Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 37


__ADS_3

Selesai kami sarapan aku kembali berkutat dengan pekerjaan baru lagi, kali ini ada meeting dengan beberapa staf, setelah berkas yang aku lembur tadi malam mereka pelajari, akhirnya berkas itu akan kami pelajari sebagai bahan untuk meeting ini nantinya, untuk melaksanakan sesuai rencana.


Sementara Karina sudah balik ke ruangannya di lantai paling atas, setelah sarapan pagi bersama aku, aku bahagia dia sudah tak marah sama aku lagi.


Dan Mila kembali ke ruangan aku untuk memberikan beberapa map yang harus aku pelajari dan aku tandatangani lagi.


" Sebentar lagi rapat di mulai Pak" ia kembali mengingatkan dan memberikan beberapa lembar bahan untuk meeting.


" Terimakasih Mil, dan tolong ini di bawa ya, sudah selesai aku tandatangani." ucapku sambil aku meberikan kepadanya beberapa map lagi padanya, bulan ini benar-benar semua karyawan sibuk di buatnya, untuk membuktikan pada pihak investor bahwa kami kompeten di bidangnya.


***


Sementara di tempat terpisah, sosok Bu Marni dan keluarga kecilnya tanpa malu-malu sudah duduk di atas meja makan, begitulah yang di lakukan setiap makanan sudah tersaji di atas meja makan, tak ada sedikit pun sungkan terlihat dari raut wajahnya itu, padahal Bu Nani dan Fatimah sudah berada di situ, apalagi ada Pak Adi sebagai pemilik rumah itu saja tak membuat Bu Marni menjadi mundur, tak ada di dalam kamus Bu Marni untuk menyerah yang ada di otak Bu Marni adalah uang dan uang, wanita itu tetap kekeh dengan pendiriannya, meminta Pram untuk menikahi Zaenab, sementara Pak Udin tidak bisa apa-apa, pria itu tak ada nyali di hadapan istrinya.


Seperti biasa Bu Marni, Zaenab dan Pak Udin akan mengumpul di meja makan bila sarapan pagi sudah tersaji di meja makan, dan ulah mereka benar-benar sudah kelewatan, tanpa menunggu pemilik rumah mereka makan dengan lahapnya, dan tak pernah memikirkan orang lain, dan seperti biasa hanya sisanya tempe dan tahu saja yang ada di sana, sayuran pun hanya tinggal kuahnya saja, benar-benar tak punya hati mereka itu.


Untung Karina sudah membeli meja makan yang baru yang di letakkan di lantai dua, kebetulan di lantai dua ada tempat yang kosong bisa di jadikan untuk ruang makan, letaknya sangat bagus sebab di sela-sela pojok ruangan, dan di sebelahnya ada kaca transparan menghadap ke taman, jadi Pak Adi, Bu Nani serta Fatimah sekarang tak perlu lagi mendapatkan makanan sisa dari keluarga pak Udin ini, sebab sebelum menyajikan makanan di bawah para pelayan sudah membawa makanan spesial untuk di sajikan di atas sana lewat left yang ada di rumah itu.


" Ayok bude kita makan dulu, Ayah Adi sudah menunggu bude di meja makan," ujar Fatimah kepada budenya, Fatimah memang sudah di anggap sebagai bagian dari keluarga Karina, hingga Pak Adi meminta pada Fatimah untuk memanggil Ayah padanya juga.

__ADS_1


" Ia, sebentar Nduk,mmm... sebenarnya bude segan sama pak Adi, bude tiada enak sama pak Adi, kita merepotkan di sini.


" Ah Bude ini bicara apa, kalau kita merepotkan, terus yang di bawah sana itu harus di sebut apa? bude, saudara enggak, apalagi keluarga, sudah numpang belagu lagi," ucap Fatimah kesal.


Memang selama ini Fatimah yang sanggup meladeni Bu Marni, bahkan Fatimah mempunyai tenaga lebih untuk meladeni mulut lemesnya wanita paruh baya itu, lainnya bukannya tak sanggup tetapi sudah terlalu malas berurusan sama Bu Marni itu.


Bila meladeni gaya pongahnya Bu Marni sama saja menuruti orang gil*, makanya Bu Marni itu sudah di biarkan saja, tetapi tidak dengan Fatimah, gadis itu tidak suka melihat Bu Marni semena-mena begitu saja, apalagi Fatimah sudah tahu sejak lama bila Kakaknya Pram dan budenya di manfaatkan Bu Marni sejak lama, dan sekarang dia tak akan tinggal diam begitu saja, apalagi semenjak tahu Pram di putus sama sepihak oleh keluarga Bu Marni. sudah keterlaluan menurut Fatimah, bila mulut Bu Marni bisa lemes kenapa Fatimah enggak, itulah sanggahan Fatimah bila di lerai sama Karina dan Bu Nani.


" Cepetan Bude, Ayah Adi sudah lama menunggu" ujar Fatimah menarik lengan Budenya dengan lembut.


Mereka berjalan keluar dari kamar dan menelusuri lorong ruang demi ruang hingga sampai di pojok ruangan, dan di sana sudah ada meja makan yang menghadap ke arah kolam, komplit isinya tak kalah mewah yang ada di bawah.


" Selamat pagi juga Fatimah, Bu Nani" balas Pak Adi dengan lembut.


" Ayok sini kita makan dulu, dan mulai sekarang kita akan makan di sini saja, tadi malam Karina sudah pesankan meja ini untuk kita bertiga, jadi kira tak perlu mendapatkan makanan sisa lagi," ujar Pak Adi sambil terkekeh.


" Maafkan saya Pak Adi, mereka jadi seperti itu karena saya." Ucap Bu Nani yang tak enak.


" Bude kok bilang begitu sih" seru Fatimah yang tak suka.

__ADS_1


" Ia Bu Nani, Bu Nani tidak boleh berkata seperti itu, ini semua bukan salah Bu Nani, kalau mereka punya etika dan punya hati, tak akan berbuat seperti itu di rumah orang lain" Imbuh pak Adi menjelaskan.


Bu Nani hanya terdiam saja dan mengangguk, wanita itu sudah lelah menghadapi mantan besannya itu.


" Sudah Bu Nani jangan banyak pikiran, Karina sudah cerita semuanya pada saya, saya percaya sama Pram, dia anak yang baik, anak saya Karina akan berada di tangan yang benar, yaitu Pram, semoga Pram tak pernah berubah pada Karina." Ujar Pak Adi menjelaskan, dan membuat Bu Nani sedikit lega.


Sebab Bu Nani juga belum ketemu dengan Pram dan ingin bertanya mengenai tindakan selanjutnya, sebab Bu Nani tak enak bila Bu Marni dan keluarganya membuat rusuh hingga keluarga Pram hancur, Bu Nani tak akan terima.


" Sudah ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita bertiga jalan-jalan ya?" imbuh Pak Adi mengalihkan pembicaraan agar Bu Nani tak kepikiran dengan ulah Bu Marni itu.


" Fatimah tahun ajaran baru kamu daftar kuliah di sini saja, biar Bu Nani juga betah tinggal di sini, Pram juga biar tak kepikiran sama Bu Nani, dan Ayah Adi yang akan membiayai kuliah kamu nantinya." Ucap Pak Adi menjelaskan.


" Ia Ayah nanti biar Fatimah minta ijin dulu ke ayah di kampung" balas Fatimah.


" Ia bagus nanti kalau kamu kangen kampung kalian boleh pulang sewaktu-waktu, tapi tetaplah tinggal di sini, agar Pram tak kepikiran, dan tak ada yang membuat rusuh sama kalian," tutur pak Adi kembali membuka percakapan.


" Akan kami pikirkan lagi nanti Pak Adi, sebab saya belum bisa meninggalkan rumah." Balas Bu Nani dengan sopan.


Pak Adi hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya pada Wanita yang melahirkan menantu kesayangannya itu.

__ADS_1


Setelah membahas tentang masalah Bu Marni mereka pun melanjutkan sarapan paginya.


__ADS_2