Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Curiga


__ADS_3

Aninda kini memasuki kampusnya tersebut dengan langkah percaya diri dan menjadi tidak terlalu cemas lagi karena sudah ada Dio yang berjanji untuk menjaga nya tersebut.


Seperti biasa nampak Ammar yang sudah menunggu Aninda di sekitar gerbang kampus nya tersebut. Entah di luar gerbang atau pun di gazebo yang paling dekat dengan gerbang kampus.


"Aninda, tunggu aku." Ucap Ammar yang nampak setengah berlari dari arah gazebo kampusnya tersebut.


Aninda pun sontak menoleh dan tersenyum ke arah Ammar. Kedua nya pun nampak mengobrol dengan akrabnya.


Dio yang melihat keakraban antara Aninda dengan Ammar pun menjadi jengkel seketika.


"Kenapa sih itu cowok persis seperti benalu yang suka sekali menempel di inang nya. Selalu saja berusaha untuk menempel dengan Aninda terus." Ucap Dio dengan mendengus kesal.


Laptop Dio pun nampak telah terhubung dengan cctv yang menjadi tempat dan ruangan kelas yang biasa di singgahi oleh Aninda.


Dio pun nampak mengedarkan pandangannya dengan jeli di area yang memungkinkan lelaki misterius kemarin kembali memantau Aninda.


Namun setelah berjam-jam Dio menunggu, lelaki misterius tersebut tidak nampak datang kembali.


"Hemm. Jika aku hanya duduk, menunggu dan mengintai saja mana mungkin bisa mendapatkan petunjuk lebih lanjut. Sebaiknya nanti aku check lebih jeli melalui cctv yang terekam kemarin." Gumam Dio sembari mengikuti kelas zoom nya tersebut dan menunggu Aninda yang sebentar lagi akan keluar dari ruang kelas nya untuk jeda makan siang dan pergantian mata kuliah berikutnya.


Benar saja, tak lama kemudian Aninda pun nampak keluar dari ruang kelas nya tersebut dan terlihat menuju ke kantin yang terdekat dengan ruang kelas nya tersebut. Yakni tempat yang sama dengan dirinya berada saat ini.


Dio pun dengan cepat melebarkan telinga nya selebar mungkin untuk menguping pembicaraan antara Aninda dengan Ammar.


"Nin, nanti perlu aku antar pulang ke asrama kamu enggak seperti kemarin-kemarin?" Ucap Ammar.

__ADS_1


"Eh, enggak usah. Maaf ya kemarin-kemarin pun aku harus merepotkan kamu. Kamu langsung kembali saja ke asrama kamu. jika kamu mengantarkan ku terus menerus yang ada kamu sampai di asrama kamu pun sudah nampak kesorean. Ditambah lagi itu pun kalau kamu tidak ketinggalan bus." Jawab Aninda menolak secara halus.


Dio yang mendengar pembicaraan kedua nya tersebut seketika mengepalkan kedua tangannya.


"Jadi kemarin-kemarin pulangnya Aninda selalu di temani oleh Ammar?" Gumam Dio di dalam hati dengan muka yang sangat kesal.


"Hallo Aninda, hai Ammar." Ucap seorang lelaki menghampiri meja yang telah di gunakan oleh Aninda dan Ammar tersebut.


"Sensei Akane??" Ucap Aninda dengan Ammar bersamaan.


"Hehehe, iya boleh gabung enggak nih?" Tanya sensei Akane.


"Boleh, silahkan duduk sensei. Ngomong-ngomong sensei ada acara apa berkunjung ke kampus ini?" Tanya Ammar dengan raut muka serius.


"Oohh, sensei kan alumni sini. Jadi sensei pun sebenarnya sering sekali kemari." Jawab sensei Akane dengan apa adanya.


Kedatangan sensei Akane pun tak luput dari pengamatan Dio. Dio pun nampak melihat dan mengamati wajah serta postur tubuh sensei Akane pun seperti sudah tidak asing. Seperti pernah bertemu namun lupa entah dimana.


Dio pun menjadi bertanya-tanya. Siapa sensei Akane? Kenapa Aninda dan Ammar juga nampak mengenalnya?


"Anin, kulihat kemarin di asrama kamu terlihat seperti ada yang pindahan ya? Siapa yang pindah memang?" Tanya sensei Akane seperti berbasa basi mengorek informasi.


Aninda pun kemudian nampak diam, begitu juga dengan Ammar.


"Kenapa sensei Akane mengetahui jika barang-barang ku nampak di pindahkan? Apakah sensei Akane ingin mengorek informasi tentangku? Apakah sensei Akane menyadari jika aku telah berpindah dari asrama tersebut? Lantas kenapa juga sensei Akane terlihat sangat ingin tahu?" Gumam Aninda di dalam hati dengan waspada.

__ADS_1


"Mungkin juga kakak tingkat Aninda di asrama yang hampir graduation kali ya Nin." Ujar Ammar yang berusaha membantu Aninda menjawab.


Aninda pun nampak mengangguk asal dan dengan segera Aninda dan Ammar pun dengan kompak mengalihkan pembicaraan mereka.


Dio yang mendengar pertanyaan dari sensei Akane pun menjadi berfikir dengan keras. Namun segera ia abaikan.


"Ah mungkin hanya perasaan aku saja. Tidak mungkin juga kan kalau yang bernama sensei Akane tersebut adalah orang yang menguntit Aninda?" Gumam Dio di dalam hati sembari terus mengamati bentuk tubuh, baju serta apa pun yang dikenakan oleh sensei Akane tersebut.


Dio pun nampak membelalakkan kedua matanya ketika dirinya menyadari jika jam tangan yang di pakai oleh sensei Akane sangat lah persis dengan jam tangan yang di pakai oleh orang misterius kemarin.


Kemudian diam-diam Dio pun membuka hp nya dan memutar kembali video yang dia rekam diam-diam untuk menyelidiki siapa peretas misterius yang tampak selalu menguntit Aninda.


"Bentuk tubuh sama, jam tangan pun sama. Rambut yang tertutup oleh topi jika di buka pun kemungkinan besar sama. Apa mungkin benar jika penguntit tersebut adalah orang yang Aninda panggil sebagai sensei Akane tersebut?" Gumam Dio dengan perasaan was-was.


Tak lama kemudian Aninda dan Ammar pun terlihat berpamitan kepada sensei Akane tersebut karena sebentar lagi jam kuliah berikut nya akan segera di mulai.


Aninda dan Ammar pun nampak telah menuju ke ruang kelas nya. Sedangkan Dio pun nampak menimbang-nimbang bagaimana caranya iya melacak kebenaran antara sensei Akane dengan peretas misterius tersebut.


"Sebaiknya aku masukkan alat penyadap yang di bekali dengan gps otomatis pemberian dari Akio kemarin ini ke dalam tas milik sensei Akane tersebut. Alat ini sangatlah kecil, jadi tidak akan mungkin jika sensei Akane tersebut menyadari jika dirinya telah aku mata-matai juga." Kata Dio di dalam hatinya tersebut.


Dio pun kemudian pura-pura berjalan di dekat sensei Akane seolah dirinya jatuh tersandung dan menubruk meja sensei tersebut. Dengan gesit Dio pun memasukkan alat penyadap terseduplt kedalam tas milik sensei Akane yang nampak terbuka sedikit.


"Maaf kan saya, saya tidak sengaja." Ucap Dio dengan wajah menunduk seolah ketakutan.


"Haish, ya sudahlah. Ini adalah peringatan pertama dan terakhir untukmu dan jangan sekali-kali membuatku celaka karena dirimu yang tidak becus untuk berjalan dengan benar!" Umpat sensei Akane dengan sangat kasar.

__ADS_1


Dio pun nampak menganggukkan kepala dan segera berlalu dari hadapan sensei Akane tersebut.


"Oh jadi seperti itu wujud asli dari sensei Akane yang nampak lemah lembut di depan Aninda tersebut." Gumam Dio dengan segera menjauh dari tempat awalnya tersebut dan nampak menuju ke sudut lain yang bisa mengamati sensei Akane secara langsung.


__ADS_2