Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Obsesi Akano


__ADS_3

Aninda yang telah memakai baju nya dengan lengkap pun menjadi malu mengingat kegiatan yang kedua nya lakukan lagi.


Dengan wajah bersemu memerah, Aninda pun nampak setengah berlalu menuju kamar nyaeninggalkan Dio seorang diri.


"Astaga, ternyata Aninda kalau malu nampak lucu juga ya. Hihihi," ucap Dio terkikik seorang diri sembari mengganti channel televisi yang ia tonton tersebut.


"Film yang sangat menguntungkan ku," gumam Dio sembari mengingat kembali kegiatan panas yang ia lakukan bersama Aninda itu.


"Astaga, pikiranku jadi ternoda kembali kan. Huh, semua gara-gara Akio yang selalu mempengaruhiku untuk berbuat mesum!" pekik Dio sambil berdiri dan kemudian mematikan televisi.


Kemudian Dio pun nampak melenggang masuk ke dalam kamar nya dan kemudian mandi. Harapan nya agar bisa segera melupakan bayang-bayang tubuh indah milik Aninda tersebut.


Namun sialnya di saat dirinya tengah te lan jang dan bersiap mandi di bawah guyuran shower pun pikiran nya menjadi ternoda kembali dengan membayangkan dirinya dan Aninda melakukan percintaan panas di dalam kamar mandi nya tersebut.


"Belum apa-apa dan baru membayangkan saja milik ku sudah nampak berdiri dengan tegak lagi,"


"Ouch astaga, ahh ahh ahhh," de sah Dio dengan mengurut miliknya tersebut sembari membayangkan jika yang mengurut milik nya tersebut adalah Aninda.


Tak berapa lama kemudian Dio pun nampak mengerang karena cairan milik nya pun telah keluar dan tertuntaskan.


Dengan segera ia pun mandi dan mengerjakan laporan yang akan ia presentasi kan untuk besok.


"Oh iya sebaik nya aku hubungi Edrick terlebih dahulu untuk memastikan maksud baik nya tersebut," ucap Dio yang kemudian dengan cepat mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Hai ... hallo Edrick. Ini aku Dio teman Akio yang waktu itu," ucap Dio memulai percakapan dalam sambungan teleponnya tersebut.


"Iya Dio bagaimana? Apakah kamu ingin membicakan tentang bodyguard yang akan aku kirimkan besok pagi?" tanya Edrick yang sudah paham dengan arah pembicaraan telepon Dio tersebut.


"Iya Ed, baiklah aku hanya ingin memastikan saja. Soalnya besok aku tidak bisa memantau Aninda seharian di kampus. Bisakah kamu menutup akses Akano untuk memasuki dunia pasar gelap lagi Ed? Karena sejujurnya aku takut jika aku atau pun bodyguard yang kamu kirimkan tiba-tiba saja lengah dan Aninda pun jatuh ke dalam genggaman Akano itu? Kamu mengerti dengan jelaskan Ed jika memperjual belikan manusia untuk di jadikan budak se* itu sangat tidak manusiawi?" tutur Dio dengan nada penegasn.


Edrick pun nampak diam sejenak. "Maaf kan aku Dio, untuk menghentikan suatu kejahatan seperti dari kelompok ku saja tidak akan cukup. Di pasar gelap itu akan ada banyak campur tangan dari banyak pihak. Tidak bisa berdiri sendiri dan memberi ultimatum sesuka hati Dio," ucap Edrick dengan menghela nafas panjang.


"Namun aku hanya bisa membantu memperlemah daya ekonomi Akano dengan menghancurkan club' malam nya secara perlahan. Aku juga akan membuat penggerebekan di saat ia akan melakukan transaksi ilegal nya tersebut dengan memanggil banyak polisi," ucap nya Edrick kemudian.


"Dengan begitu secara otomatis rantai perdagangan Akano di dalam dunia pasar gelap akan diputus secara sepihak oleh penguasa pasar gelap karena mereka pun tidak ingin keberadaan nya terendus oleh pihak kepolisian," terang Edrick dengan sangat jelas.


Nampak kelegaan di hati Dio setelah mendengar penuturan Edrick tersebut.


"Tidak masalah, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian selama ada di negara ini. Mulai besok pagi bodyguard ku akan memantau mulai dari kalian keluar apartemen hingga kembali lagi ke apartemen," ucap Edrick dengan sangat tulus.


"Baiklah Edirck. Aku percaya dengan mu dan tentunya terimakasih banyak," ucap Dio.


"Tidak usah denganku. Jika butuh sesuatu segera hubungi aku. Sebentar lagi aku ada keperluan di luar. Jika aku tutup dulu teleponnya tidak masalah kan?" tanya Edrick.


"Tidak apa Ed, toh sudah jelas semua nya. Baiklah terimakasih banyak ya," ucap Dio dengan kemudian memutus sambungan telepon nya.


Dio pun dengan perasaan lega kini bisa dengan tenang mengerjakan tugas kuliah nya tersebut hingga tengah malam menjelang.

__ADS_1


Aninda pun yang sedari tadi merebahkan tubuhnya itu pun tidak bisa segera memejamkan mata nya untuk segera terlelap dalam mimpi indahnya itu.


Ia pun nampak berguling ke kanan dan ke kiri dengan gelisah karena masih sangat terbayang dengan jelas adegan demi adegan yang telah mereka lakukan.


"Arghh, sialan. Kenapa di dalam otakku masih terbayang-bayang kejadian tadi," ucapnya dengan memukul-mukul kepalanya sendiri menggunakan jari jemari nya agar segera menghilang kan bayangan demi bayangan kejadian tadi.


Hingga tak lama kemudian setelah ia berusaha dengan keras untuk memejamkan mata nya akhirnya ia pun nampak telah tertidur dengan nyenyak nya.


Akano yang berada di dalam club' malam miliknya tersebut nampak menenggak minum minuman beralkohol dengan di dampingi para wanita malam nya yang telah di khusus kan untuk menemani nya untuk melupakan kegelisahan di hati nya itu.


"Hari ini jangan menyentuh ku. Karena aku hanya ingin kalian menemaniku menghabiskan minuman ini," ucap Akano dengan wajah yang memerah karena sudah setengah mabuk.


Beberapa bodyguard nya pun mendadak mendatangi nya membicarakan hal serius.


"Astaga, ternyata sayang ku itu telah pindah dari asrama? Apa dia sudah merasa jika aku terlalu kentara mengikutinya dalam beberapa hari kemarin? Pasti sayangku itu sangat ketakutan hingga dengan berani pindah dari asrama nya itu. Siapa yang membantu nya pindah?" tanya Akano.


"Seperti nya bukan dari kalangan orang biasa tuan yang membantu nona Aninda pindah dari asrama nya tersebut. Saya pun tidak bisa melacak keberadaan nona Aninda," ungkap sang bodyguard yang ikut memata-matai pergerakan dari Aninda tersebut.


"Baiklah, seperti biasa besok tetap lah pantau Aninda dari kejauhan dan lihat siapa saja yang nampak berada di dekat Aninda itu. Nanti aku yang akan bergerak sendiri dengan secepat nya untuk membawa Aninda kemari. Nampaknya aku pun mengurungkan niatku untuk menjual kesayangan ku itu ke pasar gelap. Akan aku miliki saja seorang diri untuk melahirkan garis keturunan ku nanti nya," ucap Akano dengan tersenyum senang.


Dengan segera Akano pun nampak keluar dari ruangan tersebut dan segera menuju ke dalam ruang pribadinya itu dan nampak memeluk guling yang telah di beri topeng wajah Aninda.


"I love you sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu dan berpelukan seperti ini," ucap Akano yang berubah menjadi sangat terobsesi dengan kecantikan dan bentuk tubuh Aninda.

__ADS_1


Akano pun nampak mengelus-elus guling nya tersebut dengan kondisi yang tengah mabuk dan akhirnya ia pun tertidur dengan memeluk guling bergambar wajah Aninda tersebut dengan sangat erat.


__ADS_2