Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 35


__ADS_3

Hari sudah berganti senja, sinar mentari sudah tenggelam dari di ujung barat sana.


Kerap kerlip lampu ibu kota sudah mulai menyala, terlihat jelas hiruk pikuk kemacetan terjadi di mana-mana, bermacam kendaraan masih memadati jalan ibukota ini, pemandangan itu nampak jelas dari gedung yang aku tempati saat ini.


Setelah aku dan Mila bertemu dengan Mr Lee kamipun segera kembali ke kantor, dan melanjutkan mengerjakan bekas yang masih menggunung, aku dan Mila larut dalam kesibukan masing-masing, hingga menjelang sore berkas itu masih separuh yang belum aku selesaikan, aku mendesah lelah, pinggangku rasanya ingin patah saja, mataku aku paksa untuk membuka lebar-lebar untuk menyelesaikan tugas ini dengan baik, sebab besuk harus segera di lanjutkan ke divisi masing-masing untuk segera di kerjakan, aku sudah menghabiskan empat cangkir kopi hitam di sela-sela tugasku ini dan sebungkus rokok pun sudah ku hisap habis.


Sementara Mila sendiri juga mondar mandir mengambil berkas yang sudah aku selesaikan dan tandatangani, lalu menyerahkan kepada beberapa divisi untuk segera di eksekusi, bulan ini benar-benar semua karyawan harus kerja keras memeras otak untuk memulihkan citra perusahaan yang sempat morat marit tak menentu, sebagain besar karyawan yang ikut dalam team proyek ini semuanya ikut lembur sampai selesai, dengan tugasnya masing-masing.


Jangan di tanya bagaimana lelah tubuh ini, aku hanya istirahat sebentar hanya untuk sholat dan merokok sebentar, sehabis itu aku berkutat lagi di meja kerjaku.


Aku bertekad untuk menyelesaikan proyek ini dengan baik, aku tak mau membuat malu Ayah mertua aku yang sudah memberikan aku kepercayaan untuk menangani proyek ini.


Di tengah sibuknya aku mengerjakan proyek ini sesekali aku melirik ponselku melihat apa ada notifikasi masuk untuk aku, siapa tahu istriku menghubungi aku dan meberikan semangat untuk aku, tetapi sayang yang aku harapkan tak seindah itu, yang membuat aku tak bergairah adalah sejak tadi siang istriku tak menyapa aku, jangankan menyapa, aku kirim pesan saja dia tak membalasnya, bahan tadi siang aku tawari dia makan saja tak ada respon darinya, tetapi aku tetap memesankan makan siang untuknya semoga dia mau memakannya.


Pikir aku saat ini bercabang, aku tak bisa seperti ini terus di diamkan istri sendiri membuat aku jadi tak bisa berkonsentrasi secara utuh, apalagi perusahaan sedang membutuhkan aku.

__ADS_1


Malam kian larut aku menyuruh Mila untuk berkemas-kemas pulang terlebih dahulu, aku kasihan juga sama gadis itu, dari tadi pagi dia juga sibuk sama seperti aku.


" Mas Pram mau saya buatkan kopi dulu sebelum pulang?" tanya Mila yang sudah menenteng tas di bahunya, gadis itu masih berdiri di ambang pintu ruanganku, dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


Aku yang sedari tadi menunduk, seketika mendongak ketika suara Mila terdengar di ambang pintu.


" Tidak usah Mil, makasih, aku sudah habis empat gelas kopi hitam, rasanya perut aku penuh dengan air kopi." Balasku sambil aku terkekeh sendiri.


" Kalau makan malamnya gimana Mas kalau mau aku pesan kan? biar Mas ga repot-repot nanti kalau mau makan, soalnya ini sudah hampir isya, apa Mas Pram tidak lapar?" tanyanya lagi, sebelum beranjak pergi dari ruanganku, sebelum dia pulang dia akan memastikan kalau aku baik-baik saja.


" Ya sudah kalau begitu jangan lupa makan Mas" ucapnya menasehati ku sebelum dia pamit pulang, begitulah Mila dia akan memanggil aku Mas bila tidak ada siapa-siapa.


" Ia Mil makasih banyak atas perhatiannya," Balasku sambil aku tersenyum getir ke arahnya.


Lalu gadis itu menutup pintu ruanganku, dan pergi meninggalkan aku sendiri.

__ADS_1


Aku yang sudah lelah akhirnya aku meraih ponsel di atas mejaku dan mengirimkan pesan sama Karina kalau aku lembur dan tidak pulang, aku akan menuntaskan tanggung jawab ini hari ini juga, dari pada aku pulang Karina pasti juga ga akan mengijinkan aku tidur di kamar, tentu dia pasti masih marah, dan selain itu aku juga malas ketemu sama Bu Marni, entahlah apa yang akan terjadi di rumah sana, aku sudah pusing, semoga saja ibu sudah datang dari kampung, dan Ayah mertua semoga sudah di sana juga, jadi aku bisa tenang meninggalkan Karina bersama Bu Marni di rumah itu.


Setelah mengirimkan pesan pada Karina aku memulai mengerjakan tumbukan map yang ada di atas meja kerjaku, aku kembali meraih map yang menumpuk di atas meja itu lagi lalu aku mengerjakannya, sesekali aku mencocokan dengan data yang ada di laptop begitu terus, dan aku berhenti hanya untuk sholat Isyak dan merokok sebentar untuk mendinginkan otakku ini, sehabis itu aku berkutat lagi dengan berkas yang ada di atas meja ku, dan sesekali aku membuat laporan di laptop yang ada di samping mejaku juga.


Ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mataku terasa kian berat sekali, aku lalu memulai bangkit dari kursiku dan menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku sekali, akupun berjalan menelusuri lorong ruangan untuk menuju ke arah pantry untuk membuat kopi hitam lagi, sampai di dapur aku merasa perutku keroncongan ketika melihat mie instan tergeletak di atas rak, hingga terbersit sebuah ide untuk memasak mie instan untuk mengganjal perut ku yang sudah keroncongan.


Dengan sudah payah aku menelan saliva ku, dan sambil memasak mie instan aku menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan asap itu sedikit demi sedikit.


" Ah nikmat sekali" lirihku.


Kemudian aku memasukkan mie instan itu ke dalam air yang sudah mendidih, lalu aku mengambil mangkuk kecil di dalam rak dapur, memasukkan bumbu-bumbu itu ke dalam mangkuk, sambil aku menunggu mie instan itu mendidih lagi dan menutupnya sebentar.


Setelah terlihat asap mengepul dari balik tutup itu aku segera angkat panci gagang itu dan memasukkan mie ke dalam mangkuk yang sudah aku siapkan, lalu aku mengaduk mie itu perlahan-lahan, dan sembari menunggu mie itu dingin, aku mengambil air putih yang ada di dispenser dekat dengan jendela kaca, lalu aku dudukkan bobotku di sebuah kursi makan, dan dengan cepat aku melahap mie instan itu hingga tandas, tak sampai lima menit mie itu sudah berpindah tempat di dalam perutku ini.


Setelah kenyang aku kembali ke ruangan ku, sambil berjalan aku membawa secangkir kopi hitam lagi yang tinggal setengahnya, untuk menemani aku melanjutkan pekerjaan aku yang tertunda tadi, lumayan mata ini mulai agak bersinar lagi, akupun mulai lagi dengan kerjaan aku yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2