Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Pindah


__ADS_3

Dio pun mengusap wajahnya dengan kasar. Keduanya pun tidak jadi untuk makan sore bersama malah berakhir dengan bertengkar.


Dio pun segera membayar bill menu makanan yang telah ia pesan namun sama sekali belum tersentuh tersebut. Dio pun menuju ke mobilnya dan segera melaju mencari taksi yang membawa Aninda pergi.


Namun sepertinya Dio pun kehilangan jejak dari taksi tersebut. Akhirnya dengan wajah putus asa Dio pun segera melajukan mobilnya tersebut menuju ke asrama Aninda. Siapa tahu Aninda telah sampai di asrama nya tersebut.


Tak berapa lama, Dio pun nampak telah sampai di depan asrama tempat Aninda tinggal selama ia berada di Jepang.


Dio pun nampak menelepon Aninda berkali-kali namun tidak kunjung di angkat juga.


"Huhh. Angkatlah Nin." Gumam Dio disela-sela rasa bersalah nya tersebut.


Sedangkan Aninda pun nampak termenung di taman kota seorang diri.


Dirinya pun sebenarnya sangat merindukan keluarga nya yang berada di jogjakarta tersebut.


Tempat paling nyaman yang menjadi tanah kelahirannya. Terkadang Aninda pun merasa sangat ingin segera kembali ke Indonesia. Tinggal jauh dari sanak keluarga membuat hidupnya terasa kurang sempurna.


Terkadang juga kesepian pun masih melanda hari-hari nya walaupun ia telah terlihat menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan selama di kampusnya tersebut.


Ditambah kini ternyata ada orang yang diam-diam menguntitnya yang membuatnya sedikit waspada dan berfikir kenapa harus dirinya yang di ikuti.


Selain itu kenapa Dio yang benar-benar di anggap tulus dan baik terhadap nya tersebut pun dengan tega mengatai nya seperti wanita murahan dan lantas menuduh dirinya berciuman sesuka hati dengan pria lain?


"Apakah aku semurahan itu di mata Dio?" Ucap Aninda secara lirih.


"Huh, ternyata semua lelaki memang sama saja enggak ada yang benar, bisa nya cuma menyakiti dan kemudian menuduh sesuka hati." Gumam Aninda dan kembali menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Sudahlah, aku kembali saja. Tidak ada untungnya juga aku berlama-lama disini seorang diri." Gumamnya Aninda lagi.


Aninda pun nampak berjalan tergesa keluar dari taman kota hingga tanpa sengaja ia pun bertabrakan dengan seseorang.


"Awww. Maaf." Ucap Aninda sembari mendongak melihat wajah orang yang tengah ia tabrak tersebut.


" Sensei Akane??" Ucap Aninda terkejut.

__ADS_1


Namun nampak nya sensei Akane tersebut hanya melihat Aninda dengan sekilas tampak seperti tidak mengenal nya dan kemudian berlalu dengan tergesa melihat wajah Aninda tersebut.


Aninda pun kemudian berdiri dengan cepat dan meninggal kan taman kota tersebut dengan segera setelah berhasil menyetop sebuah taksi yang melaju di depan nya tersebut.


Tak lama kemudian Aninda pun tiba didepan asrama nya tersebut dan seperti yang ia duga jika Dio pasti menunggu dirinya di depan asrama nya itu.


Dengan segera Aninda pun membuka pintu gerbang asrama nya tersebut. Namun gerakan Aninda itu kalah cepat dengan cekalan tangan yang Dio lakukan dengan segera menarik tangan Aninda menjauh dari area cctv yang dekat dengan gerbangnya tersebut.


"Dio lepaskan! Sakit tau tanganku!" Teriak Aninda sembari meronta berusaha melepaskan diri.


"Nin, maafkan aku. Aku tadi tidak bermaksud menyinggung kamu dengan mengatakan ucapan seperti tadi. Aku hanya terbawa emosi karena aku sangat cemburu mendengar nama lelaki lain yang kamu sebut itu Nin." Ucap Dio dengan bersungguh-sungguh.


"Sudahlah aku sudah melupakan ucapan mu tadi dan memaafkan kamu. Aku lelah dan ingin istirahat. Minggirlah." Ucap Aninda dengan wajah datar dan dingin.


Namun Dio seolah tidak dengan mudah melepaskan dirinya tersebut.


"Kamu kalau marah sama aku bilang saja. Jangan berbicara dengan ku tanpa menatap wajahku secara langsung!" Ucap Dio dengan mengungkung tubuh Aninda dan menyudutkan tubuh rampingnya Aninda tersebut hingga membentur tembok.


Aninda pun nampak mendongak dan melihat wajah Dio dengan kesal.


Dengan gerakan cepat kemudian nampak Dio mencium Aninda. Ciuman yang Dio berikan pun membuat Aninda terkejut dan memberontak dengan kuat.


"Lepas! Lepaskan aku! Jangan sekali-kali menciumku seperti ini lagi! Aku bukan wanita murahan!" Ucap Aninda dan segera meloloskan diri menjauh dari tubuh Dio.


Namun lagi-lagi Dio pun mencekal tangan Aninda dan dengan cepat kemudian menggendong tubuh Aninda masuk ke dalam mobil yang dikendarai nya itu.


"Dio keluarkan aku! Aku tidak Sudi berada di dalam mobil yang sama dengan kamu! Buka pintu mobilnya! Biarkan aku kembali ke asramaku!" Ucap Aninda dengan wajah menahan amarah di wajahnya.


"Jika kamu tetap berbicara dengan penuh amarah seperti itu denganku, maka jangan salahkan aku jika aku mencium kamu berkali-kali di tempat ini saat ini juga." Ucap Dio yang kemudian menyambar bibir mungil milik Aninda tersebut.


Ciuman pun Dio lakukan dengan perlahan dengan penuh kelembutan walaupun nampak tubuh Aninda meronta dan menolak ciuman dari nya tersebut.


Nampak dengan sekuat tenaga Dio pun mengunci gerakan kecil dari tubuh Aninda tersebut dan terus mencium nya hingga Aninda sedikit demi sedikit mulai pasrah dan terlena dengan ciuman nya itu.


"Eummm." Desah Aninda yang mulai terbawa oleh gairah yang Dio ciptakan.

__ADS_1


Nampak sensasi ciuman yang Dio berikan tersebut membuat diri Aninda terlena dan dengan mudahnya pun Aninda nampak melenguh perlahan.


Dio pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk terus mengeksplor lenguhan yang Aninda ciptakan.


Hingga tangan Dio pun mulai meraba beberapa titik sensitif yang membuat Aninda semakin melenguh dan menggeliat.


Ciuman Dio pun kemudian turun menuju leher jenjang milik Aninda tersebut dan kemudian menghisap dengan perlahan hingga membuat tubuh Aninda rasanya pun nampak merinding dengan disertai gelanyar aneh yang membuat mulut Aninda merespon lagi dengan lenguhan yang tertahan.


"Awhh, Dio sudah. Mari kita bicarakan semua dengan baik-baik." Ucap Aninda dengan menjauhkan tubuh nya dari Dio dengan perlahan.


Dio pun kemudian nampak melihat wajah Aninda dengan seksama.


"Baiklah." Ucap Dio sembari melajukan mobilnya tersebut menjauh dari asrama Aninda tersebut.


"Dio, kita mau kemana lagi??" Ucap Aninda dengan bingung.


"Pindah dari asrama kamu. Biar mama Akio yang membantu mengurus kepindahan kamu dari asrama itu." Ucap Dio dengan santainya.


"Memang bisa? Tapi Dio, uangku pasti tidak cukup jika harus aku gunakan untuk menyewa sebuah tempat baru untuk ku tinggali. Kalau di asrama kan sudah otomatis gratis dan tidak jauh dari kampus." Ucap Aninda dengan raut muka bingung.


"Tempat kamu yang baru juga gratis dan tidak jauh dari kampus. Aku sendiri yang akan menjaga kamu selama 24jam dalam sehari. Jadi tidak akan ada yang berani lagi mengikuti kamu apalagi sampai meretas cctv dan melihat seluruh aktivitas kamu sehari-hari." Ucap Dio dengan penuh penekanan.


Aninda pun nampak bernafas lega mendengar penuturan dari Dio tersebut. Mobil Dio pun nampak telah kembali menuju apartemen miliknya tersebut.


Dengan segera Dio pun menggandeng tangan Aninda dan membawanya menuju ke lantai dimana apartemen nya berada.


"Tunggu sebentar. Jadi maksud kamu tempat barunya itu adalah apartemen milik kamu??" Ucap Aninda dengan raut wajah syok nya tersebut.


"Benar." Jawab Dio dengan santai.


"Hanya berdua?" Tanya Aninda lagi.


"Benar sekali." Jawab Dio kemudian sambil membuka pintu apartemen milik nya tersebut dengan memencet beberapa tombol angka yang ia jadikan sebagai sandi nya.


"Astaga!" Teriak Aninda mengacak rambutnya dengan wajah frustasi.

__ADS_1


__ADS_2