
" Ya sudah Dek terimakasih, Mas tutup dulu ya sayang, Mas lagi di rumah sakit, dan jangan lupa kamu juga makan ya dan jaga Dimas." Ucap Mas Andra mengakhiri sambungan telponnya.
Setelah aku tutup telpon dari suamiku, aku segera menyusul Dimas untuk tidur di sebuah kasur tipis yang aku beli kemarin.
Sangat bahagia diri ini, aku benar-benar telah lepas dari sangkar yang berkarat.
Ibadahnya biarpun di sini tidur beralaskan koran sekalipun, kalau aku merasa bahagia tak masalah, telingaku tidak mendengar lagi ucapan cacian dari ibu mertua dan adik ipar ku itu.
Semua akan aku jalani dengan perasaan gembira dan tanpa keluhan, sebab ini saatnya berjuang untuk masa depan.
" Sabar ya Nak, suatu saat nanti Ibu pasti bisa membahagiakan kamu, tumbuhlah menjadi laki-laki yang kuat kelak, biar nanti kamu tak di remehkan orang," ucapku dengan lirih pada anakku, sambil ku usap kepalanya yang telah berkeringat, sebab aku kelupaan membeli kipas angin, suhu ruang ini cukup panas dan pengap, mungkin besuk aku akan ke pasar terdekat untuk membeli kipas angin, biar Dimas tak terlalu kepanasan, tubuh ku letih saat pindahan tadi, dan matapun tak dapat di ajak untuk kompromi lagi, aku akhirnya terlelap ikut menggapai mimpi bersama Dimas anakku.
***
Pagi yang indah, sebab pagi ini hari di mana aku meraih kebebasan aku dalam hidup, dan di sini aku buka lembaran perjuangan baru, bagaimana tidak, kini aku berada di tempat yang baru dan suasana baru, dan InshAllah hidup yang baru juga, rejeki baru,
semua serba baru, dan yang aku doakan selepas sholat semoga di ijabah sama Allah taala.
Hari ini aku bangun agak siang dari biasanya, kalau di rumah ibu mertua sebelum sholat subuh aku sudah bangun, dan bergelut dengan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya, kali ini Adzan subuh berkumandang aku baru bangun, menikmati tidur kali ini, walaupun tanpa kasur yang empuk, hanya beralaskan kasur tipis tanpa dipan, tapi kalau hati ini bahagia tak masalah.
Usai menjalankan sholat subuh aku bergegas ke dapur, mumpung Dimas masih terlelap seperti biasanya, dia tidak rewel walaupun berada di tempat yang baru yang mungkin kurang nyaman, tetapi bocah mungil itu tidak merepotkan aku, justru menjadi penyemangat hidupku dan rejeki sendiri buat aku.
Usai sholat aku bangkit dari dudukku, dan ku lipat mukena yang sudah selesai aku pakai untuk sholat tadi, lalu aku letakkan di pinggir bantal, di mana Dimas masih terlelap di sana.
__ADS_1
Aku buka pintu kamar perlahan-lahan, supaya Dimas tak terbangun, lalu aku tutup kembali perlahan-lahan.
Aku berjalan ke arah dapur yang letaknya ada di sebelah kamar ini, dapur mungil cukup untuk keluarga kecil ini, kebetulan aku masih ada sisa sayur bayam dan wortel, serta satu papan tempe yang kemarin aku masak sebagian, dan pagi ini aku akan memasak dengan menu yang sama, sebab sayang bila dia buang, sebab aku belum punya kulkas maka aku belanja untuk sehari saja.
Aku memasak nasi tak perlu lama hanya sayur bayam dan menggoreng tempe saja sudah cukup buat aku dan Dimas, dan untuk Dimas aku tambah telur biar ada gizinya anakku itu.
menanak nasi cukup pakai magic com saja tinggal colok sudah selesai.
Tabungan aku sudah menipis untuk bayar kontrakan dan membeli peralatan laundry serta membeli peralatan dapur, tak aku pikirkan untuk membeli meja tamu dan meja makan, terlebih-lebih dipan, itu akan aku beli nanti bila ada rejeki lebih.
Tak apalah semoga usaha aku nanti bisa jalan dan aku tak perlu meminta uang sama Mas Andra, biar tidak di ungkit-ungkit lagi sama ibu mertua.
Perkejaan selanjutnya adalah menyapu seluruh rumah ini, tak terlalu merepotkan kalau hanya untuk menyapu dan mengepel saja, sebab tempatnya tak seluas rumah punya ibu mertua jadi aku cepat melakukannya, mencuci adalah pekerjaan terakhir aku, dan lagi-lagi juga tak lama pekerjaan ini aku lakukan sebab hanya baju aku dan Dimas saja yang aku cuci.
Usia mencuci dan mandi aku buru-buru ke kamar sebab ada ketukan pintu dari arah luar sana, entah siapa yang datang sepagi ini, sebab baru jam lima tiga puluh, tak ada ucapan salam, jadi aku tak tahu siapa yang datang.
" Ya sebentar" seruku dari dalam.
Buru-buru aku kenakan daster dan kerudung instan, lalu dengan cepat aku berjalan ke arah pintu keluar.
" Assalamu'alaikum" serunya baru terdengar suara salam dari luar, seperti tak asing lagi suara itu.
" Waalaikum salam" lalu aku buka pintu itu dan di depanku pria yang tak asing lagi, yaitu suamiku Mas Andra.
__ADS_1
" Mas Andra" ucapku ketika pintu itu ku buka lebar-lebar, pria tampan itu berdiri dengan wajah yang kusut dan membawa tas jinjing dan tas ransel yang biasa di pakai buat kerja.
" Dek," balasnya lalu aku menggeser tubuhku untuk memberinya jalan untuk masuk ke dalam rumah, setelah Mas Andra masuk, akupun menutup kembali pintu itu dan tiba-tiba Mas Andra menarik tubuhku dan di bawanya tubuh kurus ini ke dalam dekapannya.
Aku terdiam sesaat untuk memberi dia waktu untuk bicara, sepertinya Mas Andra membutuhkan ketenangan, sebab aku lihat wajahnya yang terlihat kusut, dan aku lihat dia masih mengenakan baju kerjanya, seperti dia belum pulang ke rumah.
Aku mencoba mengurai pelukannya," Mau aku buatan kopi Mas?" tanyaku untuk memecahkan keheningan.
" Ia Dek, tolong ya." Ucapnya dengan tubuh dan suara yang terdengar lemas, aku mengangguk tersenyum padanya.
" Mas mandi dulu ya, habis itu baru sarapan dan minum kopi," suruhku padanya.
" Mas mau melihat Dimas dulu Dek." Pintanya.
" Baiklah, ayok sini" aku tarik tangan itu ke arah kamar yang ada di sebelah ruang tamu yang masih kosong.
Aku buka pintu kamar berlan-lahan, lalu aku masuk pelan-pelan sambil menarik tangan suamiku itu.
" Masih tidur Mas, pelan-pelan saja ya kamu cuma mau cium kan?" tanyaku padanya, lalu dia mengangguk dan tersenyum.
" Dimas sayang, maafkan Ayah ya Nak, baru sempat ke sini, tengok in Dimas." Ucapnya dengan lirih di dekat telinga Dimas, namun bocah itu tak terusik tidurnya walaupun Mas Andra ciuman dengan gemas sekali.
Mendengar ucapan suamiku itu membuat hati ini seperti teriris, aku kasihan sebenarnya pada suamiku, pasti dia serba salah, tetapi sayang aku sudah tidak tahan lagi, andaikan aku harus kehilangan dia demi keluarganya aku ikhlas, sebab setahu aku anak laki-laki adalah milik ibunya, jadi maafkan aku Mas tak bisa jadi istri yang penurut seperti yang kamu dan keluargamu mau.
__ADS_1
" Dek, Mas tidur sebentar ya, nanti kalau sudah jam setengah tujuh bangunin Mas, Mas mau kelon in Dimas sebentar dan lagian Mas tadi malam tidur juga sebentar Dek, sebab kangen sama kalian." Ucapnya jujur.
" Ia Mas istirahat lah aku akan menyiapkan baju dan bekal untuk Mas Andra." Balasku sambil aku tersenyum ke arahnya dan bergegas keluar menuju dapur untuk membuatkan kopi dan menggoreng telur untuk bekal suamiku itu, sebab hanya telur makanan spesial buat kami.