Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Tak Berkutik


__ADS_3

Setelah menyelidiki kebenaran keberadaan Vania semalam, Dio pun dengan segera menyimpan bukti-bukti kebohongan nya tersebut untuk di ungkap nya bersama dengan hasil tes DNA dari pihak rumah sakit.


Tak lama kemudian ponsel Dio pun nampak berbunyi memecah keheningan siang hari itu. Dio pun melihat panggilan telepon tersebut yang nampak tertera nama dokter yang menangani test DNA milik bayi yang ada di dalam kandungan Vania beberapa hari yang lalu tersebut.


"Hallo tuan, hasil test DNA nya ibu Vania sudah keluar. Jika tuan memiliki banyak waktu luang maka bisa di ambil sekarang juga untuk menemui saya," ucap sang dokter dari balik telepon tersebut.


Mata Dio pun membulat antara percaya dengan yang ia dengar jika hasil test DNA nya telah keluar. "Benarkah itu dokter?? Baik saya akan menuju ke rumah sakit sekarang juga!" pekik Dio dengan hati senang dan lega karena selangkah lagi kebusukan Vania pun akan segera terungkap.


Dengan cepat Dio pun segera keluar dan tak lupa untuk mengunci ruang kerja miliknya agar tidak bisa di masuki kembali oleh Vania.


Dio pun terlihat membelah jalanan dengan sedikit tergesa agar segera sampai di rumah sakit terakhir yang kali dirinya dan Vania kunjungi.


Tak lama kemudian Dio pun telah tiba di rumah sakit tersebut dan nampak bertanya kepada pihak rumah sakit jika dirinya telah memiliki janji temu dengan dokter yang menangani test DNA milik Vania tersebut.


Petugas rumah sakit yang berjaga pun segera mempersilahkan Dio untuk langsung masuk ke dalam ruangan dokter tersebut yang terlihat tidak ada jadwal kunjungan dengan pasien lain.


Dio pun mengetuk perlahan pintu ruang tersebut dan segera masuk ke dalam ruangan yang seluruhnya bernuansa putih itu setelah sang dokter terlihat mempersilahkan nya untuk segera masuk dan duduk.


"Ini hasilnya tuan, mau di baca sekarang atau setelah nanti sampai dikediaman tuan pun boleh-boleh saja," ucap sang dokter dengan sangat ramah.


"Saya baca di sini saja dok. Saya terlanjur penasaran dengan hasilnya," tutur Dio dengan membuka amplop berwarna coklat tersebut dengan hati yang berdebar-debar tak menentu antara takut jika hasilnya adalah benar miliknya atau milik office boy yang telah ia kurung tersebut.


Dio pun terlihat menitikkan air matanya dengan deras mana kala membaca hasil laporan test DNA yang menunjukkan jika dirinya tidak memiliki hubungan biologis apa pun terhadap bayi yang sedang Vania kandung.


"Be-benarkah i-ini hasilnya dokter?" tanya Dio dengan terbata.


"Benar sekali tuan. Tingkat ke akuratan nya yakni 99,9% dan memang anda tidak memiliki kecocokan DNA dengan janin tersebut," jawab sang dokter yang membuat tubuh Dio rasanya sangat gembira luar biasanya.


"Baiklah dokter, ini saya memiliki tips sedikit untuk dokter karena kerja keras dokter yang telah mempercepat hasil pemeriksaan DNA istri saya. Jangan dilihat dari nominalnya iya dok. Mohon diterima iya dok," ucap Dio dengan memberikan amplop tebal kepada sang dokter.


Namun sang dokter tersebut pun terlihat segera menolak amplop pemberian dari Dio dan dengan cepat memberikan kembali amplop tersebut kepada Dio.

__ADS_1


"Tuan, selama saya bekerja di rumah sakit mana pun saya akan sangat tersinggung dengan beberapa klien dan pasien saya yang memberikan amplop secara pribadi kepada saya seperti saat ini. Disini saya telah menerima gaji yang sangat banyak dari pihak rumah sakit dan pemerintah. Jadi saya tidak ingin menerima tips dari siapa pun itu. Mohon untuk segera di bawa kembali tuan," ucap sang dokter dengan jujur.


Dio pun terlihat kikuk mendengar penolakan tips yang di berikan kepada dokter tersebut.


"Diberikan kepada yang lebih membutuhkan saja tuan," sahut dokter tersebut dengan tersenyum ramah.


"Baiklah dokter. Saya sangat berterima kasih kepada dokter dan saya undur diri terlebih dahulu," ucap Dio yang mendapatkan jawaban sebuah anggukan dari dokter tersebut.


Dio pun bergegas keluar dari ruangan tersebut dan segera menuju dimana mobilnya berada.


Dio pun dengan segera masuk ke dalam mobilnya tersebut dan melaju dengan sangat cepat menuju ke kediaman nya kembali.


Setelah sampai di rumah kediaman orang tua nya. Dio pun terlihat tergesa untuk memasuki ruang kerjanya.


Dengan segera Dio pun mencetak bukti-bukti yang telah ia kumpulkan selama beberapa bulan lamanya karena hari ini juga Dio ingin segera mengungkap kebohongan dan kejahatan yang di lakukan Vania selama ini.


Dio pun terlihat menelepon seseorang dengan wajah yang sangat serius.


"Hallo, segera bawa office boy tersebut menuju ke kediaman orang tua ku sekarang juga. Serta jangan lupa bawalah sekumpulan preman yang telah kalian tangkap yang telah berani mengancam Aninda beserta kedua orang tua nya tersebut," ucap Dio di dalam sambungan telepon tersebut.


Tak lama kemudian terdengar suara gaduh di dalam rumahnya yang ternyata anak buahnya pun telah datang bersama sang office boy dan beberapa preman yang dulu di sewa oleh Vania untuk melenyapkan Aninda beserta kedua orang tua nya.


Dio pun terlihat tergesa segera turun dan mendapati mama dan papa nya yang terlihat bingung dengan tamu yang sama sekali tidak mereka kenali tersebut.


"Kalian duduklah lebih dulu," ucap Dio mempersilahkan anak buah nya yang telah tiba dengan cepat tersebut.


"Ada apa ini Dio? Kamu sedang tidak membuat keonaran kembali kan??" ucap sang papa dengan raut wajah yang masih nampak cemas dan takut.


"Sudahlah, papa dan mama juga duduklah. Ada yang ingin Dio sampaikan di hadapan kalian," ucap Dio dengan wajah yang terlihat sangat serius tersebut.


Mama dan papa Dio pun segera duduk di samping Dio dengan perasaan was-was.

__ADS_1


"Ini hasil dari test DNA dari pihak rumah sakit atas janin yang Vania kandung ma ... pa ..." ucap Dio dengan menyerahkan sebuah amplop hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter ternama di kotanya tersebut.


Mama Dio pun segera membuka amplop tersebut dan membaca lembaran kertas tersebut dengan sangat cermat yang membuatnya sangat terkejut dan syok dengan hasil pemeriksaan itu.


Begitu juga dengan papa Dio yang begitu terlihat pias dan marah karena di bohongi mentah-mentah oleh sang menantu yang telah ia terima baik-baik tersebut.


Tak lupa Dio pun segera menyodorkan lembaran bukti kejahatan yang Vania lakukan.


"Lelaki yang berparas lumayan tampan ini adalah office boy apartemen Vania yang selalu di minta Vania untuk melayani nya hingga Vania hamil untuk melancarkan aksi nya untuk menjebak Dio ma. Sedangkan mereka yang terlihat seperti preman itu adalah sekelompok pembunuh bayaran yang Vania sewa untuk membunuh dan melenyapkan keluarga Aninda," ucap Dio dengan cepat.


"Tuan! Saya tidak membunuh keluarga pak Dirga! Kami telah menyelamatkan nyawa pak Dirga beserta anak istrinya dengan memintanya pergi sejauh mungkin dan mengganti identitas mereka dengan yang baru agar tidak kembali terlacak keberadaan oleh orang yang menyewa jasa kami. Kami merasa bersalah karena target yang di minta wanita tersebut ternyata adalah Pak Dirga dan keluarganya yang dulu sangat berjasa menolong keluarga kami. Maka dari itu saya tidak benar-benar membunuh Pak Dirga beserta anak istrinya," ucap pentolan preman tersebut dengan lantang karena memang tidak membunuh Aninda beserta kedua orangtuanya.


Dio yang mendengar penuturan jika Aninda beserta kedua orangtuanya masih selamat pun kemudian nampak menghela nafas lega.


Berarti tugasnya setelah ini adalah mencari keberadaan Aninda beserta kedua orang nya dengan identitas yang baru dan Dio belum memiliki petunjuk apa pun lagi tentang Aninda.


"Bik Narti, tolong segera panggil Vania untuk segera turun dan menghadap kemari. Jika dirinya tidak segera turun dari ranjangnya maka seret dia kemari dan jangan beri belas kasihan!" ucap papa Dio dengan lantang karena menahan emosi terhadap menantunya yang telah berani membohongi nya.


Termasuk ucapan kebohongan Vania yang katanya dirinya di culik orang semalaman dan nyatanya tengah bermalam dengan om-om yang telah menyewa jasa nya.


Bik Narti pun dengan segera menuju ke lantai atas dan membangunkan Vania yang masih nampak tertidur dengan pulas. Karena tidak kunjung bangun juga maka Bik Narti pun segera menyeret paksa Vania seperti instruksi yang di berikan oleh boss nya tersebut.


Vania pun terlihat terkejut mendapati dirinya yang tengah di seret oleh Bik Narti dengan sangat kasar.


"Bik Narti! Kenapa Bibi berani sekali menyeretku! Dasar pembantu kurang ajar!" umpat Vania dengan terus memberontak karena terus di seret oleh Bik Narti hingga sampai di hadapan Dio beserta kedua orang tua nya serta yang membuat Vania terkejut adalah keberadaan office boy yang telah menghamilinya dan beberapa orang yang telah ia sewa untuk melenyapkan nyawa Aninda.


"Ma ... pa ... ada apa ini?" ucap Vania pura-pura tidak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi dengan tubuh yang bergetar sangat hebat karena takut jika riwayatnya telah diketahui sepenuhnya.


Dengan cepat papa Dio pun segera melempar bukti-bukti ke wajah Vania dan dengan segera mama Dio mendekati Vania dan memberikan tamparan bertubi-tubi kepada Vania.


"Dasar wanita tidak tahu di untung! Wanita macam apa kamu yang telah melakukan banyak sekali kebohongan dan kejahatan!" pekik mama Dio dengan terus menampar wajah menantu ularnya tersebut.

__ADS_1


"Ma ... ampun, jangan percaya mereka ma. Itu semua palsu. Vania tidak melakukan a-apa pun ..." ucap Vania terbata.


"Bukti sudah sangat jelas dan kamu masih mengelak juga?? Astaga Vania, wanita macam apa kamu itu?! Pa! Segera hubungi keluarga Vania untuk menjemput putrinya kembali pulang! Dan kita usut tuntas masalah ini kepada pihak yang berwajib!" ucap mama Dio dengan lantang yang membuat Vania semakin pias dan tak berkutik mendengar orang tua nya di sebut serta melibatkan pihak berwajib.


__ADS_2