
Setelah Zey kembali ke rumah dan terasa sudah fresh kembali karena telah selesai membersihkan diri dan mengenyangkan perut nya dengan masakan sang mama, Zey pun lantas mengendarai mobil nya kembali menuju ke apartemen milik kekasihnya tersebut.
Dengan langkah penuh semangat Zey pun melangkah kan kaki sepanjang koridor apartemen dengan membawa jinjingan plastik yang berisi dengan banyak macam makanan.
Terlihat aura gembira terpancar dari wajah Zey saat itu. Dirinya pun merasa sangat beruntung sekali karena telah memiliki kekasih yang baik, pintar, cantik serta masih bisa menjaga diri nya dengan sangat baik.
Zey pun segera memencet bell pintu apartemen milik ke kasih nya tersebut. Dengan sabar Zey pun terlihat masih setia menunggu untuk segera di buka kan oleh Clara.
Bell pintu pun nampak terus di pencet oleh Zey. Hingga satu jam lama nya tak kunjung segera di buka kan oleh Clara.
"Ah mungkin Clara ketiduran. Biar aku masuk menggunakan pin sandi nya saja lah," gumam Zey dengan masih berusaha untuk berfikir positif.
Dengan segera Zey pun memencet tombol sandi apartemen milik Clara.
Ceklek!
Pintu apartemen pun terbuka. Dengan cepat Zey pun segera menuju ke kamar tidur yang biasa di gunakan Clara untuk beristirahat.
"Sepi ... namun telah rapi dan tidak seberantakan tadi. Mungkin sedang di kamar mandi," ucap Zey seorang diri.
"Sayang, Claaraa ... kamu dimana??" ucap Zey dengan membuka pintu kamar mandi.
Namun lagi-lagi telah kosong. Dengan cepat Zey pun menuju ke dapur, namun masih nihil. Hingga seluruh ruangan apartemen tersebut di buka oleh Zey satu persatu.
Dengan wajah panik, Zey pun membuka lemari baju milik Clara. Alangkah terkejutnya begitu mendapati baju-baju yang biasa Clara kenakan pun hanya tersisa sedikit.
Hati Zey pun semakin berdebar dengan kencang karena rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Zey pun berharap jika firasat yang di rasakan oleh nya tersebut hanyalah praduga semata.
__ADS_1
Dengan cepat Zey pun segera menelepon nomor telepon kekasih nya tersebut. Walaupun telah di hubungi Zey berkali-kali pun, jawabnya tetap sama yakni di luar jangkauan.
Sedangkan chat WhatsApp ataupun media sosial milik Clara yang lain nya pun sama sekali tidak bisa di hubungi lagi.
"Clara ... kamu dimana? Kenapa meninggalkan ku begitu saja? Katanya sudah memaafkan diriku? Jika kamu ingin kuliah di Prancis pun aku bersedia mengambil kuliah di negara yang sama dengan mu ..." ucap Zey dengan tergugu di apartemen Clara seorang diri.
Pandangan mata Zey pun tertuju pada secarik kertas memo yang tertempel di atas meja tersebut.
Dengan cepat Zey pun segera mengambil dan membaca pesan tersebut.
Jangan lagi mencariku.
Itulah bunyi pesan memo yang ditinggalkan oleh Clara.
Tubuh Zey pun terasa luruh seketika. Air mata nya pun menetes membasahi wajah hingga kaos yang saat itu sedang di kenakan nya.
"Kenapa kamu tidak memperbolehkan ku mencari mu lagi? Apa kamu tidak ingin meminta bertanggung jawaban dariku Clara?!" teriak Zey di dalam apartemen tersebut dengan menciumi aroma tubuh milik Clara yang masih tertinggal di antara baju-baju yang ada di dalam lemari tersebut.
Dirinya bahkan tidak mengenal siapa sosok Clara sebenarnya. Dimana tempat tinggal kedua orangtuanya.
Yang Zey tahu hanyalah Clara yang terlihat dari fisik luar nya saja. Yang terlihat, cantik, pintar, dan tentu nya baik hati.
Tak lupa juga jika yang ada di pikiran Zey selama ini tentang sosok Clara adalah wanita yang memiliki wajah cantik memukau namun juga materialistis seperti yang di katakan oleh banyak teman-temannya tersebut.
Ya, Zey beranggapan seperti itu karena Clara mau menerima semua barang-barang pemberian dari dirinya yang semua nya adalah bermerek. Yang semakin membuat dirinya meyakini jika Clara bisa dengan mudah di takluk kan hanya dengan harta benda saja.
Padahal sebenarnya yang terjadi adalah Zey lah yang selalu memaksa Clara untuk menerima barang-barang pemberian dari nya tersebut.
__ADS_1
Pandangan Zey pun nampak tertuju pada satu set lemari kaca yang berada tak jauh dari kamar tidur milik Clara tersebut.
Yang ada di dalam lemari kaca tersebut memang seluruh nya adalah barang-barang yang pernah dirinya berikan untuk Clara. Namun sepertinya sama sekali belum tersentuh karena semua masih terlihat sama seperti awal diri nya membelikan nya.
Dengan langkah gontai, Zey pun kembali menuju ke rumah kedua orang tua nya. Wajah nya yang sayu pun membuat seluruh keluarga terlihat bingung dan khawatir.
"Ada apa dengan kamu, Zey?" tanya Mami Aninda kepada putra satu-satunya tersebut.
"Zey hanya lelah dan ingin beristirahat saja, Mi," jawab Zey dengan singkat dan segera mengunci diri nya di dalam kamar tidur nya tersebut.
Dengan cepat Zey pun terlihat mencari info siapa sebenarnya orang tua Clara dan dimana keberadaan keluarga Clara tersebut.
Namun pencarian berdasarkan data asli dari situs remsi sekolahan pun alamat Clara yang tertera merupakan alamat apartemen yang saat ini telah di tinggalkan oleh Clara.
Sedangkan data yang lain nya nihil tidak terakses sama sekali. Zey pun semakin kelimpungan di buat oleh nya.
Sedangkan disisi lain, terlihat Clara yang telah sampai di rumah milik nenek yang amat di sayangi nya tersebut yang telah lama menetap di negara Singapura.
Sang nenek pun terlihat begitu sinis menatap cucu kandung nya tersebut.
"Dasar cucu tidak berguna! Bukan kah sudah nenek katakan untuk menjerat putra dari orang yang telah membuat kakek dan mama kamu meninggalkan kamu untuk selama nya?! Tinggalkan dirinya setelah kamu menguasai hati dan harta milik keluarga nya itu! Bukan langsung menyerah dan pulang kembali kemari!" pekik sang nenek dengan mata melotot tajam ke arah Clara.
"Tapi Clara tidak sanggup melakukan itu semua nek ... Clara terlanjur mencintai nya. Jangan gunakan Clara sebagai alat balas dendam nenek di masa lalu. Clara mohon, Nek. Huhuhu ..." ucap Clara dengan berlutut di hadapan sang nenek.
"Kamu pikir menghidupi diri mu yang masih bayi yang telah di tinggalkan mama kamu untuk selamanya setelah melahirkan kamu di dalam penjara itu mudah?! Apalagi setelah itu kakek kamu pun terkena serangan jantung setelah mendengar kabar kematian mama kamu?!" pekik sang Nenek dengan menarik dan memukuli tubuh cucu nya dengan sangat brutal.
"Nek ... sakitt. Ampunn ,Nek! Clara akan melakukan apa pun, namun tidak untuk menghancurkan keluarga Zey melalui diri ku, Nek ..." ucap Clara dengan mencoba menyelamatkan diri nya dari amukan sang nenek yang sangat mengerikan itu.
__ADS_1
"Baiklah jika misi mu kali ini gagal. Namun sebagai gantinya setelah ini, kamu akan ku jodohkan dengan seorang pria mapan paruh baya yang sangat mampu untuk melunasi hutang-hutang kita dan kita akan tetap hidup dalam gelimang harta," ucap sang Nenek dengan menghempaskan tubuh cucu nya tersebut ke lantai.
"Nek!! Clara tidak mau!! Jangan lakukan itu, Nek!!" pekik Clara dengan berusaha mengejar langkah Nenek nya tersebut.