Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode 42


__ADS_3

Ketika aku sampai di lantai bawah suasana begitu lengang, sementara Bibi sudah menyambut ku di depan pintu sambil menenteng paper bag, berisi sarapan yang sudah aku pesan untuk sang suami tercinta.


" Pagi Non, mari saya antar ke depan, ayo Non buruan sebelum Mak Lampir lihat Non di sini" ucap Bibi dengan suara lirih, dan Bibi pun mengghibah Bu Marni sambil menarik aku berjalan ke arah pintu keluar.


" Dih Bibi ada-ada saja, emangnya kenapa Bi, kalau dia lihat saya, saya tidak takut Bi kok, lha ini rumah saya kok, ngapain takut" balasku dengan sewot.


" Ia Non, Bibi tahu tetapi masalahnya dia itu ga tahu diri mbak, sudah numpang belagu lagi " seru Bibi dengan sengit.


Aku hanya terkekeh sendiri sambil masuk ke dalam kursi kemudi mobil, sengaja pagi ini aku tak mau memakai sopir sebab aku nanti akan pulang langsung ke Apartemen bersama suamiku sesuai saran dari Papa, lalu Bibi mengikuti aku dan meletakkan papar bag di kursi samping, sementara Pak Jono menaruh koperku di jog belakang, aku sengaja hanya membawa koper besar untuk baju kami berdua.


" Hati-hati Non, jangan ngebut" saran Bibi padaku.


" Ia Bi, terimakasih ya? Bibi juga hati-hati di rumah ga usah ribut sama Mak nya" pamit ku, sambil aku menggoda Bibi yang berdiri di pinggir mobil, Bibi bibirnya manyun ketika aku godain, sebab Bibi selalu naik pitam bila berhadapan dengan Bu Marni.


Aku mengklakson supaya pak Jono membukakan pintu gerbang untukku, ketika pintu gerbang sudah di buka aku menginjak gas, sebelum aku membelokkan mobilku, aku melihat ke arah spion mobil dari kejauhan nampak dua orang pria dan wanita muda keluar dari dalam rumahku. sambil menenteng koper di tangannya, orang tersebut tak lain ialah Zaenab dan Pak Udin.


Apa mereka sudah sadar diri lalu pergi tanpa pamit, karena malu? ah sudahlah yang penting dua pengacau itu tak ada lagi di rumahku sekarang, sebuah senyuman terbit di bibirku, tinggal biangnya pengacau yang masih tersisa di sana, tapi aku rasa agak sulit, tetapi sebenarnya tak ada alasan lagi bagi wanita tua itu untuk bertahan di rumahku, bukanlah Zaenab sudah pergi.

__ADS_1


Dan setelah keluar dari pekarangan rumah aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, dan mobil ku berbaur dengan kendaraan yang lain, membelah kota Jakarta, di saat hari masih pagi seperti ini suasana jalan belum terlalu padat, aku gas kendaraan ku sedikit lebih cepat, sudah tak sabar rasanya ingin memeluk suamiku tercinta, aku begitu merindukannya.


POV Author


Sementara itu di lain tempat, seorang wanita paruh baya dari dia bangun tidur tadi tidak menemukan anak dan suaminya di kamar, wanita itu panik dan gelisah, dan ketika dia menanyakan hal itu pada para pelayan di rumah ini semua menjawab tidak tahu, sebab Zaenab dan Bapaknya pergi begitu saja tanpa pamit kepada penghuni rumah, sebenarnya pelayan dan scurity tahu Zaenab dan Pak Udin keluar dari rumah mewah itu, tetapi berhubung mereka juga sudah terlanjur kesal pada keluarga itu, makanya mereka bilang tidak tahu, cari aman saja dari pada ribut sama Bu Marni, membuang-buang tenaga saja.


Bila meladeni wanita tua itu sama saja dengan cari masalah.


" Masak pada ga tahu sih dimana anak dan suamiku, kalian ini kerjaannya apa coba hah?!! begitu saja tak tahu" omel Bu Marni dengan nada ketus, wanita itu menggerutu dengan para pelayan, sambil duduk di meja makan, layaknya seperti rumah sendiri, dia dengan cueknya tak ada kata sungkan dalam kamus Bu Marni.


Wanita tua itu terus melahap makanannya hingga tandas, dia mau mengisi perutnya setelah itu dia baru mau mencari suami dan anaknya.


Terlalu enak tinggal di sini, makan tinggal makan tak perlu repot, tak perlu mikir buat makan besuk, tidur di kasur yang empuk dan ber-AC, nikmat sekali rasanya.


Bu Marni tak akan tinggal diam, dia sepanjang siang terus berpikir membuat alasan untuk tinggal di sini.


Sekarang hanya Pram satu-satunya orang yang bisa di andalkan, tetapi Pram tak pernah muncul lagi di rumah ini semenjak kejadian ribut dengan Karina itu.

__ADS_1


Bu Marni mondar mandir di taman samping sambil memegang hp untuk menghubungi suami dan anaknya dan ternyata ponsel mereka tak aktif sama sekali.


" Ingat ini hari terakhir kamu di sini, bila besuk kamu tidak angkat kaki dari sini terpaksa saya sebagai Ibunya Pram akan mengusir kamu dari sini, atau kalau tidak akan saya laporkan kamu ke kantor polisi, biar kamu tahu bahwa saya tidak main-main." Seru Bu Nani yang tiba-tiba datang dari dalam bersama Fatimah.


Bu Marni yang sedari tadi mondar-mandir tersentak kaget tak percaya dengan ucapan Bu Nani yang tiba-tiba itu.


" Bu Nani tolong jangan begitu, kasihan saya, Zaenab dan suamiku pergi entah kemana, jangan usir saya dari sini Bu, saya akan tinggal di mana nanti?" balas Bu Marni penuh iba.


" Baguslah suami dan anak kamu itu menyadari kesalahannya, tidak seperti kamu, yang tak tahu malu." Seru Bu Nani yang sudah tidak dapat menahan emosinya.


" Saya mohon Bu Nani, maafkan saya" ucap Bu Marni sambil menangkup kedua tangannya di depan dada, tentu saja sambil menangis tersedu.


Bu Nani yang sudah jengah akan sikap Bu Marni tak mengindahkannya lalu, ibu mertua dari Karina itupun masuk ke dalam rumah dan di susul dengan Fatimah selalu mengekori Bu Nani dari belakang.


Dan Bu Marni terdiam membeku di taman samping, menangisi nasibnya yang malang itu.


Kalau dia di usir dari rumah mewah ini, dia akan pergi ke mana, tak ada lagi orang yang bisa menampung dia untuk saat ini, suami dan anaknya sudah pergi lebih dulu meninggalkan dia, tanpa pamit lagi.

__ADS_1


Sedih hati Bu Marni, kalau seperti ini dia akan pergi ke mana dan jalan satu-satunya adalah meminta maaf pada Pak Adi, Karina untuk mau menampung nya tinggal di sini, semoga mereka mau dengan ide Bu Marni ini, sebab Bu Marni sudah mati kutu, kali ini dia menyerah tak bisa berbuat apa lagi, senjatanya sudah tak mempan lagi, dan saatnya Bu Marni menyerah dan meminta maaf pada mereka semua yang dia sakiti, semoga semu orang yang di sakiti Bu Marni mau memaafkannya, itulah yang ada dalam pikir Bu Marni.


__ADS_2