
Sedari awal, Zia pun telah mengikuti kemana Ryu melangkah.
Sesuatu hal yang di ucapkan oleh Zidan dan di ketahui oleh Ryu pun Zia juga mendengar dan melihatnya dengan mata kepalanya langsung.
Walaupun Zia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Zidan, namun setiap ucapan yang terlontar dari mulut Zidan pun membuat nya semakin sesak di dalam hati.
Dengan cepat Zia pun meninggalkan hotel dimana acara perjamuan tersebut berlangsung dengan air mata yang terus keluar dari kedua sudut mata nya.
"Apa tidak ada satu pun lelaki yang mampu mencintaiku setulus hati??" gumam Zia yang telah sampai di dalam mobilnya dengan terus menepuk-nepuk dada nya yang terasa semakin sesak.
Dengan terus menghapus air mata yang berjatuhan di sudut mata nya, Zia segera melajukan mobilnya menuju ke sebuah club malam yang sering di kunjungi oleh kakak nya tersebut.
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Zia pun segera masuk ke dalam club malam tersebut yang sudah terlihat sangat ramai dengan musik jedag-jedug yang menggema di seluruh ruangan tersebut.
"Aku mau bir satu botol!" teriak Zia dengan duduk di kursi di depan sang bartender.
Sang bartender pun segera memberikan minuman yang dipesan oleh Zia tersebut dan sebuah gelas sloki.
Dengan cepat Zia pun terlihat menuang botol bir tersebut ke dalam gelas sloki yang tersedia dan langsung menenggak habis.
"Uekkk! Rasanya aneh!" pekik Zia dengan masih terus menuang bir tersebut ke dalam gelas dan terus meminum nya.
"Ahh, damai nya hidupku! Lebih baik aku mencari gigolo di club malam ini saja untuk memuaskan ku malam ini. Dari pada tidak ada lelaki satu pun yang mampu mau mencintai ku lebih baik aku membayar banyak lelaki untuk ku tiduri," racau Zia yang tengah mabuk berat.
"Heii?! Apa kamu bisa mencarikan ku seorang lelaki tampan yang bisa memuaskan ku malam ini??" tanya Zia dengan kondisi yang sudah kehilangan akal sehat kepada sang bartender.
"Banyak sekali nona! Disini banyak lelaki tampan yang sanggup memuaskan nona!" jawab sang bartender dengan setengah berteriak agar terdengar oleh Zia.
"Baiklah! Pesankan aku satu yang paling tampan dan berkharisma!" ucap Zia dengan setengah berteriak juga.
"Baik Nona! Saya carikan dulu orangnya!" jawab sang bartender yang kemudian segera pergi dari hadapan nya tersebut.
Sedangkan di sudut lain, Ramos serta Bariq yang sedari tadi tengah menatap Zia.
"Itu benar-benar adik Zey! Apa yang di lakukan adik Zey disini?? Apa Zey sudah tahu jika adiknya tengah mabuk di club' malam ini??" ucap Ramos dengan wajah heran.
"Lebih baik kita hubungi Zey dulu untuk memastikan apa yang terjadi," ucap Bariq yang kemudian menelepon nomer Zey.
__ADS_1
Namun Zey pun tak kunjung mengangkatnya.
Hingga Ramos serta Bariq pun nampak semakin cemas begitu mengetahui Zia tengah berbincang dengan lelaki penghibur di club malam tersebut yang sering di booking oleh banyak tante-tante.
"Kamu telepon Ryu saja!" teriak Ramos kepada Bariq yang memang sama-sama mengenal Ryu.
Dengan cepat Bariq pun kemudian menelepon Ryu.
"Hallo! Ryu! Kami sedang berada di club' malam!" teriak Bariq di dalam telepon tersebut.
"Untuk apa kamu meneleponku jika kamu sedang berada di club malam?! Aku tengah sibuk! Jangan meneleponku jika tidak mendesak," ucap Ryu dengan terlihat jengkel kepada sahabat Zey tersebut.
"Dimana Zey?? Aku melihat Zia di club malam ini dan tengah mabuk berat! Seperti nya Zia akan segera keluar dari club malam ini bersama lelaki penghibur yang biasa di sewa tante-tante! Bagaimana ini?!" teriak Bariq dengan cepat karena Zia yang terlihat tengah di papah oleh lelaki penghibur menuju ke pintu keluar.
"What??!! Kamu tahan Zia! Jangan laporkan apa yang terjadi dengan Zia kepada Zey atau aku tidak akan memberikan lagi fasilitas menginap gratis di hotel milikku!" ucap Ryu dengan nada mengancam.
Dengan cepat Ryu pun melajukan mobilnya menuju ke club malam yang di maksud oleh Bariq.
Sedangkan Ramos serta Bariq pun segera menarik tubuh Zia dari dekapan lelaki penghibur tersebut.
"Apa-apaan kalian?! Wanita ini telah menyewaku! Jangan berusaha merebut pelanggan ku yang terlihat masih perawan ini!" ucap sang lelaki penghibur dengan menarik kembali tubuh Zia.
"Tapi wanita ini lah yang memintaku untuk segera melayani nya! Jadi jangan ganggu kami sekalipun wanita ini adalah adik kalian!" teriak lelaki penghibur tersebut tak kalah tajam.
Hingga terjadilah tarik menarik memperebutkan tubuh Zia yang sudah tidak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol.
Pening di kepala Zia pun semakin menjadi tatkala tubuhnya yang terus menerus di tarik ke kanan dan ke kiri.
"Aku ingin muntah!!" teriak Zia yang segera melepas pegangan nya dari kedua lelaki yang terlihat berisik tersebut.
"Ueekkk!! Uekkkk!!" Zia pun terus memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya.
Setelah perutnya agak lega, Zia pun terlihat mencari lelaki yang telah di pesan nya.
"Dimana lelaki yang telah aku pesan?? Ayo kita segera pergi dari sini!" ucap Zia dengan menarik lelaki tersebut menjauh dari kedua teman kakak nya tersebut.
Ramos dan Bariq pun semakin di buat kewalahan oleh tingkah Zia yang sangat ingin pergi bersama lelaki tersebut.
__ADS_1
"Zia! Sadarlah!" teriak Ramos dan Bariq yang telah berada di luar area club malam.
Namun seolah Zia sudah tidak memperdulikan teriakan kedua sahabat kakak nya tersebut dengan terus melangkah menuju tempat parkir dimana mobil Zia berada.
"Tinggalkan wanita ini bersamaku!" ucap Ryu dengan lantang kepada sang lelaki penghibur yang terlihat akan memasuki mobil milik Zia tersebut.
Lelaki tersebut pun terlihat mengerutkan dahinya begitu melihat uang satu gepok yang diterima nya dari Ryu.
"Baiklah!" ucap lelaki tersebut dengan memberikan kunci mobil Zia kepada Ryu dan segera kembali masuk ke dalam club malam tersebut.
Ryu pun segera melajukan mobil Zia menuju ke apartemen miliknya.
"Hei, lelaki tampan! Kamu ingin membawaku ke hotel mana?" tanya Zia dengan meraba-raba tubuh Ryu.
"Zia! Aku sedang menyetir! Sadarlah! Aku ini Ryu!" pekik Ryu dengan tubuh yang semakin bergetar hebat akibat sentuhan tangan yang Zia berikan.
"Kamu memang terlihat tampan seperti Ryu. Itulah sebabnya aku memilih mu untuk memuaskan diriku malam ini," racau Zia dengan terus meraba dan berusaha mendudukkan tubuhnya di atas tubuh Ryu yang masih tengah menyetir.
"Zia!! Jangan seperti ini! Kita bisa kecelakaan jika kamu menghalau pandangan ku dengan tubuhmu!" pekik Ryu yang terlihat semakin frustasi akan kegilaan Zia.
Dengan cepat Ryu pun memarkir kan mobil Zia ke dalam basement mobil yang telah tersedia di apartemen nya tersebut.
Dengan cepat Ryu pun menggendong tubuh Zia memasuki apartemen nya.
"Wangi harum mu pun sama seperti lelaki itu," racau Zia lagi dengan terus menggerak-gerakkan tubuhnya yang membuat Ryu semakin terbawa oleh sentuhan demi sentuhan yang Zia berikan.
Hingga pada akhirnya Ryu pun berhasil merebahkan tubuh Zia di atas kasur miliknya dengan tubuh Zia yang masih terus menempel padanya.
"Zia lepaskan aku! Aku takut khilaf jika kamu terus memelukku seperti ini!" teriak Ryu dengan terus mendorong tubuh Zia.
Namun tenaga Zia yang tengah mabuk pun seolah berubah menjadi sangat kuat hingga Ryu pun terlihat kewalahan melepaskan diri dari Zia.
Sedangkan Zia pun terlihat segera melepaskan seluruh pakaiannya dan kemudian menciumii bibir dan tubuh Ryu.
Ryu yang melihat tubuh Zia yang sudah nampak polos di atas tubuhnya pun hanya mampu membeku.
Seolah tak ingin menyia-nyiakan keindahan di depan matanya, kemudian Ryu dengan cepat membalas setiap sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh Zia kepadanya itu dengan penuh perasaan.
__ADS_1
"Tubuh yang indah dan wajah yang sangat cantik. Jangan menyesal setelah apa yang terjadi kali ini, Zia!" ucap Ryu dengan terus memompa tubuhnya di atas tubuh Zia yang telah berhasil membuatnya merasakan kenikmatan yang membuatnya terus ingin mengulang nya lagi dan lagi.