
Apa mau di kata, semuanya tak seperti apa yang aku inginkan tak ada yang berubah, maka pada akhirnya biarlah aku yang berubah saja.
Aku merubah keadaan, entah itu akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tetapi yang jelas akan merubah hidup aku selanjutnya.
Menyelamatkan hati aku dan anakku, sebab nantinya anakku akan tumbuh dan semakin mengerti perkataan buruk Ibu mertua, tak baik bila Ibu mertua terus-terusan mencaci aku di depan anakku sendiri, itu tidak baik bagi pertumbuhan mentalnya kelak.
Aku tidak mau anakku nanti tumbuh menjadi anak yang kasar dan tak punya adab terhadap orang tua, itu tidak baik.
Keputusan aku ambil sudah aku pikirkan masak-memasak.
Syukur Alhamdulillah, akhirnya aku bisa pindah juga dengan uang tabunganku, walaupun aku keluar banyak untuk menyewa sebuah rumah yang harga sewanya agak miring sekaligus sebagai tempat usaha, aku mendapatkan rumah sewa ini di kampung sebelah, rumah sederhana dengan dua kamar lengkap dapur dan satu kamar mandi.
Dan sekarang aku di sini, di rumah kontrakan yang akan aku huni tiga tahun ke depan, tentunya harganya lebih murah di bandingkan dengan yang lain.
Rumah ini termasuk murah harga sewanya, sebab pemiliknya lagi butuh uang jadi sudah lama tak di huni jadi di kontrakan dengan sewa yang terjangkau.
" Dimas kamu bangun Nak," aku usap muka anakku yang terlihat kuyu sekali sebab baru bangun dari tidurnya.
Tubuhnya menggeliat dan merengek minta minum susu.
" cucu mimi cucu Buu (susu minum susu Bu)" katanya sambil merengek tiada henti.
" Ia Nak, bentar ya?" hibur ku, aku membongkar tas jinjing yang aku bawa tadi, yang berisi susu formula anakku dan termos kecil yang bisanya aku bawa bila sedang berpergian bersama Dimas.
" Bentar ya Nak," ucapku sambil aku usap rambutnya yang hitam legam.
" Duduk sini dulu, ibu akan membuatkan kamu susu dulu ya?" suruhku padanya, dengan keadaan lemas dia nurut perkataan aku, lalu dia duduk di tikar yang aku beli dan bersandar di tembok, dan aku berikan beberapa mainan untuk menghiburnya, sebab aku tinggal sebentar untuk membuatkan susu buat Dimas.
__ADS_1
Selesai aku membuatkan susu aku balik ke kamar dan mengarahkan dot sedang itu ke arah Dimas.
Senyumnya seketika merekah ketika melihat aku membawa botol susu yang berisikan susu formula kesukaannya, dan diapun menyambutnya.
" Ini sayang susunya sudah jadi, tinggal di minum saja." Ucapku sambil aku goyang-goyangkan susu itu di depannya.
Dengan mata berbinar Dimas mengambil botol itu lalu membawanya dan duduk bersandar di tembok sambil menghisap botol susu itu dengan senang, tak henti-hentinya dia bilang "enak-enak" ucapnya dengan wajah yang riang.
Melihatnya tersenyum bahagia, adalah suatu kebahagiaan tersebut buat aku.
"Untung kamu tidak rewel Nak, jadi Ibu bisa menyambi kerja nanti, jangan rewel ya?" ucapku lirih sambil ku usap rambutnya yang hitam dan tebal itu.
Di tengah-tengah aku bercanda ria dengan Dimas tiba-tiba suara ketokan pintu membuyarkan keceriaan kami.
Tok-tok-tok, " Assalamu'alaikum" terdengar suara dari arah luar.
Dengan sedikit berlari aku keluar menuju pintu utama, dan ternyata di sana sudah ada dua orang pria paruh baya yang datang membawa tas perkakas, sepertinya ini tukang yang akan membantu aku untuk renovasi, teras depan. Sebab sebelum aku pulang kemaren aku sudah memesan orang lewat temanku Titi yang membantu aku mendapatkan rumah ini, untuk membersihkan rumah sekalian renovasi teras.
" Maaf dengan mbak Mitha ya?" tanya seorang pria paruh baya yang ada di depan pintu rumah ku.
" Ia Pak, Bapak yang di minta mbak Titi untuk membantu saya ya pak?" balasku dengan menebaknya.
" Ia Mbak, saya Maman dan ini Ujang yang akan merenovasi rumah ini mbak." Ujar pak Maman.
" Baik Pak untuk hari ini saya minta bantuan Bapak untuk beberes dulu ya, setelah itu baru merenovasi teras depan." Ucapku memberi tahu.
" Baik Mbak," ucap pak Maman.
__ADS_1
Setengah hari ini kami di sibukkan dengan membersihkan isi rumah, selesai itu pak Maman dan pak Ujang gantian merenovasi teras depan untuk di jadikan tempat laundry.
Kemaren aku sudah mencicil sedikit peralatan dapur, terutama kompor dan gas,
peralatan inti saja yang aku beli saat ini.
Aku membeli barang-barang yang di butuhkan saja, nanti kalau hasil dari laundry aku sudah banyak aku akan membeli satu persatu peralatan masak dan dan meja tamu, saat ini aku hanya membeli tiker saja beberapa, dan kasur tipis untuk Dimas biar tidurnya tidak rewel.
Hari menjelang sore tukang yang merenovasi teras depan sudah pulang, dan akan di lanjutkan besuk pagi.
Dan sedari tadi aku juga belum menghidupkan ponselku, pasti Mas Andra bingung mencari aku, walaupun malam itu kami sempat bertengkar, tetapi aku wajib memberi tahu padanya.
Aku enggan menghidupkan ponselku sebab aku malas bila mertua dan anaknya Sinta itu meneror aku dengan kata-kata kasarnya, tetapi mau tak mau aku harus menghidupkan ponselku biar Mas Andra tak khawatir dengan keadaan Dimas.
Setelah aku menyalakan ponselku begitu banyak notifikasi pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari ibu mertua, Sinta dan Santi, tentu saja Mas Andra juga telpon beberapa puluh kali, aku jadi merasa bersalah dengan keadaan ini, akhirnya aku pun menelepon dia saja, dan aku tak peduli yang lain.
" Assalamu'alaikum Mas" Ucapku yang merasa bersalah.
" Waalaikum salam, ya Allah Mitha akhirnya kamu telpon juga sayang, Mas rasanya mau nangis ketika kamu tidak bisa di hubungi, sekarang dia mana kamu sayang? Mas khawatir dengan kalian." Ucap Mas Andra yang membuat aku haru sekali, ternyata sikap dia beda jauh dengan Ibunya dan adiknya yang sadis itu.
" Maafkan aku Mas, aku nekat pergi dari rumah kamu, seperti yang sudah aku bilang kemarin Mas, aku sekarang sudah berada di rumah kontrakan dan maaf aku tidak bisa kembali ke sana, bila Mas Andra mau ke sini, nanti aku share lokasi ya Mas, Mitha tidak memaksa Mas untuk tinggal di sini, bila Mas Andra kangen Dimas saja, silahkan ke sini Mas. " Ucapku dengan pasrah, aku sudah mengikhlaskan semua nantinya yang akan terjadi sebab aku sudah tak kuat tinggal di sana, di paksa pun aku tak akan mau.
" Ia Dek, maaf ya Mas belum bisa susul kamu sekarang, yang terpenting adalah kalian baik-baik saja dan tolong jaga diri dan Dimas ya Dek." Ucapnya.
" Mas akan ke sana bila masalah Bowo sudah selesai." Imbuhnya lagi.
" Ia Mas, jaga kesehatan ya Mas, dan jangan lupa makan." Balasku menasehatinya.
__ADS_1
" Ya sudah Dek terimakasih, Mas tutup dulu ya sayang, Mas lagi di rumah sakit, dan jangan lupa kamu juga makan ya dan jaga Dimas." Ucap Mas Andra mengakhiri sambungan telponnya.