
Ah sudahlah yang penting aku terbebas dari dari keluarga racun itu, aku bisa gila bila berlama-lama tinggal berada di sana.
Setelah ini aku akan segera cari tempat tinggal untuk aku dan anakku, pikir Mitha.
Usai pulang kerja Mas Andra menjemput aku dari tempat temanku.
Sampai di rumah suasana begitu sepi, dan ketika aku sampai di depan pintu aku mengucapkan salam, tak ada sahutan, lantas aku masuk begitu saja, sebab pintu tidak di kunci.
" Assalamu'alaikum" ucapku ketika aku sudah ada di depan pintu, sementara Mas Andra baru memarkir sepeda motor nya masuk ke dalam garasi.
" Bagus ya, keluyuran ga kenal waktu, menantu sialan kamu, kelakuan orang kampung ya seperti itu!!" teriak ibu ketika aku membuka pintu rumah, sambutan teriakan ibu membuat aku kaget, dan ucapan salamku ku tak di jawab, tetapi justru cacian yang aku terima.
" Jam berapa ini hah? kami sudah lapar menunggu kedatangan kamu, eh ini malah enak-enak pergi tak kenal waktu, kamu pikir ini rumah kamu, seenaknya pulang pergi tanpa permisi, sana buruan masak dan jangan pakai lama, kami sudah lapar" teriak ibu lagi.
" Ibu apa-apaan sih, baru datang sudah marah-marah, sudah lah kan ada Sinta dan Santi mereka itu perempuan bisa masak juga kan? tidak harus menunggu istriku." kata Andra yang masih terlihat sabar, menghadapi sifat keras kepala ibunya.
" Kamu sekarang berani membantah ucapan ibu ya Andra, mau jadi anak durhaka kamu hah, hanya karena belain wanita kampung ini?" kali ini Andra yang kena semprot oleh ibunya.
" Sudahlah Bu saya juga tak ingin ribut sama ibu, maaf ya Bu biarkan istrimu istirahat, untuk kali ini Mitha libur memasak, kalau kalian lapar suruh Sinta masak sendiri sana, bahan sudah ada kan, tinggal di masak saja kok repot." Ujar Andra pada kedua adiknya.
" Tidak bisa Andra pokoknya kamu harus menyuruh Mitha masak, Ibu tak mau tahu." ucap ibu yang tak mau kalah.
__ADS_1
" Terserah kalau kalian kelaparan saya tak mau tanggung jawab, yang penting saya udah sediakan bahan dan tinggal masak saja apa susahnya sih, kalau kalian tidak bergerak tidak akan kenyang." Jawab Andra dengan kesal.
" Lha biasanya kan Mbak Mitha yang masak Mas, kenapa harus kami." Timpal Santi.
" Iya ini Mas Andra, bikin kesel saja. " Imbuh Sinta menimpali ucapan adiknya.
" Kalau ada kalian kenapa harus Mitha, hah." Balas Andra tak mau kalah.
" Sesekali saja tak apa kalian memasak sendiri, toh tidak tiap hari Mitha berpangku tangan saja kan, bahkan yang tiap hari mengurusi rumah ini Mitha kan, ini baru sehari saja suruh memasak sudah pada teriak-teriak kaya orang kesurupan saja, coba kalau mengurusi semua rumah ini apa jadinya." Imbuh Andra pada kedua adiknya.
" Mas Andra jangan manjain dia nanti bisa keenakan, dan jadinya belagu kalau terus di diamkan." Timpal Sinta lagi.
" Seharusnya kamu dan suami kamu yang harusnya tahu diri, kalian sudah berumah tangga tetapi masih saja tidak merecoki orang lain, apa itu pantas." Balas Andra dengan sengit pada Sinta tak kalah pedasnya.
" Jangan jadi anak durhaka hanya karena, istri kamu yang tak tahu diri itu Dra," seru ibu lagi sambil menunjuk muka Andra pakai jari telunjuknya itu, sepertinya ibunya terpancing emosinya lagi.
" Saya tidak bermaksud untuk berani sama ibu, tetapi saya menyuruh Sinta dan Santi yang ikut membereskan rumah ini, di mana salahnya Bu, mereka berdua wanita yang mau tak mau harus siap jadi ibu rumah tangga bukan, bukan hanya tergantung sama orang lain." Ucap Andra panjang lebar.
Mendengar seruan Andra, Santi mendengus kesal, begitu juga dengan Sinta, tak biasanya Andra seperti ini sebab.
Andra sebenarnya dia takut bila istrinya minta pindah, jadi dia berusaha untuk meredam kacau ini dia tidak mau nanti urusannya jadi panjang, Andra bahkan tidak tahu bila Ibu dan saudara-saudara mereka sudah lama sering mencaci maki Mitha.
__ADS_1
Andra baru tahu bila keluarganya itu begitu buruk memperlakukan istrinya itu.
" Ah sudah lah saya lelah, kalau kalian lapar bisa memasak sendiri, maaf untuk sementara jangan ganggu Mitha." Putus Andra kemudian, dia sudah tak peduli sang ibu yang terus mengomel kepadanya.
Dengan santainya Andra masuk ke dalam kamar, dan ketika Andra di dalam kamar di lihatnya sang istri yang sudah terlelap di atas tempat tidur bersama dengan Dimas.
" Maaf kan aku ya Dek, kurang memperhatikan kamu, seharusnya aku memberimu kenyamanan bukan perasaan tertekan kaya gini."Lirih Andra sambil duduk di pinggiran pembaringan, tangannya terulur untuk memijat kaki istrinya seperti biasa yang ia lakukan selama ini.
" Mas minta maaf sekali lagi." Lirihnya sambil memijat kaki istrinya, bahkan Andra tak peduli pada dirinya yang sedari tadi belum ganti baju dan mandi, bahkan hari sudah mulai larut malam, dan Mitha yang memang sudah kelelahan merasa begitu nyaman dalam tidurnya, hingga tak peduli teriakan sang mertua, sayangnya Mitha tak mendengar curahan hati sang suami.
Setelah selesai memijat kaki istrinya Andra kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil baju ganti, setelah itu dia keluar untuk mandi yang letaknya di luar kamar, dan tentunya Andra harus melewati dapur. Ketika Andra melewati dapur itu, dia melihat dimana ketiga wanita beda generasi itu sedang memasak di dapur sambil mengomel tak jelas, Andra yang sudah lelah menggelengkan kepalanya saja dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Pagi menjelang, Mitha seperti biasanya bangun sebelum sholat subuh, tadi malam dia begitu lelah, hingga dia di suruh suaminya untuk masuk kamar akhirnya dia langsung tidur begitu saja sebab Mitha sudah lelah, tak peduli mertuanya yang julid itu menceramahinya seperti biasa, sebab baginya itu sudah makanan Mitha tiap hari.
Hari ini dia terakhir di rumah ini, Mitha sudah bertekad untuk pergi dari rumah ini walaupun tanpa sang suami.
Kemaren Mitha sudah bertransaksi pembayaran dengan pemilik kontrakan, dan sebenarnya Mitha mau menempati rumah itu satu Minggu lagi sambil menunggu teras depan di renovasi untuk di jadikan tempat usaha laundry, sebab karena kejadian semalam membuat Mitha jadi pindah lebih cepat dari waktu yang dia rencanakan.
Tekad Mitha sudah mantap kali ini, setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah Mitha ingin bicara langsung pada sang suami tentang rencananya itu, lebih cepat lebih baik, pikir Mitha lagi.
Semua pekerja rumah sudah Mitha selesaikan, kali ini Mitha kerja lebih keras ketika di dapur sebab tadi malam ketiga penghuni rumah ini sedang memasak seperti orang kes*tan*n, minyak goreng tumpah di mana-mana, dan bekas alat masak pun tidak di cuci, benar-benar berantakan seperti kapal pecah.
__ADS_1
Bagi Mitha ini sudah hal yang biasa dia lihat, merasakan kelakuan mertua dan adik iparnya.