Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 15


__ADS_3

"Sudahlah kamu tenang saja, semua tak perlu kamu pikirkan, cukup kesehatan kamu saja yang jadi prioritas saya sekarang ini, jadi sekarang makan yang banyak dan istirahat yang cukup, biar saya tak merasa bersalah karena tak dapat menjaga kamu, dan satu lagi Dimas menunggu kesembuhan kamu." Imbuhnya lagi dengan nada suara yang datar, lalu di iringi dengan lengkungan di bibirnya.


Aku kaget dengan kata-katanya yang ambigu itu menjadi prioritasnya, apa tidak salah itu, lalu mata ini terpejam sesaat dan mendesah lelah, dengan mendengar semua pernyataan Bosnya Mbak Siti itu.


Kenapa aku merasa ada yang aneh sama Bosnya Mbak Siti ini, apa dia sedang frustasi di tinggalkan sang istri jadinya di ia membayangkan aku ini sebagai istrinya, dia itu benar-benar menyebalkan dan sok akrab banget sama aku, sampai-sampai Dokter dan perawat di sini mengira bahwa dia adalah suami aku.


Aku hanya mendesah pasrah ketika mendengar pernyataan darinya yang terkesan sok itu, bisa gila kalau di sini dengan orang ini, suamiku saja tak peduli sama aku, eh ini orang yang baru kenal satu hari saja sudah seperti kenal setahun saja, padahal aku hanyalah orang asing baginya, tetapi dia malah begitu peduli sama aku, sampai-sampai aku risih di buatnya.


Suara ponsel berbunyi memecahkan keheningan di antara kami, Pak Biyan meminta ijin keluar kamar untuk menerima panggilan tersebut.


" Aku keluar sebentar ya" Ucapnya sambil bangkit dari duduknya dan mengangkat telpon tersebut, lalu kaki jenjangnya melangkah ke arah pintu keluar, pria bertubuh kekar itu memegang handel pintu dan membukanya, lalu tubuh atletis itu keluar dan pintu di tutupnya kembali perlahan-lahan.


Dan setelah Pak Biyan keluar, lalu tak selang berapa lama seorang perawat masuk untuk memberiku obat dan mengganti infus yang sudah mulai menipis.


" Gimana sus apa saya bisa pulang segera?" tanyaku pada perawat itu usai mengganti infus, dan memberiku beberapa butir obat untuk menghilangkan nyeri di bagian kakiku.


" Semuanya baik Bu Mitha tinggal pemulihan saja di bagian kakinya, semoga saja cepat sembuh ya Bu, sebab suami ibu sangat panik sekali ketika melihat ibu pingsan dan tak kunjung sadar, beliau dengan setianya menunggui ibu dari awal ibu pingsan dan di bawa ke ruangan ini tak pernah sekalipun suami ibu meninggalkan ibu, ibu beruntung punya suami seperti Pak Biyan yang baik dan begitu tampan itu, banyak lho Bu Mitha yang ngefans sama beliau." Tutur perawat itu dengan gamblangnya hingga membuat aku melongo mendengar penuturan perawat itu, aku tanya kondisi tubuhku, eh malah dia curhat dengan ulah Pak Biyan yang tak kunjung aku mengerti.


" Tapi Sus dia bu-" aku belum usai berucap tiba-tiba.

__ADS_1


" Sudah ya Bu saya permisi dulu, mau periksa pasien yang lain." Pamit perawat itu ketika Pak Biyan masuk ke ruang rawat yang aku tempati saat ini.


" Bagaimana keadaannya Sus?" tanya Pak Biyan pada perawat itu ketika mereka berpapasan di depan pintu keluar.


" Alhamdulillah sudah membaik Pak, tinggal pemulihan di kakinya saja." Ucap perawat itu sambil tersenyum penuh arti, lalu perawat itu segera pamit dari hadapan Pak Biyan.


Pria tampan itu lalu melangkah menghampiri aku yang terduduk bersandar di kursi dekat dengan ranjang yang aku tiduri, sementara aku sibuk sendiri memilin-milin jemariku, sebab aku sangat gabut sekali, matanya masih mantap aku, lalu dia memainkan ponselnya kembali. jujur aku risih sekali, berkali-kali aku mendesah untuk mengungkapkan rasa kesal di hatiku ini.


" Sebentar ya aku kerja sebentar" Ucapnya menyadari rasa kesal ku ini, padahal sebenarnya aku kesal karena dia tak kunjung pergi juga, bukan yang lain.


Kenapa dia tak mengerti maksud aku.


Dengan penuh kesabaran akhirnya aku bisa keluar juga dari sini, rasanya seperti di dalam penjara saja, walaupun tidur di tempat ber-AC fasilitas komplit tapi kalau yang namanya sakit, lebih baik aku berkata tidak, mending di rumah yang sederhana tetapi tak merasa sakit itu sudah membuat ku bahagia.


Dan selama tiga hari tak bisa beraktivitas seperti yang aku lakukan di hari-hari biasanya, sibuk dengan kerjaan rumah, dan mengurusi usahaku.


Rindu pada Dimas membuat aku menjadi manusia kuat, seolah aku punya kekuatan penuh untuk menepis rasa sakit ini, walaupun aku berjalan masih tertatih-tatih menahan ngilu yang luar biasa, tak membuat aku patah semangat, aku terus berjalan menahan ngilu di pergelangan kakiku, agar aku bisa cepet pulang dan beraktivitas kembali serta bertemu dengan Dimas.


Pak Biyan tak pernah absen menunggui aku selama di rumah sakit, bahkan dia yang menginap di rumah sakit itu hanya untuk menjaga aku, pada hal itu tak perlu dia lakukan, aku cukup bisa menjaga diri sendiri, karena terlalu mandiri aku bisa melakukan apapun itu, beda dengan Mas Andra yang selama tiga hari ini pula tak menunjukkan batang hidungnya, sengaja aku tak mengabarinya kalau aku lagi kecelakaan, dia hanya mengirim aku pesan bila tak dapat pulang karena pekerjaan dan mengurusi masalah Bowo yang masih belum juga selesai.

__ADS_1


" Maaf Dek Mas belum selesai mengurusi pekerjaan, Mas ada dinas dua hari ke luar kota, nanti Mas kabari ya bila sudah sampai." begitu ucapnya setelah aku di ijinkan pulang, kemaren tiga hari aku pas di rawat di rumah sakit ini, dia bilang mengurusi masalah Bowo, dan sekarang dia keluar kota urusan pekerjaan.


" Ia Mas hati-hati di jalan ya, jaga diri dan jangan lupa makan," balasku menasehatinya, hanya itu yang mampu aku ucapkan padanya, dan untuk memberi tahu dia kalau aku kecelakaan, aku rasa tak mungkin, aku tidak mau menganggu kerjaan dia dan satu lagi, dia tak mungkin menunggui aku, sebab aku tahu dia sibuk dan tak ada waktu buat aku, aku sadar akan hal itu.


Bahkan Mas Andra tak menanyakan perihal anaknya Dimas, apa sesibuk itu hingga membuat aku jadi sedih, sedih bukan aku meminta perhatian lebih, tetapi sedih karena melupakan anaknya sendiri.


" Ada kabar gembira buat kamu, hari ini kamu boleh pulang, dan siap-siaplah ketemu dengan Dimas." Ucap Pak Biyan membuyarkan lamunanku.


" Terimakasih Pak" Seruku dengan penuh kebahagiaan.


" Aku tinggal sebentar ya, untuk mengurus Administrasinya " Ucapnya ketika aku duduk di ruangan itu.


" Baik Pak." jawabku, aku yang sudah bosan menunggu Bosnya Mbak Siti itu akhirnya aku iseng untuk keluar kamar dan berjalan tertatih-tatih untuk melatih pergelangan kakiku, kepalaku masih juga masih di perban sebab masih ada sedikit luka, aku di anjurkan untuk berjalan sesekali tanpa bantuan alat, dan itu aku lakukan sebab aku ingin segera bisa pulih.


Ketika aku sampai di dekat taman rasanya aku ingin duduk di sana menikmati suasana asri di taman itu, maklum selama tiga hari rasanya begitu membosankan berada di dalam kamar terus, lalu aku menyandarkan tubuhku di kursi taman itu, sambil menikmati bunga-bunga yang indah di sana.


Ketika aku duduk di sebuah kursi taman yang menghadap ke lorong, tanpa sengaja aku melihat sosok yang tidak asing sekali buat aku, selulit itu mengendong bocah yang usianya sebaya dengan Dimas, dan sambil tangan kanannya menggenggam jemari seorang wanita cantik dan sexy sekali.


Dahi ku berkerut dan menahan nafas sejenak, aku kucek-kucek mata ini siapa tahu aku salah melihatnya, tapi rasanya tidak mungkin, mataku masih sehat walaupun kepala ku masih terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2