Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Mencoba Gaun


__ADS_3

"Kamu saja yang lamban mencuri start. Coba saja kamu lebih mesum selangkah. Pasti kamu juga pasti menikahnya enggak lama lagi seperti ku dan Edrick," ucap Akio yang mulai memprovokasi Dio.


"Hei, pria cabul. Kamu sendiri kan sudah tau bagaimana Aninda yang sangat teguh dengan pendirian nya. Pengawal bayangan yang diberikan oleh Edrick untuk Aninda sudah pasti gesit dalam menjaga kan??" tanya Dio dengan nada penuh penekanan.


"Sudah pastilah. Ini aku ada beberapa soft chip buat Aninda. Terserah mau kamu taruh secara diam-diam dimana yang penting barang ini jangan sampai lepas dari Aninda. Gps hp Aninda sudah kamu sadap belum?" tanya Akio memastikan.


"Sudah, sudah ku sadap sedari awal Aninda pindah ke apartemen ku," ucap Dio dengan masih melihat soft chip penemuan Akio yang terbaru.


"Bagaimana cara kerja soft chip ini?" tanya Dio kemudian.


"Itu semacam gps dilengkapi dengan kamera pemindai yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata biasa. Jadi jika terjadi sesuatu atau pun tidak, kita bisa memantau Aninda melalui soft chip ini." Ucap Akio.


"Baiklah biar aku tempel di kuncir rambut nya dan aku taruh untuk di jadikan gantungan kunci di tas nya Aninda nanti," kata Dio.


"Nanti aku kirim salinan link untuk terhubung dengan soft chip yang aku berikan untuk kamu,"


"Apa kamu sudah memberitahu Aninda tentang hasil penyelidikan kamu yang ternyata kenalan Aninda yang bernama sensei Akane atau kembaran nya tersebut yang menjadi dalang di balik semua ini?" tanya Akio dengan wajah seriusnya.


"Belum, aku belum memiliki bukti yang jelas dan kuat untuk memberitahu Aninda jika sensei Akane tersebut yang telah memata-matai nya selama ini," tutur Dio dengan wajah yang nampak murung.


"Hufh, kalau saranku sih Dio. Sekecil apa pun hasil penyelidikan kamu tersebut lebih baik segera kamu beritahukan ke Aninda agar Aninda pun lebih berhati-hati lagi jika bertemu dengan sensei Akane ataupun kembaran nya tersebut," tutur Akio memberikan saran.


Sedangkan Dio pun nampak masih diam dan belum menanggapi saran dari Akio tersebut.


"Foto bodyguard telah ku kirim ke nomer hp mu beserta nomer Edrick. Untuk lebih jelasnya nanti hubungi saja nomer Edrick tersebut," tutur Akio lagi.


"Baiklah jika begitu. Toh besok aku ada jadwal giliran presentasi hasil laporan ke Thailand ku kemarin via zoom. Jadi aku besok pun hanya bisa mengantarkan Aninda sampai di kampus dan kemudian pulang kembali ke apartemen," ucap Dio dengan raut wajah yang masih nampak kebingungan.


"Oke lah, semoga segera teratasi ya dan semua akan baik-baik saja," kata Akio menenangkan sahabat masa kecil hingga sampai saat ini itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengobrol dengan ku pun masih pakai masker?" tanya Dio dengan wajah heran dengan tingkah laku Akio tersebut.


"Aku memakai masker double begini agar tidak mencium bau yang aneh-aneh yang membuat ku ingin muntah. Kata dokter pun tidak ada penyakit serius ditubuhku,"


"Tapi rasanya tubuhku sangatlah lemas lunglai jika setiap pagi harus bolak-balik ke wastafel untuk memuntahkan seluruh isi perutku. Ayo kita lihat ke bawah saja. Aku ingin melihatmu memasak," ungkap Akio yang mendadak sangat ingin melihat Dio memasak.


"Memasak? Masak apa?," tanya Dio dengan raut wajah bingung.


"Terserah kamu, spaghetti pun tidak masalah," Jawab Akio dengan melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke lantai satu ke arah dapur.


"Mau kemana?" tanya mama Akio yang melihat Akio dengan Dio berjalan dengan santai melewati mama, Amel dan Aninda yang asik melihat serial televisi.


"Mau lihat Dio masak spaghetti ma," ucap Akio.


"Spaghetti??" ucap Aninda dan mama Akio serentak dengan wajah yang sudah bisa menebak keinginan nyidam dari Akio tersebut.


Sedangkan Dio pun hanya nampak mengedikkan bahu nya dan menuruti permintaan Akio tersebut untuk memasak.


Sedangkan Akio hanya nampak mengamati pergerakan demi pergerakan yang Dio lakukan dalam proses memasak spaghetti nya tersebut.


"Hem, melihat Dio yang memasak dengan sangat cekatan tersebut pun aku berasa seperti menjadi juri MasterChef yang nampak di tayang di televisi itu," ucap Akio.


"Huh, terserah seimajinasi kamu sajalah Kio," ucap Dio sembari melanjutkan masakan nya.


Tak berapa lama akhirnya spaghetti pun telah siap dihidangkan. Akio yang melihat tampilan spaghetti yang sangat menggugah selera pun menjadi menetes kan air liurnya secara diam-diam.


"Untuk mu semua," tutur Dio memberikan seporsi spaghetti buatan nya tersebut ke hadapan Akio.


Tanpa berbasa-basi lagi, Akio pun menyantap spaghetti tersebut dengan sangat lahap hingga tidak tersisa apa pun lagi di dalam piringnya tersebut.

__ADS_1


"Ah enak sekali. Dio, tekstur spaghetti kamu pas, kematangan daging pas serta rasa saus nya pun nampak lebih lezat dari pada saus yang pernah aku beli secara instan di supermarket," ucap Akio dengan memberikan segudang pujian untuk Dio karena selalu bisa memasak dan menghidangkan makanan dengan rasa yang sangat lezat.


Dio pun hanya nampak mencebikkan bibirnya menirukan gaya Akio memberikan pujian yang kelewat lebay ala juri MasterChef tersebut.


Mama, Aninda dan Amel yang melihat tingakah konyol kedua nya pun nampak menggelengkan kepalanya.


"Ma, Aninda kita suruh untuk mencoba baju pengiring pengantin yuk?" ucap Amel meminta sang mama.


"Baiklah, ayo Nin ikut kita ke atas. Baju untuk kamu sudah selesai di buat," ucap mama Akio dengan melangkah menuju ke lantai atas menuju ke sebuah ruang tempat untuk menyimpan seluruh baju yang akan digunakan untuk keluarga dan kerabat dari Akio tersebut dalam pernikahan Akio nanti.


Mama Akio pun segera membuka pintu ruang tersebut dan tampak banyak sekali baju-baju yang di sediakan untuk pernikahan Akio dan Amel nanti.


"Ini Nin, cobalah di pakai dulu. Semua model Sabrina," tutur mama Akio.


Aninda pun nampak terpaku melihat baju pengiring pengantin untuk nya tersebut yang nampak sangat bagus dan elegan tersebut.


"Ayo segera di coba. Kamu cobalah baju ini ke ruang ganti di kiri Amel itu," ucap mama Akio dengan menunjukkan sebuah sekat yang digunakan sebagai ruang ganti.


Aninda pun nampak menuju ke ruang ganti tersebut dan segera mengenakan bajunya itu. Terlihat sangat pas dan cocok sekali di tubuh Aninda tersebut.


Aninda pun segera keluar dari ruang ganti dan menunjukkan kepada Amel dan mama Akio jika gaun tersebut sangatlah pas di tubuhnya tersebut.


"Wah, sangat pas sekali. Cantik pula. Andaikan ya kalian berdua nikahnya barengan. Pasti cantik-cantik semua," ucap mama Akio.


Dio yang nampak melihat Aninda dari pintu ruangan tersebut pun nampak sangat terpukau dengan kecantikan alami yang dimiliki oleh Aninda itu.


"Makanya jika di kasih saran itu nurut. Selangkah lebih mesum sedikit saja kamu nggak berani. Jika kamu berani selangkah saja maka Aninda pun akan lebih cantik lagi menggunakan gaun pengantin sepeti Amel nanti," ucap Akio mencoba mempengaruhi Dio.


"Dasar cabul! Enggak harus mesum lagi biar bisa lihat Aninda pakai gaun pengantin. Kalau sudah waktunya menikah ya pasti akan memakai gaun pengantin lah," jawab Dio dengan wajah sewot.

__ADS_1


"Iya Aninda pakai gaun pengantin, namun mempelai lelaki nya bukan kamu. Gimana hayo??" kata Akio yang membuat Dio pun menoleh dengan penuh emosi ke arah Akio.


"Kabuurrrr ..." ucap Akio melarikan diri terbirit-birit di saat Dio hampir melayangkan sepatu nya ke wajah nya tersebut.


__ADS_2