iya pak. Ini semua salah saya. Apakah bapak pernah melihat keluarga pak Dirga kemari? Kenapa rumahnya terlihat kosong sejak saat itu?" tanya Dio kepada bapak tersebut.

__ADS_1


Bapak tersebut pun melihat Dio dengan tatapan penuh selidik.


"Saya orang nya bisa di percaya pak. Waktu itu saya telah di jebak oleh istri saya yang sekarang hingga pernikahan saya dengan Aninda batal secara sepihak," terang Dio agar bapak tersebut mempercayai nya dan leluasa bercerita kepada nya.


"Baiklah, bapak akan bercerita," ucap bapak tersebut dengan menjeda ucapan nya. Sedangkan Dio pun terlihat sangat penasaran dengan apa yang akan bapak tersebut sampai kan.


"Malam itu, seperti biasa bapak mengecek stok makanan untuk ayam ternak pak Dirga. Entah mengapa waktu itu saya pun datangnya juga sudah menjelang tengah malam,"


"Saya pun telah di beri kepercayaan pak Dirga dengan membawa kunci peternakannya sendiri yang mas Dio waktu itu membantu di belakang rumah Pak Durga itu. Jadi saya pun bisa dengan leluasa keluar masuk peternakan tersebut,"


"Sewaktu saya masih di sibukkan dengan ayam-ayam di kandang. Saya pun mendengar keributan di rumah pak Dirga tersebut mas. Kemudian saya mengintip perlahan dari bilik lubang samping. Saya pun nampak terkejut karena rumah pak Dirga pun terlihat di kepung oleh banyak preman bersenjata tajam,"


"Saya pun tidak begitu tahu apa yang mereka bicarakan karena suara mereka pun terdengar samar. Tak lama kemudian pak Dirga serta anak istrinya pun terlihat tergesa keluar dari rumah. Saya ingin membantu dengan memutar jalan lain untuk mencari jejak kepergian pak Dirga beserta anak istrinya. Namun saya kehilangan jejaknya hingga sekarang pak Dirga pun tidak ada kabar sama sekali," tutur bapak tersebut menjelaskan secara gamblang dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


"Kenapa bapak tidak segera melaporkan kepolisi pak??" tanya Dio dengan geram terhadap bapak tersebut.


"Saya orang miskin mas. Takut berurusan dengan polisi. Saya pun takut jika di anggap salah satu komplotan preman tersebut dan dijebloskan ke dalam penjara. Karena saya hanyalah seorang diri waktu itu. Sekarang kan banyak mas kasus seperti itu. Niat nya menolong dan menjadi saksi malah masuk ke dalam bui," tutur bapak tersebut dengan sejujurnya.


"Bapak tau wajah dari preman-preman tersebut tidak pak?" tanya Dio dengan penuh harap.


"Saya tidak tahu wajah mereka semua mas. Karena semua pake penutup kepala warna hitam," jawab bapak tersebut.


"Kalau ciri-ciri yang lain misalnya pak?" tanya Dio masih penuh harapan terhadap ada sedikit ingatan dari bapak tersebut.


Bapak tersebut nampak berfikir sangat lama dan berusaha mengingat-ingat kejadian tersebut.


"Apa ya mas? Semuanya sih terlihat memiliki tatto di lengan tangan nya. Hanya salah satu preman yang menodongkan senjatanya tersebut terlihat tangan nya seperti terkena penyakit vitiligo itu lho mas. Kulit yang terlihat putih bercak-bercak itu lho," terang bapak tersebut.


Dio pun nampak manggut-manggut dan segera menyodorkan kartu nama nya serta beberapa lembar uang untuk bapak tersebut.


"Pak, informasi bapak sudah saya terima. Saya meminta tolong dengan sangat kepada bapak untuk tetap merawat rumah orangtua Aninda sebaik mungkin iya pak. Ini uang DP untuk gaji awal bapak merawat rumah ini. Jika kekurangan sesuatu maka bapak bisa segera hubungi nomer saya di kartu nama saya ini ya pak?" ucap Dio dengan memberikan tumpukan buang serta sebuah kartu nama kepada bapak tersebut.


"Baik mas! Siap laksanakan! Rumah saya ada di ujung gang ya mas. Saya biasa di panggil dengan sebutan pak Rahmat oleh warga sini," ucap bapak tersebut yang ternyata memiliki nama pak Rahmat.


"Baik pak Rahmat. Kalau begitu saya permisi lebih dulu iya pak? Jika ada seseorang yang terlihat mencurigakan datang cukup bilang saja jika bapak membersihkan rumah ini secara sukarela dan jangan ceritakan kepada orang lain tentang apa yang bapak lihat malam itu iya pak?" ucap Dio yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh pak Rahmat.


"Siap mas,"

__ADS_1


Kemudian Dio pun segera memasuki mobilnya dan mengemudikan mobilnya tersebut sembari berpikir dengan keras.


"Siapa yang berani menyewa preman untuk mengancam Aninda serta kedua orang tuanya? Sudah pasti ini semua adalah ulah Vania. Ya! Siapa lagi kalau bukan wanita ular itu! Namun jika aku tiba-tiba mendesak Vania otomatis Vania selalu berkilah mencari seribu alasan. Aku harus mencari cara!!" ucap Dio dengan setengah memekik.


__ADS_2