
Malam hari nya, Ryu terlihat sudah berada di kediaman orang tua Zia. Kali ini dirinya terlibat obrolan empat mata dengan Papi nya Zia dengan cukup serius.
Ryu yang terlalu cemas akan ucapan Zia di siang hari tadi tentang diri nya yang telah di jodohkan pun membuat Ryu tidak ada semangat hidup untuk melanjutkan pekerjaannya dan memutuskan untuk segera berkunjung ke kediaman orang tua Zia untuk memastikan ucapan Zia.
"Zia tidak pulang kemari malam ini. Katanya malam ini Zia akan menginap di apartemen nya yang tak jauh dari kantornya tersebut," ucap Dio kepada Ryu.
"Ryu kemari malam ini hanya ingin mengobrol sebentar dengan Papi," jawab Ryu dengan wajah yang terus gelisah sedari tadi.
Mendengar ucapan Ryu pun membuat kening Dio berkerut.
"Tumben sekali? Ada apa Ryu?" tanya Dio dengan wajah penuh selidik.
"A--apa benar Zi--Zia telah Papi jodohkan dengan lelaki lain?" tanya Ryu dengan terbata-bata.
Jantung Ryu pun terus berdetak dengan kencang karena takut akan mendapatkan jawaban yang membuatnya tidak bisa memiliki Zia kembali.
Dio pun terlihat menghela nafas dalam-dalam.
"Melihat putri ku setelah insiden penolakan perjodohan yang kamu ucapkan secara terang-terangan di depan kami semua itulah yang membuat putriku berubah,"
"Apalagi beberapa bulan terakhir ini Zia terlihat menyibukkan diri dengan tumpukan dokumen dan seperti melupakan untuk menikmati indahnya dunia di usia seperti Zia saat ini,"
"Maka dari itu Papi memang berencana untuk menjodohkan Zia kembali. Agar dirinya pun bisa memiliki seseorang yang membuat nya semangat untuk menikmati hidupnya tanpa terus melirik dokumen perusahaan terus-menerus," jawab Dio dengan panjang dan lebar.
Mendengar jawaban yang terlontar dari Papi Zia pun membuat Ryu merasa semakin bersalah.
"Apa perjodohan nya bisa di batalkan Pi?" tanya Ryu lagi dengan bodohnya.
"Kenapa juga harus di batalkan, Nak? Zia telah menyetujui akan perjodohan itu. Jadi tidak mungkin lah untuk membatalkan nya. Kecuali jika Zia lah yang menolak perjodohan tersebut. Maka, Papi akan dengan cepat segera mengakhiri perjodohan nya jika alasannya terdengar masuk akal," jawab Dio secara logis.
Disatu sisi Dio pun tidak enak untuk membatalkan perjodohan tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
"Ta--tapi Pi, bagaimana jika aku yang menolak perjodohan antara Zia dan lelaki tersebut?" tanya Ryu dengan kembali terbata karena takut akan reaksi orang tua Zia.
"Kamu menolak perjodohan Zia dengan anak teman Papi? Memangnya kenapa Ryu? Papi telah menyelidiki siapa putra teman Papi tersebut. Dan semuanya tidak ada masalah," jawab Dio dengan wajah yang berubah menjadi masam.
Nyali Ryu pun menjadi semakin menciut melihat wajah Papi Zia yang berubah menjadi tidak lagi seramah awal pembicaraan mereka.
"Jika tidak memiliki alasan yang jelas, maka jangan lagi halangi langkah putriku untuk menemukan calon pendamping nya. Seperti nya pembicaraan kita malam ini cukup sampai disini Ryu. Papi lelah dan capek karena mengurus banyak sekali perkerjaan hari ini," ucap Dio sembari mengusir Ryu secara halus dari rumah nya tersebut.
"Ba--baik lah, Pi. Ryu pamit undur diri dulu," ucap Ryu yang kemudian mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Papi Zia.
Ryu pun segera melangkah kan kaki keluar dan segera mengemudi kan mobilnya keluar dari kediaman keluarga Zia.
Di dalam mobil tersebut nampak Ryu yang semakin pusing tujuh keliling dan terlihat sangat cemas.
Sebenarnya Ryu ingin mengatakan di depan orang tua Zia untuk mengatakan bahwa diri nya telah menodai Zia dan ingin mempertanggung jawab kan perbuatan nya tersebut.
Namun, keinginan nya untuk mengatakan semua nya dengan jelas di depan papi Zia pun seolah hanya mampu untuk Ryu simpan di dalam hati saja.
Dengan perasaan kacau, Ryu pun segera melajukan mobilnya tersebut menuju ke sebuah club malam terdekat untuk melupakan sejenak masalah yang sedang menghinggapi dirinya tersebut.
Beberapa botol bir pun telah Ryu tenggak. Namun, di dalam bayangan Ryu pun masih terus terngiang akan Zia. Tentang tubuh indah Zia, tentang Zia yang akan di miliki oleh lelaki lain yang membuat diri Ryu semakin tak terkendali dan emosi.
"Zia ... kenapa kamu setuju untuk di jodohkan dengan lelaki lain? Bagaimana jika kini aku menyesali semua kesalahanku? Aku ingin kamu menikah dengan diriku, bukan dengan orang lain. Huhuhu ..." ucap Ryu yang tengah mabuk dengan terus meracau menyebut nama Zia lagi dan lagi.
Setelahnya, nampak Ryu yang kemudian berjalan dengan terhuyung-huyung menuju dimana mobilnya kini berada dan segera melajukan mobil tersebut dengan membelah jalan raya antara sadar dan setengah tidak.
Hingga kini Ryu pun terlihat menekan pintu bell apartemen seseorang dengan terus menerus dan tak lama kemudian nampak Zia membuka pintu apartemen nya tersebut dengan raut muka bingung.
"Ada apa sih Ryu? Kenapa bertamu menjelang pagi ke apartemen ku??" tanya Zia dengan wajah yang bingung dan belum sadar jika lelaki di depan nya tersebut bertamu dalam keadaan frustasi serta mabuk berat.
Dengan langkah terhuyung Ryu pun dengan cepat masuk ke dalam apartemen Zia tanpa di persilahkan.
__ADS_1
Sedangkan Zia yang menyadari keadaan Ryu yang tengah mabuk pun menjadi waspada.
"Duduklah disebelahku, aku ingin mengobrol penting dengan mu," ucap Ryu dengan menarik tangan Zia dan mendudukkan Zia di sebelah Ryu.
Zia pun terlihat ketakutan karena tingkah Ryu tersebut dan segera berlangsung menjauh dari Ryu.
"Mengobrol lah dalam jarak dua meter Ryu. Kamu sedang mabuk," ucap Zia dengan setenang mungkin.
Ryu yang tak suka karena terus di hindari oleh Zia pun terus melangkah kan kaki mendekat kearah Zia.
"Kenapa sekarang kamu menjadi takut dengan ku? Bukan kah kamu sangat mencintai ku Zia?" ucap Ryu dengan memojokkan tubuh Zia dengan mencengkeram kuat wajah Zia tersebut.
Bau alkohol pun menguar dari hembusan nafas Ryu yang membuat Zia terus mencari celah untuk melarikan diri dari cengkeraman Ryu.
"R--Ryu kamu tenanglah dulu. Aku buatkan kamu minum dulu," ucap Zia dengan terbata.
"Aku telah minum banyak sekali. Jadi aku tak butuh minuman buatan mu. Aku menginginkan kamu Zia. Ayo kita menikah," ucap Ryu antara sadar dan tidak.
"Aku tidak bisa Ryu. Aku sudah tidak lagi mencintaimu. Maaf," ucap Zia dengan sejujurnya karena memang dirinya sudah nyaman dengan kesendirian nya tanpa memikirkan lagi perasaan cinta yang dulu pernah ia torehkan untuk Ryu.
Mendengar penolakan dari mulut Zia seketika emosi pun menguasai hati dan pikiran Ryu. Ditambah pengaruh alkohol yang begitu kuat pun membuat Ryu gelap mata.
"Tidak bisa! Kamu hanya boleh untuk kumiliki seorang! Setelah berbulan-bulan yang lalu akan permainan panas kita berdua, kini aku ingin mengulangi nya lagi dan akan membuat mu menjadi milikku seutuhnya!" ucap Ryu dengan lantang dan segera membawa paksa Zia ke dalam kamar apartemen Zia tersebut.
Ryu pun terlihat gelap mata dan segera menindih tubuh Zia yang telah berurai air mata.
"Ryu, jangan lagi lakukan hal ini kepadaku! Aku tidak ingin melakukan nya dengan orang yang tidak memiliki perasaan apa pun terhadap aku!" pekik Zia dengan berusaha kabur dari kamar apartemen nya tersebut.
Namun sekuat apa pun Zia mencoba untuk melarikan diri, dengan cepat Ryu segera menangkapnya kembali.
Hingga Ryu pun berhasil melakukan penyatuan lagi dan lagi dengan sangat agresif.
__ADS_1
"Ryu, bukan seperti cara nya. Kamu seharusnya memintaku dengan cara baik-baik kepada kedua orang tua ku. Huhuhuhu ..." ucap Zia dengan terus menangis terisak begitu Ryu telah terkapar di ranjangnya tersebut.