Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 26


__ADS_3

Sementara di sebuah kampung yang asri, seorang ibu dan anak perempuannya tengah berbunga-bunga, terutama Bu Marni yang kian hari gaya hidupnya kian hedon saja, setiap minggu belanja di supermarket yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya itu, dan itu semua karena Roy membelikan mobil baru buat Zaenab sebagai hadiah pertunangan mereka, Ya Zaenab akhirnya kursus mengemudi dengan cepat dan setelah bisa mengemudi, Zaenab lalu hampir tiap hari keluar masuk rumah selalu dengan kendaraan barunya itu, tak lupa dia juga rajin ke salon bersama sang Ibu, tentunya yang menjadi sponsor keberhasilan dia dalam menyatukan Roy dan Zaenab.


Bu Nani hanya geleng-geleng kepala melihat polah tingkah tetangganya itu


Saat Bu Marni lagi kesulitan uang, pasti Bu Nani yang akan di repot, pinjam uang untuk ini dan itu.


Dan sudah barang tentu jika uang yang sudah terlanjur di pinjam Bu Marni pasti tak pernah akan kembali, Bu Marni memang sangat pandai bersilat lidah, sudah menjadi kebiasaan Bu Marni kalau dalam hal rayu merayu.


Sekarang Bu Nani sudah tak mau lagi meminjami Bu Marni uang, alasannya karena hidup Bu Marni sudah bukan calon besannya, selain itu Bu Marni sudah punya mobil, dan selalu belanja ke supermarket bahkan perawatan ke salon pun bisa, sudah barang tentu Bu Marni tak ada alasan untuk meminjam uang kan? walaupun tak di pungkiri rumah yang di tinggali Bu Marni saja adalah tanah milik Pramudya. Untungnya sertifikat tanahnya saat ini di bawa Pramudya ke kota, sebab Bu Nani punya firasat buruk akan hal itu, jadi sebelum balik ke kota, Bu Nani menyuruh putranya itu untuk membawa barang berharga ke kota saja untuk di simpan di sana, uang bulanan yang Pram berikan di cukupkan untuk satu bulan, dan juga untuk Fatimah sudah di sisihkan tersendiri.


Jujurnya saat ini Bu Nani masih sakit hati ketika mereka di putuskan pertunangan sepihak sama Pram, tetapi pernikahan Pram dan Karin menjadikan obat tersendiri buat Bu Nani, di kala kegagalan pertunangan mereka berdua.


Bahkan Bu Nani malah mendapatkan mantu Bu Nani mendapatkan mantu yang lebih kaya dan cantik lagi, bahan para tetangga ikut perihatin apa yang di alami Bu Nani dan juga Pram tetapi, harus bersyukur juga karena tidak jadi punya menantu yang seperti Zaenab, dan besan macam Bu Marni.


" Duh Bu Marni tumben belanja di sini, biasanya suka belanja ke supermarket" tanya Bu Ijah pemilik warung sayur didekat rumah mereka.


Pagi-pagi sekali sudah jadi kebiasaan pasti ibu-ibu sudah pada belanja sayuran di sini dan sekalian bergosip ria.


" Ia Bu Ijah, maklum ini cuma mau beli cabai saja, kebetulan kemarin saya lupa belum membeli cabai." Ucap Bu Marni sambil sesekali dia sengaja memperlihatkan perhiasannya yang dia kenakan pada ibu-ibu yang ada di sana,

__ADS_1


" Aduh ke warung sayur kaya mau ke kondangan saja, Bu Marni ini, ada-ada saja" seru Bu Siti yang memang suka nyinyir.


" Bu Marni sekarang tambah sukses saja ya, kami lihat gayanya keren abis tidak ketinggalan sama anak muda jaman sekarang." Timpal salah satu ibu biang gosip di kampung ini.


Bu Nani yang dari tadi memilih sayuran hanya jadi pendengar yang baik saja di situ, dia enggan ikut campur urusan Bu Marni, sebab Bu Nani sudah terlalu malas pada Bu Marni dan anaknya.


" Ah Bu Murni ada-ada saja, saya jadi malu lho," Seloroh Bu Marni yang tak tahu lagi di kerjain sama ibu-ibu di sana.


" Bener lho Bu Marni ini gayanya selangit, dan wajahnya sekarang kelihatan glowing lho, apa lagi tuh sekarang kemana-mana pakai mobil, tidak kepanasan dan kehujanan, tidak kaya kita." Imbuh Bu Murni lagi.


" Tapi sayang Bu Marni cuma satu yang kurang?" bisik Bu Murni di dekat telinganya Bu Marni.


" Apa itu Bu?" ucap Bu Marni yang kelihatan penasaran.


Seketika ibu-ibu yang ada di sana pada tertawa melihat muka Bu Marni memerah menahan marah.


" Iya Bu jangan mau duitnya tapi, tidak mau sama orangnya, sekarang Mas Pram malah mendapat gantinya yang lebih cantik dan kaya lagi." Timpal Ibu yang lain.


Bu Marni tambah melotot ke arah mereka satu persatu, sambil membanting cabai yang ia pegang.

__ADS_1


" Awas ya kalian semua, aku ga terima di permalukan seperti ini" ancam Bu Marni, sambil jari telunjuknya mengarah pada ibu-ibu yang ada di sana.


" Dan buat anda Bu Nani, berapa saya harus membayar rumah jelek itu?, biar menantu saya nanti yang akan membayarnya? KATAKAN!! "seru Bu Marni pada ibu Nani yang masih diam saja.


" Jangan mentang-mentang saya tinggal di rumahmu ya, kamu bisa mempermalukan saya kaya gini, awas ya Bu Nani saya tidak terima," ancam Bu Marni pada Bu Nani.


" Dengar ya Bu Marni saya tidak akan menjual rumah saya, kalau mau silahkan angkat kaki sekarang juga dari rumah saya, saya, tidak butuh uang Bu Marni." Balas Bu Nani tak kalah sadis.


Mendengar perkataan Bu Nani, membuat Kemarahan naik ke ubun-ubun.


" Sombong sekali, rumah jelek kaya gitu siapa juga yang mau menepati, lihat saja nanti saya tinggal di rumah yang lebih bagus dari rumah kamu itu," cibir Bu Marni sambil bibirnya mencebik tak jelas.


" Kenapa tidak pindah sekarang saja Bu, silahkan kosongkan ruang itu sekarang juga, saya juga tak sudi ibu tinggal di situ." Tantang Bu Nani yang tak mau kalah, sebab Bu Marni sudah keterlaluan, mulutnya seenaknya sendiri menghina orang, dia tak sadar dari dulu kalau Bukan Bu Nani yang menolong, siapa lagi coba.


" Iya Bu pergi saja dari rumah Bu Nani, angkat kaki sekarang, dasar ga tahu diri sudah di baik in, di tolong ga ada terimakasih-terimakasihnya eh ini malah ngelunjak dan pakai menghina lagi." Seru Bu Murni yang ikut geram.


" Benar tidak Ibu-ibu?!!!" seru Bu Murni yang memberi komando para Ibu-ibu yang lain.


"Iya Betul, betul... pergi saja Bu, tidak usah banyak b*c*t " timpal Ibu yang lain.

__ADS_1


" Huft, awas ya kalian, saat tidak akan terima di permalukan seperti ini, kalau saya jadi orang kaya, saya tidak akan mau menolong kalian-kalian semua" Seru Bu Marni dengan geram mukanya tambah merah padam dan pergi meninggalkan warung sayur tersebut.


Di perjalanan Bu Marni ngomel-ngomel sendiri tak jelas, sebab Bu Marni sendiri lama-lama tak jelas reader, author juga eneg sama Bu Marni.


__ADS_2