
" Sama-sama mbak Mitha" balas ibu-ibu di sana hampir bersamaan.
Aku dengan cepat masuk ke halaman rumah, takut bila Dimas sudah bangun dan mencari aku.
Sampai di rumah belanja segera aku taruh di dapur, dan aku ke kamar untuk melihat Dimas, sepertinya ponselku yang sedari kemarin baru aku chase belum aku nyalakan, dan usai baterai penuh ponsel itu aku nyalakan, dan begitu ponsel ku menyala sebuah notifikasi pesan masuk bertubi-tubi, terutama pesan dari ibu mertua yang berisikan cacian yang jumlahnya puluhan, dan panggilan masuk juga berjumlah puluhan, selain dari ibu mertua juga ada Sinta dan Santi, tak kalah hebohnya.
" Heh wanita sialan kemana saja kamu, jadi gelandangan ya? sini pulang saja banyak pekerjaan rumah yang harus kamu selesaikan" salah satu pesan dari ibu, tak jauh-jauh dari kata-kata kotor dan makian.
"Jangan coba-coba kamu menghasut anakku ya, Andra sampai kapanpun tetap anakku, awas saja bila kamu melorot i anakku, maka akan aku buat perhitungan sama kamu." Ancam ibu mertua padaku.
" Heh Ipar kampungan, kalau pagi kamu ke sini ya, ini cucian ibu menumpuk dan sekali masak juga, setelah itu terserah mau minggat lagi ga apa-apa yang penting tiap hari nyuci baju, setrika dan masak, itu tugas kamu!!mengerti" itulah pesan dari Sinta, yang begitu sangat menghina aku, aku hanya membacanya saja tanpa berniat untuk membalas semua cacian dan hinaan mereka.
Aku sudah tak kaget lagi dengan sifat mereka semua, selama ini aku hanya di jadikan babu oleh mereka saja, tega banget mereka itu padaku, senang selalu melihat aku dalam kondisi yang menyedihkan.
Renovasi teras depan selesai dalam waktu tiga hari sebab aku hanya menyekat saja teras itu, tak perlu mewah yang penting bersih dan rapih jadi tak perlu memakan banyak waktu. Dan hari ini peralatan laundry sudah datang semua, satu mesin cuci, satu mesin pengering dan peralatan lain, lemari kecil untuk menampung baju yang sudah di setrika.
Aku berniat untuk memulai semuanya besuk, hari ini aku beberes dulu sebelum membuka jasa laundry ini.
Sabun dan pewangi baju sudah di kirim sama pihak toko yang aku pesan, sengaja aku pesan yang banyak agar mendapat harga miring dan bisa di antar pula.
Hari menjelang senja aku sudah selesai memasak untuk makan malam, dan tumben Mas Andra belum pulang ke rumah, apa dia mampir dulu ke rumah ibunya.
Sebenarnya aku mau kirim pesan tetapi aku enggan untuk menanyakan hal itu, sebab aku tak mau nanti di kira aku mengekang Mas Andra, sebab aku berjanji untuk memberikan kelonggaran pada Mas Andra supaya tinggal di mana saja terserah, buat aku tak masalah, sebab Mas Andra adalah anak lelaki satu-satunya, jadi dalam agama yang aku anut anak lelaki adalah milik ibunya, biarlah aku mengalah untuk hal ini.
__ADS_1
Oh ia aku lupa bila hari ini tanggal satu Mas Andra lagi gajian, ah tentu saja dia pasti sudah di ultimatum ibu untuk pulang ke sana.
Ah biarlah, aku iklaskan saja yang terpenting adalah aku bebas dari mereka saja sudah membuat aku menjadi sangat bahagia kok.
" Dimas maem dulu yuk nak, sepertinya ayah tidak pulang ke sini nak, kita makan dulu saja ya" ucapku pada anakku itu
" Maem-maem buu maem." Ucapnya sambil menunjuk ke arah dapur, bocah kecil itu sepertinya sudah tahu di mana letak dapurnya.
Aku tersenyum melihat kelakuan mengenaskan Dimas, bersemangat sekali untuk makan.
Kali ini aku masak menu yang cukup sederhana sob ayam dan tempe goreng, ya walaupun hanya ayam beberapa potong yang terpenting ada gizinya buat anakku.
Selesai menyuapi Dimas aku meletakkan Dimas di tikar, dan aku beri dia mainan biar anteng, sementara itu aku yang gantian makan, aku tak berniat untuk menunggu Mas Andra, pastinya ia sudah makan di rumah ibunya, biasanya mereka kalau habis gajian pasti sering makan di luar tanpa aku.
" Assalamu'alaikum" serunya dari luar.
"Waalaikum salam" balasku dan dengan cepat, buru-buru aku mengenakan kerudung instan dan berjalan cepat ke arah pintu keluar lalu membuka pintu itu.
" Mas Andra." Seruku di balik pintu.
" Maaf Dek, Mas pulang telat" serunya sambil masuk ke dalam rumah, lalu aku mengambil tas yang ia bawa dan mencium punggung tangannya.
" Tidak apa-apa Mas," Balasku.
__ADS_1
Sementara Dimas yang melihat ayahnya baru pulang berteriak girang sekali sambil tertatih-tatih dia berjalan ke arah Mas Andra, lalu dengan cepat Mas Andra melangkah dan meraihnya dan menggendong tubuh kecil itu sambil tertawa girang sekali, mereka berdua bercanda berdua.
" Mas Andra mau langsung mandi atau gabung mau makan dulu?" tanyaku menyela obrolan kedua ayah dan anak itu.
" Ia Dek, Mas mandi dulu saja dek, kalian baru makan ya?" tanyanya yang melihat makanan yang masih tersaji di atas tikar.
" Ia Mas" balasku sambil tersenyum.
" Ya sudah kamu makan dulu saja Dek," ucap Mas Andra yang sepertinya tak enak melihat aku yang belum menyelesaikan makan ku.
" Mas bisa kok kalau cuma merebus air panas saja, ga bakal gosong" candanya sambil terkekeh, aku hanya mengangguk kepalaku sambil tersenyum, dan seperti yang Mas Andra bilang, aku dengan cepat menghabiskan makan malam ku dengan sayur sub dan tempe goreng.
Usai makan aku seperti biasanya membereskan semuanya dan mencuci piring bekas kami makan.
Setelah itu aku mengambil Dimas dari gendongan Mas Andra yang terlihat sudah ngantuk sekali, bocah gembul itu sudah terlihat menguap beberapa kali.
" Yuk Nak, kita bobo dulu, biar ayah mandi dulu biar seger." Ucapku sambil aku gendong Dimas untuk ke kamar dan menidurkan bocah itu.
Usai menidurkan Dimas aku berjalan keluar kamar, dan aku lihat Mas Andra yang sudah tidak ada, entah di mana suamiku itu tetapi dia sudah menyelesaikan makan malamnya bahkan dia mengemasi tikar dan mencuci peralatan makannya sendiri, selain Mas Andra menyapu dan mengepel dapur itu sampai bersih.
" Mas, Mas Andra di mana?" panggilku dengan sedikit berteriak, sebab tak ku dapati ayah dari anakku itu di rumah ini.
Kemana dia apa dia tadi keluar rumah, sewaktu aku ketiduran bersama Dimas, aku tak melihat jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, tetapi motor Mas Andra masih di rumah.
__ADS_1
Aku berpikir bahwa dia ke rumah ibu naik taksi online, ya mungkin saja kan, tak bisanya Mas Andra seperti ini kok, dia tak membangunkan aku mungkin juga takut mengganggu tidurku, ah terlalu banyak kemungkinan di sini.