Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Antara Senang dan Cemas


__ADS_3

Dio pun terkekeh mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Akio.


"Aku ini seorang pria Kio bukan seorang wanita yang harus kamu kawatirkan segitunya. Aku ini pandai bela diri, renang, lari maraton, aku pun bisa menggunakan senjata api, tenaga ku pun besar, serta aku pun seorang seorang hacker handal. Apa yang harus aku khawatirkan disana? Tujuanku kesana pun untuk membawa kembali separuh jiwa ku. Jadi aku pun tidak akan gentar akan apa yang harus aku hadapi setelah tiba di sana," ucap Dio dengan penuh keyakinan.


Akio yang mendengar penuturan dari Dio pun terlihat manggut-manggut membenarkan ucapan sahabat nya tersebut.


"Benar juga ucapan mu. Untuk apa aku mengkhawatirkan badjingann tengik seperti mu," ucap Akio dengan mengejek Dio.


"Aku akan membuat perhitungan terlebih dahulu kepada papa Vania sebelum aku benar-benar pergi menuju ke Kalimantan. Biar papa Vania tidak bisa berkutik kembali," ucap Dio dengan menatap tajam ke arah jendela.


"Baiklah, aku akan terus membantumu kali ini. Kamu tenang saja orang tua aku juga lebih kaya raya dari papa Vania, dan relasi ke dua orang tua ku pun sangat banyak dan luas. Kamu tidak usah cemas karena kali ini aku tetap akan membantumu bagaimana pun cara nya. Kamu butuh alat canggih apa dari hasil penemuan ku terbaru?",


"Kali ini aku sedang mengembangkan sebuah chip kecil yang di lengkapi oleh gps yang juga bisa di gunakan untuk melakukan panggilan darurat ke markas ku walaupun tanpa internet sekalipun. Alatku ini sangat cocok untuk kamu gunakan ketika berada di Kalimantan nanti," tutur Akio dengan menjelaskan produk baru nya tersebut.


"Itu bukan uji coba produk gagal kan??" ucap Dio dengan menatap penuh selidik ke arah Akio.


"Belum aku uji cobakan. Hehehhe," jawab Akio dengan terkekeh.


"Kamu uji cobakan dulu lah. Kalau sudah berhasil baru kamu berikan ke aku. Jangan membuatku sudah jatuh kemudian tertimpa tangga lagi karena alat temuan kamu itu," ucap Dio dengan menatap jengkel pada saat sahabat nya yang tak kalah usil tersebut.


"Iya ya baiklah kamu tenang saja," ucap Akio dengan menepuk pundak Dio.


"Kamu duduklah saja jangan ikut menggangguku dalam mengerjakan pekerjaan ku. Atau sana pulang lah dulu sana. Aku masih sibuk dan tidak ada waktu untuk meladenimu. Besok datanglah lagi kemari," ucap Dio dengan berdiri dan kemudian menarik tubuh Akio agar segera keluar dari ruang kerja nya tersebut.


"Hish, kamu enggak asik. Yasudah aku pulang lebih dulu. Besok aku kesini lagi," ucap Akio dengan melenggang keluar dari ruang kerja Dio.

__ADS_1


"Ya, pulanglah sana," ucap Dio dengan segera menutup pintu ruang kerja nya agar lebih fokus lagi dalam mengerjakan seluruh pekerjaan nya tersebut.


"Dio menyebalkan!" umpat Akio dengan segera menuruni anak tangga.


Akio pun nampak melihat mama dan papa Dio yang sedang sibuk memberikan instruksi kepada seluruh penjaga nya tersebut dengan wajah serius.


Dengan segera Akio mendekat ke arah orang tua Dio.


"Ma ... pa ...Akio sudah menyiapkan mobil Anti peluru untuk kalian bepergian dan setelah ini akan Akio kirimkan setelah ini menuju kemari. Jadi akan aman dari tembusan segala jenis tembakan peluru. Namun harus lebih hati-hati agar tidak di tabrak atau menabrak sesuatu yang lain. Berkendara di keramaian saja ma pa agar lebih tetap aman dari intaian musuh," ucap Akio dengan ikut duduk di dekat papa dan mama Dio.


"Terimakasih ya nak atas bantuan nya. Kenapa Amel tidak di ajak kesini sekalian?" tanya mama Dio.


"Amel masih belum mau kemari sebelum ada titik terang tentang sahabatnya itu ma. Galau terus dia selama tidak ada tanda-tanda keberadaan Aninda," ujar Akio dengan jujur kepada kedua orang tua Dio.


"Iya mama paham. Ini semua awalnya juga karena anak mama tengil itu kan yang terus menerus membuat masalah," tutur mama Dio kemudian.


"Iyaa kamu berhati-hati lah di jalan yaa," jawab mama Dio yang kemudian di balas dengan anggukan pelan oleh Akio.


Akio pun kemudian melajukan mobilnya dengan segera dan kembali menuju ke rumah orang tua Amel yang telah di sambut oleh Amel dengan wajah di tekuk.


"Kenapa sayang?" tanya Akio dengan mencium kening istrinya tersebut.


"Kamu dari mana sih tiba-tiba menghilang begitu saja?" tanya Amel masih dengan wajah cemberutnya.


"Habis cari angin, kamu sudah selesai kuliah daring nya?" tanya Akio kepada istrinya.

__ADS_1


"Aku bolos kuliah daring. Lagi males, bawaan nya pengen tiduran terus," ucap Amel dengan menggandeng lengan suaminya kembali menuju ke kamar nya.


"Yasudah tidur lagi, biar aku temani," jawab Akio yang kemudian ikut merebahkan diri di samping Amel.


Tak lama kemudian Amel pun sudah kembali tertidur dengan sangat lelap dan nyenyak. Akio pun kemudian keluar dari dalam kamarnya dengan mengendap-endap agar Amel pun tidak kembali terbangun.


Tak lupa Akio pun terlihat berpamitan kepada kedua mertua nya dengan mengatakan akan mulai meninjau hotel baru yang ada di pusat kota Sleman yang tidak jauh dari kawasan universitas-universitas ternama di daerah itu.


Hotel baru milik keluarga Akio tersebut pun masih dalam tahap pembangunan yang sebentar lagi akan segera jadi dan hanya tinggal finishing saja.


Hingga tak lama kemudian Akio pun terlihat sampi di hotel baru milik keluarga nya tersebut dan segera menuju ke dalam ruang rahasia miliknya di dalam hotel tersebut.


Akio pun terlihat membuka ruangan nya tersebut menggunakan sensor sidik jari serta iris mata miliknya dan tak lama kemudian ruangan tersebut pun nampak terbuka dengan sendirinya.


"Selamat siang tuan Akio," salam dari robot manusia milik Akio yang berpenampilan sangat cantik tersebut menyambut kedatangan pemiliknya.


Akio pun dengan cepat segera membuka kunci akses untuk membuka sistem layar monitornya yang telah di lengkapi oleh banyak sistem keamanan yang telah di bantu oleh Dio waktu itu.


Akio pun terlihat sibuk menyempurnakan kembali chip tanam yang sedang ia kembangkan tersebut. Sembari berfikir identitas siapa yang akan Akio berikan untuk sahabat nya tersebut selama. menuju ke pulau Kalimantan tersebut.


"Identitas siapa ya? Apakah sebaiknya aku gunakan identitas milik tangan kanan papa yang asli dari suku Dayak? Ah sepertinya bukan ide bagus karena Dio pun tidak menguasai bahasa Dayak dan akan sangat kentara jika Dio sedang menyamar," gumam Akio yang nampak bingung memikirkan identitas baru untuk Dio selama menuju ke pulau Kalimantan.


Sedangkan disisi lain Dio yang telah berusaha memulihkan rekamanan cctv tersebut pun terlihat sangat senang.


"Yes! Akhirnya sudah berhasil aku pulihkan!" pekik Dio dengan perasaan tak karuan.

__ADS_1


"Semoga usaha ku ini tidak mengkhianati hasil," ucap Dio dengan menekan tombol klik untuk membuka rekaman cctv tersebut dengan hati berdebar antara senang dan cemas.


__ADS_2