
" Silahkan masuk" Ucap Bosnya Mbak Siti itu pada seseorang.
" Wah Bapak membawanya ke sini, enak ya di tabrak Bapak terus di rawat di VVIP room dan di tungguin lagi, wah beruntung sekali orang itu." Ucap seorang wanita yang aku rasa tak ada ot*knya, masak di tabrak enak, buat aku itu musibah, tak mau mengulanginya lagi, walaupun tidur di tempat AC dan mewah sekalipun tetap saja tak enak, apalagi dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini mana mau aku, mendingan aku di rumah saja mencari uang buat menghidupi aku dan anakku, bodoh sekali dia itu, rutukku dalam hati.
" Ini adalah bentuk rasa bertanggung jawab saja sih, sebab aku lihat dia orang baru dan tinggal di depan rumahku bersama dengan anaknya yang masih kecil, dan lagian tak ada keluarga lain yang bisa menungguinya, aku sangat perihatin sebab, suaminya saja tak memperhatikan mereka, aku rasa suaminya terlalu sibuk dengan keluarganya yang lain sungguh, kasihan sekali dia." Ucap Pak Biyan dengan gamblangnya hingga membuat mataku membulat mendengar pernyataan yang tak salah itu, bagaimana dia tahu, apakah dia seorang cenayang, gumamku dalam hati membuat kepalaku tambah pening saja orang ini, sesaat aku memejamkan mata mendengar obrolan mereka itu.
" Wah kasihan ya Pak, sepertinya suaminya memang tidak peduli dengan keadaan dia, beda dengan suami baru aku ini yang mau menemani aku kemana-mana di saat aku lagi kena musibah seperti saat ini, iyakan sayang, apalagi dia menerima aku apa adanya, dia yang membiayai perawatan mamaku selama di rumah sakit ini." Ucap wanita itu dengan suara manjanya, membuat mataku membulat, mendengar celotehan wanita itu.
" Oh jadi ini suami baru kamu Wul?" tanya Pak Biyan pada wanita itu.
" Ia Pak, kami baru tiga bulan menikah lho, jadi masih hot-hotnya, dia baru saja di angkat menjadi manager di sebuah PT Buana Saputra, perusahaan milik keluarga besar Bapak juga kan." Tutur wanita itu dengan suara centilnya.
" Oh ia, wah selamat ya Wulan aku tidak tahu kalau kalian sudah menikah, habisnya kamu tak mengundang-undang kami sih." Ucap Pak Biyan.
" Maaf pak, soalnya saya janda jadi nikahnya ga perlu ramai-ramai yang penting sah saja sudah cukup kok Pak." Ucap wanita centil itu.
" Ya tentu saja Wul, aku setuju saja sih, oh ia kenakan nama saya Biyan." Ucap Pak Biyan pada pria yang belum aku lihat wajahnya itu.
" Saya Andra suami dari Wulansari." ucap Pria itu dengan suara yang sudah aku dengar sangat jelas sekali, sangat familiar di telinga ku ini, suara yang tiga tahun yang lalu selalu membuat aku terngiang-ngiang dan terharu dalam kobaran api cintanya, suara yang membuat aku bertahan walaupun aku di hina habis-habisan, suara yang membuat aku selalu menurut apa yang ia katakan.
Aku sebenarnya tak kuasa mendengarnya, aku harap aku salah dengar, dan tak kuat menahan sesak di dada ini, tetapi aku harus kuat, lirihku dengan mata terpejam.
Aku harus kuat.
Aku harus kuat.
Begitu sugesti yang aku munculkan di otakku ini, aku harus kuat untuk Dimas, aku sugesti diri sendiri supaya aku tak kehilangan kendali.
__ADS_1
Entah apa yang akan terjadi bila tirai itu nanti di buka, apa reaksinya Mas Andra nanti? apa dia akan mengakui aku sebagai istrinya atau justru sebaliknya dia pura-pura tak mengenal aku, oh sungguh menyedihkan nasibku ini, bahkan selama tiga hari ini dia membohongi aku, dia tak mengurusi Bowo yang kecelakaan, tetapi malah mengurusi wanita itu dan anaknya, ah apa kabar dengan Dimas yang selalu menantikannya tapi tak kunjung pulang, kasihan kamu Nak, lirihku dalam hati, aku sibuk dengan pikiran ku sendiri saat ini.
" O... ia Pak saya boleh lihat wanita yang Bapak tabrak itu? saya turut prihatin Pak padanya, tetapi dia beruntung di saat keluarga dia tak mempedulikan dia, eh malah sekarang Pak Bos yang turun tangan langsung menungguinya." Ucap wanita centil itu entengnya, wanita itu tipe orang yang suka blak-blakan.
" Ah kamu ini ada-ada saja, lha wong saya yang menabrak dia kok, otomatis saya yang tanggung jawab dong merawat dia sampai sembuh, aku juga turut menjaga anaknya yang masih kecil sekali sebab di rumah juga tak ada yang menjaganya, kasihan kan." Ucap pak Biyan dengan gamblangnya, di sini aku merasa Pak Biyan tahu banyak tentang aku, entah itu sengaja atau tidak yang jelas dia sepertinya tahu banyak tentang kehidupan aku, tapi itu segera aku tepis, sebab kami baru ketemu dia saja tiga hari yang lalu.
" Sini, silahkan masuk" ajak Pak Biyan, tangannya terulur ke atas untuk membuka tirai itu, tapi aku masih tertunduk saja, aku memejamkan mataku dan menghembuskan nafasku dalam-dalam untuk menguatkan hatiku yang hancur berkeping-keping, entah reaksi seperti apa yang Mas Andra perlihatkan ketika yang ada di balik tirai itu adalah istri sah dia secara hukum agama dan hukum negara.
Tirai pembatas pun di buka, dan secara perlahan-lahan aku mengangkat wajahku dan menatap ke arah dimana empat orang itu berada, mataku mengawasi pria yang masih sah sebagai suamiku itu dengan hati yang begitu perih dan tercabik-cabik.
Hati yang remuk dan mulut yang ingin berteriak dengan sekencang-kencangnya.
Tapi aku tahan diri, supaya aku bisa dapat menguasai keadaan, dan mengikuti alur permainan ini, dan permainan di mulai.
Tadi begitu sangat jelas pengakuan mereka bahwa mereka adalah sepasang suami-istri yang baru tiga bulan menikah, Wow begitu gamblang sekali pernyataan mereka tadi.
Ingin aku menangis tetapi aku tahan, mataku tak berani berkedip, sebab sekali berkedip maka sudah di pastikan air mataku pasti akan meleleh di pipiku ini.
Sorot mata pria yang masih sah menjadi suamiku itu begitu sayu, matanya membulat dan mulutnya terbuka, sepertinya dia hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat, mungkin dia tak menyangka bila wanita yang di tabrak pak Biyan itu adalah istri sahnya.
Istrinya yang terlihat menyedihkan ini telah terbaring di rumah sakit ini hingga dia tak tahu, dia mengejar kesenangan dia sendiri saja.
Dengan kaki yang masih sakit untuk berjalan, dan jidatnya masih terpasang perban, sungguh keadaan aku sangat menyedihkan bukan.
"Mitha kenalkan, ini namanya Wulan dan suaminya Andra, dia ingin menengok kamu, Wulan adalah salah satu karyawan di kantor aku Mit." Ucap Pak Biyan menjelaskan, pria tampan itu tersenyum padaku, lalu berjalan mendekat ke arah bangker yang aku tiduri, dengan posisi aku yang masih menyadarkan tubuhku di ujung brangkas tersebut.
Saat mereka mendekat dan ingin berjabat tangan dengan aku, saat itu juga aku mengangkat tubuh ini berniat untuk mengulurkan tangan ku ke wanita itu untuk memperkenalkan diri, namun dengan cepat Pak Biyan membantu aku untuk duduk tegak dengan memberikan bantal di punggungku ini agar aku merasa nyaman, sungguh perhatian yang begitu manis, apa aku perlu menggaet pak Biyan untuk menyaingi mereka, aku rasa itu ide yang bagus, aku juga tak buruk-buruk amat kok, bila aku di modali pasti aku juga bisa cantik dan centil seperti perempuan itu.
__ADS_1
Tapi sayangnya aku tidak seperti itu, sementara mata ini masih mengawasi pria yang masih menjadi suamiku itu dengan mata sorot mata penuh dengan kobaran api kemarahan, aku lagi-lagi harus mencoba menguasai diri ini untuk lebih tenang.
Aku mengikuti prosesnya, aku ingin mengikuti permainan dia, aku ingin tahu sampai di mana letak kejujurannya, rasa pedulinya kepadaku, apa hanya isapan jempol saja, atau apa aku hanya memang di anggap sebagai babu saja di rumah dia untuk menghemat pengeluaran dia yang kian hari kian membengkak, sebab gaya hidup keluarganya yang terlalu hedon itu.
Aku mencoba tersenyum, bahkan seolah tak terjadi apa-apa di sini.
Akan aku ikuti alur permainanmu ini dengan baik Mas Andra, lirik ku dalam hati.
" Saya Mitha." Ucapku sambil aku mengulurkan jemariku ke arah wanita yang bernama Wulan itu.
" Wulansari, saya adalah karyawan di kantor Pak Biyan, senang berkenalan dengan anda." Ucapnya dengan nada suara yang berbeda, tak se-centil sewaktu ngobrol sama Pak Biyan tadi, tangan lentiknya yang halus menjabat tangan yang kasar ini, aku hanya tersenyum miris, benar-benar menyedihkan kamu Mitha, selama ini sia-sia pengorbanan kamu, apa kamu masih ingin bertahan Mitha bahkan dia lebih memilih anak sambungnya dari pada anaknya sendiri, aku tertunduk sesaat.
" Kamu baik-baik saja Mitha?" tanya Pak Biyan dengan khawatir.
" Ia Pak saya baik-baik saja," balasku dengan senyum tipis.
" Kalau masih tidak enak, kita tunda dulu saja kepulangan ini ya, aku tidak mau kamu masih merasakan sakit," Ucap Pak Biyan penuh perhatian.
" Lebih baik pulang saja Pak saya kasihan sama Dimas, dia pasti merindukan saya." Ucapku sambil aku melirik ke arah pria yang masih menjadi suamiku itu.
" Ya sudah, aku mengerti." Jawab Pak Biyan, lalu pria tampan itu tersenyum dan matanya tak henti-hentinya mengawasiku, dan itu membuat aku semakin semangat ingin memanas-manasi Mas Andra dengan istri barunya itu.
" Oh ia ini suami aku lho" ucap wanita itu sambil menggeser tubuhnya menepi memberi jalan untuk Mas Andra menyalami aku, Mas Andra mendekat sambil menggendong seorang anak kecil.
Dengan tatapan yang sendu sekali mata itu menatapku terus, aku balik menatap mata itu dengan sangat tajam, Mas Andra pun akhirnya berdiri tepat di tepi ranjangku.
" Mitha?" seru Pak Biyan membuyarkan lamunanku.
__ADS_1