
Dio pun nampak mendekap dan memeluk Aninda yang masih menangis dengan pilu tersebut. Pikiran Dio pun menjadi sangat kacau dengan melihat keadaan Aninda yang menjadi sangat memprihatinkan.
"Di-dio ... apa kamu tidak merasa jijik dengan tubuhku yang pernah di sentuh oleh lelaki lain? Samar-samar ingatanku pun nampak telah kembali tentang kejadian tersebut. Huhuhu ..." ucap Aninda dengan menangis meraung memukul dan mendorong tubuh Dio agar menjauh dari nya itu.
Dio pun kembali mendekap Aninda dengan lebih erat walaupun dengan sekuat tenaga Aninda pun mencoba menjauh dari dirinya tersebut.
"Ak-aku ingat Dio. Mata ku waktu itu sangat terasa sulit untuk aku buka. Tubuhku sudah disentuh oleh nya. Huhuhu ... bekas merah-merah yang ada di tubuhku dan sangat banyak ini pasti adalah bekas lelaki bajingan itu. Huhuhu ... kenapa harus aku. Apa salahku Dio??!"
Aninda pun menangis meraung semakin menjadi. Hingga Dio pun nampak kewalahan untuk menenangkan Aninda. Dengan cepat Dio pun segera menelepon Akio dengan menahan tubuh Aninda tersebut.
"Hallo, Kio! Segera tolong kemari! Panggilkan dokter untuk Aninda. Aninda menangis dengan histeris semenjak tadi," ucap Dio dengan langsung mematikan panggilan telepon nya tersebut.
Sedangkan Amel yang menerima panggilan telepon dari Dio dan nampak mendengar suara Dio yang sangat cemas dengan terdengar tangis teriakan Aninda pun membuatnya menjadi sangat cemas dengan sahabat nya tersebut. Amel pun dengan sigap membangun kan Akio.
"Sayang! Bangun! Dio butuh bantuan kita! Aninda menangis histeris dan Dio pun tampaknya tidak bisa membuat Aninda tenang!" Ucap Amel dengan nada panik menggoyangkan tubuh Akio agar segera bangun.
"Astaga, kenapa lagi mereka?" ucap Akio yang nampak belum paham dengan maksud pembicaraan Amel tersebut.
"Dio butuh dokter untuk memeriksa Aninda yang sedari tadi menangis histeris sayang! Ayo kita segera kesana!" pekik Amel yang kemudian menyadarkan Akio tersebut.
"Astaga, ayo kita segera kesana," ucap Akio yang kemudian tanpa mencuci muka segera mencari sang mama.
"Maaaa! Mama dimana??" teriak Akio dengan panik sembari menuruni anak tangga.
Mama Akio pun nampak terkejut dengan suara Akio yang nampak menggelegar dan di ikuti oleh Amel di belakang nya tersebut membuat mama Akio tersebut lari tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian?!" hardik mama Akio dengan jantung berdebar kencang karena melihat kecemasan di wajah kedua nya itu.
"Ma, kita butuh dokter untuk Aninda! Aninda menangis histeris semenjak tadi dan Dio pun nampak tidak bisa mengendalikan Aninda!" seru Akio kepada mama nya tersebut.
Mama Akio pun seketika terkejut namun mama Akio sudah menduga jika pasti mental Aninda akan mengalami guncangan. Dengan cepat mama Akio pun menelepon salah satu dokter umum kenalan nya tersebut.
"Ma! Kok mama telepon dokter umum sih? Mama enggak langsung panggil psikiater atau psikolog untuk menangani Aninda?" ucap Akio.
"Memang ya harus ke diperiksa oleh dokter umum dulu untuk memulihkan fisiknya. Baru kita ikuti anjuran dokter umum tersebut di anjurkan untuk periksa lebih lanjut ke psikolog atau pun ke psikiater," jawab mama Akio.
"Oo ... jadi begitu," ucap Akio dengan pelan.
"Yasudah ayo kita tengok Aninda sekarang. Dokternya pun sebentar lagi mungkin tiba ke apartemen Dio," titah mama Akio.
Ketiga nya pun segera berangkat dan tak lupa mama Akio pun nampak membungkus kan banyak makanan dan beberapa VCD film-film lucu lain nya untuk menghibur Aninda nanti nya.
Dengan cepat Amel pun memencet tombol bell tersebut. Hingga tak lama kemudian Dio pun membuka pintu apartemen nya dan mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam.
Terlihat dari wajah dan penampilan Dio yang sangat berantakan pun membuat dokter tersebut segera melihat dan memeriksa Aninda.
"Mari dok ikuti saya ke dalam kamar Aninda," ucap Dio yang kemudian dokter tersebut mengikutinya dari belakang.
Memang benar kondisi Aninda terlihat sangat kacau dengan tangan Aninda yang terlihat di ikat oleh Dio menggunakan tali agar tidak melukai dirinya sendiri terus menerus.
Dokter pun segera mendekat dan hendak memeriksa Aninda. Namun seolah Aninda menjadi waspada terhadap orang asing hingga berteriak histeris.
__ADS_1
"Minggir! Jangan mendekat!" pekik Aninda dengan menendang-nendang sekitarnya tersebut hingga tubuh Aninda pun kembali di pegangi oleh Dio dan Akio serta mama Akio dan Amel yang nampak menangis menitikkan air mata nya secara diam-diam melihat kondisi Aninda yang seperti itu.
Aninda yang dipegangi oleh Dio dan Akio pun nampak meronta-ronta. Dengan sigap dokter tersebut segera memeriksa kondisi Aninda.
Dengan cekatan dokter tersebut nampak menyuntikkan kan sesuatu di lengan Aninda hingga tak lama kemudian Aninda pun nampak tertidur dengan sangat pulas.
"Maaf kan saya karena dengan terpaksa saya harus memberikan obat penenang untuk nona ini karena sepertinya mental nya pun sedang tidak baik-baik saja. Saya anjurkan untuk pihak keluarga segera mendatangkan psikolog terlebih dahulu untuk memulihkan mental pasien yang nampak terguncang tersebut," ucap dokter tersebut dengan menuliskan resep obat yang harus dikonsumsi oleh Aninda.
"Terimakasih ya William, apakah kamu punya rekomendasi psikolog yang handal untuk putriku tersebut?" tanya Mama Akio dengan raut wajah agak cemas.
"Ada, kebetulan juga psikolog kenalan saya adalah seorang wanita. Karena jika saya lihat dari fisik dan tingkah laku nona tersebut pun nampak nya sangat trauma dengan kehadiran lelaki asing seperti telah menjadi korban pelecehan seksual. Sehingga nona ini terlihat menunjukkan ciri-ciri gejala depresi," ucap dokter William dengan segera undur diri karena telah usai memeriksa.
Amel dan mama Akio pun nampak mendekat dan melihat kondisi Aninda. Memang disekujur tubuhnya Aninda tersebut terdapat banyak sekali bekas kemerahan seperti cupangan lelaki yang sangat ingin mencicipi tubuh Aninda dengan tidak melewatkan seinci pun tubuh Aninda tanpa membuat bekas kecupan yang nampak memerah tersebut.
Mama Akio pun nampak melirik Dio dengan tajam.
"Ini bekas cupangan kamu atau bekas lelaki bajingan itu?!" tanya mama Akio dengan menghardik Dio dengan sangat keras.
"Dio pun hanya membuat sedikit ma. Yang lain nya itu bekas lelaki bajingan itu," jawab Dio dengan pelan sekali.
"Kamu pun ikut mengambil kesempatan di saat Aninda seperti itu Dio?! Kamu enggak memperkosa Aninda kan Kio??" tanya mama Akio dengan lantang kepada Dio.
Dio pun menunduk sangat ketakutan. "Aku telah menodai Aninda ma. Karena membuat Aninda melepaskan has rat nya hanya menggunakan satu jari saja pun tidak lah bisa membuat Aninda puas dan terus berusaha untuk kembali menerkam ku," jawab Dio dengan jujur.
Mama Akio pun menjadi terduduk dengan lemas dan syok.
__ADS_1
"Bagaimana ini?? Kenapa anak lelaki mama semua nya tidak ada yang benar sama sekali," pekik sang mama dengan menahan pening yang mendera secara tiba-tiba.