
Kali ini Ayuna memutuskan untuk kembali ke tanah air dan meniti karir model nya di dalam negeri sendiri.
Ya, alasan nya sudah tentu karena untuk mengejar kembali cinta pertama yang sedari kecil Ayuna sukai. Siapa lagi kalau bukan Zey, saudara kembar Zia.
Ayuna pun memutuskan untuk tinggal di rumah lama milik kedua orang tua nya di Bali. Yang sudah tentu masih bersebelahan dengan rumah milik keluarga besar mami Aninda.
Terlihat Ayuna sangat sibuk sekali mengatur ulang dekorasi rumah lama kedua orang tua nya tersebut. Ayuna pun merubah letak kamar tidurnya dan memilih di lantai atas agar lebih leluasa lagi dalam memantau keseharian Zio tersebut.
"Haihh ... lelah nya," ucap Ayuna dengan sangat lirih.
Sedangkan Zia yang melihat rumah mewah di samping rumah orang tua nya yang terlihat telah di tempati kembali pun menjadi sangat senang.
"Mami! Kelihatannya Ayuna kecil sudah kembali kemari! Astaga, kita akan bertetangga dengan model internasional Ayuna Alexandria!!" pekik Zia menuju ke tempat dimana mami nya berada.
"Benarkah?? Wah, artinya gadis kecil itu telah tumbuh menjadi wanita cantik dan terkenal. Senang mami mendengarnya," ucap Aninda dengan ikut tersenyum.
"Yang di maksud kak Zia siapa mi?" tanya Zizi putri bungsu Aninda yang telah duduk di bangku kelas tiga SMP.
"Itu kakak kecil yang sewaktu kamu masih bayi yang sering datang kemari menimang-nimang kamu," jawab Aninda dengan terus melanjutkan memasak untuk persiapan makan malam keluarga kecilnya tersebut.
Zizi pun terlihat mengangguk kan kepala seolah mengerti apa yang di katakan oleh mami nya tersebut.
Tanpa terasa malam pun tiba. Terdengar suara bell pintu rumah pun terus berbunyi.
"Zey! Tolong lihat lah siapa yang sedang bertandang kemari! Persilahkan masuk. Mami dan adik-adik kamu masih sibuk menyiapkan makan malam untuk kita semua," teriak Aninda memanggil putra nya yang terlihat masih asik menatap layar ponsel nya itu.
"Iyaa, Mi," jawab Zey dengan melangkah menuju ke pintu depan.
Terlihat Zey membuka kan pintu untuk tamu nya tersebut. Pandangan ke dua nya pun bertemu.
Sekilas Zey pun terpana akan wajah cantik gadis yang ada di depan nya tersebut. Begitu juga dengan Ayuna, yang terlihat merah merona karena terus di tatap oleh Zey dengan begitu intens.
"Ha--hai, Kak Ze--ey," sapa Ayuna dengan terbata karena menahan debaran di jantung nya yang semakin tidak terkontrol.
"Masuklah," jawab Zey mempersilahkan tamu nya tersebut dengan mimik wajah yang kembali terlihat datar.
Ayuna pun kemudian terlihat mengekori langkah Zey dengan membawa satu kantong berisi buah tangan yang ingin dirinya berikan untuk Mami Aninda.
__ADS_1
"Siapa tamu kita, Zey??" tanya Aninda dengan masih terlihat sangat kerepotan.
"Ayuna, Mi," jawab Zey dengan singkat.
Mendengar kata Ayuna pun Zia segera melangkah menuju ke tempat saudara kembarnya berada.
"Dimana Ayuna? Astaga, kamu terlihat lebih cantik dari foto-foto yang terpampang di billboard itu!" pekik Zia dengan memutari tubuh Ayuna dengan wajah terkesima.
"Ah Kak Zia juga terlihat sangat cantik seperti Mami Aninda," jawab Ayuna dengan tersipu malu.
"Ayuna hanya singgah sebentar di Bali atau kah kembali menetap? Ayo kita semua nya duduk dengan tenang karena waktu makan malam telah tiba. Dudulah Nak Ayuna, anggap saja rumah sendiri seperti waktu kamu masih kecil dulu," tutur Aninda.
"Ayuna menetap di Bali, Mi. Hai, Zizi ... kamu sudah sebesar itu ya sekarang?" tanya Ayuna tersenyum ramah kepada Zizi.
"I--iya, Kak," jawab Zizi dengan penuh rasa kekaguman melihat wajah cantik yang dimiliki oleh teman kakak nya tersebut.
"Baguslah jika kembali menetap di tanah air. Sebentar biar mami panggilkan papi Dio lebih dulu," ucap Aninda dengan segera berlalu menuju ke ruang kerja suami nya tersebut.
Sedangkan Zey pun nampak terdiam dan hanya mendengarkan obrolan-obrolan kecil di antara adik-adiknya tersebut.
"Ayo-ayo kita makan lebih dulu. Nanti baru di lanjutkan lagi obrolan nya," ucap Dio memberikan instruksi kepada anak dan istrinya.
Semua nya pun terlihat makan dengan khidmat. Sesekali Ayuna terlihat melirik Zey yang terlalu sangat acuh dengan kehadiran nya tersebut.
Pandangan Ayuna tersebut tak luput dari penglihatan Zia.
"Apa Ayuna menyukai Kak Zey yang terlihat anti wanita itu? Ah sayang sekali kenapa wanita secantik Ayuna malah menyukai lelaki macam Kak Zey yang sangat irit bicara itu. Padahal Mami dan Papi pun tidak sedatar itu, namun kenapa memiliki seorang putra yang berkepribadian seperti Kak zey?" gumam Zia di dalam hati.
Hingga makan malam pun usai. Mereka semua pun nampak berkumpul di ruang keluarga dengan menonton acara televisi.
Kali ini Ayuna pun nampak di dekati oleh Zia dan Zizi yang terlihat sangat antusias karena di datangi oleh model papan atas tersebut.
Zia dan Zizi pun terus membuat sesi foto bersama Ayuna dengan hebohnya. Sedangkan Zey pun hanya menatap sekilas kelakuan adik-adiknya tersebut.
"Tag! Jangan lupa tag dan follback instagramku ya, Ay!" pekik Zia dengan segera mengunggah foto-foto nya tersebut.
"Aku juga kak! Kak Ayuna, folback milikku juga!" pekik Zizi tak kalah heboh.
__ADS_1
Sedangkan Ayuna pun segera menuruti keinginan ke kakak beradik itu. Terlihat Zia pun mengintip Instagram milik Ayuna yang terlihat mengikuti akun Instagram milik kakak nya tersebut.
"Astaga! Ayuna sudah mengikuti Instagram milik Kak Zey sedari dulu? Ih curang, aku enggak sekalian di follow juga dari dulu," ucap Zia dengan memanyunkan bibirnya yang membuat nya terlihat lucu.
"Iya, maafin Ayuna ya Kak," ucap Ayuna dengan melirik arlojinya yang nampak terlihat sudah sangat larut.
"Mami Anin, Papi Dio, Ayuna pamit pulang lebih dulu ya karena malam sudah sangat larut. Besok Ayuna akan mulai masuk kuliah di kampus yang baru. Jadi belum bisa bertamu lebih lama lagi," ucap Ayuna dengan sopan.
"Kuliah dimana kamu Ayuna?" tanya Zia dengan penasaran.
"Di Udayana, Kak. Ekonomi dan Bisnis," tutur Ayuna yang memang sengaja mengambil jurusan tersebut agar selalu bisa memantau keseharian Zey di kampus tersebut.
"Wahh ... berarti kita satu kampus! Kamu satu fakultas dengan Kak Zey. Kalau aku sih beda. Namun kita pulang dan perginya barengan saling tunggu menunggu. Besok bareng kita saja seperti waktu kita kecil dulu yang selalu bertiga pulang dan pergi ke sekolah nya, mau enggak kamu, Ay?" pinta Zia dengan penuh harap.
Ayuna pun terlihat tersenyum dan kemudian mengangguk. Kemudian mama Aninda pun meminta Zey untuk mengantarkan Ayuna sampai di depan pagar rumah milik keluarga Ayuna.
Dengan langkah gontai, Zey pun mengantarkan Ayuna menuju ke rumah nya yang persis pas berada di samping rumah orangtuanya tersebut.
"Kak Zey ..." ucap Ayuna lirih.
"Hem, kenapa?" tanya Zey kemudian.
"Apa jawaban kakak telah berubah? Apa dengan diriku yang telah kembali berada disini maka Kakak akan menerima cintaku dan tidak akan menolak diriku lagi?" tanya Ayuna dengan penuh harap setiba keduanya di depan pagar rumah keluarga Ayuna.
Mendengar ucapan Ayuna tersebut pun membuat Zey bingung kembali. Sudah berapa kali Zey menolak pernyataan cinta dari gadis tersebut.
Namun seolah Ayuna tidak memiliki rasa menyerah sedikit pun dan bahkan bersedia kembali ke tanah air seorang diri agar bisa kembali dekat dengan Zey yang sudah sedari kecil di kagumi nya.
"Ay, sudah Kak Zey bilang berapa kali jika Kakak tidak memiliki perasaan apa pun terhadap kamu. Kamu sudah aku anggap seperti adik aku sendiri. Namun tidak dengan perasaan cinta," ucap Zey dengan kembali menolak Ayuna dengan tegas.
"Kak? Ayuna tidak butuh balasan cinta. Cukup dengan Kak Zey menerima cinta dari ku saja tanpa harus membalas cinta yang Ayuna berikan untuk Kakak ... cinta itu akan datang dan mengalir begitu saja seiring dengan kedekatan kita Kak," ucap Ayuna dengan lirih menahan sesak di dada karena kembali menerima penolakan dari Zey.
"Tidak, Kak Zey tidak memiliki perasaan apa pun untuk mu. Maaf ..." ucap Zey dengan lirih dan segera berlalu dari hadapan Ayuna.
Sedangkan Zia yang menguping pembicaraan antara kakak nya dengan Ayuna dari lantai atas pun menjadi heran dengan kakak nya.
"Pasti Kak Zey lebih memilih untuk menunggu mantan pacar nya yang terlihat sangat matre itu pulang dari sekolah modelling nya di luar negeri. Makanya selalu menolak berdekatan dengan wanita sebaik Ayuna," gumam Zia dengan perasaan yang sangat jengkel terhadap saudara kembarnya tersebut.
__ADS_1