Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Belum Terpecahkan


__ADS_3

Kedua orang tua Liliana yang semula nya syok kini pun telah sanggup menerima takdir yang harus keluarga mereka jalani. Ibu Liliana pun nampak terus memperhatikan asupan gizi putrinya tersebut walaupun tidak ada satu makanan pun yang sanggup di cerna oleh perut Liliana karena masih terus saja di muntahkan olehnya.


"Bu, rasanya morning sickness ternyata benar-benar menyiksa. Kenapa bahkan hingga malam hari pun aku masih terus mual Bu?" tanya Liliana dengan nada suara yang rendah karena tubuhnya yang sangat lemah dan lemas tersebut.


"Iya, memang seperti rasanya. Setiap wanita pasti berbeda-beda merasakan rasa mual nya itu. Ada yang suaminya yang mual-mual dan ngidam, ada yang istrinya yang mual hanya di pagi hari, juga ada yang tidak mual sama sekali, serta ada juga yang mual di sepanjang hari seperti kamu ini," ucap Ibu Liliana dengan telaten mengoles minyak aromaterapi agar mual dan muntah yang Liliana alami pun bisa berkurang.


Liliana pun nampak mendengarkan penjelasan ibunya tersebut dengan seksama. Ibunya pun setiap hari menghibur dirinya agar tidak kembali mengingat masa lalu kelam yang pernah mereka alami.


Jika mual yang Liliana alami tidak begitu menyusahkan nya maka Liliana pun dengan langkah perlahan pun nampak duduk di tangga rumah panggung mereka yang langsung berhadapan dengan lautan lepas. Karena rumah mereka berada di pinggiran tak jauh dari bibir pantai.


Liliana pun nampak melamun memandang hamparan air laut dengan riak-riak ombak lautnya dan menatap jauh hingga ke ujung laut tersebut. Entah apa yang ada di dalam benak Liliana. Namun seperti itulah yang sering Liliana lakukan akhir-akhir ini.


Sedangkan Amel dan Akio sudah berkali-kali menuju ke rumah Aninda pun hanya mendapati rumah Aninda yang terlihat kacau balau serta dedaunan yang nampak berserakan seperti sudah tidak di huni sejak lama.


"Kamu dimana Nin? Kenapa rumah kamu berantakan seperti ini dan tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar apa pun?" gumam Amel dengan duduk bersimpuh memandang rumah Aninda dengan berurai air mata.


Amel pun segera melangkah dengan cepat menuju ke rumah tetangga Aninda tersebut dan menanyakan keberadaan keluarga nya tersebut. Namun seluruh tetangganya pun mengatakan tidak mengetahui apa pun itu tentang keberadaan Aninda setelah kejadian batalnya pernikahan nya itu.


Ada desas desus yang mengatakan jika keluarga Aninda telah di bunuh oleh seseorang hingga tidak di temukan jasad nya, dan ada juga yang mengatakan jika keluarga nya menghilang setelah terlibat percekcokan dengan segerombolan orang dan kemudian di culik oleh orang-orang tersebut.


Amel pun sudah melaporkan kejadian menghilangnya keluarga Aninda tersebut ke kantor polisi. Namun hingga kini polisi-polisi tersebut tidak ada yang menemukan jejak dimana keberadaan Aninda beserta keluarga nya.


Amel pun nampak setiap hari terus menangisi bagaimana keadaan sahabat seperjuangan nya itu. "Kamu ada dimana Nin? Kenapa kamu tidak memberikan petunjuk apapun kepada ku. Huhuhu," ucap Amel sambil terus menangis hingga membuat Akio pun panik karena tubuh Amel semakin terlihat kurus.


"Sayang, ayo makan lebih dulu. Nanti aku akan membantu sekuat tenaga ku untuk menemukan petunjuk dimana Aninda berada," bujuk Akio agar istrinya tersebut mau untuk menerima suapan yang Akio berikan.


"Kamu itu berbohong kepada ku terus menerus dengan mengatakan kalimat seperti itu setiap saat hingga membuatku tidak lagi mempercaimu Kio," ucap Amel dengan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah tembok.


"Kamu jangan terus menangis dan hanya merebahkan tubuh kamu di atas tempat tidur sayang. Ini tidak baik untuk kesehatan calon anak kita yang ada di dalam perut kamu itu," ucap Akio membujuk Amel dengan berbagai cara.


Amel pun seketika membalikkan tubuhnya dan menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh suami siaga nya itu.


"Ini sudah sebulan berlalu dan bahkan lebih sayang. Kenapa kamu juga tidak memiliki petunjuk apa pun? Lihatlah aku sangat muak melihat Dio dengan istri barunya yang bertemu kita di pusat perbelanjaan kemarin itu yang nampak bergelayut dengan manja serta mengatakan dengan keras jika wanita busuk itu sedang mengandung anak dari Dio," tutur Amel dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Makanlah dulu, nanti baru bercerita lagi. Aku takut jika kamu tersedak karena makan sambil bercerita dengan nada cepat seperti itu," ucap Akio memberi nasehat kepada istri yang amat di cintai nya itu.


"Tenang saja. Aku tidak bakal tersedak sayang. Karena aku sudah sangat profesional dalam hal makan sambil bergossip. Bagaimana dengan Dio? Apa Dio sama sekali tidak menanyakan kabar Aninda atau pun pergi menemui Aninda di rumahnya?" tanya Amel dengan penuh selidik.


Akio pun nampak menghela nafas panjang nya.


"Dio nampak sangat frustasi. Disatu sisi Dio sama sekali tidak bisa melihat dan menemukan kelicikan dari Vania itu. Dio pun sama sekali tidak mengingat apa yang telah ia perbuat dengan Vania waktu malam itu hingga Dio pun terpaksa menerima kondisi Vania yang kini tengah dinyatakan berbadan dua oleh dokter," ucap Akio dengan perlahan agar tidak kembali membuat istrinya tersebut emosi.


"Dasar semua lelaki nampak sama saja terlihat sangat bodoh jika berhubungan dengan pelakor! Awas kamu Dio. Aku sudah tidak sudi menganggap kamu sebagai sahabat ku. Tutup akses komunikasi kita terhadap Dio yang sekarang menjadi sangat idiot itu!" ujar Amel dengan penuh emosi.


Sedangkan di sisi lain, nampak Dio yang sedang melamun di balkon rumah orang tuanya yang ada di Jogja tersebut.


Dio pun sudah berkali-kali mencoba meretas sistem cctv yang terdekat dengan lingkungan rumah milik Aninda. Namun tidak ada jalanan yang merekam Aninda melalui cctv yang barangkali di lalui oleh Aninda bersama keluarga nya tersebut.


"Sialan! Kenapa di desa Aninda itu penduduk nya kurang begitu canggih hingga hanya sedikit jalan yang memiliki akses cctv!" umpat Dio dengan kesal sembari terus merokok di balkon kamar nya tersebut.


Dio pun sudah melacak dan meretas jadwal penerbangan menuju keluar negeri ataupun melalui antar kota dan pulau atas nama Aninda beserta keluarga nya. Namun lagi-lagi disistem tersebut tidak tertera nama Aninda beserta kedua orang tua nya.


Disatu sisi Dio pun terlihat sangat bingung dengan kondisi Vania yang sedang hamil muda tersebut. Dio pun telah menyelidiki malam kejadian tersebut yang nampak normal.


Tubuhnya dan tubuh Vania yang memiliki bekas percintaan di sekujur tubuh pun membuat Dio pada akhirnya mempercayai omongan Vania dan menunggu anak Vania tersebut lahir baru Dio akan mengambil tes DNA terhadap bayi tersebut secara diam-diam.


Dio pun terlihat semakin frustasi dengan Vania yang terus menerus merengek meminta dirinya untuk melayani nya di atas ranjang dengan dalih bayi mereka lah yang menginginkan nya.


Namun permintaan Vania tersebut selalu di tolak oleh Dio dengan berbagai alasan yang membuat Vania semakin geram terhadap Dio yang tidak kunjung juga menyentuhnya.


"Sayang, kamu ada dimana?" bunyi pesan yang Dio kirim di nomer hp milik Aninda. Setiap hari Dio pun memberikan seribu pesan di nomer hp tersebut. Namun nomer tersebut masih terlihat sama dengan hanya centang satu saja.


Malam itu nampak Dio terlihat bersemangat kembali, ketika mengingat dirinya yang telah menyadap GPS di hp milik Aninda sejak berada di Jepang waktu itu.


"Kenapa aku terlalu bodoh hingga melupakan jika hp Aninda pun bisa aku lacak keberadaan nya?" gumam Dio yang nampak serius berada di depan layar monitornya. GPS Hp milik Aninda pun nampak terhenti di sebuah gerai ponsel yang tak jauh dari rumah Aninda tersebut.


Dengan segera Dio pun keluar dari rumahnya dengan sangat tergesa dan segera melajukan motor gedenya tersebut menuju ke gerai yang menerima jual beli hp yang menjadi titik terakhir GPS di hp Aninda tersebut.

__ADS_1


"Semoga ada harapan petunjuk untukku menemukan Aninda," gumam Dio dengan masuk ke dalam gerai ponsel dan aksesoris tersebut.


Dengan sigap Dio pun segera bertanya dan berkoordinasi kepada karyawan serta pemilik toko mengenai ciri-ciri Aninda beserta kedua ornag tuanya yang satu bulanan berlalu telah menjual hpnya di toko tersebut.


"Sepertinya ciri-ciri yang anda sebutkan memang benar adanya tuan. Mereka bertiga menjual hp nya kepada kami dengan raut muka tergesa," jawab sang karyawan toko yang malam itu melayani Aninda beserta kedua orangtuanya.


"Bolehkah saya membeli ketiga hp tersebut?" tanya Dio kepada karyawan dan pemilik toko.


Tentu saja dengan cepat pemilik toko tersebut bersedia menjual hp tersebut kepada Dio yang nampak di beli oleh Dio dengan harga dua kali lipatnya.


Dio pun kembali kerumah kedua orang tua nya yang mendapati Vania yang nampak menunggu kedatangan nya tersebut.


"Kamu dari mana saja sayang?" tanya Vania dengan bergelayut manja di lengan Dio.


"Mencari udara segar di luar. Aku mau mengerjakan pekerjaan ku lebih dulu Van," jawab Dio dengan menghempaskan tangan Vania tersebut.


Dio pun segera melangkah menuju ke ruang kerjanya dan mengunci pintu tersebut dari dalam.


Vania pun nampak kesal melihat sikap Dio yang masih begitu dingin terhadap nya padahal dirinya pun telah menjerat Dio bagaimana pun caranya dan dengan keberuntungan dirinya yang dinyatakan tengah hamil muda hingga membuat Vania semakin memiliki celah alasan untuk selalu menempel kepada Dio.


"Tidak sia-sia aku meminta lelaki miskin itu untuk mengeluarkan benih nya di dalam rahimku ini," ucap Vania dengan pelan sembari mengelus pelan perutnya tersebut.


"Bayi ini akan tetap menjadi milik Dio apa pun yang terjadi," gumam Vania yang kemudian menuju ke kamar yang biasa ia dan Dio tempati.


Diruang kerja milik Dio nampak masih menyala dengan terang hingga menjelang subuh. Dio pun nampak melacak plat mobil yang di tumpangi oleh Aninda terakhir kali yang nampak terlihat dari cctv di gerai ponsel dimana Aninda menjual ponselnya itu dan dengan segera meretas sepanjang jalanan yang di lalui oleh mobil tersebut.


Namun lagi-lagi Dio pun kehilangan jejak mobil tersebut ditengah jalan seperti ada yang sengaja menghilangkan dan menghapus rekaman cctv di jalanan tersebut.


Hingga Dio pun tidak kunjung menemukan petunjuk apapun lagi. Namun seolah tak patah akal, Dio pun berusaha mencari keberadaan plat mobil tersebut dan berusaha menemukan pengemudi dan pemilik mobil tersebut.


Namun seolah pencarian nya tersebut kembali tidak membuahkan hasil karena rumah pemilik mobil tersebut telah lama kosong dan tidak diketahui dimana keberadaan nya.


"Kenapa mencari petunjuk orang yang aku cintai sungguh amat lah susah di banding kan dengan mencari dan membantu para klienku menemukan apa pun yang mereka ingin temukan! Arrgh sialann!! Malam laknat yang menghancurkan dan membuat banyak orang tersakiti olehku!" ucap Dio dengan emosi serta membuang seluruh dokumen di meja kerjanya tersebut hingga terlihat sangat berserakan.

__ADS_1


"Aninda ... aku sangat merindukan mu. Apa yang membuatmu pergi diam-diam hingga aku kesulitan mencari keberadaan mu seperti ada seseorang yang sangat berkuasa yang sengaja menghilangkan jejak kalian," ucap Dio dengan lirih dan kemudian nampak tertidur di tempat tidur yang ada didalam ruang kerjanya tersebut.


__ADS_2