Penyesalan Mantan

Penyesalan Mantan
Episode Baru Penyesalan Mantan (PM 2) Bab 1


__ADS_3

Namaku adalah Paramita, dan suamiku bernama Andra, dalam pernikahan kami, kami di karunia seorang anak yang bernama Dimas Andra Putra dan usianya saat ini baru genap satu tahun


Sebelum kami pindah di rumah baru ini, kami awalnya tinggal bersama Mertua, sebab terlalu banyak masalah dengan mertua, akhirnya aku memaksa Mas Andra untuk pindah saja dari rumah mertua, tetapi Mas Andra tidak mau, dan akhirnya kami selalu ribut bila sudah begini.


Aku sebenarnya meminta pindah pada suamiku hanya demi kewarasan ku saja, sebab tinggal satu atap dengan mertua yang di dalamnya ada beberapa keluarga membuat aku tak betah, dan tak nyaman.


Sebab di rumah tersebut Mas Andra adalah anak pertama, dan dia punya dua adik yang salah satunya sudah berkeluarga namanya Sinta, dan tinggal di situ juga bersama suaminya, sebab suami Sinta kena PHK dan saat ini masih menganggur, dan adik satunya Mas Andra yang bernama Santi masih sekolah di bangku SMA, dan tentunya masih butuh banyak biaya dan kebutuhan sekolah Santi, dan semua itu jadi tanggungan Mas Andra untuk membiayainya, belum lagi ibu.


Jadi gaji suamiku itu habis tiap bulanya tanpa sisa, tiga juta rupiah di berikan kepada ibunya Mas Andra, dan akupun tak keberatan, dan aku mendapat satu juta itu untuk beli diapes Dimas, sabun dan kebutuhan rumah lainnya, bahkan makan buat satu rumah itu dari uang satu juta itu, semuanya harus cukup, dan Mas Andra sendiri pegang satu juta buat beli bensin dan rokok.


Untung setiap panen Ibu mengirimi aku beras, dia rela datang ke rumah naik angkot untuk mengirimi anaknya hasil padi dari sawah kami, itu saja masih saja aku di anggap makan gratis di rumah ini.


Bagaimana mau cukup uang satu juta untuk mencukupi enam orang dewasa yang makannya sehari tiga kali, dan sukanya mintanya yang aneh-aneh.


Seisi rumah tidak mau tahu jerih payahku, tahunya uang satu juta itu banyak dan malah sisa.

__ADS_1


Aku jadi kesal sekali bila mendengar omelan ibu padaku, yang katanya boros dan tak perhitungan.


Ya kalau mereka mau makan sayur bayam dan tempe saja itu cukup buat satu bulan, tiap hari harus ada ayam dan daging atau minimal telur, mau cukup dari mana? apa tidak pada mikir semua kebutuhan hidup pada naik.


Semenjak Bowo adik iparnya menganggur, maka suamiku lah yang mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tak ada inisiatif untuk mencari kerja sampingan, entahlah aku tidak tahu kenapa semua pada diam bila Bowo menganggur, tetapi bila aku tidur sebentar saja suara Ibu mertua sudah melengking kaya toa masjid.


Setiap bangun tidur aku harus masak buat satu rumah, dan setiap aku mencuci baju pasti ada saja yang merecoki untuk minta di cuci kan.


Awalnya aku hanya mencuci baju punya Dimas anakku, suamiku dan ibu mertua, tetapi lama kelamaan rutinitas itu berubah, punya Santi yang selalu menitipkan baju buat aku cuci kan, Sinta yang belakang juga nitip di cuci kan, ini bahkan punya Bowo suami Sinta aku juga yang mencuci, lama kelamaan aku tak tahan dengan semua ini, tenaga ku habis untuk mengurusi kerjaan rumah yang tak ada habisnya, tak ada yang membatu pekerjaan aku sama sekali.


" Jangan mau enaknya saja, kamu kan tinggal di sini, ya harus menuruti peraturan sini, tidak boleh membantah, makan gratis, tidurpun juga gratis, masih saja banyak tingkah." Omel Ibu ketika aku protes harus mencuci semua baju orang satu rumah, aku sudah terlalu lelah ribut sama ibu.


" Hm... sekarang sudah berani membantah ya, dasar orang kampung tak tahu diri, kamu itu harusnya bersyukur bisa menikah dengan anakku Andra orang kota, mana ada yang mau menikah dengan kamu, selain anakku, yang ada kamu jadi perawan tua seumur hidup, kaya gitu masih saja protes, dasar tak tahu diri." Ibu mencaci aku selalu dengan kata-kata nya yang pedas seperti itu terus, bahwa semua gratis dan aku tak perlu bayar tetapi dia tak ingat bawa aku juga mengeluarkan tenaga untuk memasak untuk satu rumah dan membersihkan seisi rumah juga gratis tak bayar, coba bila dia kalau bayar pembantu sudah berapa aja itu.


Semakin aku tidak tahan saja tinggal di sini, semakin aku memberontak padanya semakin kasar kata-kata pedas yang dia ucapakan padaku.

__ADS_1


Nelangsa hati ini di perlakukan tidak adil, sejauh ini aku bertahan dengan tinggal di sini demi keluarga kecilku ini, tetapi aku lama kelamaan tak tahan dengan perlakuan mereka, di injak-injak oleh mereka, biarpun saya orang kampung, tetapi Ibuku setiap panen mengirimi aku beras dan apa itu tidak cukup, belum lagi sembako yang di belikan ibu selalu di kirim ke rumah mertua ini, entahlah semua bahkan tak ada artinya di mata ibu mertua.


Pagi-pagi buta ku harus bangun untuk masak dan merendam baju untuk di cuci, adzan subuh aku sudah selesai memasak dan setelah itu aku membangunkan Mas Andra untuk sholat subuh ke masjid.


Usai aku sholat aku membersihkan seluruh rumah, dan menyapu depan rumah, setelah semua urusan rumah selesai baru penghuni rumah ini baru bangun satu persatu.


Mereka sudah pada makan di meja makan sementara aku masih memandikan Dimas yang baru bangun dari tidurnya.


Beruntung Dimas tidak rewel, dia tahu Ibunya sibuk, jadi setiap hari Dimas bangun setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah.


Setelah aku selesai memandikan Dimas, mereka semua sudah selesai makan, dan sebelum Mas Andra berangkat kerja, dia mengganti kan aku untuk menjaga Dimas, aku di suruh suamiku untuk gantian makan.


Jangan di tanya sisa makanan yang di atas meja, tinggal kuah saja dan tempe sepotong dan sambal tomat, tak apa yang penting bisa buat mengganjal perut, seruku.


Aku sudah tak kaget dengan semua ini, hampir setiap hari aku mendapat makanan sisa seperti ini, bagaimana tidak kurus kering badan ini selalu mendapatkan makanan sisa tiap harinya.

__ADS_1


Setelah makan aku menidurkan Dimas dan suamiku berangkat kerja, sementara Ibu dan Sinta seperti biasa mereka berdua sibuk nonton sinetron di layar televisi, sementara Santi juga sudah berangkat sekolah.


Usai menidurkan Dimas, aku kembali ke belakang menyelesaikan cucian yang menggunung itu, aku berharap Dimas terlelap sampai aku selesai mencuci nanti.


__ADS_2