
Mama dan Amel pun nampak telah terbangun. Keduanya pun menuju kedapur dan melihat bibi art yang tengah menyiapkan untuk sarapan pagi majikan nya tersebut.
"Kamu ingin apa sayang?" Ucap mama Akio kepada Amel.
Amel pun nampak berpikir dan kemudian menggelengkan kepalanya karena ia pun tidak menginginkan makanan apapun.
"Bagaimana tidurmu semalam dengan mama? Apakah kamu merasa nyaman atau tidak?" Ucap sang mama sembari membantu bibi art nya tersebut menata piring sendok dan gelas yang akan mereka gunakan untuk sarapan pagi bersama.
"Sangat nyaman ma, bahkan Amel saja tertidur dengan sangat pulas ma. Nyaman sekali." Jawab Amel dengan jujur.
Mama Akio pun nampak tersenyum melihat penuturan dari Amel tersebut.
"Mama ingin memanggil Akio terlebih dahulu ya nak." Ucap mama Akio dengan segera menaiki tangga menuju ke kamar dimana Akio sedang tertidur pulas.
"Kio, bangun. Kamu harus mengantor lho pagi ini." Ucap sang mama semabrj menggoyangkan tubuh putranya tersebut agar segera terbangun.
"Ma.." Ucap Akio dengan sangat lirih dengan keadaan yang masih lemas dan tak berdaya di atas kasurnya tersebut.
"Astaga. Kamu kenapa Kio??" Tanya mama Akio dengan panik.
"Ma, perut aku mual banget ma. Rasanya Akio tidak sanggup lagi untuk berdiri. Aku pun sedari tadi muntah-muntah terus ma. Aku pun muntah-muntah di samping kasur aku dan tercecer dilantai karena aku sudah tidak memiliki tenaga untuk berdiri menuju ke wastafel." Ucap Akio dengan sangat lirih hingga membuat mama Akio pun panik.
"Ya sudah mama buatkan minuman hangat dulu dan meminta bibi untuk membersihkan lantai kamu." Ucap mama Akio dengan cepat keluar dari dalam kamar Akio tersebut.
Mama pun nampak menuju ke dapur membuatkan Akio wedang jahe dengan sereh dan kayu manis dan segera membuatkan Akio bubur agar perut Akio bisa menerima makanan yang bertekstur lembut.
Mama Akio pun menjadi teringat jika dirinya dulu di awal morning sikness juga merasa seperti Akio itu dan hanya mampu untuk memakan buah-buahan saja.
Mama Akio pun kemudian nampak memotong beberapa jenis buah yang ia di sajikan di piring yang kemudian ia taruh di atas nampan bersama dengan bubur dan wedang jahenya tersebut.
__ADS_1
Amel yang melihat wajah panik dari mama Akio tersebut pun menjadi bertanya-tanya kenapa mama mertuanya tersebut tergopoh-gopoh membawakan makanan sehat ke lantai atas. Namun dirinya pun sangat takut untuk sekedar bertanya saja.
Akhirnya Amel pun hanya nampak terdiam menunggu dengan tenang di meja makan menunggu kemunculan mama Akio tersebut.
Disatu sisi Dio telah terbangun dari mimpi indahnya dengan perasaan yang sangat senang. Dio pun nampak segera menuju ke kamar mandi dengan bersiul senang sembari menyanyi.
Dio pun nampak telah selesai mandi dengan sangat bersih dan wangi. Kemudian ia pun memakai baju layaknya anak kampus seperti biasanya. Ia pun nampak menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya tersebut.
"Sudah tampan dan wangi." Oceh Dio seorang diri di depan cermin tersebut.
Lantas Dio pun segera memasukkan laptop dan buku-buku yang ia perlukan untuk mengikuti kuliah daringnya nanti dan segera ia masukkan ke dalam tas nya tersebut.
Dio pun sengaja untuk tidak memasak dan mimilih untuk sarapan di luar agar misi mengejar cintanya tersebut berjalan dengan sukses.
"Ada yang tertinggal atau tidak ya??" Ucap Dio sembari berfikir dan mengecek satu persatu barang bawaan nya tersebut.
"Sudah aman semua ternyata." Ucapnya lagi seorang diri.
"Ah senangnya." Gumamnya Dio setelah memasuki mobil tersebut.
"Jemput Aninda dulu atau nggak usah ya? Ah yasudahlah enggak usah di jemput dulu. Kan aku ingin mengamati keseharian Aninda ketika berada di kampus. Untuk hari ini saja aku hanya akan mengamati Aninda dari jarak dekat tanpa sepengetahuan nya." Ucapnya Dio dan segera melajukan mobilnya tersebut menuju ke Tokyo University.
Dio pun nampak telah duduk di gazebo yang paling dekat dengan gerbang utama kampusnya tersebut. Dio pun tampak memakai topi dengan masker yang menutupi wajahnya.
Tak berapa lama Dio pun nampak melihat Aninda turun dari bus yang ia tumpangi dengan berjalan menuju ke gerbang kampus nya tersebut.
"Nin, tunggu aku." Teriak seorang lelaki kepada Aninda.
"Siapa dia?? Oo dia seperti lelaki yang berada di kafe yang memberikan Aninda minuman kemarin." Ucap Dio dengan masih mengamati kedua nya yang nampak berjalan beriringan tersebut.
__ADS_1
"Nin, kamu kemarin kenapa?" Tanya Ammar kepada Aninda yang sengaja menunggu kedatangan Aninda tersebut di depan gerbang kampusnya itu.
Aninda pun nampak mengernyit dan segera ia menjawab pertanyaan dari Ammar tersebut.
"Oh, itu teman-teman aku dari Indonesia semuanya. Enggak ada masalah sih. Kemarin hanya salah paham sedikit saja." Ucap Aninda.
Ammar dan Aninda pun nampak berjalan beriringan dengan sesekali terlihat canda tawa di antara keduanya.
Dio yang melihat kedekatan di antara keduanya pun nampak mengepalkan kedua tangan nya dan dengan segera membuntuti keduanya dengan perlahan.
"Ah sial, kenapa mereka berdua telah memasuki ruang kelasnya? Bagaimana cara mengawasi keduanya jika aku bukan lah termasuk mahasiswa seperti mereka?" Gumam Dio sambil melirik jam di tangan nya yang menunjukkan masih ada waktu untuk memulai jam kuliah daringnya tersebut.
Kemudian Dio pun nampak menuju ke kantin yang berada di dalam kampusnya tersebut. Dengan segera ia pun nampak memilih makanan yang cocok dengan perutnya tersebut.
Setelah mendapat kan makanan dan minuman yang telah ia pesan, Dio pun segera menuju ke tempat duduk yang terlihat masih banyak yang kosong tersebut.
Dio pun memilih duduk di kursi yang bisa dengan mudahnya ia gunakan untuk memantau ruang kelas yang Aninda masuki. Agar ia pun bisa dengan mudah mengetahui jam kuliah telah selesai ataukah belum dengan sembari menyiapkan kuliah zoom nya tersebut.
Dio pun nampak memandangi kantin dengan nuansa out door tersebut. Ia pun nampak memandangi sekeliling nya dengan sangat jeli.
Pandangan Dio pun tertuju dengan seorang lelaki yang nampak duduk disamping depan nya yang tak jauh dari tempat duduknya tersebut yang nampak menggunakan masker dan terlihat fokus dengan matanya yang nampak memandang laptopnya dengan serius.
Tak sengaja Dio pun melihat jelas bahwa yang sedang ditonton lelaki asing tersebut adalah sambungan cctv.
"Lelaki tersebut seperti nya sama seperti ku bisa meretas cctv dengan mudahnya." Gumam Dio.
Dengan muka penuh penasaran Dio pun akhirnya ber pura-pura nampak berjalan di dekat lelaki tersebut dan mencoba melihat dengan jelas sekilas dari cctv tersebut.
Dio pun nampak sangat terkejut jika cctv yang terpampang di laptop lelaki tersebut adalah cctv yang menampakkan wajah Aninda beserta teman sekelasnya di ruang yang saat ini Aninda tempati.
__ADS_1
"Lelaki yang sangat mencurigakan." Gumam Dio yang kemudian kembali ke tempat duduknya semula