
Benar-benar Mas Abiyan, kali ini dia sepertinya balas dendam, mentang-mentang sudah lama menduda, dia ngerjain aku habis-habisan.
Tubuhku rasanya remuk, tak bertenaga. Intuk bangkit saja rasanya lemah, akhirnya kamipun urung pulang malam itu, sebab aku sudah tak dapat membuka mata ini, bagaimana tidak selama tiga hari menginap di hotel ini aku tak bisa istirahat dengan tenang.
Di tindih terus-terusan dengan tubuhnya yang kekar siapa yang tidak keok.
Kakiku rasanya buat jalan aja susah sekali perih dan begah di bagian pangkal pahaku.
Pagi menjelang sinar mentari menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamar yang kordennya sudah tersingkap, mungkin Mas Biyan yang membukanya saat bangun.
Aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan tetapi aku tak menemukan pria yang sudah sah menjadi suamiku itu, aku berusaha untuk bangun dan duduk sesaat, mengumpulkan nyawaku dan tenaga ku.
Setelah itu aku berjalan ke kamar mandi tertatih-tatih, menahan nyeri di sekujur tubuhku, benar-benar keterlaluan kamu Mas, tidak kira-kira mainnya benar-benar kuat tak kenal ampun.
Jujur aku sangat menikmati semua sentuhannya, tetapi ketika sudah memasuki aku dia tak terkendali, aku jadi ngeri sendiri bila mengingatnya, maklum aku belum terbiasa dengan caranya Mas Biyan.
Aku perlahan-lahan berjalan ke arah shower kamar mandi, dan akupun berdiri di bawahnya, sambil memutar kran nya itu,
gemercik air berjatuhan membasahi tubuhku yang penuh dengan bekas peluh sisa semalam, aku merasakan sensasi segar sekali di tubuhku, setelah itu aku basuh tubuhku dengan sabun berlahan-lahan hingga merata, aku masih merasakan ngilu dan perih sekali, aku merutuki mas Biyan yang super agresif itu sambil mandi.
Kalau begini aku rasanya pingin cepat-cepat pulang saja, di sini kelamaan bisa-bisa aku tidak bisa jalan nantinya.
" Dek kamu tidur di dalam?" seru suara dari arah pintu kamar mandi.
" Bentar Mas, sabar napa!" teriakku dengan kencang, jujur aku lagi kesel sama Mas Biyan yang tidak sabaran itu, dari kemaren cari masalah terus sama aku, aku membasuh tubuhku dengan handuk sambil mengomel pada orang yang masih di luar sana.
Usai aku mengeringkan rambutku aku pun keluar dari kamar mandi, ketika sampai di depan pintu Mas Biyan berdiri di samping pintu kamar mandi, saking keselnya aku, ki lewati begitu saja dia tanpa menoleh padanya, tampangku sudah tak bersahabat pokonya, masa bodoh dia juga ikut marah, lalu dia mengekori aku dari belakang.
__ADS_1
" Udah aku mau sholat Mas ga usah macam-macam." Seruku padanya sebelum dia berulah lebih jauh lagi.
" Ia Dek, maaf." ucapnya seraya ia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dan diam, sementara aku menjalankan ibadah subuh, yang sudah di bilang telat sekali, karena jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh pagi.
Usai sholat aku berkemas-kemas lagi, dan di bantu oleh Mas Biyan, selama berkemas-kemas dia tak banyak bicara, hanya sesekali dia meminta maaf padaku, atas ulahnya dia itu.
Sesekali dia mencuri ciuman di bagian tubuhku yang dapat di cium olehnya, kalau ga pipi ya pundak atau punggungku, pokoknya sekenanya deh, dan sambil berkata " Maaf" aku hanya diam saja, aku benar-benar kesel sama Mas Biyan.
Dia sungguh terlalu, dia tidak tahu apa aku memikirkan anak-anak di rumah, pasti Malika yang heboh, bila tak ketemu aku beberapa hari anak itu biasanya uring-uringan, beda sama dengan Dimas, anak itu penurut, sekali di nasehati dia akan mengerti, tetapi tidak untuk Malika.
" Mas tuh benar-benar keterlaluan" omelku padanya. Sepanjang aku memberesi barang-barang mulutku tak henti-hentinya mengomeli dia, sambil mendelik ke arahnya, dan Mas Biyan hanya diam saja dan kata maaf terus terucap.
" Lain kali ga boleh kaya gini deh Mas, kita punya anak-anak, Mas jangan egois dong, kalau mau nginep lama lagi mendingan anak-anak kita aja saja dari pada kita kepikiran." sesekali aku tatap dia sambil aku omeli nya namun pria itu hanya menunduk dan ah pokoknya menyebalkan sekali dia itu.
Usai berkemas aku dan Mas Biyan akhirnya pulang juga, barang-barang sudah di masukkan ke dalam mobil setelah kami check out dari hotel tersebut.
Aku harap Malika tak merajuk nanti, kalau sampai merajut, awas aku akan membuat perhitungan dengan pria yang sudah sah menjadi suamiku ini.
" Kenapa Mas lihat-lihat aku terus" Seruku balik menatapnya.
" Dari tadi Mas minta maaf, tapi kamu tidak menjawab dek, Mas jadinya sedih kan." Ucapnya penuh dengan permohonan.
" Maaf ya Yank?" pintanya dengan wajahnya yang terlihat sendu, tangannya menggenggam sebelah tanganku yang aku letakkan di atas tas yang ada di pangkuanku.
Aku hanya mengangguk saja, sebagai jawaban, lalu diapun tersenyum dan mengambil jemariku untuk di kecupnya.
Mas Biyan memang pria yang romantis dan menyenangkan, tapi kadang dia keterlaluan juga dan menyebalkan, posesif nya kelewatan banget deh pokoknya.
__ADS_1
Dasar bucin.
Setelah perjalanan yang memakan waktu setengah jam dari hotel ke rumah, karena sedikit macet di beberapa ruas jalan, sebab bersama dengan jam kerja juga, akhirnya kami sampai juga di rumah Mas Biyan.
Rumah besar dan mewah itu akhirnya menjadi hunianku yang baru saat ini, dulu tidak pernah bermimpi sedikitpun aku untuk tinggal di sana, bermimpi pun aku mungkin hanya bisa sebagai pekerja di rumah mewah ini, tetapi bukan untuk menjadi pendamping dari pemilik rumah tersebut.
Rasanya aku masih tak percaya bila aku menjadi istri dari seorang pengusaha kaya dan ternama.
Hari ini kami cerita kami akan di mulai, membuka lembaran baru dan menikmati setiap jengkalnya kehidupan dan entah apa yang akan terjadi esok kita lihat saja nantinya.
Menjadi seorang istri dari pria tampan dan pengusaha lagi harus kuat dan tegar, tentu di luaran sana banyak wanita-wanita yang lebih cantik dan sexy berusaha masuk ke dalam kehidupan kami.
Kamu harus siap akan hal itu, kini aku harus lebih kuat lagi, dulu masalah aku ada pada keluarga suami, tetapi sekarang godaan tentunya akan semakin berat dari arah luaran sana, siap mental dan hati.
Memasuki halaman yang luas itu aku tiba-tiba gugup, jujur aku belum terbiasa dan malu sama Bi Pur, Mbak Siti dan Lastri, dulu bercanda sama dengan mereka adalah hal biasa tetapi sekarang aku pasti akan canggung.
" Alhamdulillah sudah sampai sayang." Ucap Mas Biyan dengan rasa syukur.
Terlihat sosok bocah kecil sambil di gendong Mbak Siti sudah berdiri di halaman depan rumah, tangan bocah itu sudah melambai padaku, air matanya sudah berlinang di pipinya, ya Allah kenapa sambutanya dramatis seperti ini, antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.
" Mama" tangisnya sudah pecah sedari tadi.
" Ikut mama" serunya tak sabaran minta di gendong, setelah turun aku lalu mengambil tubuh mungil itu dan menciuminya dengan sayang.
" Mana abang? " tanyaku pada bocah itu.
Tangannya menunjuk ke dalam sambil sesegukan.
__ADS_1