Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Karma Akano


__ADS_3

Akio pun merasa lega mendengar kabar bahwa Aninda pun telah di temukan dan belum terlambat. Akio pun nampak mondar-mandir di dalam ruangan nya tersebut dan merasa bingung untuk menjelaskan kepada Amel dan mama nya tentang masalah yang sedang di alami oleh Aninda tersebut.


Dengan tekat bulat, Akio pun menuju ke ruang keluarga yang mana nampak sang mama dan Amel yang sedang melihat acara televisi.


Akio menduduk kan tubuh nya tersebut dengan menghela nafas panjang dan raut muka yang nampak bingung serta bimbang.


"Kamu kenapa lagi?" tanya mama Akio yang tampak melirik dan melihat wajah putra nya tersebut.


"Ma, Mel ... " ucap Akio dengan lirih.


"Hem??" jawab sang mama.


Sedangkan Amel pun nampak hanya melihat wajah Akio namun tidak menyahuti.


"Aninda tadi siang di kampus di culik seseorang ..." tutur Akio


"Apa?! Yang bener kamu Kio?? Dimana keberadaan Aninda sekarang?? Sudah ditemukan atau belum??" tanya mama Akio dengan raut muka panik begitu juga Amel.


Kemudian Akio pun mulai menceritakan awal mula kejadian hingga Aninda yang ditemukan dengan selamat tersebut.


"Astaga, bagaimana keadaan Aninda saat ini? Apakah Aninda trauma berat? Butuh dampingan psikeater atau tidak? Ayo kita tengok Aninda sekarang!" pekik mama Akio dengan segera berdiri hendak bersiap.


Namun Akio pun segera mencegah sang mama untuk menengok Aninda saat ini juga.


"Kita jangan datang sekarang ma. Aninda butuh istirahat," ucap Akio yang sangat mengerti jika tubuh Aninda pasti masih dalam pengaruh obat laknat tersebut.


"Pasti ini Dio sedang melakukan gaya ala menunggang kuda atau bisa jadi Dio sendiri lah yang sedang ditunggangi oleh Aninda itu. Harus nya sih jika Dio otak nya cemerlang sudah pasti memanfaatkan situasi sebaik mungkin untuk mengikat hubungan nya dengan Aninda itu selangkah lebih maju," gumam Akio di dalam hati sembari tersenyum sendiri.


"Astaga Akio, kamu sedang memikir kan apa sih sampai senyum-senyum sendiri begitu?" ucap mama Akio dan membuyarkan lamunan Akio tersebut.

__ADS_1


"Kita tengok besok saja ma, nunggu kabar selanjutnya dari Dio dulu. Aku lelah mau ke kamar dulu ya ma," ucap Akio yang menjadi sering mengantuk tersebut.


Sedangkan di satu sisi, Akano pun nampak di habisi oleh Edrick dengan tanpa ampun.


"Akan aku lenyapkan kekuasaan mu disini hingga habis tak tersisa. Jangan harap kamu masih bisa hidup bergelimang harta dan menghirup udara bebas lagi. Karena saat ini kamu lah yang akan aku jual ke budak se* yang mampu menerima lubang belakang mu untuk di sodok dengan pedang panjang para anjing di pasar gelap sana!" ucap Edrick dengan tatapan mengerikan nya.


"Jangan tuan Edrick. Ampuni saya yang telah lancang ini. Jangan jadikan saya budak se* untuk mereka yang ada di pasar gelap," ucap Akano dengan memohon dan menahan kaki Edrick tersebut.


"Terima akibat dari apa yang telah kamu tanam tersebut. Aku tidak ingin melihat wajah mu lagi,"


"Penjaga! Segera seret orang ini agar di persiapkan untuk di jual di lelang pasar gelap lusa berikutnya. Beri pelatihan untuk mengasah lubang belakang nya tersebut agar terbiasa menerima sodokan dari milik kalian yang ingin mencicipi milik lelaki hina itu! Buat lelaki itu te rang sang selama berhari-hari agar kuat melayani kalian seperti anjing gila!" titah Edrick yang kemudian pergi meninggalkan Akano bersama dengan seluruh anak buah nya tersebut.


Setelah kepergian Edrick, beberapa anak buahnya pun nampak mendekati Akano dan dengan segera mereka pun me ne lan ja ngi tubuh Akano.


Akano pun nampak di cekoki oleh obat pe rang sang hingga tubuhnya pun menjadi menggeliat hebat dan dengan brutal nya beberapa anak buah Edrick tersebut nampak me ru da pak sa Akano dari lubang belakang milik nya tersebut secara bergantian.


Bahkan permainan dari mereka pun cenderung kasar dan nampak menjambak dan memasuki mulut Akano tersebut dengan pedang panjang mereka dengan sangat brutal tanpa memperdulikan Akano yang nampak terbatuk karena tersedak oleh pedang mereka.


Dengan segera Akano yang nampak terkapar pun segera di bawa ke kamar khusus untuk para pengkhianat atau pun tahanan di markas milik Dio tersebut.


Kamar yang sangat sempit dan pengap tanpa ada nya fentilasi. Dan Akano di bawa keruang tersebut pun bukan untuk mereka bawa agar beristirahat.


Melainkan agar bisa segera di cicipi oleh anak buah Edrick yang lain nya secara bergantian hingga rasa nya Akano pun sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup di dalam markas milik Edrick tersebut.


Disisi lain, Dio yang nampak terbangun dari tidur lelapnya di tengah malam pun menjadi termenung melihat keadaan Aninda tersebut.


Hati Dio pun nampak sangat sakit sekali melihat kondisi yang di alami oleh Aninda tersebut.


Untung saja Aninda belum benar-benar terjamah oleh Akano. Walaupun tubuh Aninda nampak telah di penuhi bekas warna kemerahan akibat cupangan dari Akano tersebut.

__ADS_1


Dengan segera Dio pun mengambil hp nya dan nampak menelepon seseorang dari balkon kamar apartemen nya tersebut dengan menyulut rokok.


"Hallo, gimana dengan bajingan itu Ed?" tanya Dio dari sebrang teleponnya tersebut.


"Tenang saja, Akano telah aku beri hukuman yang setimpal dengan apa yang telah ia perbuat. Akano telah aku serahkan kepada anak buahku agar dapat di gilir oleh seluruh anggota ku yang ingin menjamah tubuh Akano tersebut. Besok lusa Akano akan aku jual sebagai budak pe muas untuk para anjing gila di pasar gelap yang biasa menghentakkan pedang mereka dengan sesama pedang. Usaha club' malam nya pun telah di gerebek oleh pihak kepolisian karena mempekerjakan anak di bawah umur dan banyak di temukan di antara pengunjung yang sedang melakukan pesta narkoba ketika terjadi penggerebekan tersebut. Usaha nya kini telah ditutup permananen oleh pihak berwajib," tutur Edrick menjelaskan secara rinci.


"Baiklah terimakasih atas bantuan nya Ed," ucap Dio.


"Bagaimana keadaan Aninda saat ini?" tanya Edrick.


"Aninda masih tertidur dengan pulas," jawab Dio dengan melirik ke arah Aninda yang nampak masih tertidur dengan sangat lelap tersebut.


"Sudah kalian lakukan berapa ronde?" goda Edrick kepada Dio.


"Kamu itu ngomong apa sih Ed," ujar Dio yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku tau dosis yang di berikan Aninda itu bukan dosis ringan. Jadi tidak cukup hanya dengan berendam atau hanya dengan satu hentakan jari saja kan?" ucap Edrick yang masih nampak menggoda Dio.


"Sudah berkali-kali bahkan tidak terhitung jumlah nya. Sudah puas kan Ed dengan jawabanku? Jangan mancing-mancing pertanyaan lagi," pinta Dio.


"Kamu sendiri sudah puas belum merasakan ronde berkali-kali itu? Kalau masih belum puas coba kau sentuh lagi Aninda itu pasti dia pun masih akan merespon sentuhan kamu dengan cepat," ucap Edrick dengan nampak terdengar gelak tawanya.


"Dasar nggak punya akhlak! Kamu dengan Akio sama mesum nya!" pekik Dio.


"Kamu tadi memasukkan cairan kamu di dalam atau di luar sewaktu melakukan nya itu?" tanya Edrick yang membuat Dio tersadar.


Aku masukkan di dalam atau di luar ya? Seingatku milikku rasanya selalu berkedut nikmat. Seperti nya aku pun memasukkan cairanku itu di dalam karena Aninda pun dengan cepat segera memompa milikku kembali dengan sangat cepat dan buas sehingga milikku pun sama sekali tidak sempat untuk aku keluar kan dari lembah surgawi milik Aninda yang ikut membuatku ingin rasa nya mengulang lagi dan lagi.


"Hallo, pasti kamu memasukkan semua nya di dalam milik Aninda kan? Ckckck. Mungkin sebentar lagi akan ada pernikahan dadakan kembali di antara kita," ujar Edrick yang bisa membaca dengan jelas apa yang telah Dio lalui tersebut.

__ADS_1


"Hah sudahlah, kamu membuatku pusing kembali!" pekik Dio yang kemudian menutup telepon tersebut secara sepihak.


__ADS_2