
Pagi pun datang. Zia pun terlihat menggeliat kan tubuhnya dengan kepala yang terasa berat akibat sisa-sisa mabuk nya semalam.
Sekujur tubuh Zia pun terasa sangat remuk dan pegal. Dirinya pun terpaksa bangun lebih cepat mengingat ada jadwal meeting pagi ini dengan client orang asing dan segera berusaha untuk turun dari ranjang nya.
"Aww ..." rintih Zia perlahan begitu rasa sakit di area miliknya yang menjalar di tubuhnya.
Seketika dirinya pun syok di tempat begitu mendapati tubuhnya dalam keadaan polos dan penuh dengan bekas percintaan.
Dengan cepat Zia pun menoleh ke arah ranjang dan mendapati Ryu yang tengah tertidur dengan pulas.
Air mata Zia pun luruh begitu saja.
"Bodoh!" pekik Zia di dalam hati sembari memunguti baju nya yang nampak berserakan serta menahan perih di area sensitif nya dengan air mata yang terus bercucuran.
Dengan cepat Zia pun segera keluar dari apartemen tersebut dan melajukan mobilnya menuju ke sebuah penthouse yang telah di belinya secara diam-diam dari hasil jerih payahnya bekerja selama ini.
Dengan cepat Zia pun membersihkan seluruh tubuhnya di dalam bathtub kamar mandi nya tersebut dengan terus menangis terisak.
"Diriku ini terlalu bodoh! Untuk apa aku semalam pergi ke club malam hingga mabuk! Ryu sialann! Kenapa juga dirinya terlihat seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku!" pekik Zia dengan terus merutuki serta menyumpah serapahi Ryu.
Dengan cepat Zia pun bertolak menuju ke perusahaan. Seperti biasa, Zidan pun stay cool di depan lobby perusahaan sembari tersenyum manis kepada Zia.
Zia yang melihat pemandangan memuak kan di depan lobby perusahaan pun tampak terus berjalan dengan cepat tanpa melihat atau pun melirik keberadaan Zidan yang terlihat mengejarnya.
"Sayang! Tunggu aku! Kamu kenapa sayang??" teriak Zidan dengan berusaha meraih tangan Zia.
"Lepas!" ucap Zia dengan lantang dan segera menarik tangan nya menjauh dari Zidan.
Namun Zidan pun nampak masih kekeh mengekor di belakang Zia hingga seluruh mata karyawan tertuju kepada Zia dan Zidan dengan tatapan aneh.
"Bu Zia seperti nya sedang bertengkar hebat dengan pak Zidan. Biarin saja lah kedua nya putus. Aku pun kasihan dengan Bu Zia yang sangat terlihat seperti di manfaatkan oleh Pak Zidan untuk mengangkat derajat nya di perusahaan ini. Lagi pula aku sering melihat Pak Zidan berduaan dengan salah satu karyawan di divisi nya," bisik salah satu karyawan yang menggunakan blazer biru.
"Iya aku pun juga pernah melihatnya sewaktu mau memberikan hasil laporan ku keruang pak Zidan," bisik karyawan yang lain nya lagi.
__ADS_1
"Ssstt ... diamlah. Pak Zidan melotot ke arah kita," ucap sang karyawan yang memakai blazer biru kemudian.
Zia yang mendengar bisik-bisik di antara para karyawan nya pun mengepalkan kedua tangan nya dengan erat.
"Sayang! Jangan dengarkan omong kosong karyawan yang kerjanya cuma bergosip itu!" ucap Zidan dengan menghadang langkah Zia.
Hal tersebut pun membuat Zia semakin murka karena sedari tadi Zidan terus saja menghalangi langkah kaki nya untuk segera menuju ke ruang kerjanya.
"Aku akan ada meeting penting. Jadi jangan menggangguku lebih dulu," ucap Zia dengan meninggalkan Zidan dan segera masuk ke dalam kantornya.
Zia pun terlihat termenung di dalam ruang kerjanya.
"Bagaimana caraku memecat Zidan dengan alasan yang logis agar tidak menimbulkan banyak masalah ya?" gumam Zia seorang diri.
Tak berapa lama kemudian Zia pun memanggil sang sekretaris untuk masuk ke dalam ruangan nya.
"Tolong selidiki kinerja Zidan selama ini. Gali kesalahan sekecil apa pun yang Zidan lakukan dan segera pecat dia," ucap Zia memberikan perintah kepada sang sekretaris dengan memegang kening nya yang masih terasa berdenyut nyeri hingga sekarang.
"Baik, Bu. Ada perintah lagi atau sudah cukup, Bu?" tanya sang sekertaris dengan menatap hormat kepada Zia.
Sang sekretaris pun mengangguk paham dan segera undur diri.
Sedangkan Ryu yang baru terbangun dari tidurnya pun nampak sangat terkejut begitu mendapati malam telah berganti siang.
"Astaga! Sudah sesiang ini?!" pekik Ryu dengan tergesa turun dari ranjang.
Namun tubuhnya pun membeku begitu melihat pakaian nya yang terlihat berserakan di lantai.
Ryu pun seketika menoleh ke arah ranjang dimana Zia tertidur semalaman dengan nya.
"Kenapa Zia tidak berusaha membangunkan ku? Kemudian memukul serta memaki ku? Apa Zia tidak ingin meminta pertanggung jawaban dariku??" gumam Ryu yang kembali terduduk di pinggiran ranjang kasurnya dengan pandangan kosong.
"Apa yang ada di dalam benak Zia sebenarnya? Apa dia sama sekali tidak peduli akan sesuatu hal yang telah dia jaga selama ini aku renggut begitu saja?" gumam Ryu dengan perasaan tak karuan.
__ADS_1
"Tidak bisa! Jika Zia tidak mau meminta pertanggung jawaban dariku maka aku yang akan meminta pertanggung jawaban dari nya! Keperjakaan ku pun telah hilang karena terus di goda dengan tubuh indah nya semalaman!" pekik Ryu yang tidak terima karena di abaikan oleh Zia.
Ryu pun segera melesat ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Dengan cepat dirinya pun mengganti kostumnya dengan setelan kantor dan seger bertolak menuju ke dalam kantor yang saat ini Zia tempati.
Hingga tak lama kemudian terlihat Ryu yang telah memasuki perusahaan milik orang tua Zia dengan penuh percaya diri.
Sialnya Ryu pun kembali berpapasan dengan Zidan di perusahaan tersebut. Seketika emosi di hati Ryu pun kembali menjalar dan ingin segera menghajar lelaki tersebut kembali.
Namun emosi di hatinya pun segera di tahan mengingat tujuan nya ke perusahaan tersebut bukan untuk mencari keributan.
Ryu pun segera menuju ke lantai atas dimana ruang kerja Zia berada. Tidak ada yang melarang Ryu untuk keluar masuk ke dalam perusahaan tersebut karena Ryu pun telah menjadi salah satu investor terbesar di perusahaan tersebut.
"Ada urusan apa kamu menuju ke ruang kerja ke kasihku?!" hadang Zidan dengan wajah terlihat sangat marah.
"Mau membeberkan rahasia besarmu," ucap Ryu setengah berbisik ke arah Zidan.
Wajah Zidan pun menjadi pucat pasi. Namun tak berapa lama kemudian, Zidan pun segera membalas ucapan Ryu.
"Zia tidak akan mempercayai ucapan kamu karena kita sudah saling percaya dan tidak akan goyah dengan ucapan tanpa bukti mu itu," ucap Zidan dengan penuh percaya diri dan terlihat segera berlalu dari hadapan Ryu.
Ryu pun segera menuju ke dalam ruangan dimana Zia berada. Terlihat Zia yang tengah bersiap keluar dari ruangan nya.
"Duduk lah dulu. Aku ingin kita mengobrol dan bicara," ucap Ryu dengan menarik tangan Zia agar duduk di sofa yang tersedia.
"Apa kamu tidak butuh pertanggung jawaban dari ku atas kejadian semalam?" tanya Ryu dengan menatap tajam ke arah Zia.
"Kamu bertemu dengan ku disini hanya ingin berbicara soal itu saja? Sudahlah, mungkin semalam adalah kesalahan ku semata. Jadi kita lupakan saja kejadian semalam," ucap Zia dengan segera berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan nya tersebut.
Dalam hati kecil Zia pun rasanya ingin menangis kencang dan merutuki kebodohan nya karena kesucian yang telah dijaga nya selama ini telah direnggut cuma-cuma oleh seseorang yang tak kunjung mencintai diri nya hingga saat ini.
Meminta pertanggung jawaban pun rasanya percuma jika Ryu tak kunjung mencintai nya dan sudah bisa di pastikan jika pernikahan nya tersebut akan terjalin tanpa cinta.
Itulah yang membuat Zia enggan untuk memaksa Ryu untuk segera menikahi nya.
__ADS_1
"Berarti jika seperti itu maka kamu lah yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu itu! Gara-gara sikapmu semalam dengan melepas seluruh baju mu dan kemudian menggoda ku terus menerus lah yang membuat keperjakaan yang telah ku jaga selama ini menjadi terenggut oleh tubuhmu itu!" ucap Ryu dengan lantang bersamaan dengan masuknya sekretaris Zia di dalam ruangan tersebut.