
Hari terus berlalu, semenjak pertemuan Andra dan Dimas di rumah sakit itu, Andra ternyata tak kunjung datang menemui Dimas, entahlah apa yang terjadi dengan pria itu, Mitha pun tak ambil pusing sebab sudah tak kaget lagi dengan sifat egois sang mantan.
Sementara di pihak Andra, pria itu merasa tak tahu harus bagaimana, dia ingin sekali bertemu dengan sang anak dan sangat merindukan Dimas, tetapi apa daya Wulan yang sudah melampaui batas, justru dia yang mengekang hidup Andra, selalu menghalangi Andra untuk ketemu dengan anaknya itu, Wulan tidak suka bila Andra memberikan uang pada anak kandungnya itu.
Wanita itu benar-benar sudah membatasi, dia membatasi semua gerak gerik Andra yang ingin menjenguk anaknya dan juga keluarga besarnya, sehingga Andra sudah jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya.
Dan uang yang di berikan pada sang ibu selalu kurang, tentu saja Bu Lela tak terima.
Orang seperti Bu Lela tak akan ada syukurnya, sama juga seperti Wulan wanita yang tak pernah ada syukurnya.
Tiap akhir pekan Mitha selalu pergi berbelanja kebutuhan laundry, kali ini dia pergi sendiri tanpa Dimas dia belanja di sebuah toko grosir di dekat pasar langganan dia, setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Mitha lalu sekalian juga belanja kebutuhan dapurnya, sebab untuk susu dan jajan Dimas, Mitha sudah tak membelikannya, tiap Minggu Biyan mengajak Mitha untuk belanja ke supermarket dan di sanalah mereka selalu membelikan kebutuhan Dimas juga, Biyan selalu sama memperlakukan kedua balita itu, sebab Malika juga lebih dekat sama Mitha di bandingkan sama dirinya, begitupun sebaliknya.
Ketika Mitha usai berbelanja kebutuhan dapur, tiba-tiba dari arah yang berlawanan Mitha melihat sosok yang sangat dia hindari saat ini, kedua wanita itu muncul dengan tiba-tiba dan Mitha tak dapat menghindarinya kali ini sebab mereka suda saling menatap, apalagi melihat mantan mertuanya mukanya sudah merah padam menahan amarah yang sudah ada di ujung kepalanya.
" Hm... bagus ya sekarang sudah pandai mengekang Andra, pantas saja uang bulanan yang di berikan pada ibunya berkurang banyak, ternyata kamu suka berfoya-foya di sini, dasar tak tahu malu, pemeras seperti kamu harusnya di enyahkan saja, dasar kampung tak tahu malu." Seru Bu Lela yang tak tahu malu di pinggir jalan teriak-teriak memaki-maki Mitha yang tak tahu apa-apa.
Mitha sebenarnya suda hafal sekali akan sifat ibu mertuanya itu, tetapi Mitha ingin mendengar kan dulu semua umpatan mantan ibu mertua dia itu sampai selesai.
Dan akhirnya Mitha mengambil kesimpulan bahwa Andra sudah jarang pulang ke rumah ibunya dan jatah ibunya sudah berkurang banyak.
__ADS_1
Wanita tua itu memakai dan menunjuk-nunjuk ke arah muka Mitha yang tengah berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum, Mitha sendiri yang sudah biasa dengan makian mantan ibu mertuanya itu bersikap tenang saja, lagian Mitha sudah tak ada hubungan apa-apa dengan mereka, di salahkan pun Mitha tak ambil pusing.
" Kamu membuat Andra tidak pulang sampai tiga bulan, licik kamu ya orang kampungan, bisanya hanya meracuni anakku saja biar tak pulang, dan kamu peloroti uangnya sampai habis, hingga kami sekeluarga hanya mendapatkan separuh saja dari yang biasanya dia berikan padaku, padahal aku ibunya, kamu sungguh keterlaluan." Seru Bu Lela sambil menatap tajam ke arah Mitha, kini kedua tangannya berkacak pinggang dan sambil menatap sinis terhadap Mitha.
" Maaf ya Bu, saya peringatkan kepada ibu jangan suka berburuk sangka pada orang lain, dan cek dulu kebenarannya."Balas Mitha dengan santai.
" Huh... munafik kamu, dasar mulut berbisa!"Ucap Sinta yang tengah berada di sebelah Bu Lela.
" Terserah apa yang kalian ucapkan, yang jelas saya dan Andra sekarang sudah tak punya hubungan apa-apa lagi, kami sudah sepuluh bulan berpisah, jadi jangan salahkan saya bila anak ibu tak memberikan uangnya pada ibu secara penuh, beruntung ibu masih mendapatkan jatah bulanan, tetapi tidak bagi anak saya Dimas, tak sepeserpun mendapatkan nafkah dari ayahnya." Ucap Mitha mengakhiri percakapan dia.
" Omong kosong, kamu pasti bohong ya pada kami, biar kami tak mengejar-ngejar kamu, kamu pikir kami percaya dengan mulut kamu yang berbisa itu." Seru Bu Lela tak percaya.
" Kalau ibu tidak mau saya tidak masalah yang jelas saya sudah putus hubungan dengan anak ibu, saya sudah tak ada hubungan apapun, tapi saya sangat bersyukur ibu sudah tak berhubungan dengan kalian lagi, bagi saya kalian adalah mimpi buruk bagi saya." ucap Mitha dengan suaranya yang dingin, ekor mata Mitha melihat taksi online pesanan dia, Mitha tak jadi naik angkot, akhirnya dia memesan taksi online biar cepat sampai rumah dan mengajak kedua wanita itu untuk menunjukkan di mana rumah Andra berada.
" Mari silahkan ikut saya bila ingin Ketemu dengan Andra." Ucap Mitha pada kedua wanita yang nampak membisu.
Sinta dan ibunya saling bertatapan mereka napak ragu dengan ajakan Mitha, tetapi bila mereka tak ikut Mitha maka mereka tak akan menemukan Andra, sebab dua bulan terakhir ini, Andra menghilang dan tak bisa di hubungi sama sekali.
" Baiklah kami akan ikut kamu." Ucap Bu Lela memutuskan.
__ADS_1
Akhirnya Sinta dan Bu Lela masuk ke dalam kursi penumpang, sementara Mitha duduk di depan dekat dengan sopir taksi.
Setelah perjalanan lima belas menit berlalu mereka sampai di depan rumah kontrakan milik Mitha yang terlihat sederhana itu.
Lalu sang sopir taksi online menurunkan barang belanjaan milik Mitha, dan membatu membawanya ke teras depan di mana usaha laundry milik Mitha berada.
Nampak di sana ada beberapa karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Nampak Bu Lela dan Sinta saling berpandangan, melihat tempat usaha milik Mitha yang terlihat ramai itu, seolah mereka tak percaya, ah mungkin Mitha hanya pekerjaan saja di sini, sebab tak mungkin Mitha mempunyai usaha seperti ini, tapi bila melihat dari penampilan Mitha Sinta nampak di buat iri, bagaimana tidak Mitha tampilan sungguh berbeda, kulitnya terlihat halus dan terawat sekali, dan baju yang di pakainya juga tak murah, tak seperti dulu Mitha hanya memakai baju lusuh dan sudah pudar warnanya.
" Silahkan duduk dulu." suruh Mitha pada kedua tamunya tersebut.
" Ga usah basa-basi, sekarang tunjukkan di mana Andra berada, aku tak sudi lama-lama di sini." Ucap Bu Lela dengan nada bicara yang ketus itu.
" Siapa Dek?" Seru Biyan yang baru saja keluar dari rumah, dia menggendong Dimas dari dalam dan di belakang Biyan ada Siti yang menggendong Malika yang nampak sibuk dengan botol susu formulanya itu.
" Itu Mas Biyan, ibunya Andra." Ucap Mitha pada tunangan dia itu, yah setelah kejadian di rumah sakit itu akhirnya Mitha memutuskan untuk segera menikah dengan Abiyan, tentu saja Mitha terlebih dahulu meminta pendapat dari banyak orang yang dekat dengan dia, dari Bu RT, Mbak Siti yang selama ini baik sama dia, dan mengenal pak Biyan, serta ibu dan temannya Titi yang selalu setia bersama dengan dia itu.
Wajah Bu Lela dan Sinta nampak kaget setelah melihat pria yang ada di hadapan dia itu, pria tampan bertubuh atletis itu terlihat menggendong cucunya Dimas. Abiyan lalu menatap ke arah di mana kedua wanita itu berada dengan sorot mata yang datar.
__ADS_1
" Biar Mas yang tunjukkan rumah Andra, kamu di rumah saja Dek istirahat." Ucap Biyan yang tak bisa di bantah.