
Disepanjang perjalanan menuju ke pulau Lemukung, Dio bersama Bapak di sebelahnya tersebut.
"Biasanya pelancong yang berwisata ke daerah kami di izinkan untuk tinggal menginap di rumah warga atas izin dari saya mas. Karena saya merupakan tetua di kampung kami. Mas nya nanti menginap di rumah saya saja mas. Gratis asalkan mau sedikit membantu penduduk kami," tutur Bapak tersebut menjelaskan.
Dio pun nampak berfikir dan seperti tak ada pilihan lain mau tidak mau tetap harus menginap. Karena perjalanan menuju ke pulau Lemukung saja membutuhkan waktu tiga jam. Belum lagi transportasi hanya ada dua kali bus saja yang lewat menuju ke pulau tersebut dalam sehari.
"Baik lah Pak saya siap untuk membantu warga setempat," jawab Dio dengan terus melihat kiri kanan jalanan yang di lalui nya.
"Panggil saya Abah Saleh saja," tutur Abah Saleh ketika bus yang di tumpanginya telah tiba di pulau Lemukung.
"Baik Bah," jawab Dio dengan segera.
Tak lama kemudian bus pun terlihat berhenti di sebuah terminal kecil di kampung tersebut.
Abah Saleh pun terlihat memberikan instruksi kepada Dio untuk segera mengikuti langkahnya. Dio pun dengan tanggap segera mengikuti kemana pun langkah Abah saleh yang kemudian terlihat menaiki sebuah becak.
"Ayo naik nak, siapa nama kamu?" tanya Abah Saleh kemudian.
"Nama saya Dio, Bah. Papa saya orang Bali, sedangkan Mama saya orang Jawa asli," jawab Dio dengan segera menaiki becak tersebut dan duduk di sebelah Abah Saleh.
Abah Saleh pun terlihat menganggukkan kepalanya kembali dan terlihat fokus dengan jalan yang di lalui nya.
Hingga tak lama kemudian becak tersebut pun nampak berhenti di sebuah rumah panggung yang terlihat lebih besar dari rumah panggung lain nya.
"Ayo turun nak. Kita telah sampai di rumah Abah," ujar Abah Saleh dengan membayar ongkos becak tersebut.
"Biar saya saja yang membayarnya Abah. Uang milik Abah di simpan saja buat anak dan cucu Abah," ucap Dio yang langsung memberikan lembaran uang seratus ribu kepada tukang becak tersebut.
__ADS_1
"Mas, ini kebanyakan?" ucap tukang becak tersebut.
"Kembalian nya buat mas nya saja. Terimakasih sudah di antarkan kesini hingga selamat mas," jawab Dio yang kemudian mengikuti Abah Saleh yang telah menaiki tangga rumah panggung nya tersebut.
"Terimakasih mas!" teriak tukang becak tersebut dengan tersenyum senang karena mendapat kan tips banyak.
Dio pun terlihat di sambut dengan baik oleh keluarga Abah Saleh. Dio malam itu bahkan sudah terlihat sangat akrab hingga Dio pun terlihat di ajak sanak saudara Abah Saleh untuk melaut guna menjala ikan.
Dio pun menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Hingga tengah malam mereka pun benar-benar terlihat menjala ikan dengan kapal perahu kecil-kecil milik warga setempat.
Hingga pagi menjelang, perahu-perahu milik warga setempat pun segera kembali menuju ke darat dan kemudian memilah-milah hasil tangkapan mereka.
Termasuk Dio yang begitu antusias memilah ikan dan tidak terlihat memperhatikan sekeliling nya.
Padahal tidak jauh dari tempatnya tersebut terlihat Ayah Aninda yang juga tengah memilah hasil tangkapan jala nya yang sama-sama tidak saling memperhatikan.
Hingga tak lama setelah itu Ayah Aninda pun terlihat kembali begitu saja dengan membawa hasil tangkapan ikan nya menuju ke rumah nya.
Disisi lain terlihat Aninda yang telah berganti nama menjadi Liliana tersebut nampak terlihat sibuk mengajar anak-anak setempat dengan di bantu oleh mahasiswa yang baru datang dari kota untuk melakukan kegiatan KKN di kampung nya tersebut.
Sebanyak sembilan mahasiswa yang terdiri dari lima mahasiswa putra dan empat mahasiswa putri.
Satu mahasiswa yang bernama Aris pun terlihat terus mengamati cara mengajar Liliana yang terlihat sangat terampil dalam mengajar.
Pandangan Aris pun kemudian bertumpu dengan perut Liliana yang terlihat membuncit.
"Sayang sekali telah bersuami," gumam Aris dengan rasa kecewa yang menjalar di hati nya begitu mengetahui seseorang yang telah menarik perhatian nya tersebut tengah hamil.
__ADS_1
"Ehem!! Jangan di lirik terus ingat mbak Liliana perutnya sudah terlihat besar tuh," ucap salah satu teman Aris.
"Tapi aku dengar gossip dari saudara ku asli orang sini itu mbak Liliana belum punya suami. Kasihan, hamil karena korban pemerkosaan," bisik teman Aris yang memiliki saudara asli penduduk di kampung tersebut.
Semua yang mendengar cerita tentang Liliana tersebut pun nampak terlihat iba.
"Kasihan ya, cantik dan pintar begitu harus menanggung beban sebesar itu. Syukur jika bayi nya tidak di gugurkan," bisik teman Aris yang lain lagi.
"Sudah kalian jangan banyak bergosip. Ayo lekas bantu mengajar di kelas lain nya," ucap Aris yang kemudian segera bergegas memasuki kelas dimana Liliana berada.
Aris pun terlihat meminta izin untuk mengambil alih kelas tersebut dan meminta Liliana untuk duduk manis di kursinya tersebut.
Aris pun menggantikan tugas Liliana hingga Akhir. Sedangkan Liliana pun terlihat melihat Aris yang terlihat sengaja membuatnya hanya duduk melihat mengamati dan mendengar saja.
Hingga pelajaran usai dan mahasiswa KKN yang lain sudah nampak kembali ke posko, namun berbeda dengan Aris yang masih setia membantu Liliana bersama dengan anak-anak yang lain nya memetik sayuran yang telah siap panen di lahan dekat sekolahan mereka yang telah di kelola oleh Liliana bersama anak didiknya tersebut.
Sesekali terlihat Aris yang mencoba mencari perhatian kepada Liliana. Namun Liliana pun nampak tidak menanggapi nya perhatian nya sama sekali.
Hingga setelah mereka selesai memetik sayur, nampak Liliana dengan segera membawa bak sayuran hasil panen nya tersebut menuju ke rumah Abah Saleh.
Di tempat Abah Saleh tersebut lah segala jenis sayur mayur dan ikan hasil tangkapan yang telah di keringkan itu kemudian di beli oleh Abah Saleh untuk di jual kembali ke kota.
Liliana yang masih ditemani oleh Aris pun terlihat menimbang sayur mayur ditempat Abah Saleh yang kemudian anak buah Abah Saleh pun segera membayar hasil panen tersebut.
Liliana yang telah menerima uang hasil panen pun segera membalikkan tubuhnya kembali menuju ke sekolah untuk di hitung sebagai uang khas milik sekolah.
"Nah, itu wanita muda yang saya maksud mas. Jika wajahnya terawat sih seperti nya mbak Liliana itu sangat cantik sekali. Namun wajah mbak Liliana seperti sengaja di buat terlihat jelek dan tidak terawat," ucap Abah Saleh kepada Dio.
__ADS_1
Dio pun terlihat termenung dan menatap punggung Liliana yang terasa sangat tidak asing lagi baginya.
Tanpa Dio sadari dirinya pun terlihat melangkah mengikuti langkah wanita muda tersebut dengan perasaan berdebar tak karuan.