Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Bertemu Office Boy Vania


__ADS_3

Dio serta Vania pun nampak telah tiba kembali ke rumah. Kedatangan keduanya pun terlihat di sambut oleh mama Dio dengan penuh suka cita karena mama Dio pun mengira jika putra nya tersebut telah menerima takdir jika telah menikah dan segera memiliki bayi bersama dengan istri dadakan nya tersebut.


"Gimana hasil USG bayi kalian? Tadinya mama mau ikut sekalian USG, namun segera di larang oleh papa karena besok papa sendiri yang akan mengantarkan mama periksa," ucap sang mama dengan wajah berbinar.


Vania pun dengan antusias memperlihatkan foto dan keterangan hasil USG yang telah mereka dapatkan.


"Ini ma, sayang sekali belum terlihat jenis kelamin cucu mama ini," ucap Vania dengan mengelus perutnya tersebut.


Melihat ke haluan Vania tersebut membuat Dio pun seketika mual ketika melihat tingkah dan perkataan tak tahu malu nya itu.


"Harus nya Vania menerima piala penghargaan aktris sbtv award karena aktingnya yang terlihat sangat totalitas dan sangat menghayati peran nya tersebut," ucap Dio di dalam hati.


"Ma, Dio mau izin keluar dulu ya. Ada kerjaan di luar. Kalau ada apa-apa tinggal telepon Dio saja ya ma?" tutur Dio yang kemudian di jawab oleh sang mama dengan anggukan kepala.


Sedangkan Dio pun terlihat masa bodoh dengan keberadaan Vania tersebut dan segera berlalu begitu saja setelah berpamitan dengan mama nya.


Dio pun segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke sebuah rumah tua yang terlihat terbengkalai. Di dalam sanalah office boy tersebut di sekap oleh anak buah Dio untuk di interogasi oleh Dio sendiri.


"Silahkan masuk boss, tikus telah masuk ke dalam perangkap dan siap untuk jadi santapan kucing liar boss," ucap pentolan anak buah Dio tersebut dengan sigap.


"Kerja bagus, ayo tunjukkan dimana tikus itu berada," tutur Dio yang kemudian anak buahnya tersebut segera menunjukkan arah dimana office boy tersebut.


Setelah Dio mengamati penampilan dari Office boy tersebut, Dio pun nampak menilai jika memang office boy tersebut terlihat gagah dan lumayan tampan.


"Kenapa kamu terlihat begitu takut melihatku yang tampan dan rupawan sejak lahir ini?" tanya Dio kepada office boy tersebut yang terlihat terkejut dan takut ketika tatapan keduanya bertemu.


Office boy tersebut hanya terlihat menggelengkan kepala dan mencoba memberontak karena mulutnya yang terlihat di tutup menggunakan lakban.

__ADS_1


Dio pun segera membuka lakban yang menutup mulut pria tersebut.


"Ampun tuan, tuan salah sasaran. Saya tidak pernah terlibat urusan dengan tuan. Namun kenapa tuan menculik saya seperti ini?" ucap office boy tersebut berkilah dengan tidak mengetahui maksud dari Dio hingga menculik dirinya itu.


"Jadi kamu sudah tidak peduli dengan adik kamu yang masih dalam pemulihan setelah operasi tersebut? ****** murahan itu kan yang membiayai seluruh perawatan adik kamu satu-satunya itu," ucap Dio dengan penuh seringai menunjukkan wajah sang adik office boy tersebut dari dalam layar ponsel milik Dio tersebut.


"Tuan! Jangan apa-apa kan adik saya tuan! Itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan adik saya!" pekik office boy tersebut.


"Jadi katakanlah apa yang terjadi di antara kamu dengan Vania," ucap Dio dengan raut wajah yang terlihat sangat santai tersebut.


"Saya terpaksa melakukan hubungan suami-istri atas dasar balas budi saya terhadap nona Vania tuan. Nona Vania yang telah memaksaku untuk melakukan hubungan tersebut berkali-kali sesuka hati nya dan selalu menyuruhku untuk mengeluarkan cairan milik ku di dalam miliknya tuan. Kalau tidak adik saya lah yang akan selalu dia jadikan senjata untuk mengancam saya," tutur sang office boy dengan sangat gamblang.


"Jadi kamu selalu melakukan nya dengan meninggal kan jejak kemerahan di sekujur tubuh Vania?" tanya Dio kembali.


"I-iya tuan. Semua atas permintaan nona Vania," jawab sang office boy dengan terbata.


"Dan kamu menikmati nya kan?" pancing Dio lagi.


"Jadi kamu sudah mengetahui jika Vania sedang mengandung benih yang kamu tanam?" tanya Dio secara langsung.


Office boy tersebut pun terlihat terdiam sejenak. "Tahu tuan, namun mau bagaimana lagi karena nona Vania tidak mau mengakui lelaki miskin seperti saya dan lebih memilih untuk bersama dengan anda tuan. Saya pun di ancam akan di bunuh jika tidak segera meninggalkan pulau Bali dengan segera. Sehingga mau tidak mau saya pun kembali pulang ke kampung halaman di sini. Namun sepertinya pelarian saya pun terlihat percuma karena saya pun tertangkap oleh anda," ucap office boy tersebut dengan sangat jujur.


"Jika ingin hidupmu kembali normal dan nyaman maka bantulah aku untuk menguak atas siapa bayi yang sedang di kandung oleh Vania. Namun jika kamu menolak pun untuk malam ini tubuhmu akan segera aku potong-potong dan aku lempar ke kandang buaya peliharaan milik temanku," ucap Dio dengan raut wajah datar namun terlihat sangat mengerikan.


"Baik tuan, saya akan menurut dengan apa yang tuan perintahkan," jawab office boy tersebut dengan cepat karena takut dengan ancaman Dio itu.


"Namun tuan, bagaimana jika setelah saya mengaku dan kemudian Vania marah serta tidak terima maka saya pasti akan di bunuh oleh pembunuh bayaran yang pasti nya akan di sewa oleh Vania itu tuan. Semua tidak ada yang terlihat menguntungkan ku tuan," tutur sang office boy dengan wajah sendu nya.

__ADS_1


"Tenang saja, aku yang akan menjamin seluruh keselamatan kamu beserta keluarga mu. Asalkan kamu melakukan sesuai yang aku perintahkan," jawab Dio dengan tegas.


Mendengar ucapan Dio tersebut pun membuat office boy tersebut tampak terlihat berbinar. "Benarkah tuan?"


Dio pun segera mengangguk perlahan.


"Tunggu satu minggu lagi," ucap Dio dengan segera berdiri.


"Tempatkan office boy itu di markas kalian. Beri makan dan minum serta awasi jangan sampai dia melarikan diri," titah Dio.


"Siap laksanakan boss," jawab seluruh anak buahnya tersebut dengan serempak.


Dio pun segera keluar dari rumah terbengkalai dan pengap tersebut serta segera mengemudi kan kembali mobilnya tersebut menuju ke rumah lama Aninda.


Dio pun terlihat memarkirkan mobilnya di depan rumah Aninda yang terlihat sangat sepi serta dedaunan yang telah beterbangan kemana-mana seperti rumah yang sudah di huni lama sekali.


"Sayang, kamu ada dimana? Aku sangat merindukanmu. Bagaimana keadaan kamu selama ini? Siapa yang membuat mu pergi secara diam-diam tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun terhadap ku? Apa kamu disana sedang mengandung buah cinta kita ataukah hanya angan-anganku saja? Apakah pertanda kehamilan mu waktu itu hanyalah bayangan semu ku semata?" gumam Dio dengan menepuk setir mobilnya dengan menahan kesedihan di dalam hatinya.


"Maafkan atas kebodohan ku Nin, demi apa pun aku tidak pernah mengkhianati mu barang sedetik pun," ucap nya Dio lagi di dalam mobilnya tersebut.


Setelah puas berkeluh kesah di depan rumah Aninda pun dengan segera Dio meninggalkan pelataran rumah tersebut dan kembali menuju ke rumah orang tua nya.


"Kenapa lama sekali sayang? Dari mana saja kamu?" tanya Vania dengan nada suara yang di buat semanja mungkin. Tak luput Vania pun terlihat sedikit menggesekkan melon lokalnya tersebut di lengan Dio.


"Heh, singkirkan tubuhmu dari ku!" bentak Dio dengan kembali menghempaskan tubuh Vania hingga jatuh tersungkur.


"Di-dio ... kenapa kamu suka sekali mendorongku hingga jatuh ke lantai. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan bayi kita?" ucap Vania yang kembali di buat selirih mungkin untuk mencari simpati terhadap Dio.

__ADS_1


Dio pun terlihat tidak menanggapi ucapan Vania tersebut dengan segera menaiki anak tangga dan segera menuju ke ruang kerja nya kembali.


"Sialann! Padahal tadi pagi Dio sudah ada kemajuan dengan berinisiatif mengantarkan ku periksa ke rumah sakit. Namun kenapa hingga sekarang Dio pun masih saja terlihat kejam terhadapku!" pekik Vania seorang diri dengan segera menuju ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas.


__ADS_2