
Sepanjang perjalan wajah ayu itu terlihat masam bila berhadapan dengan aku, tetapi akan bersikap manis bila sudah bercanda dengan Malika dan Dimas, mampus kau Biyan cari masalah saja, pernikahan kurang menghitung hari saja kamu tak dapat membuat Mitha rileks, malah membuat masalah baru, gerutu Biyan dalam hati.
Perjalanan berangkat ke butik kami lewati dengan keheningan saja, Malika yang tertidur pulas di pangkuan Mitha sementara Dimas lagi asik menonton film kartun kesukaannya di belakang.
" Kita sudah sampai" ucapku ketika kami memasuki sebuah ruko yang nampak terlihat begitu megah, ruko itu bertingkat tiga, dengan napak di depannya seorang satpam napak berjaga di depan pintu utama ruko tersebut, yang di lapisi dinding kaca dan pintu transparan pula.
Lalu kamipun turun dan segera masuk untuk melakukan fitting baju yang akan kami kenakan nanti di acara yang sakral itu. selama perjalanan calon istri ku itu masih saja cemberut saja padaku, aku tahu dia marah padaku, gara-gara Malika memanggil dia Mama di depan Siti dia jadi marah padaku, mungkin dia malu belum apa-apa sudah di ajarin panggil Mama, biasanya begitu kilahnya bila aku menanyakan kenapa marah padanya.
Urusan di butik cukup memakan banyak waktu, karena hari semakin larut malam kami putuskan untuk langsung pulang saja, sebab anak-anak sudah terlihat kelelahan menunggu kami tadi, lagipula aku ada perasaan tak nyaman melihat calon ibu dari anakku sedang merajuk tak menentu, akhirnya aku memutuskan beli makanan dan di bawa pulang saja, dan ketika sampai di depan rumah aku berinisiatif untuk mengajak Dimas menginap di rumahku, Mitha dengan halus melarang Dimas untuk aku bawa, hatiku jadi deg-degan saja bila merasa dia dalam Mode marah kaya gini, kalau Mitha sudah marah padaku haduh aku pastikan aku tak akan dapat konsentrasi sampai dia bisa memaafkan aku, bahkan membuat aku stress sendiri.
" Besuk Mas masuk siang dek, tidak apa-apa kalau Dimas tidur sama aku," ucapku membujuknya dengan lembut.
" Maaf Mas, sebelum kita resmi lebih baik Dimas sama aku aja, aku tak enak merepotkan Mas Biyan." Kilahnya lagi menolak tawaranku, padahal Dimas selalu anteng bila bersama ku, anak itu tak merepotkan sama sekali.
" Tidak merepotkan kok dek, bagaimana nanti kamu mengurusi kedua bocah itu, Malika dan Dimas secara bersamaan, kalau malam pasti merepotkan" tanyaku dengan lembut.
" Bisa kok Mas, Dimas tidak akan rewel dia kan sudah tidur di ranjang dia sendiri, Malika saja paling yang minta susu di tengah malam, ga masalah buat aku." Ucapnya beralasan.
" Ya, sudah tapi nanti malam telpon Mas saja ya, bila kamu butuh bantuan." Kataku lalu mengalah padanya.
Mitha hanya mengangguk dan keluar dari dalam mobil, sementara Siti ikut membantu Mitha membawa barang-barang bawaan milik Mitha semua.
__ADS_1
Aku hanya menatapnya dari dalam mobil, aku berharap Mitha dia tak lama marahnya sama aku, tadi saja sudah ogah-ogahan di ajak untuk fitting baju, dia selalu berkecil hati bila pada cibiran orang sekitar kami yang selalu merendahkan dirinya, dan itulah penyebab dia tak bersemangat untuk menjalani ini semua, yang jelas aku memaksakan dirinya untuk segera menikah dengan aku.
Malika memang sudah nyaman bersama Mitha dari pada Siti, bila sudah bersama Mitha, Malika tak mau bersama dengan orang lain.
Siti akhirnya ikut tidur di rumah Mitha, tapi di ruangan lain, takutnya nanti kalau ada apa-apa Siti bisa membantu Mitha mengurus bocah kecil itu.
Aku menghela nafas ku dengan kasar, lalu aku memajukan sedikit mobilku untuk mencapai pintu gerbang rumahku.
Ku teka klakson mobil dua kali agar pintu gerbang di buka, tak berapa lama Pak Ujang terlihat menarik pintu gerbang sambil mengangguk sopan ke arah ku, lalu perlahan-lahan mobilku masuk ke dalam halaman rumah, dan aku langsung memarkirkan mobil sport itu di garasi samping yang ada di sebelah rumah utama, ketika aku sudah mematikan mesin mobil, rasanya ada yang janggal, aku melihat mobil yang sudah tak asing bagiku terparkir di bagian ujung garasi luar ini, ngapain dia ke sini? Huft cari masalah saja, aku menggerutu sepanjang akan turun dari dalam mobil.
Aku melangkahkan kakiku menuju pintu utama dan aku membuka pintu yang tak terkunci itu, tumben tak di kunci sama Bu Pur, aku edarkan pandangan untuk melihat sosok yang aku cari, tetapi tak ketemu juga.
Dan ketika aku mau masuk ke dalam kamarku, aku terperanjat melihat sosok wanita bergaun sexy tidur terlentang di atas kasur milikku, sengaja pose tubuh wanita itu di buat menantang pria untuk mendekat padanya, lalu pria itu dengan mudah dapat dia taklukkan dengan seribu cara jeratan wanita n*kal macam dia itu.
Aku tersenyum miring melihat aksi wanita itu lalu aku berjalan mundur dari ambang pintu tanpa menutupnya, aku ayunkan langkah kakiku menuju dapur mencari Bi Pur yang biasanya menguasai seisi rumah ini, dan entah mengapa dia mengijinkan wanita m*rahan itu masuk ke dalam kamarku begitu saja tanpa ijin dariku, aku berharap cctv berjalan dengan baik, dan aku tak perlu pusing-pusing menjelaskan semuanya pada Mitha nantinya bila wanita li*r itu memfitnahku.
Ketika Bi Pur tak kunjung aku temui lalu aku meraba ponsel yang ada di saku bajuku dan aku cari nomor ponsel My wife
Tuttt tuttt sambungan telpon sudah tersambung tetapi belum ada yang mengangkat juga, aku gelisah dan kembali keluar rumah lewat pintu samping yang langsung terhubung dengan taman.
Akupun kembali beralih menghubungi Siti... tak selang berapa lama pengasuh dari Malika itupun langsung mengangkat telpon ku.
__ADS_1
" Siti!" teriakku dengan keras, sebab aku sudah kesal sekali, di cuekin Mitha membuat darah tinggi ku naik seketika.
" Ha... i-ia Pak, ada apa Pak Biyan," tanyanya dengan penuh kebingungan sebab aku sudah meneriakinya di awal tadi.
" Aduh ini pada kemana seisi rumah? kenapa ini ondel-ondel bisa masuk ke kamarku dan tidur di sana dengan baju yang kurang bahan" Aku mendengus kesal mengiringi emosiku yang sudah naik sampai ubun-ubun.
" Hah Bu Niken ya?" ucap Siti yang sejenak seperti orang linglung.
" Pakai nanya lagi, ya iyalah siapa lagi kalau bukan ondel-ondel itu." Sungut ku dengan emosinya.
" Kamu ke sini sebentar, aku tidak mau ya kalau nanti Mitha berpikir yang tidak-tidak padaku, hanya kamu yang bisa menyeret ondel-ondel itu dari rumah ini." Ucapku memberi perintah.
" B-baik Pak, saya akan segera ke sana, saya tidak takut sama wanita itu, kalau perlu Bu RT saya ajak sekalian." ujarnya di ujung sana, dia paling semangat bila di suruh berantem sama Niken, kalau ketemu seperti kucing sama tikus.
" Terserah, yang penting buruan kamu ke sini ga pakai lama, aku masih sembunyi di taman samping, aku ga mau ya dia bersandiwara nantinya, baiknya kamu lihat saja kondisi dia aku lelah." Ucapku mengakhiri sambungan dengan Siti.
Kepalaku rasanya mau pecah saja, wanita genit itu tak henti-hentinya menggodaku dengan segala kekonyolan dia, Bi Pur di mana lagi sih, gerutuku sambil aku mengayunkan langkah ku berjalan menuju pos satpam di mana pak Ujang sedang berjaga di sana.
Tak berapa lama Siti dan Bu RT akhirnya datang juga, aku lega melihat mereka kompak bisa berurusan sama Niken.
aku memberi kode sama untuk segera masuk ke dalam, sementara aku menunggu mereka di Pos satpam, sementara Pak Ujang yang tak tahu apa-apa hanya bingung melihat gelagat kami.
__ADS_1