Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Diam-Diam Tes DNA


__ADS_3

Pagi hari nya Dio nampak di sibukkan dengan telepon di hp nya yang terlibat obrolan dengan seorang dokter kandungan kenalan nya yang akan menangani masalah tes DNA yang akan di lakukan oleh Vania dan bayi nya yang berada di dalam kandungan Vania tersebut.


"Bisa tuan, namun usia kehamilan nya minimal 10 minggu baru bisa kami melakukan prosedur tes DNA," ucap sang dokter di balik telepon nya.


"Sepertinya sudah lebih dari 10 Minggu dok. Namun saya mohon untuk merahasiakan nya dari istri saya ya dok?" pinta Dio kepada sang dokter.


"Tenang saja tuan, banyak kok yang mengalami khasus serupa dengan tuan. Dan di pastikan semua nya aman dan rahasia klien pun terjamin," tutur sang dokter di dalam telepon tersebut.


"Baik dok, saya usahakan setelah ini saya akan segera menuju ke rumah sakit dan menemui dokter dengan segera," ucap Dio dengan mengakhiri panggilan nya.


Dio pun nampak segera berganti pakaian dan terlihat memasuki kamar Vania. Vania yang melihat kedatangan Dio pun terkejut karena tidak biasanya suami nya tersebut mau memasuki kamar keduanya.


"Oh, mungkin Dio sudah berubah nih karena sudah di nasehin mama nya. Makanya mau masuk ke dalam kamar ini," gumam Vania di dalam hati sembari senyum-senyum sendiri.


Sedangkan Dio dengan wajah datarnya pun berjalan mendekat ke arah Vania.


"Bersiaplah, ayo ku antarkan periksa ke dokter kandungan untuk check up," tutur Dio berhadapan langsung dengan Vania.


Vania yang mendengar ucapan suaminya yang akan mengantarkan nya untuk periksa ke dokter kandungan pun menjadi berbunga-bunga.


"Yes!! Akhirnya Dio sedikit demi sedikit pun luluh terhadap pesonaku!" gumam Vania di dalam hati dengan terus tersenyum.


"Cepetan! Kalau nggak mau yasudah," ucap Dio dengan membalikkan tubuhnya menuju ke pintu keluar.


"Dio sayang! Aku mau!! Tolong tunggu sebentar aku akan segera bersiap," pekik Vania dengan segera mengambil baju ganti dan berganti mengenakan dress selutut.


"Sayang, ayo aku sudah siap!" ucap Vania dengan menggandeng lengan Dio.


Namun Dio pun segera menepis tangan Vania tersebut. "Jangan sentuh aku!" ucap Dio dengan terus berjalan menuju dimana mobilnya berada.


Sedangkan Vania pun nampak terlihat jengkel namun segera ia tahan karena Dio telah ada sedikit kemajuan karena telah mau untuk mengantarkan nya memeriksa kandungan nya.


"Cepat masuk! Jangan bengong terus! Atau aku biarkan kamu berangkat ke rumah sakit sendiri jika tidak segera bergerak!" bentak Dio.


Vania pun nampak terkejut mendengar suara Dio yang terlihat sangat galak tersebut. "Dio niat enggak sih nganterin aku? Kenapa masih saja tetap terlihat," gumam Vania lagi.


Sepanjang perjalanan Dio dan Vania pun nampak saling terdiam. Dimana hanya terdengar alunan musik yang menggema di dalam mobilnya tersebut. Sedangkan keduanya pun tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


Hingga tak berapa lama Vania pun nampak berteriak ketika melihat seorang pedagang rujak keliling.

__ADS_1


"Sayaang berhenti!! Aku mau beli rujak itu dulu," pekik Vania dengan menunjukkan pedagang rujak keliling.


Dio yang mendengar suara Vania yang sangat nyaring tersebut spontan menutup sebelah telinganya.


"Bisa tidak sih kamu ngomongnya jangan teriak-teriak kayak di hutan?!" ucap Dio dengan nada penuh penekanan kepada Vania yang membuat wajah Vania pun terlihat pias karena sedari tadi terus menerus di bentak oleh Dio.


"Cepat turun kalau mau beli!" bentak Dio kepada Vania lagi.


Vania pun segera turun dengan wajah yang seakan menahan air matanya agar tidak turun membasahi pipinya.


Sedangkan Dio pun terlihat mengumpat begitu Vania telah turun dari mobilnya tersebut. "Enak saja wanita ular itu. Yang ngehamilin siapa, yang disuruh tanggung jawab siapa. Kalau ngidam ha turuti saja sendiri."


Tak lama kemudian nampak Vania telah kembali membawa dua bungkus rujak. Bau nya pun menyeruak dan sangat menggugah selera hingga rasanya terlihat begitu menggoda untuk segera Dio cicipi. Dio pun begitu tergiur dan terlihat sesekai meneguk ludahnya menahan keinginan nya tersebut.


"Nih yang satu buat kamu. Aku tadi sengaja membeli dua," ucap Vania dengan menyodorkan rujak tersebut dan dengan cepat segera Dio terima.


Dio yang sudah tidak tahan untuk segera memakan nya pun terlihat menepikan mobilnya. Dio pun segera membuka kaca jendela mobilnya tersebut dan segera memakan rujaknya itu dengan sangat lahap.


"Ahh enaknya. Rasanya terasa masam manis gurih dan segar membuat ku ingin memakan nya lagi dan lagi," cerocos Dio tanpa sengaja yang membuat Vania pun segera menyodorkan rujaknya yang masih tersisa separuh.


"Ini kalau mau punyaku masih tersisa separuh," ucap Vania yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Dio.


Dio pun segera melajukan mobilnya kembali dan dengan cepat membelah jalanan yang mereka lalui dengan menyalip beberapa mobil dan motor di depan nya.


"Di-dio, tolong kemudikan mobil kamu dengan pelan. Rasanya perutku mau muntah melihat mobilmu hang melaju dengan ugal-ugalan," pinta Vania dengan lirih menahan mual yang rasanya sudah sampai di ujung kerongkongan nya.


"Hueekk!! Huekk!! Huekk!!"


Vania pun terlihat muntah di dalam plastik bekas rujaknya tersebut yang membuat Dio yang ikut merasakan mual. Pada akhirnya Dio pun segera menepikan mobilnya kembali dan segera turun dari mobilnya lantas mengeluarkan isi perutnya di pinggiran jalanan tersebut.


"Vania sialan! Gara-gara dia muntah di dalam mobilku rasanya pun aku menjadi ikut mual!" pekik Dio yang kemudian segera berjalan menuju ke toko kelontong dan membeli mineral.


Dio pun segera meneguknya dengan sangat cepat dan tanpa sisa. Setelah itu Dio pun kembali menuju ke dalam mobilnya.


Dio pun membuka pintu mobilnya selebar mungkin dan menyemprotkan parfum ke dalam mobilnya tersebut agar udara kembali fresh seperti sebelumnya.


"Huhh ..." Dio pun terlihat mengambil nafas panjang meredam emosi yang terus menjalar di hati nya.


"Bisa mati muda karena darah tinggi kalau emosi begini terus menerus," gumam Dio yang dapat di dengar oleh Vania.

__ADS_1


Tak lama kemudian keduanya pun telah sampai di rumah sakit. Dio pun segera memarkirkan mobilnya dan kemudian turun menuju ke ruang pendaftaran dengan di ikuti oleh Vania.


Dengan cepat Dio pun mendaftar pemeriksaan ke dokter kandungan yang telah dirinya ajak konseling melalui telepon selulernya tadi pagi.


Dio berserta Vania pun terlihat mengantri giliran untuk di panggil dan kedua nya duduk tanpa obrolan sepatah kata pun.


Hingga terdengar nama Vania pun di panggil untuk segera melakukan pemeriksaan. Dengan cepat Dio pun masuk lebih dulu ke dalam ruang tersebut dan di ikuti oleh Vania.


Dokter yang telah paham dengan instruksi Dio pun segera memerintahkan Vania untuk berbaring.


"Nona, silahkan berbaring terlebih dahulu. Biar saya oleskan gel untuk melakukan USG rutin terlebih dulu," ucap Dokter tersebut.


Dengan segera Vania pun berbaring di atas ranjang kecil tersebut dan dokter pun segera mengoles gel dengan di bantu oleh seorang perawat dan dengan cepat dokter tersebut pun terlihat menjelaskan jika kandungan Vania baik-baik saja.


Setelah itu terlihat dokter kandungan tersebut segera melakukan serangkaian prosedur yang akan dilakukan untuk melakukan tes DNA terhadap bayi yang sedang Vania kandung.


Vania pun terlihat bingung. "Kenapa dok? Apa pemeriksaan nya belum selesai?" tanya Vania dengan sedikit curiga.


"Sudah kamu tenang saja. Pasti dokternya sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk bayi kamu itu agar semua baik-baik saja," tutur Dio dengan cepat agar Vania tidak lagi curiga.


Vania pun nampak menurut dengan apa yang Dio katakan. Tak lama kemudian proses tes DNA nya telah selesai dan dilakukan oleh dokter tersebut dengan sangat cepat.


"Semua nya baik-baik saja, nona. Bayinya normal dan sehat. Saya telah meresepkan obat nya untuk di minum teratur," ucap sang dokter.


Vania pun di persilahkan untuk segera keluar terlebih dahulu. Sedangkan Dio dan sang dokter pun terlibat obrolan singkat.


"Hasilnya akan keluar satu Minggu lagi tuan," ucap sang Dokter yang kemudian.


"Baiklah dokter, satu Minggu lagi saya kesini lagi sendiri," ucap Dio dengan berpamitan kepada sang dokter.


Melihat Dio yang keluar nya sangat lama pun membuat Vania jengkel. Vania pun segera menggandeng tangan Dio begitu Dio terlihat keluar dari ruang tersebut.


"Kenapa keluar nya lama sayang? Apa yang sedang kalian obrolkan?" tanya Vania.


"Tidak apa-apa, ayo kita pulang. Lepaskan dulu tangan kamu. Karena aku sama sekali tidak suka di gandeng," ucap Dio dengan melepaskan gandengan tangan Vania tersebut dengan perlahan.


"Apakah kamu senang dengan hasil pemeriksaan bayi kita saat ini sayang?" ucap Vania dengan mengejar langkah lebar Dio.


"Ya senang sekali," jawab Dio sekenan nya.

__ADS_1


"Senang sekali karena sebentar lagi aku akan mengetahui kenyataan bayi yang sedang kamu kandung itu," ucap Dio di dalam hati dengan senyum mengembang yang membuat Vania kembali berbunga-bunga karena mengira bahwa Dio merasa senang karena telah melihat bayinya yang nampak sehat tersebut.


__ADS_2