Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
S2. Zidan yang Sebenarnya.


__ADS_3

Yang sebenarnya terjadi di antara hubungan Zia dan Zidan tidaklah seharmonis yang terlihat.


Zia yang hanya berpura-pura mencintai Zidan pun semakin hari semakin lelah dengan sikap berlebihan yang Zidan perlakukan untuknya.


Seperti misalnya, Zidan yang selalu sengaja menunggu kedatangan Zia di lobby perusahaan dan berpura-pura bersikap romantis kepadanya pun Zia tahu.


Zia pun sebenarnya telah berkali-kali memergoki Zidan yang sedang bercumbu mesra di ruang kerja nya dengan salah satu karyawan di divisi yang di pegang oleh Zidan itu sendiri.


Zia pun tetap berpura-pura tidak tahu serta menutup mata dan telinga agar hubungan nya bersama dengan Zidan tetap berjalan dengan baik dan membuat Ryu semakin terbakar api cemburu yang kemudian menyadari akan perasaan nya terhadap Zia.


Namun yang terjadi hingga kini tidaklah seperti yang di bayangkan oleh Zia. Ryu pun seolah cuek dengan kedekatan antara dirinya dan Zidan.


Zia pun semakin kecewa dengan sikap Ryu tersebut yang menunjukkan seperti Ryu tidak memiliki perasaan apa pun terhadap nya.


Perasaan kecewa Zia pun segera Zia tepis tatkala Zia masih melihat Ryu yang hingga kini masih menjomblo dan tidak terlihat dekat dengan wanita manapun.


"Apa sebaiknya aku harus memutuskan Zidan dengan segera? Aku pun tidak ingin terus di manfaatkan oleh Zidan untuk membuat dirinya semakin besar kepala di perusahaan milik ayahku ini," gumam Zia dengan menatap langit-langit ruang kerja nya dengan perasaan kacau.


...----------------...


Hingga hari pesta perjamuan yang ditunggu pun tiba.


Zia pun berhasil menghindari Zidan yang nampak terus getol mengajaknya berangkat bersama.


Namun ajakan Zidan berhasil Zia tolak dengan halus mengingat dirinya akan berangkat bersama sang kembaran.


Di hari pesta jamuan perusahaan yang di adakan malam hari di hotel milik keluarga Ryu tersebut pun membuat Zia dan seluruh keluarga nya tersenyum dengan cerah.


Karena di pesta perusahaan ini keberuntungan pun terus ada di pihak perusahaan yang papi Zia rintis dengan membawa keuntungan yang sangat fantastis nilainya.


Zia pun terlihat duduk di antara Zey dan Zidan. Sedangkan orang tua Zia pun masih terlihat sibuk menerima banyaknya tamu yang datang ke dalam pesta perusahaan nya tersebut.


Tak berapa lama pandangan Zia pun berubah dari suka menjadi duka tatkala melihat kedatangan Ryu bersama dengan seorang wanita yang amat di bencinya.


Sedangkan Ryu pun terlihat semakin mengeratkan genggaman tangan nya kepada Rossaline begitu Zia yang terlihat tengah menatap kedatangan nya tersebut.

__ADS_1


Zia pun semakin kecewa melihat kini Ryu telah menggandeng seseorang yang amat di sukai oleh Ryu dan seseorang yang amat di benci oleh Zia sedari kecil.


Namun rasa kecewa mendalamnya tersebut pun segera Zia samar kan dengan senyuman lembut untuk menyapa kedatangan Ryu dan Rossaline.


"Hai, Zia dan Zey," sapa Ryu dengan tersenyum cerah ke arah kedua kembaran yang merupakan anak dari sahabat orang tua nya tersebut.


Zia pun segera membalas sapaan Ryu dengan senyuman khas nya. Sedangkan Zey pun hanya terlihat mengangguk dengan cuek seperti biasanya.


Ryu pun segera mempersilahkan Rossaline untuk duduk di sampingnya dan satu meja dengan Zia, Zey, dan Zidan.


"Hai Zey. Hai Zia, masih ingat denganku kan? Aku Rossaline teman kanak-kanak kalian," sapa Rossaline dengan di buat selembut mungkin.


Zia pun segera menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis yang Zia berikan.


"Jadi kamu wanita yang sering membully adikku waktu sekolah dulu? Sepertinya aku sering melihat dirimu yang sering terlihat keluar masuk club malam," ucap Zey dengan tersenyum mengejek ke arah Rossaline.


Ucapan Zey pun membuat raut wajah Rossaline berubah menjadi cemas.


Sedangkan Zia pun nampak mencubit paha kembaran nya tersebut agar tidak merusak suasana jamuan pesta.


Sedangkan Rossaline yang mendengar ucapan Ryu pun semakin tersenyum senang.


"Sayang, aku keluar sebentar mencari angin," ucap Zidan dengan tiba-tiba kepada Zia.


Zia pun segera menjawab dengan anggukan kepala seadanya.


Zidan pun segera berlalu dari ruang perjamuan dan menuju ke sebuah sudut ruangan hotel dimana salah seorang wanita telah menunggu kedatangan nya.


Ryu yang akan penasaran dengan sosok mantan kakak seniornya di kampus pun segera izin undur diri menuju ke toilet.


Bukan toilet yang dituju oleh Ryu. Melainkan Ryu diam-diam mengikuti kemana Zidan melangkah.


Hingga Ryu pun tanpa sengaja melihat bagaimana gila nya Zidan yang tengah asik bercumbu dengan seorang wanita di sudut ruangan tersebut.


"Sayang, kapan kamu akan memutuskan Bu Zia. Aku tidak ingin terus bermain petak umpet seperti ini. Aku pun tengah mengandung bayi mu," ucap wanita tersebut.

__ADS_1


"Sabarlah sayang, biar aku mendapatkan posisi lebih tinggi dahulu. Atau aku akan menikahi Zia lebih dulu baru kemudian menikahi mu setelah aku mendapatkan banyak uang untuk menghidupi mu dan calon anak kita secara diam-diam sayang. Ini kan yang sudah kita rencanakan sedari awal," ucap Zidan dengan terus meraba-raba tubuh wanita tersebut.


"Bagaimana dengan ku sayang? Perutku pun akan semakin terlihat membesar. Bagaimana jika orang-orang di perusahaan mengetahui hubungan dan rencana kita?" tanya wanita tersebut dengan wajah sendunya.


"Kamu segera lah resign dari pekerjaan kamu. Aku pun akan terus memberimu uang bulanan yang lebih banyak dari gaji yang saat ini kamu terima. Atau kalau tidak, kita gugurkan saja bayi yang ada di dalam perut kamu ini," ucap Zidan dengan menatap wajah wanita yang sering di manfaatkan untuk menyalurkan hasratnya tersebut.


Wanita tersebut pun terlihat semakin bimbang dan bingung.


"Aku tidak menyukai Zia sama sekali. Dia sangatlah tidak asik. Di cium saja selalu menghindar dan terlihat sok suci. Berbeda dengan kamu yang selalu siap melayani ku kapan pun dan dimana pun," ucap Zidan yang terlihat semakin tidak bisa mengendalikan hasrat nya tersebut.


"Bagaimana kalau kita check in lebih dulu?" tanya Zidan yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh wanita tersebut.


Keduanya pun nampak begitu terkejut tatkala melihat Ryu yang nampak menatap nya dengan tatapan membunuh kepada Zidan.


Tanpa banyak bicara lagi, Ryu pun segera memukili Zidan yang kemudian keduanya pun terlibat adu hantam hingga membuat kegaduhan banyak orang.


"Tinggalkan Zia!!" pekik Ryu dengan terus memukuli Zidan.


"Tidak akan pernah! Zia telah memilihku!" ucap Zidan dengan segera menangkis tangan Ryu dengan cepat.


Hingga kegaduhan tersebut pun semakin membuat banyak orang mengelilingi Zidan dan Ryu.


"Ryu! Hentikan! Jangan membuat mama dan papa kamu ini semakin malu dengan ulah kamu!" hardik Akio dengan segera melerai sang anak.


Ryu yang tersadar akan emosi nya pun segera meninggalkan tempat tersebut dan segera mencari dimana Zia berada.


"Dimana Zia??" tanya Ryu kepada Rossaline yang tengah duduk sendirian di meja semula.


"Keluar sedari tadi. Wajah kamu kenapa?" tanya Rossaline dengan berusaha menyentuh wajah Ryu tersebut.


"Jangan sentuh aku!" bentak Ryu yang kemudian terlihat pergi meninggalkan Rossaline seorang diri.


Sedangkan Ryu pun terlihat mencari-cari Zia disetiap sudut hotel dengan terus menelepon nomer ponsel milik Zia yang tak kunjung tersambung.


"Kamu dimana Zia??" gumam Ryu dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


__ADS_2