
Ketika aku dan Karina memutuskan untuk menjenguk Bu Marni, wajah Zaenab seketika panik, dia melarang kami untuk menjenguknya entah kenapa, bukankah seharusnya dia senang bila kami ikut menjenguk ibunya itu.
Aku akan meringankan beban mereka bila memang Bu Marni sakit, tapi memang Bu Marni itu orangnya lain, bila dia sering masuk rumah sakit tak segan-segan dia meminta ruang yang VIP ya tentu saja akulah yang mengeluarkan uang buat Bu Marni siapa lagi lha wong ga ada yang kerja, ayahnya Zaenab aja yang kelihatan seger bugar dan katanya sakit nyatanya dia sehat bahkan dia sering merokok dan ngopi aja di depan rumah kerjaannya.
" Mas, ga usah tengok Ibu, kita langsung pulang saja ya?" ujar Sarah padaku di saat kami dalam perjalanan pulang ke kampungku.
" Memang kenapa Nap?" tanya Karin sambil menengok kebelakang, dimana Zaenab duduk di bangku penumpang.
" Ga apa-apa Rin, mendingan langsung pulang saja Mas Pram" ucap Zaenab memaksa.
" Ya sudah kita pulang saja." seruku pada Zaenab, hingga ku lihat dari spion wajah Zaenab berubah menjadi biasa lagi, tadi sempat aku melihatnya wajahnya merah padam, dia panik ketika Karin langsung mengajak ke Rumah sakit dulu.
Entahlah apa yang di sembunyikan Zaenab kali ini aku ga mau tahu,
Sampai di depan rumah kamipun turun Zaenab yang rumahnya sebelah ku, langsung turun dan pamit untuk ke rumahnya langsung.
'Huft' aku hembuskan nafasku dalam-dalam, sifat asli Zaenab kian hari kian terlihat jelas saja.
Aku tak ambil pusing, aku langsung aku kemudian mengeluarkan satu koper besar yang muat untuk baju kami berdua dan satu tas jinjing yang isinya peralatan Karin semua, aku tak kaget maklum lah wanita.
ku taruh tas di atas koper tersebut dan aku menariknya koper itu pakai tangan kanan dan tangan kiriku menggandeng Karin dengan membawa paper bag di tangan kirinya, entah isinya apa aku juga ga tahu.
" Kok sepi ya pada kemana? lirihku pada Karin, untung pintu pagar tak terkunci" gumamku pada Karin.
" Paling cuma pergi di sekitar sini Mas, soalnya pagarnya ga di kunci" timpal Karin.
" Bisa jadi soalnya tadi, Mas sudah telp ibu kok kalau mau ke sini" jelas ku pada Karin.
" Ya udah kita duduk di depan sini dulu saja Dek, kamu sana duduk menyandar dulu, biar Mas masukin mobil ke halaman, ga enak parkir di depan, entar di kira pamer lagi punya mobil baru" seruku.
__ADS_1
" Iya Mas pinggangku rasanya masih pegel saja ini," sahut Karin yang sudah meletakkan bobotnya di atas kursi rotan yang ada di depan rumah.
" Itu mah gampang entar Mas pijitin juga sembuh, tapi asal di kasih upah saja" sahutku dengan usilnya.
" Nihh... masih perih tahu Mas, kamu ga ada berhenti-berhentinya, kalau udah main." sungut Karin dengan semua keluhannya.
" Kamu juga suka kan?" timpalku sambil mengedipkan mataku seperti orang kelilipan.
" Ih Mas, jangan buat aku cubit kamu lebih keras ya" seru Karin yang tampak memerah mukanya bagai udang rebus.
Tak lama kemudian, ada suara Motor mendekat ke arah kami, dan benar saja ternyata Fatimah dan Ibu baru saja pulang, melihat mereka datang aku berjalan cepat untuk membuka pintu pagar lebar-lebar dan menyambut Ibu, menyalami dan mencium tangannya dengan takzim, Karin yang aku kira nunggu di kursi rotan tak tahunya dia menyusul, tiba-tiba sudah ada di belakang aku dan ikut melakukan hal yang sama pada ibuku.
Hatiku menghangat melihat sikap Karin yang sopan sama ibuku, tak ku sangka mengingat dia adalah anak orang kaya, tetapi dia punya attitude yang baik.
" Sudah lama menunggu" tanya ibu yang nampak senyum sumringah menyambut kedatangan kami.
" Baru saja kok Bu" jawabku
" Waduh, ga usah repot-repot Bu, lha wong kami juga ga aneh-aneh kok makannya, gampang" seru Karin menjawab Ibu.
" Karina sukanya makanan kampung Bu, jadi ga harus makanan mewah" imbuhnya.
" Ya sudah masuk dulu gih, biar di buatin minuman dulu sama Fatimah" ajak ibu sambil menuntun Karin masuk ke rumah.
Sementara aku membuka kembali pintu pagar lebar-lebar dan memasukkan mobilku ke halaman rumah, sebab aku ga enak membawa mobil ini, terlalu mewah buat aku.
Maklum ini adalah hadiah dari ayah mertua yang khusus buat aku, jujur aku enggan menerimanya. Jadi harus gimana lagi lumayanlah aku tidak repot lagi membeli kendaraan padahal aku juga memikirkan hal tersebut. Mungkin Ayah mertua kasihan kalau anaknya aku ajak panas-panasan dan kehujanan kali, jadi di belikan mobil buat kami ini.
Setelah mobil ku parkirkan di halaman rumah, lalu aku turun dan menutup kembali pintu pagar.
__ADS_1
Dan saat aku masuk ke dalam, ibu mengajak aku untuk makan dulu, ada makanan yang sudah di sediakan untuk kami.
" Makan dulu yuk Pram, ini ibu sudah siapkan makan siang buat kita" ajak ibu pada kami.
Lalu kami semua menuju meja makan dan siap menyantap makanan yang sudah di sediakan ibu, makanan sederhana yang aku rindukan di kala pulang ke rumah.
Sementara Fatimah tengah sibuk membuatkan minuman segar buat kami.
" Buruan Fatimah kita makan bareng yuk,"seru ibu pada Fatimah
" Sebentar lagi selesai ini "sahut Fatimah dari arah dapur, dan tak lama gadis muda itu muncul dengan membawa nampan yang berisikan empat gelas air putih untuk kami dan semangkuk sop jagung yang habis di panaskan.
" Wah... SOP jagung kesukaanku " seru Karina yang nampak berbinar-binar melihat menu kesukaan dia terhidang di atas meja kan.
Sop jagung, tahu dan tempe goreng, ayam goreng serta sambal tomat, aduh nikmat sekali menu siang ini.
" Makasih ya Bu, ini enak sekali lho" seru Karin yang menikmati hidangan olahan dari Ibuku, tak henti-hentinya dia selalu memuji masakan ibuku.
Jadi ingat pas Ibu tinggal beberapa hari di apartemen, Karina selalu makan dengan lahan sekali, dia cocok dengan masakan ibuku.
" Ia sama-sama nak, nambah lagi juga boleh kok" balas ibu memberi saran.
" Ah ... sudah Bu nanti kalau saya gemuk Mas Rahman ninggalin aku gimana?" seru Karin dengan mode bercandanya.
" Nanti kalau ninggalin kamu karena gemuk, biar ibu atasi dia Nak, mau di jewer apa di apa-in ibu mah siap" balas ibu dengan candaan pula.
" Aduh, ngeri kalau sudah di adu-in sama ibu aku biasa apa," timpalku.
" Oh... ia ibu, katanya Bu Marni sakit lagi ya?" tanyaku pada Ibu.
__ADS_1
" Hah sakit? kok ga ada yang bilang dia sakit, padahal kemarin ibu habis lihat dia kelihatan sehat sekali, lagi belanja banyak sekali dan belanja baju di toko samping pasar, tak ada yang bilang kalau Bu Marni sakit kok, kamu malahan yang tahu?" seru ibu malah balik tanya ke aku.
Seketika aku dan Karina saling berpandangan tak mengerti, entahlah sandiwara apa lagi yang mau di mainkan Bu Marni.