
“Ayah dan ibu bilang, saat itu mereka akan menjemput Bayu di Bandara. Mereka pergi, dan tidak pernah lagi kembali, begitu juga dengan Bayu. Dia menghilang begitu saja. Orang-orang bilang kalau orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Aku tidak menyangka ternyata ada yang sengaja mencelakainya.” Shena masih menangis karena marah pada orang yang tega melenyapkan orangtuanya disaat Shena masih membutuhkan kasih sayang mereka.
Biyanca memeluk tubuh Shena agar menantunya itu kuat mendengar fakta yang sudah ia simpan bersama suaminya. Ia pikir, saat inilah waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya. Sebab itu, Byon mengajak Shena dan Leo kemari tepat setelah keduanya resmi menikah.
“Aku langsung mencari keberadaanmu, tapi tiba-tiba saja kamu menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu kemana kamu pergi waktu itu,” ucap Byon sambil menepuk pelan bahu menantunya. “Sedangkan musuh masih saja berusaha menyerangku dan seluruh anggota keluargaku. Untuk sementara, aku memboyong kembali Leo ke Jerman. Dan aku terus menyuruh anak buahku untuk mencari keberadaanmu sampai dapat.”
Shena menatap wajah ibu dan ayah mertuanya bergantian. “Paman dan bibiku membawaku kabur keluar kota karena ada banyak rentenir yang mengejar-ngejar mereka. Mereka baru membawaku kembali ke desa setelah pengacara ayahku memanggilku untuk menandatangani berkas-berkas warisan peninggalan ayahku yang langsung direbut juga oleh mereka. Tapi berkat Leo, kini tanah peninggalan ayahku sudah kembali padaku lagi, Ayah. Dan aku sangat berterima kasih padanya.” Shena berusaha menyeka air matanya, dan mulai memahami situasi yang terjadi.
Leo yang namanya kembali disebut oleh pujaan hatinya, jadi sedikit tenang, karena ia mengira Shena bakal marah padanya dan membenci keluarganya yang sudah menyebabkan orang tua Shena meninggal. Namun ternyata, dugaan Leo salah, tidak ada kemarahan di wajah istrinya. Wanita yang amat dicintainya itu malah berterimakasih padanya karena sudah mengembalikan apa yang dulu pernah dicuri darinya.
“Yang dilakukan Leo, masih belum sebanding dengan apa yang sudah ayahmu lakukan pada keluargaku. Asal kamu tahu, saat Leo memasuki kuliah, ia lebih memilih kuliah di Indonesia karena ingin mencari gadis kecil yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya. Cecunguk gila itu ingin gadis itulah yang nanti bakal menjadi pendamping hidupnya. Aku menyetujui keputusan Leo karena aku sudah membekalinya kekuatan yang bisa melindungi dirinya sediri dimanapun dia berada.
Aku terkejut saat tiba-tiba saja Leo meminta izin untuk bertunangan dengan gadis desa yang baru saja berhasil ia paksa jadi kekasihnya. Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya sekaligus diam-diam mencari tahu asal muasal gadis desa yang ternyata tidak lain adalah dirimu sendiri, Shena.
Sejumlah fakta mencengangkan mulai terungkap. Ternyata, wanita yang dipaksa Leo untuk bertunangan dengannya adalah wanita yang menyelamatkan nyawanya saat ia masih kecil dulu. Wanita itu adalah putri tunggal sahabatku yang juga telah banyak berjasa untukku dan seluruh keluargaku. Dia adalah kau Shena, putri sahabatku, sekaligus saudara angkatku Rendra, Narendra Bosscha. Karena itulah aku berani datang kemari, membawakan putrinya kepada sahabatku yang sudah resmi menjadi menantuku.” Byon mengusap lembut pipi Shena yang mulai berkaca-kaca lagi.
__ADS_1
Shena langsung lemas didekapan ibu mertuanya. Ia tidak menyangka ada takdir yang serba kebetulan seperti ini. Shena manatap makam ayahnya. Mengingat kembali betapa hancur dirinya saat tahu, ayah dan ibunya mengalami kecelakaan dan jasadnya tidak bisa ditemukan. Hidup Shena terasa gelap berat kala itu, apalagi ia harus dihadapkan dengan paman dan bibinya yang serakah dan tidak pernah memperlakukannya dengan baik.
Hampir saja Shena memilih mengakhiri hidup seandainya bu Dewi, guru sekolah Shena tidak menguatkannya dan terus menerus memberi dukungan padanya. Shena tidak mungkin akan jadi seperti ini sekarang, tanpa suport dari guru-guru dan teman-temannya di sekolah.
“Ayah, Ibu,” ucap Shena pada nisan makam kedua orang tua Shena. “Terimakasih, sudah membawakan keluarga baru untukku, semoga Ayah dan Ibu bisa melihat kami di sini. Aku bahagia, tenyata aku memiliki ayah dan ibu mertua yang baik seperti mereka. Mereka bahkan memberi kalian tempat peristirahatan terakhir yang layak untuk kalian yang tidak mungkin bisa aku berikan.” Shena menangis sambil menggenggam erat kedua tangan mertuanya. “Terima kasih, Ayah, Ibu ... karena sudah mengizinkanku datang kemari dan mengetahui sedikit kisah ayah dan ibuku.” Shena menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti. Pelukan hangat langsung diberikan Byon dan Biyanca pada Shena.
“Kamilah yang harus berterima kasih padamu, Sayang. Dan juga, aku sangat bersyukur, ibumu melahirkan putri secantik dan sebaik dirimu. Kau bukan hanya menantuku, tapi kau adalah putriku, putri kesayanganku.” Biyanca menangis saat mengucapkan kalimat itu. Ketiganya saling berpelukan penuh haru dan bahagia.
Sudah tidak ada beban lagi di hati Byon dan Biyanca karena ternyata Shena, bisa menerima takdir dan kenyataan yang rumit ini. Padahal, Shena sudah banyak mengalami kesulitan dan penderitaan karena kehilangan kedua orang tuanya di usia yang masih belia.
Berlahan, Leo memberanikan diri berjalan mendekat ke arah Shena tepat saat orang tuanya memberikan ruang agar Leo bisa bicara dengan istrinya. Leo bersimpuh dihadapan makam mertuanya sambil memanjatkan doa untuk almarhum. Setelah itu, Leo menatap wajah istrinya yang menatap nanar nisan kedua orang tua Shena.
Leo menggenggam erat kedua tangan Shena sambil berkata, “Aku tidak menyangka, kamu begitu istimewa bagiku dan juga seluruh keluargaku. Jika tidak ada kamu di dunia ini, mungkin aku juga tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Nyawaku, tidak akan cukup untuk menebus apa yang hilang dari hidupmu dulu. Tapi aku berjanji, mulai detik ini, aku tidak akan pernah membiarkan air mata ini jatuh lagi membasahi pipi lembutmu, wahai wanita pujaan hatiku. Nyonya Shena Byon Pyordova, di depan makam mertuaku. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia walau apapun yang terjadi.” Leo mengucapkan kalimat itu dengan mata berbinar-binar penuh cinta. Setiap waktu, rasa cinta Leo pada Shena bukannya berkurang, tetapi semakin bertambah. Tidak ada kalimat manapun yang bisa melukiskan betapa Leo sangat mencintai Shena. Bahkan sebelum ia mengetahui fakta yang mencengangkan ini.
Shena sendiri langsung merengkuh leher suaminya dan memeluknya dengan erat sambil menangis sesenggukan di bahu Leo.
__ADS_1
“Maafkan Ayah Shena, karena terpaksa membuatmu berpisah sementara dengan Leo waktu itu, aku hanya khawatir kamu akan membenci Leo jika kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya ingin tahu, sebesar apa cintamu padanya, karena aku tahu Leo sangat mencintaimu melebihi dirinya sendiri. Tapi kini aku senang, kau tidak membenci kami setelah tahu kebenarannya, kebenaran tentang fakta kenapa sampai ayah dan ibumu meninggal. Aku bersumpah di depan makam sahabatku. Akan aku hancurkan orang yang telah membuat dirimu menderita dan menjadikanmu yatim piatu.” Byon menepuk pelan bahu Shena yang masih menangis dipelukan Leo.
“Tunggu, apakah maksud Ayah, orang itu adalah Kenzo? Orang itukah yang menyuruh anak buahnya untuk mencelakai orangtua Shena?” tanya Leo sambil merangkul pundak istrinya.
Byon mengangguk pelan. “Ehm, mulai sekarang kalian berdua harus lebih berhati-hati. Karena Kenzo sudah berhasil melarikan diri. Namun, aku sudah mengerahkan seluruh anak buahku untuk mencarinya. Saat ini, dia mungkin tidak akan berani menampakkan batang hidungnya, tapi aku yakin, suatu saat nanti, dia pasti akan muncul kembali dan membalas dendam pada kita. Sampai saat itu tiba, kalian berdua harus segera bersiap-siap menghadapinya.” Byon terlihat serius saat membahas soal Kenzo, musuh bebuyutannya.
***
jangan bosan menunggu up berikutnya ya.
dukung penulis dengan like, vote dan komentarnya
__ADS_1
love you all ....