
Semoga setelah aku nasehati Sinta, mau bersikap lebih lunak walaupun aku meragukannya, sebab aku tahu betul siapa Sinta, dia seperti ibu sangat sulit untuk di kasih nasehat.
POV Mitha
Sebelum adzan subuh, seperti biasa aku sudah bangun, kegiatan rumah sudah tak perlu di komando lagi, mulai dari masak cuci piring, nyapu, ngepel, dan lain-lain, sudah aku kerjakan semua, kalau tidak pasti akan terkena omelan dari Ibu mertua.
Pagi ini aku akan memasak nasi goreng yang simpel saja, dan ternyata masih ada satu papan tempe yang tersisa di dalam kulkas, setelah mengulek bumbu tempe dan membaluri nya, aku masukkan tempe ke dalam penggorengan aku goreng sampai kering, biar terasa renyah nanti, sambil menggoreng tempe, aku membuat bumbu nasi goreng kampung yang nanti akan di buat untuk sarapan, sebab tak ada bahan campuran yang ada hanya nasi putih saja.
Uang sudah menitip yang di kulkas tinggal air putih saja, dan cabai rawit yang pedas sepedas mulut ibu mertua, up maaf.
Aroma nasi goreng cukup membuat perut ini jadi lapar, tetapi aku tahan saja, ya gimana lagi masalahnya aku ga mungkin makan duluan, yang ada malah nanti menjadi masalah, aku ini menantu berasa babu.
setelah semuanya sudah selesai aku tuang nasi kedalam mangkuk besar dan tempe aku tuang ke dalam piring kecil, lalu aku meletakkan nasi di atas meja makan dan sepiring tempe aku letakkan di sebelahnya, tak lupa aku siapkan enam piring kosong dan enam sendok di meja itu, semua sudah siap di meja makan, hari ini cukup singkat aku memasak, sebab uang yang aku pegang juga sudah menipis, ah sudahlah yang protes biarlah protes toh tinggal makan saja.
Lalu aku tinggalkan dapur untuk menyapu seluruh rumah setelah itu aku, mengepel lantai seluruh rumah pula.
Sebab aku ingin pekerjaan rumah ini cepat selesai setelah itu aku akan segera mencuci baju, kali ini aku mencuci baju lebih cepat, karena hanya baju kami berempat yang aku cuci, dan lainnya aku singkirkan di bak lain.
Ringan bebanku hari ini, nanti kalau ada yang ngajak ribut, urusan belakangan yang penting aku sudah mantapkan untuk tidak mau jadi kacung lagi.
Mencuci baju suami, anak dan ibu mertua adalah kewajiban aku, tetapi aku tak punya kewajiban untuk mencucikan baju untuk penghuni yang lainnya.
__ADS_1
Setelah selesai cuci baju dan mandi selesai, seluruh penghuni rumah baru bangun satu persatu, ya seperti biasa aktifitas mereka itu.
Tinggal Mas Andra yang belum bangun, tumben sekali dia tidak bangun waktu subuh tadi, sebab biasanya dia sudah bangun sedari tadi, sudahlah mending aku bangunkan sekarang sebelum terbit matahari, sama sambil mengecek Dimas.
Seperti yang sudah di ucapkan Mas Andra tadi malam, bawa aku tak perlu mencuci baju Sinta, Santi dan juga Bowo, sebab itu bukan tugasku, tetapi walaupun aku sudah tak mencuci baju mereka, aku sudah bertekad untuk pergi dari sini, mencari kontrakan buat aku dan anakku, bila Mas Andra tak mau ya sudah, biarkan aku dan Dimas tinggal terpisah saja sama Mas Andra, nanti kalau Mas Andra kangen sama Dimas, sesekali tengok ke kontrakan tak masalah.
Sebab aku punya cita-cita bikin usaha di rumah kontrakan itu, biar punya penghasilan sendiri tidak tergantung sama orang lain, semoga impian itu terwujud.
Pasti ini nanti aku dan Mas Andra akan ribut, sebab aku nekat pingin hidup terpisah dengan orang tua Mas Andra.
" Mas bangun Mas, tumben kamu kok bangunnya siang begini sih." Seruku sambil ku goncang tubuhnya yang kekar itu, duh tumben pulas sekali tidurnya kali ini.
" Oh ia Dek, Mas capek banget soalnya tadi malam Mas sempat kebangun dan tak bisa tidur lagi, jadi rasanya mata ini masih lengket saja." Ucapnya beralasan. Aku sendiri tak tahu Mas Andre tidur jam berapa, sebab ketika dia pijitin aku tak lama kemudian aku yang malah terlelap karena merasa lelah dan keenakan jadi sudah tak ingat apa-apa lagi, mata ini tiba-tiba terpejam begitu saja.
Mas Andra bangkit dari duduknya untuk menuju kamar mandi, sebab kamar mandi kami ada di luar, jumlah kamar mandi ada dua tetapi letaknya di luar kamar semua, jadi lumayan pagi-pagi ga terlalu antri bila mau pada ke belakang menuntaskan hajat.
Aku serahkan handuk pada Mas Andra dan setelah menerima handuk itu Mas Andra bergegas beranjak menuju pintu keluar.
Hari Ini aku harus minta ijin Mas Andra untuk pergi bertemu sama temanku nining.
Bukan tanpa alasan bertemu sama temanku satu kampung itu, sebab aku minta tolong sama dia untuk mencari kontrakan yang murah dan bisa di jadikan tempat usaha, yang dekat dari sini lah biar nanti Mas Andra berkunjung ke rumah kontrakan dia tidak kejauhan.
__ADS_1
"Hai pemalas keluar kamu, jangan ngumpet saja di kamar, " teriak Ibu dibalik pintu, dan tak lupa menggedor-gedor pintu kamar ku.
Sontak membuat Aku kaget, tidak biasanya Ibu berani pada aku selagi Mas Andra masih di rumah, tapi ini entah apa yang membuat darah tinggi dia naik, hingga tersulit emosi padaku.
Daripada membuat ramai dan malu sama tetangga, akhirnya aku keluar saja, Dimas terbangun, dan menangis karena mendengar gedoran pintu dan di tambah teriakan dari ibu mertua.
" Ada apa Ibu kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak " seruku padanya, ketika aku sudah di abang pintu sambil menggendong Dimas yang masih terisak dalam dekapanku.
" Hai orang kampung, kenapa kamu suka mengadu pada Andra, kamu ini sak banget Jadi orang, dasar tukang ngadu!!" seru Ibu sambil jari telunjuk mengarah ke mukaku, dan mukanya merah padam,
aku seketika bingung dengan ucapan ibu, maksudnya dia apa.
"Ada apa ini bu?" tanyaku dengan kebingungan, karena aku tak tahu, sebab hari ini aku sudah menuntaskan pekerjaan aku.
"Alah sok lupa, kamu mengadu apa sama anakku Andra hah! jangan suka jadi tukang adu domba ya, kamu disini hanya numpang saja ga usah ngatur-ngatur !! memang siapa kamu itu." Teriak Ibu padaku, dengan suara pedasnya.
Akhirnya tak berapa lama Mas Andra keluar dari kamar mandi.
" Ada apa ini ribut-ribut, malu didengar tetangga" seru Mas Andra yang melihat ibu berkacak pinggang menatap aku dengan nyalang.
Aku hanya diam saja tak perlu menjelaskan, sebab aku juga ga tahu apa maksud ibu mertua marah padaku.
__ADS_1
' Apa mungkin karena masalah Sinta kemaren, ah entahlah, yang penting tugasku pagi ini yang jadi tanggungan jawab aku sudah aku laksanakan.