
POV Bu Marni
Duh ini kenapa Pram tak kunjung pulang, perut Zaenab kian besar dan sudah hampir satu Minggu harus tinggal di rumah milik Pram ini, tentu saja rumah ini akan menjadi rumah milik kami, aku betah tinggal di sini, bagaimana tidak, bangun tidur sudah ada sarapan yang tersaji di meja makan dan tentu saja enak-enak dong, kami biasanya langsung makan saja bila sudah ada makanan di atas meja, yang di sajikan para pelayan, calon mantu memang pengertian sekali, dia tahu memperhatikan gizi Zaenab yang lagi mengandung, aku tak peduli yang lain sudah makan apa belum yang penting kami sudah kenyang, benar-benar Pram bisa di andalkan, memperhatikan gizi buat kami.
Tetapi aku khawatir Pram tak kunjung pulang, apa dia melarikan diri dari kami, terus kalau di tak pulang-pulang bagaimana rencana pernikahan mereka, aduh aku menjadi resah dan was-was, sebab perut Zaenab pastinya kian buncit dong, harapanku secepat mungkin mereka menikah walaupun hanya pernikahan sirih tak masalah, nanti suatu saat pasti Zaenab akan jadi Nyonya di rumah ini, dan aku akan menyuruh Pram untuk menceraikan Karina itu yang tinggal enaknya saja, aku akan pastikan Zaenab satu-satunya Nyonya di rumah ini.
Tetapi aku harus bagaimana ini, Pram tak bisa di hubungi, orang-orang yang ada di rumah ini tak mau memberi tahu keberadaan si Pram itu, secara mereka pasti tahu tempat tinggal Pram, apalagi ada Bu Nani di sini, Pram tak mungkin mengabaikan Ibunya, sayang sekali semenjak Bu Nani datang dia tak mau turun dari lantai dua, aku juga masih kesel sama Bu Nani karena kejadian di warung itu ikut mempermalukan aku, dan rumah yang selama ini menjadi tempat kami berteduh di pinta kembali, huh dasar rumah jelek kaya gitu saja pakai di minta, sungut Bu Marni tak suka.
Di lantai dua ada mertuanya Pram yang tampan walaupun sudah tua, sayang sekali pria itu menyebalkan, dia enak-enakan di lantai dua semua serba di layani, dan sok-sokan pakai pengawal segala setiap akan pergi, coba kali bukan karena Pram apa bila dia enak-enakan kaya gitu,aku jadi kesel lihatnya.
Pov Author
__ADS_1
Bu Marni memang ga punya malu, dia tak tahu pemilik perusahaan yang di mana Pram kerja adalah milik Pak Adi, Ayah dari Karina, dan rumah yang di tempati sekarang ini adalah milik Pak Adi, yang di peruntukan untuk Karina dan Pram.
Pak Adi sangat sayang sama Pram, bukan hanya Pram orang kepercayaan saja, tetapi Pram juga ikut andil besar dalam menyelamatkan Perusahaan.
Walaupun kini kelihatan Bu Marni tenang-tenang saja, sebenarnya Bu Marni napak gelisah dan ketir-ketir, seminggu sudah terlewati tetapi Pram tak kunjung pulang, tanya pelayan pun mereka tak ada yang tahu, apa lagi mau tanya Bu Nani ataupun Fatimah, bisa jadi perang mulut bila Bu Marni tanya pada keponakan Pram itu.
Sebab selama ini hanya Fatimah yang sanggup meladeni kegilaan Bu Marni itu.
" Bu Nani saya mau ngomong sebentar" seru Bu Marni dengan nada lembut, sebab dia tak ingin membuat Bu Nani emosi dan tak mau mengatakan keberadaan Pram.
" Maaf Bu Marni saya tidak ada waktu, saya mau ada urusan sebentar" balas Bu Nani dengan tergesa-gesa, wanita paruh baya itu malas berurusan dengan Bu Marni.
__ADS_1
" Cuma sebentar Bu Nani tak akan lama." seru Bu Marni lagi ketika Bu Nani sudah melewatinya.
" Baiklah hanya sebentar, bicaralah sekarang?" seru Bu Nani yang terlihat berbeda, pandangan mata Bu Nani ke arah lain, tak menatap Bu Marni seperti biasa.
" Tolong Pram suruh pulang Bu Nani, kami sudah terlalu lama menunggu di sini, kasihan Zaenab, perutnya kian membesar saja, kami malu Bu Nani, Zaenab dan calon bayinya tak ada yang merawat dan memperhatikan." Ucap Bu Marni dengan lembut.
" Kenapa harus anak saya yang jadi tumbal kamu Bu Marni?! hah katakan? sejak dulu kami selalu menolong anda sekeluarga dengan ikhlas, tetapi kenapa anak saya yang harus jadi korban anda terus." ucap Bu Nani menjeda ucapannya.
"Zaenab berzina dengan pria lain, kenapa bukan pria tersebut yang bertanggung jawab pada Zaenab, kenapa musti Pram yang jadi korban, saya rasa itu tak adil Bu Marni, tolong pergi dari sini, ini bukan rumah Pram, ini adalah rumah mertua Pram, jadi pergilah Bu dari sini, lagipula saya tidak akan merestui pernikahan kalian, dan jangan mimpi menikah dengan Pram, Pram juga masih waras, dia tak akan menikahi Zaenab, sebab itu bukan tanggung jawabnya, berpikir lebih waras Bu Marni, tahu malu sedikit saja Bu, dan anda Pak Udin jangan bisanya hanya berpangku tangan saja, menunggu belas kasihan orang lain, apa anda juga tak malu sebagai laki-laki, punya anak dan istri tetapi tanggung jawab di serahkan pada orang lain, terutama pada anak saya, harusnya anda yang ngasih mereka nafkah buat anak saya dan saya terus yang anda andalkan, jadilah suami yang tegas untuk istri dan anakmu Pak, biar mereka tidak mengemis cinta dan uang pada orang lain, pak Udin masih sehat kok, saya rasa untuk bekerja pun masih mampu, kalau hanya untuk makan saja." seru Bu Nani dengan lantang, semua orang di sana terperangah dengan ucapan Bu Nani yang tak di duga ini.
Selama ini Bu Nani diam saja tak mau membatah dengan sikap Bu Marni, tetapi ini sudah benar-benar kelewatan, Bu Nani sudah mau sekali sama Pak Adi dan Karina yang begitu baik pada anaknya, dan Bu Nani merasa ikut andil dalam masalah ini, dia perlu tegas pada mantan besannya itu, selama ini di diamkan saja, tetapi mereka malah ngelunjak dan tak tahu malu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bu Nani itu Bu Marni dan Pak Udin saling berpandangan dan wajah mereka pias, tak ada keberanian untuk menjawab semua perkataan Bu Nani yang memang benar adanya, sesudah berapa tahu saja hidup mereka bergantung sama Pram dan Bu Nani.
" Pergilah kalian dari rumah ini, rumah ini milik Pak Adi Ayah dari Karina menantuku, jadi jangan harap kalian akan di sini tinggal dengan seenaknya, bila kalian mau hidup enak bekerjalah Bu Marni dan Pak Udin, kamu juga Zaenab, jangan hanya bisa menghambur-menghamburkan uang saja, menunggu belas kasih orang lain, orang lain tentu juga punya kebutuhan yang harus di penuhi juga." Seru Bu Nani panjang lebar dia sudah tak peduli perasaan Bu Marni, bukankah Bu Marni juga tak punya perasaan, begitupun sebaliknya.