
Aku mengawasi gerak-gerik suamiku di kantor lewat cctv yang aku pasang tersembunyi di ruangannya, dan tak ada satu pun yang tahu selain aku.
Aku melihat layar ponselku, yang tersambung ke cctv di kantor itu, sengaja aku lakukan itu untuk memonitor suamiku dan Mila, sebab aku tak nyaman dengan keberadaan Mila di sana, selain sebagai sekretaris, Mila juga menyimpan perasaan pada suamiku sejak lama, cerita itu aku tahu dari beberapa karyawan wanita di perusahaan milik Ayah ku, jadi aku punya alasan untuk membuktikan kesetiaan suamiku juga, tidak menutup kemudian kalau mereka bisa menjalin hubungan, aku hanya sekedar ingin tahu saja seberapa besar kesetiaan suamiku terhadapku, tak lebih.
Wajah suamiku terlihat keletihan di layar sana, matanya yang sayu sepertinya menahan kantuk yang luar bisa, dihitung sudah empat kali Mila membuatkan kopi hitam buat suamiku, sedari tadi dia sudah bolak balik keluar masuk ruangan suamiku, setiap selesai Mila ambil Map di atas meja dan di bawa keluar, dan masuk membawa map lagi dan di letakkan di atas meja tersebut, begitu yang dia kerjakan hingga menjelang malam.
Aku sebenarnya suka cara kerja wanita itu, dia bisa di andalkan dalam berbagai kesempatan, sebab kadang di saat Mas Pram tak dapat menghadiri rapat, Mila lah yang akan maju menggantikannya.
Tetapi aku tak suka dia dekat sama suamiku, aku tak mau dia memberikan perhatian lebih, aku lebih suka suamiku di buatkan kopi oleh OB saja daripada oleh si Mila.
aku memang cemburuan tak mau lihat suamiku di perhatikan wanita lain, kesel rasanya, Mas Pram adalah milikku seorang.
Terlihat juga di layar Mas Pram tampak capek sekali, sesekali ia merokok untuk melepas penat dan mendinginkan otak, walaupun dia terkenal alim tapi kalau sudah merokok aduh rasanya tak mau berhenti, aku lihat sudah satu bungkus rokok yang dia hisap, dan tentu saja di temani dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
__ADS_1
Setiap aku melarangnya dia untuk tidak merokok pasti Ayah akan membelanya dan mengatakan hal lain kepadaku, ' Biarkan suamimu merokok, toh hanya sekedar merokok saja, sebab itu kesenangan dia, tak ada yang lain, harusnya kamu cukup bersyukur kalau dia hanya sekedar suka merokok, tak menyukai hal lain, seperti ya minuman keras, wanita dan hal maksiat lainnya, jadi jangan larang dia' itulah pesan Ayah padaku.
Aku merenungi nasehat dari Ayah, aku tak boleh egois, dan harus bisa menahan diri bersuami setampan Mas Pram, dan otaknya juga encer tentunya banyak cobaannya.
Jangan sampai Mas Pram tak nyaman dengan aku, sebab banyak perusahaan yang menginginkan dia, itu kata Ayah.
Apalagi ayah pernah bilang kalau salah satu rekan bisnis Ayah yang bernama pak Herman juga suka sama Mas Pram, dan berniat menikahkan Mas Pram dengan Aisyah, anaknya Pak Herman.
Niat itu Pak Herman utarakan sewaktu aku dan Mas Pram belum menikah, padahal aku kenal baik dengan Aisyah, wanita itu cantik dan berhijab pasti dia akan serasi bila bersanding dengan Mas Pram.
Ku lihat dari layar ponselku, suamiku terlihat kelelahan, aku perhatian sedari tadi sepertinya dia belum makan.
Ketika malam kian larut ku lihat sosok kekar berjalan ke arah dapur kecil yang ada di sudut kantor itu, dia lagi memasak mie dan membuat kopi, hatiku rasanya seperti di remas-remas melihat pemandangan itu, jangan tanya tampang yang terlihat sayu dan bajunya yang tak rapih lagi, itu sudah membuktikan kalau dia sudah tak peduli pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai makan, dengan langkah gontai dia kembali ke ruangannya, dan kembali mengerjakan beberapa berkas yang tinggal sedikit, dan tak berapa lama dia selesai lalu dia mengambil jas yang di letakkan di sandaran kursi, dan kembali ke sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana dan menyelimuti tubuhnya dengan jas tersebut, dengan posisi miring dengan merapatkan kedua kakinya akhirnya mata sayu itu tertutup juga.
Air mataku tiba-tiba berlinang dari pipiku. "Maafkan aku Mas" ucapku dengan lirih, aku terus saja menangisi suamiku yang tengah bekerja keras membanting tulang sementara aku di sini menahan amarah karena cemburu, aku sedari tadi mendiamkan dia tanpa membalas semua pesan dia, bahan dia memesankan aku untuk makan siang, walaupun aku cuekin dia ketika menanyakan tentang menu makan siang untuk aku, jahat kah diriku, sekali lagi maaf kan aku mas, sesalku dengan tulus.
Dengan semangat empat lima aku bangun sebelum adzan subuh, aku mempersiapkan semua keperluan untuk aku bawa ke kantor, baju ganti Mas Pram dan peralatan lainnya, tak lupa aku bawakan sarapan pagi, ya walaupun bukan aku yang memasaknya, tetapi paling tidak aku memperhatikan makanan Mas Pram, selain itu aku juga membawa vitamin untuk dia yang biasa selalu aku berikan tiap pagi, pasti dia akan senang dengan kekuatan ini.
Sebelum aku berangkat ke kantor, aku memesan meja makan pada sebuah toko meubel langganan ku, yang ingin aku taruh di lantai dua, sebab aku tak ingin Papa aku dan Ibuku mertua selalu memakan makanan sisa dari Bu Marni dan keluarganya, memang keluarga itu memalukan, tak ada adab sedikit pun juga, makan di tempat orang seenaknya saja, kok kebalik yang tamu itu dia apa aku, gemes kalau meladeni ulah Bu Marni itu.
Dengan senyum yang mengembang dan hati yang bahagia aku berangkat ke tempat kerja, tanpa sarapan dulu, sebab aku kepingin menemani Mas Pram sarapan untuk pagi ini, kalau perlu aku suapi dia.
Aku lega Papa dan ibu mertua serta Fatimah sudah datang dan sementara tinggal di sini, atas saran dari Papa aku akhirnya pindah dulu sementara ke sebuah Apartemen milikku, sampai kondisi di rumah sudah bisa di kendalikan dan pembuat onar itu segera angkat kaki dari sini dengan suka rela, tanpa aku usir.
Selesai berkemas lalu aku berangkat dengan membawa koper kecil yang berisikan beberapa baju ku dan punya Mas Pram, saran Papa agar kami langsung pulang ke apartemen bersama Mas Pram.
__ADS_1
Aku turun melalui lift sebab tak ingin aku bertemu dengan wanita tua itu, bila ketemu sama dia rasanya aku ingin menjambak rambutnya, dosa biarlah tetapi aku rasa itu balasan setimpal untuk seorang yang suka merebut milik orang lain.