
Setelah berbelanja, kedua nya pun segera memesan makan malam di sebuah restoran yang sangat terkenal di dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Sesekali nampak Aninda yang tengah menguap beberapa kali dan nampak mengucek mata nya serta menahan kantuknya.
Dio yang melihatnya pun menatap ekspresi Aninda yang sangat imut tersebut dan tersenyum kecil ke arah Aninda. Sedangkan Aninda pun sama sekali tidak menyadari jika Dio pun sedari tadi nampak melihatnya.
Tak berapa lama makanan pun tersaji dan kedua nya pun makan dengan sangat lahap dan kemudian segera menuju ke tempat dimana mobil Dio yang terparkir kan.
"Jangan lupa pasang seatbelt ya sayang ku," ucap Dio mengingatkan.
Dengan segera Aninda pun menganggukkan kepalanya dan memasang sabuk pengaman nya.
Dio pun nampak memutar lagu-lagu barat yang sedang trend akhir-akhir ini dengan sesekali ikut menyanyikan lagu tersebut.
Sedangkan Aninda pun sudah tidak bisa menahan kantuknya dan kemudian Aninda pun jatuh tertidur di sepanjang perjalanan mereka kembali ke apartemen.
"Sayang bangun, ini sudah sampai di basement mobil apartemen kita," ucap Dio dengan menggoyangkan tubuh Aninda perlahan.
Aninda pun segera terbangun dan keluar dari dalam mobil dan kemudian berjalan dengan langkah terhuyung ke arah lift. Dio pun dengan sigap menggandeng tangan Aninda supaya tersadar dari rasa kantuknya.
Setelah kedua nya sampai di apartemen, Aninda pun segera merebahkan tubuhnya di atas kasur dan segera tertidur kembali tanpa sempat mencuci tangan atau pun mengganti baju nya dengan piyama.
Dio yang melihat Aninda sudah sangat lelah dan mengantuk pun membiarkan Aninda dan menyelimuti tubuh Aninda agar tidak kedinginan.
Dio pun segera menuju ke ruang kerja nya. Mencari tempat untuk pernikahan mereka nantinya di Indonesia yang sekira nya Aninda pun menyukai pilihan nya tersebut.
"Beberapa tempat ini terlihat sangat bagus, biar besok Aninda yang memilih sendiri sajalah," gumam Dio yang kemudian menuju ke kamarnya sendiri dan tak lama kemudian pun terlelap ke dalam mimpinya.
__ADS_1
Hingga hari demi hari Aninda dan Dio menjalani kehidupan nya percintaan nya menjadi bisa bernafas dengan lega ketika sang psikolog mengatakan jika Aninda pun telah pulih dari rasa syok nya tersebut.
"Terimakasih sayangku, perjuangan mu untuk melawan rasa takutmu sekarang telah membuat mu berhasil terbebas dari bayangan kelam," ucap Dio dengan penuh rasa cinta kepada Aninda.
"Ehem, Dio sayang," ucap Aninda dengan manja ketika bersantai di depan televisi.
Dio pun nampak salah tingkah ketika di panggil oleh Aninda seperti itu. Kemudian ia pun nampak tersenyum dan menatap Aninda sejenak.
"Tumben memanggilku dengan kata sayang? Kenapa cintaku?," tanya Dio dengan menggeser tubuhnya agar lebih mendekat di samping Aninda.
"Aku ingin segera pulang ke Indonesia. Sudah sangat ingin membayangkan memakan nasi rawon," ucap Aninda tiba-tiba.
"Iya sayang, besok setelah acara pernikahan Fujiwara kita langsung menuju ke bandara ya? Bersabrlah dulu," ucap Dio dengan penuh kesabaran.
Aninda pun nampak mengangguk dan kemudian melanjutkan menonton tayangan televisi lagi.
Jadi pada akhirnya Dio pun memilih untuk meminta Aninda agar bersabar lebih dahulu.
Sedangkan Dio beberapa hari yang lalu telah mendapatkan kabar jika operasi donor sumsum tulang belakang untuk Kano kecil pun berjalan dengan lancar.
Hal tersebut membuat Dio nampak bersyukur karena anak kecil tersebut bisa dengan pulih segera dari penyakit yang ia derita tersebut.
Untuk Akano sendiri masih dalam tahap pemulihan sehabis dirinya melakukan donor sumsum tulang belakang untuk putra semata wayangnya tersebut.
Sesuai instruksi Akane jika kini Akano pun nampak memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama Kano kecil sebelum dirinya di jemput kembali oleh anak buah Edrick.
"Bisa saja aku membebaskan Akano. Namun aku ingin melihat kesungguhan dirinya untuk merubah dirinya sendiri menjadi lebih baik agar tidak mengulang kesalahan yang sama terus menerus. Kita tunggu perubahan dari Alami selama beberapa bulan ke depan," ucap Edrick di dalam telepon nya kemarin itu.
__ADS_1
Sedangkan Dio pun setuju dengan pendapat Edrick karena bagaimanapun juga Akano harus menerima ganjaran atas apa yang dirinya pernah perbuat.
Hingga hari pernikahan Edrick dan Fujiwara pun tiba. Nampak balutan gaun pengantin yang terlihat indah dan sangat mahal tersebut membuat Fujiwara terlihat semakin cantik.
Perut Fujiwara pun sudah terlihat lebih membuncit dari terakhir kali Dio dan Aninda bertemu. Walaupun sudah mengenakan gaun pengantin yang agak longgar namun sudah bukan menjadi rahasia lagi jika Fujiwara tengah berbadan dua.
Para tamu undangan yang hadir pun tampak segan untuk mengkritik tubuh Fujiwara yang terlihat sudah sangat berisi dan chubby tersebut karena memandang bahwasanya keluarga Edrick merupakan seorang mafia yang memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh di dalam negeri tersebut.
"Selamat ya bro akhirnya sudah menjadi suami istri. Langgeng sampai akhir hayat kalian ya," ucap Dio memberikan selamat kepada kedua mempelai tersebut.
Didalam pesta tersebut pun Aninda dan Amel pun kembali bertemu. Perut Amel pun juga terlihat sudah menonjol dengan gaun ketat yang ia kenakan tersebut.
"Istriku ini sekarang suka nya memakai gaun yang ketat. Kalau di larang pun malah menangis. Entahlah Dio pusing aku mengahadapi ibu hamil satu itu," curhat Akio kepada Dio sembari mengawasi Amel dan Aninda yang nampak antusias mencoba beberapa makanan yang tersedia di acara tersebut.
"Hih nafsu makan kami banyak juga sekarang ya Nin," ucap Amel yang melihat Aninda mengambil banyak cemilan tersebut.
"Alah kamu Mel-Mel kok enggak ngaca. Camilan kamu tuh lebih banyak dari punyaku," jawab Aninda tidak mau kalah.
"Tapi kan kalau aku ini makan nya sama untuk anak di perut aku juga Nin. Sedangkan kamu itu kan untuk kamu makan seorang diri saja ngambilnya banyak begitu. Kalau enggak habis kan sayang," ucap Amel dengan mengkritik cara Aninda mengambil camilan tersebut yanv di luar nalar.
"Siapa yang melarang tamu undangan mengambil makanan memangnya? Memangnya kamu yang sedang mengadakan pesta hingga mengkritik ku seperti itu? Mau makan banyak atau sedikit juga bukan urusan kamu!" jawab Aninda dengan wajah sewot dengan meninggalkan Amel seorang diri.
Sedangkan Dio dan Akio yang mendengar Aninda dan Amel berdebat pun nampak melongo.
"Calon istri kamu galak bener. Kan memang benar yang dikatakan istriku kalau ambil banyak banget kan sayang kalau tidak habis," tutur Akio membela ucapan istrinya tersebut.
Sedangkan Dio pun dengan simpel menjawab dengan kata "Terserah" dan kemudian meninggalkan Amel dengan Akio dengan langkah tergesa segera mencari keberadaan istri nya tersebut.
__ADS_1