Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Penolakan


__ADS_3

Dio pun mandi dengan sangat kilat karena dirinya pun tidak bisa meninggalkan Aninda sedikit lebih lama. Sedangkan Aninda nampak memakan camilan di meja dengan sangat tenang.


Dio yang melihat Aninda nampak baik-baik saja pun menjadi bernafas lebih lega.


"Kamu kenapa Dio? Aku ini sudah baik-baik saja. Jangan kamu jadikan aku sebagai beban ya? Aku tak selemah itu. Yang sudah terjadi biar lah terjadi. Hidup itu terus berlanjut," ucap Aninda dengan tersenyum hangat.


Dio pun nampak memeluk Aninda dengan menepuk punggung Aninda dengan pelan.


"Ada aku disini yang selalu menemanimu. Sampai kapan pun," ucap Dio.


"Aku bukan anak kecil lagi Dio. Aku akan berusaha menjaga diriku dengan lebih baik lagi," jawab Aninda dengan melepas pelukan dari Dio.


"Ayo kita segera berangkat," ajak Dio dengan agar Aninda pun segera mengikutinya keluar dari apartemen.


Disepanjang koridor Dio pun nampak bisa melihat raut ke khawatiran yang disembunyikan oleh Aninda. Tangan Aninda pun nampak menggenggam Dio dengan erat dan nampak berkeringat. Sesekali Aninda pun nampak menoleh kesamping dan belakang.


"Kamu masih takut? Tenang lah," ucap Dio dengan menarik tubuh Aninda agar tidak ada jarak di antara keduanya.


"Sedikit, aku hanya berusaha melupakan bayangan orang yang nampak seperti penguntit dan berusaha menghilangkan rasa takutku," ucap Aninda yang berangsur mulai bisa mengendalikan pikiran nya tersebut dari bayangan penculikan itu.


"Berusaha dengan perlahan saja agar kamu pun menjadi tidak merasa terbebani," ucap Dio sembari membukakan pintu mobilnya tersebut untuk Aninda.


Mobil pun segera melaju dengan mengikuti rute berdasarkan maps dari sharelok yang diberikan mama Akio tersebut.


"Dio ..." ucap Aninda dengan lirih seperti ingin bertanya namun ragu.


"Iya, sayang? bertanyalah jangan hanya untuk di pendam," jawab Dio membuka ruang pembicaraan untuk Aninda tersebut.


"Apa Bu Salsa psikolog yang baik dan bisa di percaya?" tanya Aninda dengan cemas.

__ADS_1


"Setiap profesi akan memiliki kode etik sendiri dalam menjalan kan profesi nya. Jadi kamu jangan lagi takut untuk rahasia kamu akan bocor. Semua nya akan menjadi rahasia kamu dan psikolog yang kamu ajak berkonsultasi," tutur Dio menenangkan Aninda.


Tak lama kemudian keduanya pun nampak tiba di sebuah klinik psikolog yang berada tak jauh dari pusat kota Tokyo.


Dengan Segera Dio pun melakukan pendaftaran ulang dan tak lama kemudian Aninda pun telah di panggil untuk giliran nya untuk berkonsultasi dengan psikolog ahli di klinik tersebut.


Dio pun nampak mengantar Aninda untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


"Selamat siang, silahkan duduk," ucap Bu Salsa dengan sangat ramah.


"Saya mengantarkan calon istri saya untuk berkonsultasi dengan Bu Salsa atas rekomendasi dokter William," tutur Dio membuka obrolan di antara mereka.


"Iya, saya sudah tahu. Jadi kita mulai sesi nya dari sekarang ya? Nak Dio bisa menunggu di ruang tunggu saja ya. Untuk menjaga kenyamanan klien agar leluasa bercerita," tutur Bu Salsa.


Dio pun nampak mengangguk dan kemudian berjalan menuju ke sebuah sofa didalam ruang tunggu tersebut. Dari ruangan tersebut lah Dio bisa melihat Aninda dan Bu Salsa dengan jelas namun tidak bisa mendengar kan apa yang mereka ucapkan.


Beberapa rangkaian test pun Aninda jalani hingga 2jam lamanya Aninda baru keluar dari ruang observasi sekaligus ruang konsultasi tersebut.


Aninda sendiri kini menjadi lebih ceria dan sudah tidak nampak terlalu murung seperti kemarin.


"Jadi apakah Aninda masih diperlukan untuk sesi konseling lanjutan Bu?" tanya Dio.


"Konseling sekali lagi. Untuk memastikan bahwa Aninda sudah benar-benar nyaman dan sudah tidak nampak cemas lagi dengan kondisinya tersebut. Minggu depan ya jadwal konseling berikut nya," ucap Bu Salsa.


"Baik Bu," tutur Dio dengan segera berpamitan dan segera menuju mobil.


"Mau makan di luar?" tanya Dio.


Aninda pun nampak menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin memberi tahu keadaan mu saat ini kepada orang tua kamu sayang?" tanya Dio yang membuat Aninda kembali murung dan nampak terdiam.


Dio pun menjadi serba salah dan tentunya merasa bersalah karena dengan lancang menanyakan hal tersebut. Namun sebenarnya maksud dari Dio adalah tidak ada salahnya untuk memberi tahu orang tua Aninda tentang apa yang telah terjadi terhadap Aninda tersebut.


"Aku tidak ingin membuat orang tuaku cemas Dio ..." jawab Aninda dengan lirih.


"Kalaupun kedua orang tua ku tahu, pasti mereka akan sangat khawatir dan membuat kedua orang tuaku menjadi lebih terbebani dengan keadaan ku saat ini. Aku sudah baik-baik saja. Aku pun ingin kembali ke kampus lagi. Kamu kembali lah ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah kamu. Jangan selalu menemaniku disini. Kamu pun punya masa depan yang harus kamu perjuangkan Dio," ucap Aninda dengan wajah yang sulit dijelaskan.


"Aku sudah mengambil kuliah via daring Sayang. Aku sangat senang menemani kamu disini. Ayo kita segera menikah," ucap Dio dengan menepikan mobilnya tersebut di sebuah danau buatan.


Dio pun nampak keluar dari mobilnya tersebut dan membukakan pintu mobil untuk Aninda keluar.


Dio pun menggandeng tangan Aninda ke pinggiran danau tersebut dan duduk melihat air danau tersebut yang nampak tenang.


"Aku mengerti perasaan kamu Nin. Tapi niatku ini tulus. Aku sangat mencintaimu dan aku lah yang telah mengambil kesucian mu waktu itu. Ayo kita menikah lebih dulu seperti Amel dan Akio," pinta Dio dengan menggenggam erat tangan Aninda.


Aninda pun nampak bergeming dengan menatap riak-riak air di danau tersebut.


"Aku masih ingin melanjutkan kuliah ku dan mewujudkan keinginan ku Dio. Sedari dulu aku sangat ingin menjadi relawan mengajar ditempat terpencil yang sangat membutuhkan sosok pengajar yang mampu membuka kan ilmu wawasan yang seluas-luasnya kepada mereka yang semestinya," tutur Aninda dengan menghela nafas dengan kasar.


"Kamu tetap bisa mewujudkan keinginan kamu itu walaupun sudah menikah Nin," ucap Dio yang masih berusaha membujuk Aninda.


"Ayo kita lebih baik segera pulang. Karena disini udara nya sangatlah dingin," ajak Aninda yang tak ingin berlama dengan pembicaraan tersebut.


Dio pun hanya bisa menghela nafas agar bisa lebih bersabar lagi dalam mendapatkan lampu hijau dari Aninda tersebut.


Keduanya pun nampak kembali menuju ke apartemen. Tak berapa lama keduanya pun sampai dan Aninda pun nampak merebahkan tubuhnya di kasur tersebut.


"Hidup terus berlanjut. Yang kemarin adalah masa lalu yang harus segera aku lupakan. Aku tidak boleh berlarut dalam masalah ini," ucap Aninda dalam hati dengan melihat atap dan lampu gantung yang ada di kamarnya tersebut.

__ADS_1


"Seperti nya aku harus segera keluar dari apartemen ini dan mencari tempat baru serta mengisi hari liburku dengan mencari pekerjaan paruh waktu atau arubaito karena pihak kampus pun mengizinkan mahasiswa asing untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu," ucapnya dalam hati.


__ADS_2