Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Memohon


__ADS_3

Dio memasuki kamar Aninda dan melihat Aninda yang sudah nampak tertidur dengan pulas. Kali ini Dio tidak menemani Aninda tidur dikamar tersebut karena Dio pun ingin mempercayai Aninda jika dirinya tidak mungkin melukai dirinya sendiri.


Dengan langkah gontai, Dio pun kembali ke ruang kerja nya. Dirinya sendiri pun nampak bingung dengan apa yang harus dia lakukan mengingat jawaban yang telah Aninda berikan tersebut yang nampak menolak lamaran nya secara tidak langsung.


Dio pun nampak mengerjakan pekerjaan nya dengan pikiran yang bercabang. Ditambah dengan masalah yang baru-baru ini seperti ada seseorang yang selalu berusaha untuk meretas sistem yang telah ia buat. Berkali-kali orang tersebut selalu memberikan kode untuk mencarinya melalui deretan angka-angka yang ia sampaikan kepada Dio.


"Who you are?" tanya Dio dengan berusaha membalas pesan yang telah ia terima tersebut.


"Who I am? You know I am," balas orang tersebut.


Dio pun nampak berfikir dengan sangat keras. Siapa orang yang terlihat mengenalnya dan bisa dengan mudah menyamai kemampuan yang telah ia miliki.


"Apa dia adalah Akane? Apa mau dia dengan menghubungi ku seperti ini?" gumam Dio dengan raut muka bingung.


Dengan cepat Dio pun membalas pesan tersebut.


"Tuan Akane?"


Tak berapa lama telepon nomer asing pun segera masuk di nomer ponsel milik Dio tersebut.


"Hallo tuan Dio?" ucap seorang lelaki di seberang telepon.

__ADS_1


Dio pun nampak bimbang untuk meneruskan panggilan tersebut.


"Dengan siapa?"


"Saya Akane tuan,"


"Apa mau tuan Akane?"


"Saya ingin bertemu tuan Dio besok pagi bisa?"


"Saya sedang sibuk tuan. Tidak ada waktu untuk mengobrol cuma-cuma diluar sana. Apalagi seperti yang anda tahu jika calon istri saya masih trauma untuk saya tinggalkan sendiri jika saya menemui anda. Jika saya menemui anda dengan mengajak calon istri saya pun pasti akan membuat trauma calon istri saya kembali lagi dengan melihat wajah anda yang terlihat sangat mirip dengan lelaki bejat yang hampir menodai Aninda," kilah Dio yang sebenarnya memang malas untuk terlibat urusan dengan saudara kembar Akano ataupun Akano itu sendiri.


"Semudah itu? Apakah semudah itu untuk memaafkan lelaki bejat yang tega melukai banyak wanita? Kamu sendiri juga termasuk korban dia kan? Kenapa kamu masih nampak membela lelaki bejat itu??" jawab Dio dengan raut muka memerah.


"Saya hanya ingin keponakan saya bisa bertahan hidup tuan. Karena keponakan saya tersebut memerlukan donor sumsum tulang belakang dari ayah biologis nya dengan segera. Karena kondisinya pun sudah menjadi sangat kritis tuan. Hanya keponakan saya satu-satunya itulah yang membuat saya memiliki harapan untuk hidup. Karena saya sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini tuan selain Akano dan keponakan saya ..." ucap Akane dengan lirih menahan air matanya agar tidak luruh begitu saja.


Jika bukan demi kepentingan keponakan yang sangat dia sayangi tersebut sudah di pastikan Akane tidak akan mau lagi untuk menemui apalagi menolong kembaran nya tersebut.


"Tuan Akane memiliki anak?"


"Punya tuan, namun Akane sendiri tidak mengetahui jika kekasih yang sangat dia cintai tersebut telah melahirkan putra nya,"

__ADS_1


"Apa Tuan Akane sedang bersama dengan ibu dari anak itu?"


Mendengar pertanyaan dari Dio tersebut membuat hati Akane kembali menangis mengingat wanita kuat yang telah rela mengorbankan nyawanya sendiri demi melahirkan buah hatinya bersama Akano itu ke dunia walaupun nyawa menjadi taruhan nya.


"Ti-tidak tuan ..." ucap Akane dengan nada tersendat menahan agar air mata nya tidak jatuh begitu saja.


"Dimana ibu dari anak itu?" tanya Dio dengan merubah nada bicara nya mengingat jawaban dari Akane itu sendiri yang nampak parau seperti menahan kesedihannya.


"Sudah ti-tiada tuan ... jika tuan memiliki belas kasih kepada keponakan saya, dengan sangat saya mohon untuk kedatangan tuan di taman kota besok pagi. Saya tidak mungkin melukai apalagi melawan tuan Dio. Karena saya hanya memiliki keponakan saya saja yang sedang berjuang untuk bertahan hidup ... saya mohon tuan," ucap Akane dengan nada yang bergetar dan sangat lirih tersebut.


Dio pun nampak bimbang dan merasa iba mendengar penuturan Akane tersebut. Apalagi sejatinya Dio orang nya pun sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak.


"Baiklah, besok pagi saya akan menuju ke taman kota jam 9 pagi,"


"Baik tuan Dio. Terimakasih banyak karena mau untuk menemui saya," tutur Akane dengan lega karena permintaan nya tersebut telah di kabulkan oleh Dio.


Telepon pun segera di putus oleh Dio. Dengan wajah semakin bimbang ia pun nampak semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan tersebut selanjutnya.


Sedangkan Akane nampak mengelus puncak kepala seorang anak kecil yang nampak terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit.


"Akan aku lakukan yang terbaik untuk mu nak. Bertahanlah," ucap Akane dengan lirih dan memeluk anak kecil tersebut hingga Akane pun nampak tertidur dengan pulas nya.

__ADS_1


__ADS_2