
Tepat pukul 12.30 siang Leo menjemput Shena diruangannya. Lagi-lagi dia menunjukkan sikap sweetnya yang sukses membuat iri semua mata yang memandangnya, terutama para jomblo-jomblo sejati.
Leo menggendong Shena lagi dan berjalan ke luar ruangan. Sepanjang perjalanan, mereka berdua saling memandang satu sama lain. Awalnya Shena merasa risih dan malu dilihat banyak orang, tapi rasa bahagia Shena mengalahkan urat malunya sehingga dia ketularan cuek seperti Leo yang menganggap bahwa dunia hanya milik mereka berdua saja, sedangkan yang lainya hanyalah sebagai nyamuk belaka.
“Duileh ... romantis amat ya ... enaknye yang lagi dimabuk asmara, bikin pengen aje ....” celetuk salah satu teman Leo saat melintas di depan Leo sambil menggendong Shena.
“Iya, dong ... makanya cepetan punya pacar, jangan cuma ngeliatin orang pacaran doang!” sindir Leo yang sukses membuat temannya yang berceletuk tadi terdiam seketika.
“Yaelah, akhirnya bos playboy jadi bucin juga!” teman Leo yang bernama Brandon ikut tertawa melihat Leo dan Shena.
“Kayak lu nggak pernah pacaran aja, Bro!” balas Leo dengan tenang, tiba-tiba ponsel Leo berdering dan terpaksa dia menurunkan Shena dari gendongannya untuk mengangkat teleponnya. “Halo, kenapa, Vin? Mau ketemu? Tumben, oke ... aku tanya dia dulu, apa dia mau. Bye.” Leo menutup sambungannya dan menoleh pada Shena.
“Mau makan siang dulu? Aku mau kenalin kamu sama sepupuku yang lain. Dia sekolah deket sini,” tanya Leo pada Shena.
“Boleh, aku juga sudah lapar, bagaimana kalau kita makan mi ayam kesukaanku ditempaku dan Laura biasa makan,” ajak Shena.
Leo tertawa setuju dan hendak menggendong Shena lagi tapi Shena menolaknya.
“Aku jalan kaki saja, udah cukup malunya, semua orang memerhatikan kita dan membuat heboh semuanya. Yang sudah punya pacar sih nggak masalah, tapi kasihan bagi yang jomblo, bisa jadi mereka nggak konsen ujian karena iri melihat kita,” goda Shena pada teman-teman Leo yang sedang berdiri di sekitar Leo.
“Kamu benar, aku baru sadar itu.” Leo tertawa sambil menggandeng tangan Shena diiringi tatapan tajam mata sahabat-sahabat Leo yang merasa tersindir dengan kata-kata Shena.
“Sialaan mereka, mentang-mentang aja udah jadian, temen di lupakan!” gerutu teman Leo yang berbaju hitam.
“Kita buktikan saja kalau kita juga bisa mencari pacar dalam waktu dekat!” salah satu temanya yang lain merangkul pundak cowok yang berbaju hitam itu.
“Kita? Elo aja keles, bukan gue!” cowok berbaju hitam itu melepas paksa rangkulan temannya dan pergi meninggalkan temannya keluar gedung fakultas.
“Woy, kan elu sama gue sama-sama jomblo!” teriak temannya itu.
****
Shena memberitahu lokasi tempat makan yang biasa ia datangi dengan Laura saat makan siang. Mereka duduk dan langsung memesan minuman sambil menunggu kedatangan sepupu Leo.
__ADS_1
“Apa sepupumu tahu lokasi ini?” tanya Shena setelah mereka duduk berdampingan.
“Ehm ... aku sedang mengshare lokasinya.” Leo menatap Shena yang sedikit melamun ke suatu arah. “Ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Leo karena melihat Shena tidak bersemangat.
“Aku hanya merindukan Laura, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, Hpnya juga tidak aktif. Bisakah kamu tanyakan sama Roy? Siapa tahu dia tahu bagaimana keadaan Laura sekarang.” Suara Shena terdengar parau karena terlalau khawatir pada Laura.
“Roy juga tidak bisa dihubungi, aku tidak tahu ada di mana dia sekarang,” jawab Leo.
“Apa mereka sedang bersama sekarang? Bisakah kamu nanti mengantarku ke rumah Laura sebentar?” pinta Shena penuh harap pada Leo.
“Aku akan mengantarmu ke sana setelah selesai makan siang nanti.” Leo mengelus lembut rambut Laura.
“Terima kasih, Leo.” Shena senang Leo menuruti semua yang Shena mau.
“Anytime, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu.” Leo mencoba menggoda Shena.
Tidak berapa lama kemudian muncul sepasang sejoli berseragam SMA datang menghampiri Shena dan Leo.
“Maaf, kami datang terlambat,” ucap anak SMA itu.
“Zara,” Vino memotong kata Leo karena sepupunya itu tidak tahu nama pacarnya.
“Oh ... halo Vino, hai Zara,” sapa Shena sambil tersenyum ramah.
“Hai, juga kak Shena. Halo kak Leo.” Zara juga menyapa Leo dan Shena.
“Kalian berdua pasangan yang serasi," komentar Vino. "Kak Shena? Semoga Kakak betah dengan sifat playboynya kak Leo, hati-hati ... jangan sampai dia menggoda cewek seksi lagi.” Vino mencoba memanas-manasi Shena.
“Aku akan dengan sangat senang hati memberikan Leo pada wanita seksi yang bisa membuat Leo tergoda,” ucap Shena dengan santai yang disambut dengan tawa Zara dan Leo.
“Harusnya kata-kata itu kau simpan untuk dirimu sendiri,” sindir Leo pada Vino.
“Kakak tidak cemburu jika kak Leo berpaling dari Kakak? Dia playboy loh, gara-gara dia aku juga ikutan jadi playboy.”
__ADS_1
Leo menjitak kepala sepupunya, “Enak aja lu nyalahin gue! Lo yang milih jadi playboy kenapa gue yang lu jadiin panutan!”
“Adauw! Sakit tahu!” teriak Vino yang kepalanya langsung di jitak oleh Leo.
“Sudah, sudah ... baru ketemu kenapa malah berantem, sih? Sesama playboy dilarang saling berantem, iya nggak Kak?” tanya Zara pada Shena yang hanya tersenyum menyaksikan dua saudara sepupu ini memperebutkan gelar playboy mereka.
“Apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?” tanya Leo to the point.
“Aku pinjam uangmu,” jawab Vino tanpa basa basi.
“Untuk apa?”
“Aku mau kawin lari dengan Zara.”
“Apa?” teriak Leo terkejut dengan pengakuan Vino. Untung saja warungnya sepi, jadi tidak banyak yang memerhatikan mereka.
Sedangkan Shena langsung tersedak saat meminum minumannya. “Tapi kalian berdua kan masih SMA?” tanya Shena yang tidak setuju dengan keputusan yang di ambil Vino.
“Kakak, aku tidak suka dengan orangtuaku, yang suka memandang rendah status atau strata orang lain. Ayah tidak menyetujui hubungn kami hanya karena Zara berasal dari keluaga sederhana, karena itu aku memutuskan untuk hengkang dari rumah dan membangun kembali masa depanku bersama dengan Zara. Kak ... tolong pinjami aku uang, aku akan mencoba membuat usaha sendiri, nanti begitu aku sukses, aku akan mengembalikan uangmu dan menikahi Zara,” pinta Vino pada Leo yang sedang bermuka masam karena kesal.
“Mintalah pada Shena, kartuku ada padanya,” ucap Leo dengan jutek tanpa mau melihat Vino. Shena merasa kalau Leo sekarang sedang ngambek. Dia bahkan tidak menyentuh minumannya sama sekali.
“Baiklah, akan aku kirim nanti ke nomor rekeningmu. Itupun biar Leo sendiri yang mengirimnya, oke. Sekarang makanlah dulu.” Shena tidak tahu lagi harus berkata apa. Walaupun sebenarnya Shena kurang setuju dengan tindakan Vino yang terbilang nekat, tapi dalam hati, Shena salut pada Vino yang begitu serius mencintai Zara sampai ia memutuskan keputusan besar yang mungkin tidak akan bisa dilakukan olek anak SMA pada umumnya.
“Terimakasih kak Shena,” ujar Vino dengan senang dan sedikit lega. Cowok itu menggengam erat tangan pacarnya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Sedangkan Leo hanya mendengus kesal tanpa sebab, membuat Shena jadi ingin tertawa melihat tingkah Leo yang ke kanak-kanakan.
***
Terimakasih buat semua yang sudah setia menunggu kelanjutan kisah Shena dan Leo. Nantikan kisah seru mereka selanjutnya Yach .. jangan bosan menunggu 🤭
mohon dukungan like,vote dan komennya ya ... trimakasih 🙏
__ADS_1
salam manis dari penulis 😘😘😘