Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
( PM 2) Bab 36


__ADS_3

POV Biyan.


" InshAllah Pak Biyan saya akan datang." Ucap Andra dengan lirih, aku melihat ada sebuah kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam di matanya, tetapi aku terus memberikan dia semangat untuk memperbaiki diri dan keluarganya, tentu saja aku tak menginginkan dia untuk kembali ke Mitha dong, aku bisa gila bila kehilangan calon istri ku itu.


Aku sangat menyayangi Dimas dia anak yang penurut dan tak suka rewel, ketika Malika lebih memilih Mitha dari pada Siti, Dimas selalu mengalah, anak itu pengertian sekali.


Setelah mengajak Dimas berpamitan pada ayah dan keluarganya, aku menggendong laki-laki kecil itu dan sekaligus berpamitan pada semua orang yang ada di sana.


" Pamit dulu Andra, hubungi aku bila mau ketemu Dimas." ucapku seraya mengingatkan apa yang aku pesankan ini, ku tepuk pundaknya seraya memberikan semangat padanya, sebenarnya aku ingin menasehatinya, tetapi aku tak punya kapasitas untuk memberikan dia saran, malah takutnya membuat aku jadi bumerang sendiri.


" Baik Pak Biyan terimakasih banyak Pak Biyan mau merawat anak saya dengan baik sekali." Ucap Andra dengan tulus dan penuh haru.


" Bapak serius mau menikahi Mitha mantan istri saya?" ucapnya ketika kami berada di halaman samping rumah Mitha, aku menyengrit ketika mendengar pertanyaan dia itu.


" Kanapa kamu tanya begitu Ndra?" tanyaku penuh dengan selidik, aku was-was bila pria di hadapanku ini mau rujuk dan kembali kepada Mitha.


" S-saya sebenarnya, m... i-itu pak s-saya ingin rujuk dengan Mitha" ucapnya kemudian dia menundukkan kepalanya.


Aku hanya tersenyum kecut kearahnya, aku tak yakin Mitha akan menerima dia untuk rujuk, butuh ribuan kali untuk rujuk pada pria macam dia, " siapa yang mau di perlakukan seperti pembantu di saat kita sudah berkeluarga, menjadi kepala keluarga adalah sebuah tanggungjawab besar dan memberi nafkah anak dan istri itu kewajiban, perbaikilah keluarga barumu Andra, jangan usik Mitha lagi, aku akan mencukupi kebutuhan Dimas, kamu tak perlu khawatir akan hal itu." tuturku padanya, wajah pria itu semakin menunduk saja, sekilas aku lihat genangan air di peluk matanya.


" Jangan coba-coba ganggu Mitha lagi, benahi keluarga kamu itu, jangan sampai aku yang turun tangan untuk merubah semua keadaan." Ucapku dengan sedikit peringatan padanya.

__ADS_1


" Terimakasih Pak Biyan, maafkan saya saya akan menasehati ibu saya dan adik saya untuk tidak menggangu Mitha lagi." Balasnya dengan cepat ketika kalimat peringatan itu aku lontarkan seiring dengan berdatangan kembali ketiga wanita itu di hadapan kami.


" Sama-sama" balasku sebelum aku beranjak pergi aku mengawasi ketiga wanita yang ada di belakang Andra, lalu akupun buru-buru melangkah dari halaman rumah itu, dan berjalan melalui jalan setapak yang ada di samping rumah Wulan, sampai di pinggiran halaman samping rumah Mitha.


Aku lihat sosok wanita cantik yang gelisah menunggu kami di teras depan, ketika melihat aku muncul dengan Dimas, wanita cantik itu spontan bangkit dari tempat dia duduk dan berjalan ke arah kami.


" Aduh lama sekali kalian?" ucapnya dengan nada yang khawatir, dia menggigit bibir bawahnya pertanda dia begitu gelisah.


" Andra kangen Dimas dek, jadi aku ajak main sebentar, biarlah sepertinya mereka sudah saling melepas rindu," ucapku memberitahu padanya, aku juga tak ingin Dimas lupa pada sosok sang ayahnya itu, bagaimana pun juga aku juga seperti Andra yang kadang rapuh dan kehilangan arah.


Aku akan membantu dia, selama dia tak menginginkan kembali rujuk pada mantan istrinya yang sebentar lagi akan menjadi istriku itu.


" O... ya Sudah kalau begitu, Dimas bobo dulu yuk nak, Om Biyan juga harus istirahat, dari tadi gendong Dimas terus kan?" ucap Mitha membujuk anaknya itu, sebab Dimas masih menggelayut manja di gendonganku dengan mata yang hampir terpejam.


" Kalian tidur dulu, nanti sore kita ke butik untuk fitting baju ya, sebab waktunya sudah mepet." Ucapku menjelaskan.


Mitha hanya mengangguk pasrah ketika aku memberitahu acara kami nanti sore.


" Masuklah dan istirahat ya?" ucapku sebelum aku beranjak pergi meninggalkan rumah kontrakan milik Mitha.


Setelah Mitha masuk rumah akupun bergegas pulang ke rumah dan beristirahat siang untuk mengumpulkan tenaga, sebab sore ini aku mau mengajak Mitha, Siti serta anak-anak ke butik langganan Mama.

__ADS_1


Semua persiapan pernikahan aku sudah di urus oleh mama dan wedding organizer langganan Mama.


Mama dan Papa aku tak pernah mempermasalahkan status Mitha, sebab Mama dan Papa adalah orang yang demokratis, mereka berdua di besarkan dari keluarga kaya dan berpendidikan, serta di topang dengan agama mereka yang kuat dari keluarganya masing-masing, jadi Mama dan Papa tak mempermasalahkan latar belakang keluarga Mitha, selama Mitha seorang muslim yang taat beribadah, bagi keluarga kami tak masalah.


Apalagi Mama juga suka pada Mitha karena Malika begitu dekat dengan Mitha, saat sakit itulah yang paling merepotkan aku, sebab sentuhan seorang ibu berbeda dengan seorang ayah, dan semenjak mengenal Mitha, Malika jarang sekali rewel, bahkan sakit pun Mitha yang harus turun tangan.


Aku bersyukur di lahir kan dari keluarga yang di bekali ilmu agama dan kedua orang tua kami menasehati anaknya untuk berbuat baik pada siapapun, jadi kami belajar dari situ bagaimana harus memperlakukan orang dengan baik.


Hari menjelang sore, setelah sholat ashar Mobil ku parkiran di depan rumah Mitha agar calon istriku itu tak usah berjalan ke rumahku, rasanya tak pantas bila ia yang harus nyamperin aku duluan walaupun terhitung dekat jaraknya.


Malika sudah berdandan cantik dengan kucir kudanya, anak kecil itu sudah tahu bila mau di ajak jalan-jalan bersama dengan Mitha dan Dimas, dia girang sekali ketika melihat Dimas dan Mitha datang menghampiri mobil kami.


" Mama,Mama " ucapnya sambil jari mungil itu menunjuk ke arah Mitha, aku menahan senyum ketika muka Mitha memerah di panggil Mama oleh anakku itu.


" Hah... siapa yang ngajarin?" ucap Mitha dengan kagetnya, lalu melirik ke arahku yang pura-pura tak tahu mendengar ucapnya itu, lalu dia melirik ke arah Siti sebagi tersangka juga, lalu Siti pura-pura sibuk dengan tas yang di bawanya itu, aku lihat Siti juga menahan senyum.


Mitha menghembuskan nafasnya lalu duduk di sebelahku dengan bibir mantun. Dimas sudah ingin ke belakang untuk bertukaran tempat dengan Malika yang sudah rewel ingin ikut sama Mitha, sang pawang.


Itulah kata yang di sematkan Siti pada wanita yang aku cintai itu, memang Mitha ini seperti punya magnet tersendiri bagi anak-anak, bukan hanya Malika saja yang sanggup di tundukkan oleh Mitha, anak Bu RT pun si kembar yang terkenal tengil tak karuan itu bisa di taklukkan oleh Mitha,


Pernah suatu ketika Bu RT ada urusan di kelurahan dan tak mungkin membawa anaknya yang masih lima tahun itu ke kantor kelurahan akhirnya kedua bocah laki-laki itu di titipkan pada Mitha dan ketika mereka berantem, Mitha dengan mudahnya bisa menaklukkan hati mereka berdua, memang calon istri ku ini punya cara sendiri menaklukkan hati anak-anak.

__ADS_1


Hingga akhir Bu RT sering menitipkan anak-anak mereka pada Mitha.


Aku bersyukur Alhamdulillah bisa memiliki dia, akan aku jaga sampai di mana kami akan sah menjadi suami istri, doakan kami ya reader.


__ADS_2