Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 33


__ADS_3

" Sudah sayang, kita mandi yuk?" ajak Mas Pram padaku yang masih terkulai lemas di atas ranjang, sebenarnya aku malas untuk berangkat kerja, tetapi bila aku tak berangkat sudah barang tentu kerjaan aku akan semakin menumpuk di atas meja kerjaku.


" Istirahatlah dek, bila masih capek," seru Mas Pram padaku.


" Ah tidak Mas, aku harus berangkat, soalnya banyak kerjaan aku yang menumpuk di atas meja sana yang menunggu untuk di eksekusi" adu ku pada suamiku itu, ya udah Adek berangkat agak siangan saja gimana? biar pulih dulu capek nya sayang" usul suamiku itu.


" Malas Mas bila berangkat sendiri," Aku rujuk pada suamiku itu.


" Ya sudah mandi bareng aja yuk, biar cepat?" usulnya kemudian.


" Hah, mandi bareng biar cepet? ga mungkin akan cepet mandi bareng, yang ada malah tambah lama di kamar mandi" ucapku dengan mencebik, tak percaya bila mandi bareng akan lebih cepat sesuai ekspektasi, kalau sudah berdua tanpa sehelai benangpun yang pasti tangan suamiku itu akan kelayapan kemana-mana tentunya, suamiku hanya terkekeh sendiri mendengar pernyataan aku yang pastinya tak salah itu.


" Ya sudah Adek dulu yang mandi gih, keburu siang" suruhnya padaku, akupun menurut saja apa katanya, lalu tubuhku aku geser ke tepi ranjang dan aku lilitkan kain untuk menutupi tubuhku yang terlihat polos. " Aduh pakai di tutup segala sih dek, padahal Mas sudah lihat semuanya lho, bahkan sudah Mas pegang semuanya." Ujar suamiku itu dengan menatap ke arahku dengan senyum jailnya itu.


Mendengar ucapannya itu membuat aku tersipu malu, aku langsung berjalan cepat ke arah kamar mandi tanpa menghiraukannya lagi.


Usai bersiap-siap untuk berangkat kerja, aku dan Mas Pram turun ke bawah dengan saling bergandengan tangan, di tangan kiriku menjinjing tas branded hadiah dari suamiku itu.


Setelah olahraga pagi yang rutin kami lakukan bersama sang suami, aku hampir melupakan peristiwa di subuh tadi, tiga orang tamu yang tak di undang itu ternyata masih berada dibawah sana.


Mereka bertiga duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton siaran televisi yang ada di ruangan itu, aku yang sudah terlanjur kesel berjalan ke ruang makan tanpa menyapa mereka.


Benar-benar tak tahu malu, lirihku dalam hati, aku memperhatikan sisa makanan yang ada di atas meja itu dengan perasaan miris, di sini sebentar siapa sih yang menjadi taun Rumah aku apa mereka, nasi aja tinggal untuk satu porsi, sedang ayam tinggal satu potong, sayuran tinggal kuah saja, dan yang masih tersisa banyak cuma tinggal tempe goreng dan tahu goreng.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku saja melihat semua ini.


" Kita makan di kantor saja sayang" seru suamiku itu berbisik di dekat telingaku, sambil mengelus pundakku pelan.


Tak berapa lama Bibi datang dari arah dapur, " Huft" desahku kesel.


" Maaf non, mau bikinkan Bibi nasi goreng atau Bibi gorengan ayam lagi?" seru bibi yang nampak ketakutan bila aku marah padanya.

__ADS_1


" Ga usah Bi kami makan di luar saja, Bibi jaga rumah baik-baik ya, nanti tolong bila Ayah datang buatkan makanan kesukaan buat Ayah ya Bi" pesanku pada Bibi.


" I- ia Non, siap laksanakan" balas Bibi lagi.


" Non, jangan lupa pintu kamar Non di kunci ya? Bibi takut bila nanti ada yang nyelonong masuk, pas Bibi ga ada" saran Bibi padaku, dengan suaranya yang lirih.


" Tenang Bi ada cctv-nya kok, ga usah khawatir." Balasku, sebelum aku berangkat aku menyuruh Bibi membersihkan tiga kamar yang ada di lantai dua, siapa tahu nanti Ibu jadi ke sini, setelah tadi Mas Pram menelponnya.


" Karina berangkat dulu ya Bi, baik-baik di rumah" Ucap ku sambil berlalu meninggalkan meja makan itu.


" Baik Non," balasnya sambil mengekori kami, seperti biasa Bibi selalu mengantarkan kepergian kami sampai pintu depan.


Ketika berjalan menuju pintu keluar kami melewati lagi ruang keluarga, yang di sama sudah ada benalu yang tak tahu malu.


" Pram Ibu mau bicara sebentar bisa kan?" ucapnya dengan nada memaksa.


" Maaf Bu Marni saya tak ada waktu membahas hal yang tak penting, saya harap ibu mengerti,"balas Mas Pram dengan tegas.


" Apa maksud Ibu Marni?" seru suamiku sambil mendekat ke arah wanita itu.


Semenjak Bu Marni melipat kedua tangannya di depan dadanya, dan menatap ke arah kami secara bergantian, sok banget buset seperti Tuan rumah saja, cicitku dalam hati.


" Kapan kamu menikahi Zaenab Pram? hum!?" ucapnya dengan lantang.


Muka Mas Pram memerah apa lagi aku, yang mendengar pertanyaan Bu Marni itu.


" Apa saya tidak salah dengar Bu Marni? apa urusan saya harus menikahi putri kesayangannya anda? kenapa saya yang harus tanggung jawab," seru Mas Pram yang sudah terlihat geram saja.


" Kamu lupa pada kami Pram, Zaenab itu adalah cinta pertama kamu? walaupun dia khilaf tetapi siapa lagi yang akan melindungi kami selain kamu Nak?" seru Bu Marni mulai beraksi, dia terisak tanpa ada air mata meleleh di pipinya, aduh gombal banget ini orang, rutukku dalam hati.


" Maafkan Zaenab ya Pram, Ibu yakin kalian masih saling mencintai, Ibu yakin itu." ucap Bu Marni dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


" Ibu terlalu banyak berkhayal, sudahlah Bu Marni tolong jangan ganggu rumah tangga saya, silahkan bila anda ingin tinggal di sini untuk beberapa hari saya tak masalah, tetapi saya minta tolong cuma satu, jangan membuat masalah, itu saja cukup" seru Mas Pram yang mulai terpancing emosi.


Mendengar ucapan Mas Pram, Bu Marni terdiam sesaat, dan ketika mau berucap.


" Tapi Pram Kam-"


" Cukup Bu Marni, bila anda masih memaksa saya menikahi Zaenab, saya pastikan saya akan mengusir anda sekarang juga dari rumah ini." Seru Mas Pram dengan raut wajahnya yang merah padam.


" Jangan begitu Pram, kami nanti tinggal di mana, rumah yang di kampung saja sudah di minta oleh Ibu kamu, bila kami tak tinggal di sini terus mau di mana lagi?" seru Bu Marni yang napak ketakutan dengan ancaman yang di serukan oleh Mas Pram.


" Ini semua gara-gara kamu Karina" tunjuk Bu Marni dengan mengangkat jari telunjuknya ke arahku, 'eits aku ini diam saja lho oon tapi masih kena sasaran lagi', geram aku dalam hati.


" Hah kok saya sih? emang salah saya di mana lagi?" balasku dengan ketus.


" Kalau kamu tak hadir di tengah-tengah hubungan Pram dan Zaenab, sudah di pastikan Zaenab yang akan jadi Nyonya di rumah ini, bukan kamu yang tak menemani Pram dari nol, " Seru Bu Marni yang sepertinya kian tak waras saja.


" Pram bisa seperti ini berkat do'a dari kami, jadi kamu tinggal terima enaknya saja tinggal di rumah mewah ini, aku tak terima Karina," sungut Bu Marni dengan pongahnya.


" Apa tadi kamu bilang? aku tinggal enaknya saja, dan kamu pikir ini ruang siapa hah?" bentak-ku yang sudah mulai tak bisa mengontrol emosiku lagi, aku melangkahkan kakiku mendekat ke arah wanita paruh baya itu.


" Sayang, sabar dong ?" ucap Mas Pram yang ada di sebelah ku.


" Apa kamu! mau membela mereka!! HAH!!??" bentak ku pada Mas Pram, aku yang sudah di kuasai oleh emosi ku.


" Bukan begitu sayang, Mas tidak mau kamu terbawa emosi dan karena meladeni sesuatu sampah itu" ucap Mas Pram menasehati, tangannya merangkul pundakku agar aku tenang.


" Silahkan pergi saja Mas bersama mereka aku tak peduli lagi, nikahi saja tuh mantan kamu!!" seruku sambil aku berlalu meninggalkan mereka di sana hatiku sedang tidak baik-baik saja, kepala ku rasanya mulai mengeluarkan asap, lebih baik aku pergi dari pada di sini, lama di sini akan membuat aku jadi stres sendiri, kerjaan kantor saja sudah membuat kepala aku mau pusing, apa lagi di tambah dengan penyakit yang satu ini, bisa-bisa kepalaku meledak nantinya.


POV Author


Melihat sang istri meninggalkan dirinya sendiri, buru-buru Pram mengejar Karina yang tengah emosi, dia tak ingin sang istri marah hanya karena mulut lemas Bu Marni, Ya Allah bisa di pecat dia jadi menantu bila nanti Ayah Adi ke sini, cicit Pram dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2