Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Membujuk


__ADS_3

Setelah Aninda selesai di suapi oleh Dio, dengan cekatan kemudian Dio pun memberikan obat kepada Aninda.


"Obat apa ini?" tanya Aninda dengan wajah serius.


"Itu obat untuk memulihkan fisik mu agar sehat kembali," ucap Dio dengan hati-hati.


Aninda pun kemudian menatap Dio dengan tajam, mencari celah kebohongan di wajah Dio tersebut.


Kemudian Aninda pun meminum obat tersebut dan tak lama kemudian rasa mengantuk pun mulai menyerang nya kembali. Tak lama setelah nya Aninda pun nampak tertidur dengan pulas.


"Gimana keadaan Anin Dio? Maaf ya tadi mama teleponnya terlalu lama," ucap mama Akio.


"Sudah makan dan minum obat ma. Terus ini tertidur lagi setelah minum obat," tutur Dio.


"Hem, bagus lah. Kita pulang dulu ya Dio? Mama soalnya habis ini ada acara lain lagi. Jadi mama tidak bisa menemani kalian agak lama lagi. Besok mama usahakan kesini lagi untuk menemani Aninda," ucap mama Akio.


"Baiklah ma. Maaf merepotkan. Hati-hati di jalan," jawab Dio.


"Aku titip Aninda ya. Tolong di jaga dengan benar," pinta Amel.


"Dijaga yang benar ya bro," ucap Akio.


Dio pun hanya bisa mengantar kepergian mama Akio, Amel dan Akio dari pintu apartemen saja. Setelah itu Dio pun mengambil laptop dan mengerjakan pekerjaan nya Yang seluruh nya terbengkalai selama beberapa hari.


Sembari mengerjakan pekerjaan nya, Dio pun nampak sesekali melihat Aninda yang sedang tertidur dengan pulas tersebut.


Tak berapa lama pun pekerjaannya telah selesai ia kerjakan seluruhnya. Kemudian Dio pun nampak merebahkan dirinya di samping Aninda hingga tertidur dengan pulas. Kedua nya pun nampak jatuh di dalam alam mimpi.


"Huhuhu ... huhuhu ... huhuhu ..." samar-samar Dio seperti mendengar suara wanita menangis di dalam mimpinya tersebut.


"Huhuhu ... huhuhu ... huhuhu ..." suara tangis pun terdengar menjadi semakin kencang dan terlihat nyata. Hingga Dio pun terbangun dengan tiba-tiba dan mendapati Aninda yang tengah menangis tersedu-sedu seorang diri.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Dio dengan lembut kepada Aninda.


Aninda pun nampak masih menangis tersedu-sedu tanpa mau menjawab pertanyaan dari Dio tersebut. Hingga Dio pun merasa bingung dan kemudian memeluk Aninda dengan erat dan menepuk-nepuk punggung Aninda agar menjadi tenang kembali.

__ADS_1


Tak berapa lama tangis Aninda pun telah reda. Dengan segera Dio pun mengajak Aninda untuk melihat tayang dari film-film lucu yang telah di bawakan oleh mama Akio untuk menghibur Aninda.


Dio pun nampak dengan cekatan membuat kan susu hangat dan mengambil beberapa camilan untuk mereka menonton.


Aninda pun nampak tertawa melihat tayangan di dvd tersebut dan memakan camilan yang telah di siapkan oleh Dio tersebut.


Hingga tak berapa lama Aninda pun kembali menguap dan merebahkan tubuhnya di sofa tersebut dan tertidur kembali.


Sedangkan Dio kemudian dengan segera menyembunyikan segala jenis benda tajam yang ada di rumah nya serta mengunci balkon dan seluruh ruangan agar Aninda tidak bisa berbuat macam-macam di luar sepengetahuan Dio.


Dengan gerakan cepat Dio pun memakai kan bantal untuk Aninda. Dio pun segera memeluk Aninda dengan sangat erat dan kedua nya pun nampak tertidur dengan sangat pulas hingga pagi menyingsing.


Aninda pun nampak menggeliatkan tubuhnya ketika sinar mentari nampak menyoroti kedua yang tertidur di sofa yang berdekatan dengan balkon.


Aninda pun turun perlahan dengan menyingkirkan tangan Dio perlahan-lahan karena menahan rasa ingin buang air kecil. Namun tubuhnya tersebut kembali ditarik oleh Dio kembali ke dalam pelukan nya.


"Mau kemana?" tanya Dio dengan suara parau nya.


"Aku ingin buang air kecil ..." ucap Aninda dengan lirih.


"Keluarlah Dio. Aku mau buang air kecil dan pastinya bau. Jadi keluarlah," pinta Aninda.


"Aku enggak keberatan sama sekali. Pipislah," jawab Dio.


"Tapi aku yang keberatan Dio," ucap Aninda.


Dio pun masih tetap berdiri di dekat Aninda tanpa mau keluar. Hingga pada akhirnya Aninda pun buang air kecil dengan terus di tunggu oleh Dio.


Setelah itu Dio pun dengan sigap menggendong tubuh Aninda lagi. "Aku bisa jalan sendiri Dio," rengek Aninda meminta untuk segera diturunkan.


Namun Dio tetap menggendong nya yang kemudian menurunkan dan mendudukkan nya di kursi meja makan.


"Tunggulah disini, aku akan membuatkan sarapan dulu,"


Dengan cekatan Dio pun meracik bumbu untuk membuat menu bubur ayam untuk sarapan pagi mereka.

__ADS_1


"Apa besok kamu ingin kita sarapan di luar?" tanya Dio di sela-sela waktu memasaknya tersebut.


Aninda pun hanya nampak menggeleng lemah dengan memandangi tubuh Dio dari belakang.


"Kemarilah jika ingin membantu," ucap Dio yang tahu jika Aninda sedari tadi terus memandangi nya.


Aninda pun nampak berjalan mendekat ke arah Dio.


"Aduklah nasi tersebut secara perlahan dan terus menerus," ucap Dio memberikan instruksi.


Kemudian Dio pun nampak mengajari Aninda cara yang benar mengaduk bubur yang hampir jadi tersebut dengan memeluk Aninda dari belakang.


"Nah seperti itu," ucap Dio dengan terus memeluk Aninda dengan posesif. Sesekali Dio pun mengecup leher Aninda tersebut dengan perlahan hingga Aninda pun menoleh.


"Ja-jangan Dio ..." ucap Aninda dengan perlahan dan lirih


Dio pun tersadar jika Aninda pasti sangat tidak nyaman dengan apa yang telah ia lakukan tersebut.


"Maaf kan aku sayang," ucap Dio dengan melepas pelukan nya tersebut dan beralih mencium kening Aninda secara perlahan.


Dio pun kemudian kembali berkutat dengan membuat bumbu ayam nya serta kuah yang akan Dio gunakan untuk taburan bubur ayam nya tersebut.


Tak lama kemudian masakan pun telah matang. Dio pun menggandeng Aninda menuju meja makan dan kemudian menyuapi nya dengan perlahan.


"Dio aku bukan anak kecil, biarkan aku makan sendiri," pinta Aninda. Namun permintaan tersebut sama sekali tidak di indahkan oleh Dio. Hingga makanan tersebut tandas dalam suapan tangan Dio.


Kemudian Dio pun mengambilkan obat untuk segera di minum oleh Aninda. Setelah nya Dio pun mengajak Aninda menghirup udara melalui balkon apartemen nya tersebut.


"Di-dio, bagaimana jika aku tidak ingin kembali ke kampus lagi?"


"Tidak masalah sayang, kuliah daring saja biar nanti aku dan mama Akio yang meminta keringanan dari kampus Akio itu serta berkoordinasi dengan kampus kamu yang di Bandung," tutur Dio berusaha membuat Aninda tidak terus menerus khawatir.


Aninda pun nampak menganggukkan kepalanya tersebut pertanda bahwa dia ingin melanjutkan kuliah melalui daring.


"Setelah ini kita pergi ke psikolog ya sayang? Buat kamu konsultasi saja dengan apa yang kamu rasain biar kamu bisa tenang kembali, ya?" pinta Dio dengan nada membujuk agar tidak menyinggung perasaan Aninda.

__ADS_1


Aninda pun nampak terdiam dan menatap Dio dengan lama. Hingga setelah nya Aninda pun nampak mengangguk dengan raut muka yang sulit untuk dijelaskan.


__ADS_2