
“Kau ini bilang apa? Tidak masalah bagiku jika hubungan kami sudah berakhir, kenapa jadi kamu yang terlihat stres begitu? Aku tidak apa-apa, Shena. Sekarang fokuslah pada kesehatanmu oke, aku baik-baik saja. Aku tidak akan berakhir seperti Sasa yang bertindak b0doh hanya karena putus cinta.” Laura berusaha menenangkan Shena yang terlihat sedih. Padahal, Shena seperti itu bukan karena berakhirnya hubungan sahabatnya, melainkan karena ia sudah kalah taruhan dengan Leo bahkan sebelum Shena melakukan apa-apa. Itulah sebabnya, Shena jadi sangat frustasi saat ini.
“Masalah ini jauh lebih parah daripada luka tembak yang kualami saat ini.” gumam Shena.
“Ehm ... apa? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Laura yang juga sempat mendengar gumaman Shena meski tidak terlalu jelas.
Shena berpura-pura tersenyum manis, “Tidak ada, aku hanya terkejut mendengar kalian putus, padahal masih belum genap sebulan kalian jadian. Aku masih tidak percaya, sebab waktu itu kamu bilang Roy juga mencintaimu. Sama seperti kamu mencintainya. Kalian berdua saling mencintai, rasanya sangat aneh jika kalian putus secepat ini.” akhirnya Shena mengutarakan semua yang ada dalam hatinya. Padahal dia tahu semua alasannya.
“Aku kira juga begitu Shena, tapi ternyata cinta saja tidak akan cukup untuk membuat hubungan seseorang bisa bertahan, butuh banyak hal yang dimiliki dan dilakukan agar hubungan itu bisa langgeng. Salah satunya adalah kepercayaan. Jika kita saling mencintai tapi tidak bisa saling percaya satu sama lain? Untuk apa hubungan itu dipertahankan?” terang Laura. Sebenarnya, dalam hatinya, ia juga sedang patah hati akut akan kandasnya cinta pertamanya. Namun, ia tidak ingin Shena melihat kesedihannya, apalagi sahabatnya ini sedang dalam keadaan terluka akibat kena tembak. Rasa patah hatinya pun langsung tergeser dengan hanya membayangkan betapa menakutkannya kejadian yang menimpa Shena sehingga harus sampai dioperasi dan terbaring lemah di sini.
Saat ini yang terpenting bukanlah perasaanku, atau gagalnya hubunganku dengan Roy, tapi kesembuhan Shena agar ia bisa cepat ke luar dari sini. Batin Laura.
“Laura, aku ingin bertemu Roy. Bisa kamu panggilkan dia ke mari?” pinta Shena.
Sebenarnya Laura bingung dengan permintaan Shena, tapi ia menuruti apa yang Shena mau walaupun hatinya masih belum bisa menerima tentang perlakuan Roy padanya yang sudah berhasil membuatnya patah hati.
“Tentu.” Laura bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke luar untuk memanggil Roy agar mau masuk ke dalam dan bertemu dengan Shena.
Roy yang bingung dengan permintaan Shena untuk bertemu dengannya, kini berdiri di sebelah kekasih sahabatnya. “Ada apa? Laura bilang kamu ingin bicara padaku.” Tanya Roy dengan muka datar tanpa ekspresi sehingga membuat Shena ingin melayangkan bogem pada cowok yang sudah menyakiti hati sahabatnya.
__ADS_1
Shena tidak langsung menjawab pertanyaan Roy, ia menatap lekat-lekat cowok itu.
“Apa kamu mencintai Laura?” ceplos Shena dengan raut muka serius dan tentu saja berhasil membuat Roy dan Laura terkejut akan sikap terus terangnya Shena.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Roy balik bertanya meski awalnya ia terkejut. Kalau bukan karena Shena adalah gadis yang dicintai Leo, cowok itu enggan menuruti permintaan Leo yang menyuruhnya menjemput Laura dan membawanya kemari demi Shena. Sebab, berakhirnya hubungannya dengan Laura, membuat Roy jadi lebih sensitif.
“Shena, apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu bertanya seperti itu pada, Roy.” Laura memprotes Shena kerena mengajukan pertanyaan yang jelas-jelas sudah diketahui pasti jawabannya.
Shena tidak mengindahkan kata-kata Laura. Gadis itu terus saja menatap Roy sehingga membuat Roy jadi salah tingkah.
“Jawab saja pertanyaanku! Apa kamu benar-benar mencintai Laura?” Shena mengulang lagi pertanyaannya dan menatap tajam teman Leo itu.
“Hentikan, Shena? Ada apa denganmu? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Jelas-jelas kami sudah berpi ....”
Laura sendiri juga terkejut mendengar pernyataan Roy yang baru saja ia ucapkan.
Sebenarnya, setelah Laura mengantar Shena pulang ke kosannya waktu itu, Laura memaksa bertemu dengan Roy karena gadis itu merasa Roy terus saja menghindarinya. Mereka berdua akhirnya bertemu dan bertengkar dengan hebat. Laura tidak menyangka bahwa hubungan manis yang baru saja mereka mulai harus berakhir hanya karena alasan yang sampai saat ini tidak diketahui oleh Laura, tapi diketahui oleh Shena.
Laura merasa Roy sudah berubah, tidak lagi sama seperti saat pertama kali cowok itu menyatakan cinta padanya. Roy selalu menjaga jarak darinya. Saat dimintai penjelasan alasan Roy bersikap seperti itu, Laura tidak mendapatkan jawaban yang masuk akal. Akhirnya mereka berdua bertengkar hebat dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.
__ADS_1
Saat Shena menghubungi Laura malam itu, Laura sedang dalam keadaan depresi setelah hubungannya berakhir dengan Roy. Itulah sebabnya ia memutuskan mematikan ponselnya dan memilih menenangkan diri tanpa tahu bahwa apa yang dilakukannya telah membuat celaka sahabatnya sendiri.
Tapi kini, kata-kata Roy yang menyatakan bahwa ia masih mencintai Laura, membuat Laura jadi semakin bingung dan marah. Sampai saat ini Laura belum bisa memaafkan Roy atas berakhirnya hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Jika memang ada orang ketiga, maka Laura bisa menerimanya, masalahnya diantara mereka tidak ada masalah apa-apa. Tapi sikap Roy yang dingin dan seolah menghindar, membuat Laura berasa seperti kekasih yang terbuang, sehingga kata ‘putus’ adalah jalan yang terbaik agar Laura tidak terus-terusan tersiksa.
Shena langsung tersenyum kecut mendengar pernyataan Roy yang secara spontan ke luar dari mulutnya. “Ra, bisa tinggalkan kami berdua? Aku ingin bicara empat mata dengan Roy.” Shena menatap Laura yang masih terkejut.
“Apa yang akan kamu katakan padanya? Jangan pernah memintanya untuk kembali padaku.” Laura terlihat kesal entah pada laura atau pada Roy.
“Bukankah Roy bilang dia mencintaimu? Apa salahnya jika kalian balikan lagi.” Shena tersenyum senang pada Laura dan pura-pura tidak mengerti bagaimana perasaan Laura saat ini.
Laura kesal melihat Shena yang berusaha memperkeruh suasana hatinya. Ia pun ke luar dengan muka dongkol sambil menutup pintu ruangan sangat keras.
“Apalagi yang ingin kau dengar dariku? Kau puas tadi?” Roy terdengar kesal setelah dirinya dibuat mengakui perasaannya pada Laura.
“Leo sudah memberitahuku semuanya tentang bagaimana perasaanmu pada Laura sebenarnya. Awalnya, aku sangat marah padamu karena ternyata, kau tidak benar-benar mencintai Laura. Tapi sekarang aku mengerti, kau menghindari Laura karena bingung dengan perasaanmu sendiri. Kau mulai jatuh cinta pada Laura. Itu sebabnya, kau menghindarinya dan tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi, aku benar, kan?” Shena menatap tajam mata Roy.
“Jangan sok tahu! Aku tadi hanya salah bicara.” Roy masih saja mengelak dari tebakan Shena.
“Terus saja menyangkal, tapi matamu tidak akan bisa membohongiku. Terlihat jelas dimatamu, bahwa kau benar-benar jatuh cinta pada Laura. Aku akan senang sekali jika kau mau mengakuinya.” Shena berkata dengan jujur sehingga membuat Roy jadi heran dan bingung.
__ADS_1
“Ada apa ini? Kenapa kalian hanya berduaan di dalam dan mengusir Laura ke luar? Apa kalian berusaha mengkhianatiku?” teriak Leo yang tiba-tiba datang membuka pintu ruangan tanpa permisi.
****